6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geguritan Rajendra Prasad: Tonggak Awal Jejak Bung Karno dalam Sastra Bali Tradisional

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
June 25, 2024
in Esai
Geguritan Rajendra Prasad: Tonggak Awal Jejak Bung Karno dalam Sastra Bali Tradisional

Tjokorde Gde Ngoerah, Foto: Cokorde Gede Bayu Putra

Geguritan Rajendra Prasad: Tonggak Awal Jejak Bung Karno dalam Sastra Bali Tradisional[i]

SEBAGAI salah satu tokoh yang berperan vital dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, kenangan tentang kisah hidup Bung Karno bisa ditemukan dalam berbagai dokumentasi seperti foto, video, dan berbagai tulisan.

Foto Sang Proklamator yang kharismatik tak hanya terpajang di berbagai tempat kenegaraan, tetapi juga menyusup hingga ke kamar-kamar pribadi pengagumnya. Demikian pula videonya. Badan Arsip Nasional yang sering memutar video Bung Karno pada momentum kebangsaan, hingga kini masih punya taksu untuk menyulut nyali anak bangsa agar tetap menyala mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Tak hanya itu, ratusan tulisan telah mengabadikan salampah laku Bung Karno dalam berbagai bidang kehidupan. Ia sendiri juga mencatat sari-sari pemikirannya dalam sebuah buku berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”. Pemikiran-pemikirannya yang bergenre sastra tertuang dalam sejumlah naskah drama ketika beliau mengalami pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur (Sugilanus, 2019).

Tjokorde Gde Ngoerah

Di antara berbagai dokumentasi itu, seorang pengarang bernama Ida Tjokorde Gde Ngoerah dari Puri Saren Kauh, Puri Agung Ubud diam-diam mencatat lawatan Bung Karno ke Bali pada tanggal 14 Desember tahun 1958. Menariknya, catatan itu tersaji dalam sebuah karya sastra Bali Tradisional berjudul Geguritan Rajendra Prasad. Sejauh pelacakan yang dilakukan terhadap khazanah geguritan Bali, baik di Gedong Kirtya maupun Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, karya sastra yang menarasikan kiprah Bung Karno yang lain belum ditemukan. Dengan demikian, Geguritan Rajendra Prasad ini dapat dijadikan sebagai tonggak karya sastra Bali tradisional paling awal yang menceritakan salampah laku Bung Karno.

Tjokorde Gde Ngoerah | Foto: Cokorde Gede Bayu Putra

Ida Tjokorde Gde Ngoerah yang menulis kisah Bung Karno ini adalah figur sastrawan produktif. Dari ketekunan beliau mengabdi kepada Hyang-Hyanging Aksara lahir karya-karya sastra yang penting dalam peradaban batin Bali.

Beliau adalah sosok yang ada di balik Kakawin Gajah Mada, Geguritan Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun, Geguritan Sudamala, Geguritan Tataka Suddha, dan yang lainnya. Sebagian karya-karya beliau itu tersimpan di Puri Anyar Ubud, tempat adinda beliau yang bernama Tjokorde Rai Sayan. Sebagian lagi disimpan di Perpustakaan Lontar, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Kampus yang disebutkan terakhir itu dalam sejarahnya kita ketahui diresmikan langsung oleh Bung Karno. Beliau yang menapakkan kakinya di halaman kampus pertama Bali itu barangkali tak pernah tahu bahwa sepenggal perjalanannya ditulis dalam sebuah lepitan lontar berjudul Geguritan Rajendra Prasad di tempat itu sendiri.

Pemilihan bentuk geguritan oleh Tjokorde Gde Ngoerahsebagai media penuangan kisah Bung Karno ini tentu memiliki maksud khusus. Dengan menggubah kisah perjalanan Bung Karno dan Rajendra Prasad berbentuk karya sastra, lawatan Sang Putra Fajar tidak menjadi dokumentasi pemikiran yang kaku dan beku, tetapi senantiasa cair, menarik, dan estetik.

Di samping itu, dengan bentuk geguritan, karya sastra ini bisa dinyanyikan sehingga spektrum masyarakat yang menyimaknya menjadi lebih luas dan pada saat yang bersamaan kisahnya menembus ceruk-ceruk hati masyarakat pendengarnya. Dengan demikian, melalui Geguritan Rajendra Prasad sepenggal kisah Bung Karno sejatinya abadi. Tulisan atau aksara sesuai fitrahnya memang membuat sesuatu tak akan mudah ditadah waktu dan tak akan karam ditelan samudra zaman. 

Geguritan Rajendra Prasad

 

Lontar Geguritan Rajendra Prasad, Koleksi Unit Lontar Unud | Foto: Guna Yasa

Geguritan Rajendra Prasad mengisahkan perjalanan Bung Karno menemani presiden India yang saat itu dijabat oleh Rajendra Prasad. Kala itu, Bung Karno tiba lebih dulu di Bali untuk menyambut Rajendra Prasad di bandara Tuban. Betapa meriah sambutan yang dipersiapkan oleh masyarakat Bali. Sepanjang jalan yang akan dilalui dua pemimpin Negara tersebut dipasangi penjor (muparengga penjor sami, salwiring kinawanan). Jalan-jalan dibersihkan (awanikon suddha bresih). Sementara itu, kepala daerah dan para punggawa siap menyambut dengan busana serba mewah.

Lagya presidhan śukarṇna, sang tuhu makadhi luwih, alĕp cumandang manrima, sang prapta ngambareng langit, tan liyan sang adhi luwih, rajendrāprasad kawuwus, presidhen ĭndhya nĕgarā, dipta halus nyunyur manis, ulat arum, tĕmu akṣi sirang karwa (Pupuh Sinom, bait 9).

Terjemahan.

Pada saat yang bersamaan Presiden Sukarno, yang benar-benar utama, dengan berwibawa menunggu untuk menyambut, seorang tamu yang masih terbang di langit, tiada lain ia yang adimulia, yaitu Rajendrāprasad, Presiden Negara India, raut wajah yang berkarisma, tatapannya bersahaja, bertemu pandang beliau berdua.

Setelah Rajendra Prasad mendarat, Bung Karno menyambutnya dengan cara berjabat tangan sembari menyampaikan ucapan selamat datang. Para petugas langsung mempersilakan Presiden India dan Indonesia itu menuju mobil yang telah disiapkan. Bala tentara mendampingi dengan berbagai senjata, sedangkan para pejabat mengikuti di iring-iringan belakang. Para siswa yang memegang bendera juga tidak ketinggalan menyambut kedatangan Rajendra Prasad dan Bung Karno.

Tjokorde Gde Ngoerah tidak menyebutkan secara pasti tempat yang dipilih oleh Bung Karno dan Rajendra Prasad untuk beristirahat di Denpasar. Dugaan yang kuat mengenai tempat ini adalah Hotel Inna Bali, hotel tertua di Bali yang terletak di jantung Kota Denpasar[ii]. Namun, tak berselang lama di Denpasar, beliau berdua langsung menuju Istana Tampaksiring.

Dalam karya sastra ini, Ida Tjokorde Gde Ngoerah juga menyebutkan bahwa di tahun 1958, istana Tampak Siring baru saja dibangun (astana kang wau putus, pangusiran macengkrama). Penelusuran di berbagai artikel lain menunjukkan informasi yang benar. Istana Tampak Siring memang pertama kali dibangun tahun 1957. Tjokorde Gde Ngoerah menyatakan bahwa istana Tampak Siring bagaikan Ambarawati yang dipenuhi dengan berbagai keutamaan yang memanjakan mata setiap orang yang memandang. Agaknya, pengarang tahu persis pada masa lampau di daerah aliran sungai Tukad Pakerisan memang ada pertapaan yang disebut dengan Ambarawati.

Kedatangan Bung Karno dan Rajendra Prasad di istana Tampak Siring disambut dengan berbagai hidangan lezat dan hiburan. Pada bagian ini, Ida Tjokorde Gde Ngoerah sengaja menambahkan penjelasan mengenai ihwal kelahiran beberapa desa di Tampak Siring. Berbekal teks Usana Bali, Tjokorde Gde Ngoerah membabar pertempuran antara Maya Danawa dengan Indra yang secara mitologis diyakini berada di seputar wilayah Tampak Siring. Ketika pasukan Maya Danawa dikejar oleh para dewata, tiba-tiba di sebuah tempat yang agak tinggi, para raksasa berwujud seperti api yang menyala. Oleh sebab itulah wilayahnya disebut Tihapi.

Katngĕr mungguh ring kretha, mrupa kadi apuy ngĕndih, balā dewā ngĕsahaṣa, wiroṣa mangĕtut buri, inaran padati api, malih makĕlap kinepung, wĕkas inaran laplapan, manggĕh kroda mangkin wrĕddhi, tan sah mburu, lilih ira kabayabya.

Terjemahan.

Diduga naik di kereta, berwujud seperti api yang menyala, pasukan para dewa segera mengejar, sangat ganas mengejar, sehingga desa itu disebut Padati Api, karena ada yang berkelip maka dikejar lagi, sehingga akhirnya desa itu dinamai Laplapan, semakin besar kemarahan para dewa, niscaya dikejar, tetapi berhasil kabur menuju arah barat laut. 

Petikan di atas menunjukkan etiologi nama Desa Tihapi (kini Tatiapi). Selanjutnya, karena para raksasa yang berwujud api itu berlari, maka cahayanya seperti berkelap-kelip sehingga wilayah itu lama-kelamaan disebut dengan Laplapan. Masih banyak nama-nama daerah seperti Panuswan, Kendran, Blusung, Tampak Siring, dan yang lainnya yang disebutkan oleh Tjokorde Gde Ngoerah hingga akhirnya Dewa Indra berhasil mengalahkan Maya Danawa dan menciptakan sumber air yang terkenal hinggal saat ini bernama Tirta Empul.

Pasca bercengkrama selama beberapa hari di Istana Tampak Siring, Bung Karno dan Rajendra Prasad melanjutkan perjalanan ke Ubud. Di tempat yang kini menitis menjadi destinasi wisata dunia itu, Bung Karno dan Rajendra Prasad disambut di Pura Mahasaraswati. Ida Tjokorde Gde Ngoerah menarasikan keindahan arsitektur pura yang kini dikenal dengan sebutan Pura Langon tersebut dengan sangat rinci. Mulai dari halaman luar pura yang dikelilingi kolam, patung, dan air mancur. Hingga di halaman dalam pura dengan berbagai meru, patung yang dipuja, dan berbagai sarana upacara pemujaannya. Keberhasilan Tjokorde Gde Ngoerah menguraikan tatanan pura ini dengan begitu rinci disebabkan karena beliau sendirilah arsitek pura Mahasaraswati itu. Tjokorde Gde Ngoerah juga mengarsiteksi pembangunan Puri Agung Ubud pasca tertimpa gempa dahsyat sekitar tahun 1960-an.

Di Pura Mahasaraswati, Bung Karno dan Rajendra Prasad diperciki tirta penyucian oleh para pendeta didampingi oleh keluarga Puri Ubud terutama Anak Agung Oka Gianyar. Para pelayan kedua presiden tersebut berasal dari berbagai wilayah di Gianyar seperti Ubud, Tegalalang, dan Kedewatan. Usai berbagai rangkaian upacara untuk memohonkan keselamatan kepada Presiden Indonesia dan India, Tjokorda Gde Ngoerah menceritakan dua orang pelayan yang membawa kenang-kenangan khusus untuk kedua tamu Negara itu. Kenang-kenangan itu berwujud teratai emas dan diterima oleh Sukarno serta Rajendra Prasad dengan perasaan senang.

Bertolak dari Pura Mahasaraswati, Bung Karno dan Rajendra Prasad sempat mampir sebentar ke Museum Ratna Warna (Museum Puri Lukisan). Di museum tersebut, beliau disuguhi berbagai karya lukisan dan patung dengan kualitas terbaik. Tak berselang lama, Presiden Indonesia dan India itu pun pulang.

Kepulangan Bung Karno dan Rajendra Prasad dari Museum Ratna Warna juga mengakhiri geguritan yang ditulis oleh Tjokorde Gde Ngoerah. Pengarang yang juga menulis Geguritan Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun dan Tataka Suda ini adalah pencatat peristiwa zaman yang baik. Ia seperti tak mau melewatkan berbagai peristiwa yang sempat terjadi di catus pata Ubud. Jejak perjalanan Bung Karno dan Rajendra Prasad abadi dalam geguritan yang bisa didendangkan hingga hari ini.

Diplomasi Indonesia dan India

Sewindu sebelum Rajendra Prasad tiba di Indonesia, pada tahun 1950 Presiden Soekarno mendapat undangan dari presiden India Rajendra Prasad untuk berkunjung ke India guna merayakan perayaan kemerdekaan bangsa India dari penjajahan Inggris. Kemerdekaan India dirayakan pada tanggal 26 Januari 1950. Turut serta dalam rombongan presiden republik Indonesia itu adalah Ibu Negara, Fatmawati. Rombongan ini bertolak dari Indonesia pada 23 Januari 1950. Setiba di India rombongan disambut Presiden Rajendra Prasad yang ketika itu berusia 70 tahun.

Foto Penyambutan Bung Karno oleh Rajendra Prasad tahun 1950 di India | Foto https: Wikipedia

Setelah beberapa hari tinggal dan dijamu di istana kepresidenan, Bung Karno dan rombongan diundang perdana menteri India yang bernama Jawaharlal Nehru, dan diminta bermalam di rumahnya yang begitu besar dan indah. Fatma sangat mengagumi rumah Nehru yang berkonsep tradisional swadesi. Semua perabot dan perlatan rumah sang perdana menteri yang asli buatan bangsa India sendiri. Dalam waktu singkat, Fatma sudah sangat akrab dengan Nehru. Ketika itu, usia Fatmawati baru 28 tahun. Nehru menyayangi Fatma bagaikan anaknya sendiri. Setiap jalan beriringan, Nehru selalu menggandeng tangan Fatmawati.

Lima tahun setelah kedatangan Bung Karno ke India, pada tahun 1955 terjadi pertemuan konferensi Asia Afrika di Bandung. Pertemuan yang juga sering disebut Konferensi Bandung ini diikuti oleh negara-negara Asia-Afrika yang baru saja meraih kemerdekaannya. Konferensi Asia-Afrika diprakarsai oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India, dan Pakistan. Pertemuan yang terjadi dari tanggal 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung ini pada intinya tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya. Dalam pertemuan tersebut, India diwakili oleh perdana menterinya yang bernama Jawahlal Nehru.

Dari rangkaian pertemuan ini, hubungan antara Indonesia dengan India terajut baik. Jawaharlal Nehru dan Soekarno kemudian menjadi tokoh penggerak Gerakan Non Blok yang mampu meredakan ketegangan antara Blok Barat yang dinahkodai Amerika Serikat dan Blok Timur oleh Uni Soviet. Gerakan ini mampu membawa warna baru dalam kancah politik dunia[1]. Soekarno pernah menulis surat pada Nehru, “India dan rakyatnya terikat erat pada kami dengan darah dan kebudayaan. Hubungan ini telah terjalin dari awal tercatatnya sejarah. Kata India juga akan selalu ada dalam hidup kami. Sebagian kata itu merupakan rangkaian huruf pertama yang kami pilih untuk menamai bangsa dan negara ini” (Suryo Nugroho, 2016: 127).

Lekatnya hubungan Indonesia dengan India di era tahun 1940-an disebabkan oleh situasi negara yang tidak jauh berbeda. Kedua negara itu masih belum stabil secara politis pasca dekolonisasi bangsa Barat. Gerakan Nonblok yang digagas oleh Bung Karno dan Jawaharlal Nehru ditujukan untuk menghimpun kekuatan baru Negara-negara berkembang di Asia dan Afrika dalam forum internasional[2].

Bertitik tolak pada rajutan hubungan antara Sukarno dengan para pemimpin India seperti Rajendra Prasad dan Nehru, Bung Karno sesungguhnya berusaha merawat hubungan politis negara-negara yang baru saja merdeka. Perjalanan Bung Karno dengan Rajendra Prasad di Bali yang termuat dalam Geguritan Rajendra Prasad juga mengabadikan usaha diplomasi dua pemimpin negeri. Dua pemimpin negeri itu tidak saja peletak fondasi bangsanya masing-masing, tetapi juga tidak pernah lelah untuk menyalakan nyali negara-negara lain untuk berdiri sesama tinggi dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Sebagai doa penutup untuk keabadiaan Bung Karno dan Rajendra Prasad yang sudah mencapai alam shunya, mari kita petik mantra Mretyunjaya yang dialirkan Ida Tjokord­a Gde Ngoerah kepada kita:

mretyujaya, ayu werdi jagat pati, suka sriya dharma stuti, nemua suka nemua ayu, Ongkara nama wikrana, anugraha sidhi mandhi, ayunulus, suddha kang jagadhita ya.


[1] https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/foto-kunjungan-sukarno-pada-tahun-1950-ke-india/

[2] https://eprints.umm.ac.id/54364/3/BAB%20II.pdf


[i] Parama Suksma dihaturkan kepada Cokorda Gede Bayu Putra, Cokorda Agung Ichiro Sukawati, dan Ratu Aji Ida Bagus Oka Manobhawa atas nyala semangat yang senantiasa dijaga dalam menelusuri kekaryaan Tjokorde Gede Ngoerah.

[ii] Informasi didapatkan dari sahabat Kadek Surya Jayadi, seorang dosen muda dari Program Studi Sejarah, FIB Unud.

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Tags: Bung KarnolontarSoekarnoTjokorde Gde Ngoerah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

Next Post

Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co