15 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Ragam Patriotisme pada Hari Kemerdekaan di Buleleng

Jaswanto by Jaswanto
August 29, 2024
in Liputan Khusus
Jejak Ragam Patriotisme pada Hari Kemerdekaan di Buleleng

Patriotisme anak-anak di Bukit Yangudi, desa Les, Tejakula | Foto: tatkala.co/Don

BULAN Agustus memiliki perasaan gembiranya sendiri. Ini bulan kemerdekaan. Dan sebagaimana kemerdekaan, bulan Agustus, tepatnya setiap 17 Agustus, juga harus dirayakan, disyukuri, dan dikenang, tak terkecuali bagi orang-orang di Kabupaten Buleleng, Bali. Oleh sebab itu, lihatlah mereka yang tinggal di pelosok-pelosok wilayah, di atas bukit, dan di antah-berantah, meski dengan keterbatasan, tak sudi hanya berpangku tangan sedangkan lainnya menyambut hari kemerdekaan dengan antusias yang berlebih.

Orang-orang yang tinggal di atas Bukit Yangudi, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, wilayah terdalam di desa tersebut, misalnya, bersama anak-anak, selain memperingati hari jadi Bukit Kreatif Space, tempat belajar alternatif di wilayah terpencil itu, mereka juga merayakan Agustusan—tradisi menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan segala keterbatasan mereka menghiasi setiap sudut Bukit Kreatif Space dengan rangkaian bendera merah putih berukuran kecil yang sambung-menyambung pula menyiapkan tempat untuk beberapa lomba seperti mewarnai, menghitung cepat, menerjemahkan kata berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, bermain tajog (egrang), panjat pinang, dan lomba makan kerupuk—kegiatan khas Agustusan di mana pun di Tanah Air.

Patriotisme anak-anak di daerah terpencil di Bukit Yangudi, Desa Les, Tejakula, dalam merayakan kemerdekaan | Foto: tatkala.co/Don

Lomba-lomba tersebut tentu saja bukan sekadar hiburan semata, tapi juga mengembalikan ingatan bahwa ketradisionalan adalah kekuatan dan daya tarik (eksotisme). Tetapi, lebih jauh daripada itu, perayaan Agustusan adalah bentuk patriotisme—yang paling sederhana—rakyat akar-rumput terhadap bangsa dan negara. Lihatlah mereka yang rela berjalan jauh, menanjak dengan risiko yang tak sedikit, untuk menuju Bukit Yangudi demi ikut serta merayakan 17 Agustus 2024.

“Itu adalah bentuk ketulusan dan semangat patriotisme yang mereka kabarkan dan kibarkan. Mereka merayakan hari kemerdekaan di belahan bukit, di pinggir-pinggir jurang, dan mereka bahagia. Saya menyadari, ternyata tak sulit memaknai arti kata merdeka, cukup tertawa lepas di Agustusan itu bagi saya adalah kemerdekaan—walaupun sementara,” ujar Nyoman Nadiana, penggagas dan penggerak Bukit Kreatif Space, seusai acara, Sabtu (17/8/2024).

Jauh sebelum Nadiana bersama orang-orang Bukit Yangudi merayakan Agustusan, pada awal bulan Agustus, Penjabat Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menyebarkan puluhan ribu bendera merah putih. Lihadnyana juga menginstruksikan jajarannya untuk memastikan bendera kebesaran Republik Indonesia itu terpasang di setiap fasilitas umum di Kabupaten Buleleng.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada kegiatan Gerakan Nasional Pembagian Bendera Merah Putih Tahun 2024 di Kabupaten Buleleng yang diselenggarakan di Lobi Kantor Bupati Buleleng, Kamis (1/8/2024). Ini juga merupakan bentuk patriotisme.

Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menerahkan bendera untuk dibagikan kepada warga di Buleleng | Foto: Dok. Kominfosanti Buleleng

Dalam gerakan tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng berhasil mengumpulkan sebanyak 10.078 bendera. Jumlah bendera yang fantastis itu terkumpul berkat upaya penggalangan swadaya dari instansi vertikal, instansi perangkat daerah, badan usaha dan organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Buleleng. “Tolong jangan lagi diinapkan. Hari ini, tolong tugaskan staf untuk memasang. Memasangnya pun yang rapi, dan tidak hanya memasang, tetapi bertanggungjawab juga untuk mengamankannya,” tegas Lihadnyana kepada jajarannya.

Bendera merah putih merupakan salah satu identitas, simbol—pusaka, dan alat pemersatu seluruh masyarakat Indonesia. Bangsa ini berdiri dan merdeka melalui perjuangan merah putih. Tetapi, belakangan seperti terjadi penurunan penghormatan atas bendera pusa tersebut.

Hari ini banyak orang terkesan cuek saja saat menjelang hari kemerdekaan. Mereka tak lagi bergairah memasang atau mengibarkan bendera merah putih pada bulan Agustus. Itulah sebabnya pemerintah pusat menginstruksikan pemerintah daerah untuk membagikan, memasang, dalam rangka mengenang dan mengokohkan kembali rasa nasionalisme dan patriotisme.

“Seluruh masyarakat kedudukannya sama. Sama-sama berkewajiban untuk melakukan pemasangan bendera merah putih. Saya minta Satpol PP, Kesbang, untuk mengecek. Untuk lebih menyemarakkan ini saya mohon bantuan kepada kepala perangkat daerah memasang di tempat-tempat yang telah ditetapkan,” kata Lihadnyana.

Patriotisme perempuan menari pendet bersama di Lovina Festival | Foto: Dok. Kominfosanti Buleleng

Rupa-rupa patriotisme warga dalam menyambut dan merayakan hari kemerdekaan juga dapat kita lihat di desa-desa lain di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng. Lihatlah Pemerintah Desa Sudaji, Kecamatan Sawan. Berkolaborasi dengan Aliansi Pemuda Desa (APD) besutan Bagus Okta, Pemdes Sudaji menggelar kegiatan pagelaran budaya dan pasar malam bertajuk “Sudaji Fest”. Dalam kegiatan tersebut setidaknya 35 lebih peserta UMKM lokal yang ikut serta. Ini bentuk patriotisme sekaligus pemberdayaan ekonomi desa.

“Ratusan juta uang beredar di masyarakat ketika pasar malam digelar. Yang seperti ini harus dikelola dengan baik, maka sangat bagus dalam hal peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng, saat menghadiri acara tersebut, Selasa (6/8/2024) malam.

Jangan juga dilupakan, sebab ini belum lama terjadi. Dari tanggal 16 sampai 22 Agustus 2024 kemarin, Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali menggelar Buleleng Development Festival (BDF) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno, Singaraja. Sudah jelas disampaikan Koordinator Pelaksanaan BDF 2024—dalam hal ini Kepala Dinas Kominfosanti Buleleng—Ketut Suwarmawan, bahwa penyelenggaraan kegiatan ini dilakukan dalam rangka memeriahkan rangkaian HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79.

Sebagaimana Sudaji Fest 2024, BDF ini juga diramaikan oleh partisipasi UMKM lokal yang menawarkan produk-produk unggulan Buleleng—hanya saja cakupannya tentu saja lebih luas daripada festival yang digelar di Desa Sudaji itu. Tak hanya itu, beragam seni pertunjukan dan budaya tradisional juga turut memeriahkan acara, memberikan pengalaman yang kaya bagi para pengunjung.

Patriotisme anak-anak di daerah terpencil di Bukit Yangudi, Desa Les, Tejakula, dalam merayakan kemerdekaan | Foto: tatkala.co/Don

Salah satu seni pertunjukan di BDF 2024 yang mengangkat tema perjuangan—atau katakanlah patriotisme—adalah drama tari Calon Arang dengan judul “Rakyān Purwasidhi Anglukat Lara Roga”yang dipentaskan oleh Paguyuban Seniman Bali (PSB) Kabupaten Buleleng.

Ketua PSB Kabupaten Buleleng, Jro Olit, yang menjadi penggagas pertunjukkan itu, mengatakan drama tari ini mengangkat kisah Purwasidhi, seorang tokoh sakti yang berjasa besar dalam menetralisir pengaruh ilmu hitam di pesisir utara Pulau Bali pada masa lalu.

“Dahulu, pesisir utara terkenal dengan kekuatan ilmu hitam yang sangat hebat. Mpu Sidimantra merasa perlu membersihkan kawasan ini, dan dalam prosesnya, beliau menemukan Tirta Amerta, sumber air suci yang melindungi wilayah ini dari pengaruh jahat,” ujar Jro Olit, Sabtu (17/8/2024) malam.

Jro Olit menegaskan bahwa kisah ini bukan sekadar cerita yang hitam-putih, tetapi juga simbol perjuangan untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir utara Bali. Drama ini juga menggambarkan pertempuran epik antara Purwasidhi dan seorang penguasa ilmu hitam—yang pada akhirnya dimenangkan oleh Purwasidhi dengan dukungan rakyat setempat. Jika kita tarik dalam konteks patriotisme, kisah tersebut tak jauh berbeda dengan perjuangan rakyat Nusantara dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Meski tidak secara terang-terangan dijelaskan atau disebut sebagai perayaan HUT Kemerdekaan, Lovina Festival 2024 juga mencerminkan rasa cinta, kebanggaan, dan loyalitas terhadap negara atau Tanah Air. Lovina Festival diselenggarakan demi kejayaan masyarakat Buleleng dan integritas tanah air. Dan Lovina Festival juga mencakup dukungan terhadap nilai-nilai, budaya, dan prinsip-prinsip yang dipegang oleh negara.

Bendera merah putih untuk ojol di Buleleng | Foto: Dok. Kominfosanti Buleleng

Lihatlah, sebagaimana dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, acara tersebut melibatkan lebih dari 1.630 pengisi acara dan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada pembukaan Lovina Festival diwarnai dengan pementasan Tari Pendet yang ditampilkan secara massal oleh sekitar 500 penari, yang membuat para wisatawan terpesona saat penari-penari itu menari dengan sepuhan matahari tenggelam di Pantai Lovina.

Namun, terlepas dari acara tersebut, di Desa Bondalem, Tejakula, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan remaja sedang pontang-panting belari sambil membuat ulatan tipat. Dapat dibayangkan betapa serunya melihat orang berlari sekaligus harus fokus mengulat, menganyam janur menjadi sebuah ketupat yang rapi. Ini merupakan ragam ekspresi yang lain dalam menunjukkan rasa patriotisme—cinta tanah air—dan keterampilan tradisional sekaligus.

Lomba yang dapat dikatakan sebagai pelestarian tradisi ini—dengan cara yang menyenangkan itu—juga dibarengi dengan lomba menangkap bebek. Barangkali panitia hendak mengatakan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan tentu jauh lebih susah daripada mengejar dan menangkap seekor unggas yang tak bisa terbang itu.

Sampai di sini, tentu masih banyak ekspresi atau rupa-rupa patriotisme di Buleleng dalam menyambut dan merayakan HUT Kemerdekan yang tak dapat disebutkan dalam artikel ini. Tetapi, yang jelas, beberapa kegiatan yang disebutkan di atas menjadi bukti bahwa masyarakat Buleleng masih memiliki rasa cinta terhadap tanah air dan rela terlihat konyol dengan masuk ke dalam karung, memakai helm, lalu berusaha lari sekencang mungkin. Ya, sekali lagi, itulah cinta! [T][Adv]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

Sukses Kuatkan Kompetensi UMKM, Sukses Entaskan Kemiskinan Ekstrem di Buleleng
Kisah Sukses Buleleng Turunkan Stunting, Ada Edukasi untuk Calon Pengantin
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Sosok-sosok Kartini Buleleng, Dari Segala Lini Menebar Inspirasi Bagi Perempuan Buleleng
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Tags: HUT Kemerdekaan RIPemkab Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

22 Perempuan Merayakan Kebebasan : Catatan Ringan di Hari Kemerdekaan

Next Post

Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

by Made Adnyana Ole
February 13, 2025
0
Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam  Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus...

Read moreDetails

Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

by Jaswanto
February 10, 2025
0
Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

BULELENG-BANYUWANGI, sebagaimana umum diketahui, memiliki hubungan yang dekat-erat meski sepertinya lebih banyak terjadi secara alami, begitu saja, dinamis, tak tertulis,...

Read moreDetails

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

by Jaswanto
February 3, 2025
0
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi  |  Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

ADA kisah pilu pada pertengahan Oktober 2023 lalu. Gadis (23) penyandang disabilitas rungu wicara diperkosa oleh kerabatnya sendiri yang berumur...

Read moreDetails

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

by Jaswanto
December 31, 2024
0
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

DI jaba tengah (madya mandala)---semacam ruang bagian tengah---Pura Ratu Gede Sambangan, Tejakula, Buleleng, Bali, orang-orang berkumpul, berdesak-desakan, menanti sebuah pertunjukan....

Read moreDetails

Masalah Stunting dan Bagaimana Pemerintah Buleleng Mengatasinya

by Jaswanto
October 29, 2024
0
Masalah Stunting dan Bagaimana Pemerintah Buleleng Mengatasinya

PADA awal tahun, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Buleleng menggelar Lomba Inovasi Kuliner Berbahan...

Read moreDetails
Next Post
Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari

Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?
Esai

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Coba ingat kembali, berapa gelas air putih yang sudah Anda habiskan hari ini? Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas...

by Gede Made Cahya Trisna Pratama
March 15, 2026
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari
Puisi

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Sabtu waktu tak banyakmenit yang kau punyasebentar-sebentar habislangit mencatat semuanya tatapanmu menyeretkuke labirin cerminkau berbicara lewat pelukdan dua butir kecupdengan...

by Wayan Esa Bhaskara
March 15, 2026
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali
Esai

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

by Angga Wijaya
March 15, 2026
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul
Kuliner

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan
Esai

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur...

by I Wayan Westa
March 15, 2026
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar
Panggung

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton...

by Satria Aditya
March 14, 2026
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma
Esai

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman...

by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran
Esai

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu...

by I Wayan Yudana
March 14, 2026
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir
Khas

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)--yang diperingati pada...

by Komang Ari
March 14, 2026
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa
Esai

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Kita Bukan Kebetulan SERING kali kita merasa hidup ini kacau. Politik gaduh. Ekonomi tidak pasti. Hubungan manusia penuh konflik. Kita...

by Agung Sudarsa
March 14, 2026
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser
Cerpen

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di...

by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co