7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Nazhif Amin by Nazhif Amin
July 27, 2024
in Cerpen
Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Ilustrasi tatkala.co

DIA duduk di situ. Di pojok ruangan kafe bercorak retro, beraroma pekat, dan sedikit bau kamper. Pria itu menghadapi Americano, kopi yang tengah digandrunginya akhir akhir ini. Dihirupnya aroma kopi itu, syahdu, seperti para pecandu musik reggae dengan nada yang makin tinggi. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku. Sebotol kecil cairan sianida yang ia impor melalui relasinya.

Ia menatap sekitar. Orang orang tak ada yang peduli satu sama lain. Ini kesempatan emas untuk ia segera menuangkan sianida itu ke dalam  Americano sebelum ada yang melihat.

“Kau sudah gila ya?”

Suara itu mematahkan gerakan pria itu, padahal sianida itu sudah hampir tertuang.

“Kau pikir bagaimana?” kata pria itu. “Ah,sialan!”.umpat pria itu dalam hati. Pikirnya, memang sebuah kesalahan mengajak Ted ke sini. Ia berpaling ke depan. Kucing persia dengan bulu keabuan dan lengan yang montok ini selalu bikin perkara.

“Aku masih tak mengerti, mengapa kau ingin bunuh diri?” Kucing itu memelankan suaranya, sambil sesekali melirik ke samping, berharap tak ada yang mendengarnya.

Pria itu terdiam.

“Apa ini berkaitan dengan Diandra?” Ted, si kucing itu, melanjutkan lagi.

Si pria terhenyak sesaat. Hampir terlonjak dari kursinya. Tentu saja, hari itu persis dua tahun setelah pria dan seorang gadis bernama Diandra bertemu. Hari yang tak terlupakan.

——–

Sore yang lelah. Setelah seharian dihajar dengan pekerjaan di kantor ia memutuskan ingin menikmati me time  di kafe. Episode pertemuannya dengan gadis itu bermula dari sini.

“Jodoh pasti bertemu!” Tampaknya itu adalah penamaan yang cerdas untuk sebuah kafe dengan tujuan menarik pelanggan. Apalagi para wraiter perempuan di kafe itu bergaya noni dengan rambut dicatok dan disemir pirang. Juga kebanyakan berperilaku centil.

Pria itu duduk sendiri. Di sudut ruangan ia cuma melamun kemudian memandangi wraiters berkacamata yang mengantarkan ekspresso ke mejanya seraya menyunggingkan senyum manis. Ia menatap ekspresso dengan pandangan hambar. Sejujurnya ia bukan penikmat kopi. Bahkan ia tak bisa membedakan mana kopi robusta mana arabica.

Sedetik sebelum ia merapatkan bibirnya ke mulut gelas, terasa seseorang menepuk pundaknya.

“Maaf, Mas, sepertinya pesanan kita tertukar!” sergah seorang wanita. Ia menggunakan blus hitam dan rambut tergerai sebahu.

Pria itu bingung.

“Mas pesennya Ekspresso kan?” lanjut wanita itu.

“Benar, memangnya ini apa?”  Si pria menatap cangkirnya bingung.

“Itu Americcano, Mas. Barangkali wraiters salah memberi pesanan,” kata wanita itu sambil tergelak. Lalu mengacungkan jempol untuk memberi kode pada wraiters bahwa kesalahpahaman dapat mereka atasi.

“Saya tak begitu mengerti mengenai kopi.”

“Kalau gitu, kita tukeran kopinya aja, Mas. Saya Diandra!” Wanita itu mengulurkan tangan kemudian disambut genggaman si pria yang memperkenalkan namanya.

Semenjak hari itu terjalin sebuah chemistry yang erat antara keduanya. Satu sama lain berusaha menyempatkan diri datang ke kafe hanya untuk sekadar berbincang tentang hobi, pekerjaan atau melepas penat.

Merekapun telah memiliki tempat favorit dalam tiap kunjungan ke kafe, yakni di meja paling pojok yang menghadap langsung ke jendela. Dari jendela tampil pemandangan hiruk pikuk kota.

Beruntung keduanya memiliki minat yang sama dalam hal seni sehingga sangat mudah dekat dan nyaman. Setidaknya sepekan dua kali mereka datang dan duduk di sana. Rabu dan Sabtu adalah kunjungan rutin mereka berdua.

Kehidupan berjalan semestinya. Si pria tampak tak mempermasalahkan Diandra masuk dan membangun tempat baru di hatinya. Apakah ia memiliki rasa? Ia masih belum mengerti. Yang pasti dia tak keberatan jika Diandra tahu mengenai asal usulnya. Misalnya tentang problematika keluarganya dimana ia harus tinggal berdua dengan ayahnya, tak lama setelah orang tuanya bercerai. Hal itu ia rasakan sejak kecil hingga membuat trauma yang membuatnya takut untuk kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya.

Entah Diandra mengerti atau tidak, barangkali karena datang dari keluarga yang lengkap dan sempurna membuatnya tak bisa merasakan empati. Diandra bercerita kalau ayahnya adalah seorang pelukis dan kakaknya adalah seniman jalanan, darah seni mengalir dalam gennya. Sungguh sangat cocok jika mau disandingkan dengan si pria yang ayahnya adalah kolektor seni.

Hingga setahun setelah mereka berkenalan si pria berinisiatif untuk mengajak berkunjung kerumahnya. Hanya kunjungan biasa. Sekaligus mengenalkan Diandra pada ayahnya. Namun langkah ini adalah kesalahan terbesarnya.

Pada mulanya ketika memasuki rumah si pria, Diandra dibuat takjub dengan selera arsitektur rumah itu. Rumah besar itu tak kurang dari separuh hektar. Nampak glamour dengan perabot dan furnitur klasik di dalamnya.

Diandra terpaku memandangi lukisan di muka dinding. Tampak dingin dan tajam. Sementara si pria memandang Diandra dengan tatapan tak biasa. Waktu memporak-porandakan semua. Sudah semenjak beberapa bulan ini jantungnya seperti habis diajak marathon keliling Jogja tatkala melihat Diandra. Diandra menjadi sumber dari segala debarnya. Pandangannya tak bisa dia alihkan pada selain Diandra.

Ia bahkan mencuri waktu di sela kesibukan di luar jadwal rutin kunjungan ke kafe hanya demi bertemu dengan Diandra. Malam-malamnya kini menjelma puisi yang begitu indah. Begitu pula kehidupannya sebagai budak korporat di kantor terasa lebih ringan juga menyenangkan. Yup, lagi lagi karena cinta.

“Siapa gadis manis ini?” Suara berat itu datang dari tangga. Suara pria paruh baya dengan badan tegap dan rahang simetris yang kemudian mendekati mereka berdua. Ayah si pria.

“Saya Diandra, Om.” Gadis itu malu-malu.

“Pacar atau teman?” tembak ayah si pria.

“Hanya teman,” jawab Diandra, lalu dibalas dengan tatapan sang ayah yang sulit diartikan.

“Diandra senang dengan lukisan? Mau saya ajak berkeliling lihat-lihat?”

Diandra mengangguk membuntuti sang ayah yang telah melangkah menyusuri ruang tengah, meninggalkan si pria sendirian.

——

“Tunggu-, kejadian itu pemicunya atau ada bagian lain yang belum kauceritakan?” Ted, si kucing persia bertanya.

“Itu pemicunya. Semenjak hari aku mengajaknya ke rumahku si jalang itu terus menempel ke ayahku. Bahkan menjalin hubungan dengannya. Dia tahu saja kalau ayahku meninggalkan warisan yang cukup banyak. Ditambah lagi ia direktur perusahaan  besar. Dasar wanita matre!”

“Kau tak pernah bicara benar-benar dengan ayahmu?” Ted menyelidik lagi.

“Buat apa? Sekarang semua telah terlambat. Sepekan lagi mereka akan menikah. Dan aku akan terus tersiksa karena selalu bersamanya, bukan sebagai seorang kekasih. Namun sebagai orang tua dan anak!”

Kali ini si pri pria benar-benar telah menuangkan sianida ke dalam Americcano. Ia mengaduknya selagi masih hangat.

“Kau benar-benar sudah gila!”

“Kau pikir berbicara dengan seekor kucing sepertimu adalah hal yang waras?”

Di tengah percakapan, ponsel pria itu berdering. Terpampang nama Diandra di sana.

“Ah, sialan!” umpat si pria.

Ia tahu Diandra pasti mencarinya. Sudah lebih dari sepekan ia tak pulang ke rumah. Ia tak menghiraukan panggilan tersebut.  Tangannya bergetar memegangi cangkir. Ingin segera menenggaknya dan mengakhiri huru-hara ini.

Tepat saat mulut cangkir hampir menyentuh bibir, seseorang menepuk pundaknya. Seorang wanita dengaan sweater hijau dan rok warna senada. Wajahnya tirus dan bersih namun ada tahi lalat sangat kecil di bawah matanya.Rambutnya dibiarkan tergerai.

Tangan pria itu merosot dan hampir menumpahkan minumannya. Jantungnya serasa dipompa lebih kencang. Ia menatap wanita itu tanpa berkata-kata. Semua musik harmonis berkelebat mendramatisir momentum ini. Segala ibarat dan frasa yang muncul dalam pikirannya hanya bermuara pada satu kata: indah.

“Mas, sepertinya minuman kita tertukar. Mas pesan americcano kan? Ini punya, Mas. Kalau ini ekspresso saya,” kutur wanita itu lembut, seraya cekatan menukar cangkir mereka.

Si pria tampak termangu beberapa detik dan menyadari kelengahannya. Ia ingin bersuara namun kelu. Terlambat. Wanita itu menenggak minuman yang harusnya ia minum.

“Duh, matek aku!” kata si pria. [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Achmad Khoirul Fatoni | Catatan Biru

Next Post

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Nazhif Amin

Nazhif Amin

Pelajar SMA MBS Yogyakarta. Hobi berdiskusi.Karyanya telah dimuat di berbagai media

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co