6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 2, 2023
in Cerpen
Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi: Putu Dudik Ariawan

MALAM telah suntuk untuk kita lanjut ngobrol. Terlalu banyak bualan yang aku muntahkan. Kau pura-pura tak paham apa yang kita bicarakan.

Kau berusaha membuka mata sembari mengutus air matamu untuk menggenang lalu terjun membasahi kain yang menutup pinggang hingga mengalir di mata kakimu.

Sesekali, tanganmu tak kuasa ditahan untuk melempar telapaknya ke pipimu sendiri. Aku berusaha tak peduli tapi pipimu betul-betul merah.

Kipas angin kunyalakan dengan kecepatan maksimal agar tak terdengar isakanmu dari luar. Aquarium yang tetap memutar air keruh, sedikit menutupi desah napas tersendatmu. Empat jam aku bicara tanpa putus.

Aku ingin menjelaskan hingga benar-benar kau paham keputusanku. Namun di sela-sela mulutku yang menggerutu dan mata yang memerah, kau justru menyela dengan tepukan di pipimu. Pipi kiri, lalu pipi kanan.

Kakimu gemetar dan napasmu tersendat entah karena tangisan yang kau tahan atau anti nyamuk bakar yang aku nyalakan.

Habis sudah kata-kataku tapi kau yang kusuruh pergi tak juga mengangkat tubuhmu yang lemas dari sebuah ranjang kecil di kamar kita. Sesekali kutarik tanganmu berusaha membangunkan tubuhmu. Kau menolak. Sesekali kutarik kakimu agar segera pergi tapi tak juga kau bergeming.

Hingga aku lelah, kubiarkan kau diam begitu saja. Aku menghadap ikan-ikan dan sengaja membelakangimu sambil menyulut api pada sebatang rokok.

Pikiranku yang kusut, sementara bisa ditangani tembakau bakar dan sekaleng kopi kemasan. Asap anti nyamuk dan tembakau bercampur aduk, mataku masih merah dan basah meskipun rambutku yang berantakan karena kujambak bisa dirapikan dengan mudah. Itu yang membuatku enggan keluar kamar karena para saudara yang tersedu di luar akan tambah kalut ketika melihat keadaanku dan air matamu yang nampak berbeda dengan air mata mereka.

Pintu tertutup rapat, begitu pula jendela dan gorden. Tetapi asap dupa dengan aromanya menyelinap lewat ventilasi yang tidak terlalu besar. Suara obrolan yang berbisik terajut menusuk kamar.

Kita sedang berduka, tetapi pada saat ini pula kau membuat duka yang lebih dalam dari sebuah kematian untukku. Yang lebih menyedihkan, aku tak pernah curiga padamu sedikit pun. Aku terlalu percaya. Aku baru tahu bahwa aku hanya bisa percaya pada diriku sendiri, tidak pada siapa pun karena setiap orang menyimpan borok yang dibalut rapi. Aku sangat menyesal.

Aku ingin terisak sepertimu, tapi isakanku sudah habis sebelum kita masuk ke kamar.

Sementara aku masih memikirkan segala penyesalanku dan menimbang jalan keluar, tiba-tiba langkahmu bertenaga dan kau mendekat. Kau memelukku dengan harapan aku memaafkanmu. Sekarang kita hanya akan berpura-pura baik karena semua saudara tak mungkin siap mendengar kabar ini.

Kau menanyakan anak-anak kita? Mereka akan tetap bersamaku di sini. Masih ada ibu yang meskipun mulai renta, siap menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Tak ada masalah tentang itu. Tugasmu sekarang adalah berpura-pura tak terjadi apa-apa dan tidak membuat siapa pun di luar sana curiga. Aku hanya meminta waktu barang sebulan hingga dua bulan sebelum pembicaraan kita menjadi sebuah mimpi buruk yang nyata.

Kamar masih berantakan. Lebih berantakan dari pada biasanya. Tapi ibu menggedor pintu berkali-kali karena kita pura-pura tak mendengarnya.

“Bar, cepat keluar. Ajak Luh juga!” ucap ibu berulang-ulang dengan gedoran yang semakin menegas.

Ketika kubuka pintu, kulihat mata ibu yang tak habis-habisnya menggenangi air itu menatap mataku. Punggungnya yang bungkuk membuat ibu harus menatap agak ke atas yang seolah-olah memamerkan air matanya. Kata ibu, teman kita datang menjenguk. Aku tak habis pikir, siapa yang datang pada malam-malam suntuk seperti ini.

Penasaranku dijawab dengan langkah kaki yang mengantarku mendekati teman kita yang dimaksud ibu. Ketika melihat bahu orang yang dikatakan ibu itu, aku sudah mengenalinya. Kemarahanku lagi-lagi tersulut begitu saja. Tanganku gemetar dan mengeras seolah-olah seluruh tenaga berada pada kepalan itu.

Dia menyadari kedatanganku. Tetapi aku tak percaya, seluruh tenaga di kepalan itu luntur setelah dia tersenyum dan memamerkan mata yang mirip dengan mata ibu, lalu mendekatiku dengan iba.

Dia menarikku. Mengantarkan pada satu tempat yang agak sepi. Aku diam saja dan mengikuti ajakannya untuk duduk di sebuah kursi yang dia bersihkan dengan tangannya. Beberapa detik menyela, kami diam saja.

“Aku rasa aku paham perasaanmu. Aku juga pernah mengalami hal ini,” katanya membuka obrolan kami.

Aku masih tak habis pikir mengapa kemarahanku hilang dan seolah-olah semua masalah yang kita bicarakan hangus tak meninggalkan asap. Tetapi aku hanya diam, tak tahu apa yang harus kujawab dari kata-kata yang tak habis-habis kudengar sejak pagi tadi.

Tiba-tiba saja ketika kami terdiam dan mataku tertuju pada pintu kamar kita, kau keluar dengan kepala yang menunduk. Kau langsung pergi ke dapur yang dijadikan tempat ngobrol malam ini oleh ibu-ibu tetangga kita. Tanganmu kau tumpuk lurus rapi sambil membungkuk permisi pada orang-orang yang sibuk bermain kartu di depan kamar.

“Luh, kopi tiga tanpa gula, teh satu tidak terlalu panas, sama air putih satu, ya!” sela salah seorang pemain kartu itu padamu. Sepertinya mereka tahu kau akan langsung menuju dapur.

“Ibumu bagaimana keadaannya? Aku tak berani bertanya padanya tadi,” lanjutnya mengisi keheningan kami.

Tapi mulutku tak dapat menjawab pertanyaannya. Pikiranku kini gundah, antara harus marah, bersedih, atau berduka.

Tiba-tiba tangan kurus menyentuhku dari samping ketika aku hanya melongo dengan tatapan kosong dan pikiran yang sibuk tak berujung. Aku menatap ke arah tangan itu. Ternyata ibu yang menyuruhku mengajak teman kita makan. Tapi ia menolak dengan alasan masih ingin ngobrol denganku.

Pada ibu, aku bisa memuntahkan barang beberapa kata-kata untuk mengikuti kehendak teman kita. Lalu ibu pergi dengan langkah tertatih dan tangan kanan yang mengelus kedua mata tuanya bergantian.

Tanpa rasa malu, teman kita meneteskan air mata juga. Dia menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya merah dan air matanya mengalir begitu deras. Aku semakin bingung antara harus marah karena obrolan kita tadi dan menenangkan teman kita yang kini tersedu.

Kau tahu, air matanya itu membuat tanganku lemas dan bergerak mengelus punggunggnya meski aku masih menyimpan ragu untuk itu. Tangisannya kian mereda setelah berkali-kali tanganku mondar-mandir di atas punggungnya. Giliran tangannya yang lemas terkapar di atas paha.

“Bar, Luh membuatkan kalian kopi, minumlah,” ucap ibu yang selalu terasa tiba-tiba karena aku terlalu sibuk dengan pikiran kusutku.

“Makasi, Bu, maaf merepotkan malam-malam,” ucapnya dengan santun.

“Tidak apa, minumlah! Nanti menginap saja di sini kalau tidak berani pulang.”

Betapa lancangnya ibu ingin mengajak orang ini menginap di rumah kita. Ibu tidak tahu apa-apa, sementara sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskannya. Untung dia menolak tawaran tersebut dengan alasan yang tak ingin kuingat.

“Tunggu sebentar, aku mau ke kamar!”

Aku bangkit dari kursi yang membuatku diam itu lalu segera ke kamar untuk mengambil sebungkus rokok yang lupa kubawa waktu dipanggil ibu.

“Mau rokok?” tawarku padanya meskipun aku tahu dia bukanlah seorang perokok.

Dia menolak dengan menggelengkan kepala. Kami kembali pada sunyi. Yang terdengar hanyalah sorak-sorai para pemain kartu yang sesekali memecah hening.

Sementara aku menyulut rokok, kuintip dia dengan sebuah lirikan pada tangannya yang menanggalkan air di balik kaca matanya.

“Bar, aku ingin minta maaf,” ucapnya lirih.

Lirikanku seketika menjadi tatapan yang tegas dengan penuh penasaran.

“Aku tak tahu harus berbuat apa. Ketika itu Luh memang di depan mataku. Yang melakukan semua itu memang temanku. Teman baikku! Di rumah kontrakanku pula! Tapi apa yang bisa kuperbuat ketika Luh datang dengan sempoyongan di tangan temanku itu. Luh mengaku seorang janda, Bar!” lanjutnya.

Kali ini kuharap dia berhati-hati berbicara agar aku tak terpancing oleh kemarahan yang masih tersimpan. Malam ini bukanlah malam yang tepat untuk minta maaf. Kesedihan, kemarahan masih berbaur bagai sahabat yang siap memainkanku seperti dalang yang memainkan wayangnya.

“Kali ini kalian harus makan. Nasi goreng baru saja matang. Ini untuk warga yang menginap dan bermain di rumah, jadi kalian juga harus ikut makan,” ucapan bibiku sambil menyodorkan dua piring nasi goreng.

Lagi-lagi pembicaraan kami terpotong dan tambah beku ketika kau yang membawakan kami air mineral dengan wajah yang nyaris tak terlihat karena menunduk. Kau menaruh beberapa air mineral kemasan di samping kami, lalu pergi tanpa sepatah kata.

“Makanlah dulu. Ini bukan tawaran, tapi suruhan!” ucapku dengan nada yang hampir terputus-putus.

“Bar, Luh tak menolaknya, tak juga melawan. Aku tak berharap hal ini terjadi, terlebih di tengah-tengah kalut keadaan ini. Aku benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa. Aku segan melarang mereka berdua di kamar hingga akhirnya kini Luh mengandung anak ketiganya. Maafkan aku, Bar.”

Mataku menetesi air yang masih tersisa. Aku memang bukan lelaki yang bisa berkelahi, pilihanku biasanya hanya menyimpan masalah dan mengabadikannya sebagai dendam. Aku tak menjawab apa pun.

“Aku tak ingin pertemanan kita putus! Kurasa kau tahu, Bar. Luh waktu itu ke tempatku untuk meminjam uang. Tapi dia malah datang dengan teman baikku. Kita bertiga telah berteman semenjak kuliah. Aku tak mungkin menikammu dari belakang. Percayalah padaku, Bar! Dan kedatanganku kini adalah untuk belasungkawa pada ayahmu yang terbujur di Bale Dangin, juga pesan singkatmu yang menuduhku seenaknya. Sekarang aku harus pulang. Aku paham keadaanmu!”

Ia beranjak dari tempat duduk, kini gilirannya memegang pundakku. Ia pamitan pada ibu, namun tidak padamu. Ia berlalu di balik pagar rumah meninggalkan nasi yang dibawakan bibi. [T]

  • Catatan: Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu” karya Agus Wiratama (Mahima, 2019)
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Fête De La Musique | Cerpen Santos Philipus
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pranita Dewi | Bedawang Nala

Next Post

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co