6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta by Krisna Wiryasuta
June 24, 2023
in Cerpen
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Ilustrasi Krisna Wiryasuta

ANGIN PESISIR mengantar debu, menerbangkan rambut Ketut Sujana. Rambut yang selalu disisir rapi itu pun kini tak rapi lagi. Ketut Sujana harus merapikan lagi, berkali-kali.

Belakangan ini Ketut Sujana memang harus menjaga pemapilannya. Dalam tiga bulan mendatang ia akan melangsungkan pernikahan, tentu penampilan akan menjadi penting baginya demi menjaga keyakinan keluarga mempelai perempuan.

Sujana akan meminang Nengah Surni,  seorang gadis asal Desa Sebuli, sebuah desa dingin  yang terletak di kaki Gunung Merbuk di Jembrana. Sementara Sujana sendiri lahir di daerah pesisir, Desa Ambuhan. Masyarakat Jembrana memiliki sebutan unik untuk pasangan semacam ini: pasangan “nyegara gunung”. Artinya, pasangan yang berasal dari daerah pesisir dan juga pegunungan.

Ketut Sujana baru saja menyelesaikan pendidikannya di sebuah kampus di Bali Utara. Empat tahun merantau membuat Ketut Sujana meninggalkan sebagian kewajibanya sebagai pemuda hindu di Desa Ambuhan. Sebagai desa kecil, Ambuhan memberikan kewajiban tidak tertulis kepada setiap penduduknya, semacam budaya yang diwariskan oleh leluhurnya, kemudian disempurnakan menjadi sebuah aturan tertulis, yang kemudian disebut sebagai awig-awig oleh masyarakat Ambuhan

Persiapan pernikahan Sujana dan Nengah Surni tinggal sebulan lagi. Sujana telah memesan lima ekor babi dari tetangganya sebagai bahan olahan untuk menu utama resepsi mereka. Keluarga Sujana terlihat sangat bersemangat dengan perayaan yang mereka bayangkan akan berlangsung meriah.

Surat undangan akan segera disebar oleh Sujana. Melalui panggilan telepon, ayah Ketut Sujana menanyakan persiapan mereka. Ayah Sujana adalah seorang anggota dewan yang bertugas di ibu kota, sehingga jarang pulang ke rumah. Dia hanya pulang saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Masyarakat Ambuhan merasa kesal dan dendam terhadap keluarga Sujana. Tidak tanpa alasan, keluarga Sujana jarang berbaur dan membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan.  Warga Ambuhan menilai awig-awig (aturan desa) sudah menjadi buku sejarah bagi keluarga Sujana. Ayah Sujana yang jarang pulang dan Sujana yang lama merantau merupakan senjata bagi warga Desa Ambuhan untuk membenci keluarga Sujana.

Resepsi pernikahan tinggal dua minggu lagi, dan keluarga besar Ketut Sujana mulai menetap di rumahnya untuk membantu persiapan acara itu.

Lalu tibalah hari di mana Ketut Sujana harus ngidih busung. Ngidih busung adalah hak setiap warga Desa Ambuhan untuk meminta janur kepada seluruh kepala keluarga yang tinggal di sana. Ini adalah salah satu rangkaian acara pernikahan yang tertulis dalam awig-awig atau aturan desa Ambuhan.

Seperti aturan-aturan lainnya, ngidih busung bersifat mengikat bagi semua warga. Namun, keanehan mulai muncul ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan belum ada satupun warga yang datang membawa busung untuk Ketut Sujana.

Sujana mulai merasa cemas.

“Bagaimana jika tidak ada yang membawa busung? Upacara ini membutuhkan banyak busung. Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli busung jika tidak ada yang membawanya?” ucap Sujana kepada ayahnya yang sudah tiba di rumah sejak pagi.

Ketakutan itupun menjadi kenyataan. Sampai pukul sembilan malam, hanya ada empat orang yang membawa busung. Mereka adalah tetangga yang tinggal paling dekat dengan rumah Ketut Sujana. Sujana yakin bahwa mereka mematuhi awig-awig karena merasa tidak enak kepada Ketut Sujana, mengingat rumah mereka sangat dekat.

Malam semakin larut, rumah Ketut Sujana dikunjungi oleh Komang Sulir yang menjadi kelian banjar. Komang Sulir menyampaikan rasa prihatinnya kepada Ketut Sujana.

“Tut, saya turut prihatin. Sebagai ketua, saya merasa bertanggung jawab dalam situasi ini,” ucapnya setelah meneguk kopi yang disajikan oleh Sujana.

“Tidak apa-apa, Pak. Kami mungkin akan membeli busung di pasar untuk upacara nanti,” jawab Sujana dengan sedikit senyuman yang menandakan kekecewaannya terhadap warga desa.

Setelah beberapa tegukan kopi dan dua potong pisang goreng, Komang Sulir pamit pulang. Raut kekhawatiran dan ketakutan juga terlihat di wajah Komang Sulir, tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya.

Setelah itu, Ketut Sujana meneteskan air mata. “Apa salahku kepada warga desa? Mengapa mereka seolah-olah membenciku?” ucapnya dengan lirih.

Malam itu, beralaskan selembar tikar daun pandan disusul dengan wajah cemas, keluarga Sujana berkumpul dan mencari solusi. Diskusi ditutup dengan kesepakatan keluarga mereka akan membeli busung dan perlengkapan lainnya sendiri tanpa bantuan warga desa.

Sejak saat itu, keluarga Sujana mulai sibuk berbelanja, membuat banten dalam jumlah yang sangat banyak, dan menyiapkan dekorasi yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya dari sebuah perusahaan dekorasi. Sujana  takut bahwa tidak akan ada warga yang membantunya jika ia membuat dekorasi sendiri.

Langit mulai memerah, embun-embun di ujung dedaunan mulai terlihat. Keluarga Ketut Sujana sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan resepsi sejak pagi. Pagi ini, mereka akan melaksanakan ngayah sesuai dengan awig-awig yang ada, setiap warga wajib datang pagi-pagi sekali ke rumah warga yang memiliki upacara.

Mereka bertugas memotong babi, membuat lawar, dan melakukan persiapan lainnya yang diperlukan. Namun, ketika matahari sudah berada di atas kepala, belum ada warga yang datang membantu. Padahal, esok hari adalah kedatangan mempelai wanita dan malamnya akan diadakan resepsi.

Hari sudah sore, namun persiapan belum selesai. Dari kejauhan, terlihat rombongan bus datang dan berhenti tepat di depan rumah Sujana. Ternyata, keluarga mempelai wanita sudah datang bersama keluarga besar mereka. Keluarga Nengah Surni kaget melihat suasana yang sangat sepi.

Mereka menyimpulkan bahwa Sujana adalah pemuda yang tidak dihargai oleh warga desa karena jarang berada di rumah dan tidak pernah membantu upacara warga lain.

Tanpa pikir panjang, keluarga Nengah Surni tiba-tiba membatalkan acara pernikahan anak mereka. Mereka tidak ingin menikahkan anak mereka dengan keluarga yang tidak disukai oleh warga desa. Mereka takut anak mereka akan menjadi korban kebengisan warga desa.

Suasana yang seharusnya bahagia berubah menjadi tegang ketika keluarga Nengah Surni bergegas meninggalkan rumah Ketut Sujana. Sujana hanya bisa menangis melihat keadaan ini. Keluarga Nyoman Sujana satu persatu meneteskan air mata.

“Mengapa warga desa begitu kejam?” teriak Nyoman Sujana.

Teriakan ini didengar oleh tetangganya yang kemudian mendekat.

“Sujana, ini semua karena dirimu sendiri dan ayahmu,” ucap tetangganya.

“Apa yang salah, Bli?” Tanya Sujana.

“Kalian adalah warga desa yang tidak peduli dengan aturan dan kondisi desa ini. Kalian tidak pernah melakukan ngayah dan memberikan busung, padahal itu tercantum dalam awig-awig desa,”  sahut tetangga Ketut Sujana.

“Tapi kami selalu membayar jika ada kegiatan ngayah dan ngidih busung. Uangnya selalu saya titipkan kepada Pak Kelian Banjar, Pak Komang Sulir,” ucap Sujana dengan jelas.

“Tapi uangnya tidak pernah sampai ke sana,” sahut tetangga lainnya.

Semua orang di sana saling bertatap-tatapan bingung. Sujana merasa bahwa dia telah menjalankan kewajibannya sebagai warga desa dan mengikuti peraturan desa. Dia merasa kesal dan bertanya-tanya.

Terungkap bahwa Nyoman Sulir-lah yang menjadi dalang di balik semua ini. Uang yang selama ini dititipkan oleh Nyoman Sujana tidak pernah sampai ke warga, melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi Nyoman Sulir. Warga yang ada di sana merasa bersalah kepada Ketut Sujana yang sekarang harus menerima keadaan ini.

Jadilah, Ketut Sujana menjatuhkan pilihanya untuk menjadi bujang seumur hidup, dan Komang Sulir terkurung di jeruji besi lapas Jembrana. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Taufikur Rahman Al Habsyi | Membicarakan Jarak; Mengundang Rindu, Membenci Waktu

Next Post

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta

Penulis, tinggal di Jembrana, Bali

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co