6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengeja Erotika

AS Kurnia by AS Kurnia
October 16, 2022
in Ulas Rupa
Mengeja Erotika

Karya-karya lukisan yang dipamerkan dalam Pameran 'Erotika' di Sika Gallery, Ubud pada 9 - 23 Oktober 2022.

Oktober ini diwarnai beragam pameran seni rupa di berbagai venue di Bali. Satu di antaranya pameran ‘Erotika’ di Sika Gallery, Ubud pada 9 – 23 Oktober 2022. Pameran diikuti 8 perupa yaitu Linkan A Palenewen, Aswino Aji, Goenawan Mohamad, Kemalezedine, Syakieb Sungkar, Wayan Upadana, Ketut Sumadi dan Wayan Mandiyasa. Pasca pandemi, eforia melanda seni rupa Bali.

Sapuan-sapuan lebar, kasar dan bertenaga selalu meninggalkan jejak ekspresif. Bagi Aswino Aji, erotis jadi stimulus, energi untuk mencapai yang diidealkan. Erotis berasal dari kata Eros, dewa cinta dari mitologi Yunani. Dorongan perasaan dalam erotis dipahami sebagai cinta sensual atau dorongan libido. Tiga lukisan seri ‘Mengejar Pelangi’ menggambarkan sosok perempuan setengah badan. Komposisi warna ketiganya mirip. Warna biru dilaburkan pada tubuh setengah telanjang. Di latar belakang dijejalkan warna kekuningan.

Pada ‘Mengejar Pelangi #3’, mantel merah dengan sapuan-sapuan ritmis membiarkan sebagian tubuh sensual terlihat. Figur wanita ini menghadap ke depan dengan rambut tebal kebiruan. Latar belakang kekuningan terasa kontras dengan objek, menyebabkan objek nampak mencolok. Ketiga lukisan Aji dipenuhi sapuan-sapuan liar dengan teknik wet on wet saling tindih, berbenturan, menyeret warna di bawahnya sehingga meninggalkan jejak goresan dan lapisan transparan. Warna merah mantel menjadi aksen menyergap perhatian.

“Dari perspektif laki-laki, saya ingin menggambarkan sosok yang menarik melalui bentuk, guratan, warna, dan ekspresi yang dapat mendefinisikan keinginan ego saya.” Sepenggal pernyataan Aji ini mengingatkan pada Antonio Blanco (pelukis yang sering melukis wanita yang tampil erotis) ketika ditanya; mengapa selalu melukis perempuan erotis. Dia menjawab: karena saya laki-laki. Ketertarikan pria pada wanita adalah keniscayaan. Mengejar pelangi ibarat mengejar harapan. 

[][][]

Seorang perempuan dengan rambut tergerai duduk di kursi dengan sebelah kaki terangkat, bertumpu pada kursi. Figur kekinian ini mengenakan kaos crop dan celana kulot. Tampilannya aktraktif. Gaya dan cara berbusananya menyiratkan pemberontakan terhadap kungkungan ‘tradisi’. Tangan kanannya memegang pisang terkupas yang dimasukkan ke dalam mulut. Alih-alih dimakan, pisang itu terkesan dikulum. Sorot matanya kosong, tidak terkonsentrasi pada pisang tapi pada penonton dengan ekspresi yang interpretatif. Ketika pisang disandingkan dengan wanita kerap diasosiasikan pada kesan sensual. Disimbolkan sebagai alat vital pria. Gambar ini sangat provokatif.

Latar belakang pengalamannya di fashion design rupanya berpengaruh di karya seni lukisnya. Hal tersebut tampak pada penyusunan elemen bentuk, warna dan garis. Linkan menerapkan warna neon, material  yang lazim dipakai di ranah desain mode. Warna neon atau spotlight memiliki tingkat kecerahan yang tinggi.

Pemecahan bidang gambar dengan pola-pola dedaunan/tumbuhan berhasil membangun komposisi yang sangat dinamis. Paduan rumpun warna biru, merah dan kuning memendarkan warna violet, magenta, jingga, pink, oranye, hijau terang.. Warna-warna itu disusun dengan intensitas yang kontras. Pemberian warna biru pekat dan hitam memperkuat komposisi. Tak pelak, lukisan ‘I Intentionally Provoke You’ ini memang indah. Eugene Delacroix pernah mengatakan: Hendaknya lukisan menjadi pesta bagi mata.

[][][]

Lukisan ‘Di Antara Puncak Kenikmatan’ karya Kemal ini bernuansa kemerahan. Terasa hangat. Ia menghadirkan lanskap perbukitan di kanvasnya. Dia mendesain kanvasnya berbentuk bundar, berdiameter 150 cm. Bundaran atau lingkaran menjadi titik fokus konsentrasi atau meditasi. Cara melukisnya mengadopsi kebiasaan pelukis tradisional Bali yaitu membangun visual dengan hitam putih dulu. Tahap berikutnya pewarnaan. Bahan dan alat yang digunakan adalah drawing pen, tinta dan cat acrylic. Dasar melukis Kemal adalah men-drawing, merujuk pada seni lukis tradisional Bali yang pernah diamatinya.

Deretan pola seperti goresan kuas tinta membentuk perbukitan mengingatkan saya pada pola alur perbukitan lukisan gaya desa Sayan. Untuk membuat pola ini Kemal menggunakan alat modifikasi dari mesin tato. Barik-barik hitam berpola memunculkan citra artistik yang dominan di kanvas. Barik ini bergerak ritmis. Bentuk-bentuk genital dan erotis menyelip di bebatuan, di rimbun tumbuhan sementara torso perempuan menyembulkan kedua payudara tergambar jelas. Simbol api dibubuhkan di beberapa tempat memberi kesan membakar, persetubuhan yang panas. Awan vulkanik muncul di sela perbukitan seperti muntahan sperma. Puncak kenikmatan adalah simpulan narasi puncak-puncak bukit dengan aktivitas seksual yang tersembunyi.

[][][]

Lukisan bergenre tradisional Bali muncul pada karya Ketut Sumadi dan Wayan Mandiyasa. Mereka adalah 2 bersaudara kembar identik. Jika tidak mengenal secara intens, sulit membedakan keduanya. Kembar identik memiliki ikatan batin yang kuat dan seringkali memiliki sifat dan selera yang sama. Menarik mengamati karya keduanya di pameran ‘Erotika’ ini yang memiliki kecenderungan visual dan narasi yang mirip. Entah ini kebetulan atau memang saling memengaruhi. Karya keduanya menggambarkan persetubuhan liar beberapa pasangan di sebuah pohon besar.

Karya Ketut Sumadi berjudul ‘Pohon Kenikmatan’ dan Wayan Mandiyasa memberi judul ‘Bulan Madu’ pada karyanya. Narasi kedua lukisan bermula dari sepasang muda-mudi yang dimabuk asmara. Saat berwisata, di perjalanan mereka menemukan tempat nyaman, yaitu sebuah pohon besar. Beristirahatlah pasangan tersebut di sana. Timbullah hasrat bercinta yang dilanjutkan ke persetubuhan. Peristiwa tersebut diketahui para penghuni pohon. Mereka terangsang dan bangkit nafsu berahinya. Terjadilah persetubuhan liar beramai-ramai.

Pohon besar sering disakralkan dan disimbolkan sebagai rumah. Pohon Beringin, misalnya, dilambangkan sebagai rumah para Dewa dan pelebur dosa. Ia dipuja oleh mereka yang ingin memiliki anak karena Beringin dianggap sebagai lambang kesuburan. Jika Mandiyasa memvisualkan figur manusia biasa dalam narasinya, Sumadi menggunakan bentuk-bentuk mitologis dengan dominan warna hitam-putih.

Erotika dan Pornografi

Karya relief berbahan resin yang dilapisi cat mobil warna hitam mengkilat memvisualkan profil lelaki telanjang. Penisnya memanjang, tumbuh meliuk ke atas seperti batang pohon dan bercabang. Di ujungnya bertengger seekor burung. Liukan penis mengesankan adanya energi yang mengalir di dalamnya.

Sejak dulu penis dimaknai sebagai simbol kesuburan, keperkasaan dan kekuasaan. Penis atau lingga dalam ajaran Hindu adalah atribut terkuat dari dewa tertinggi atau kerap dikaitkan dengan Dewa Siwa. Lingga adalah pilar cahaya, simbol benih dari segala sesuatu yang ada di alam semesta.

Insting atau naluri ialah pola tingkah laku yang bersifat turun-temurun yg dibawa sejak lahir. Oleh Sigmund Freud naluri diartikan sebagai tenaga psikis di bawah sadar (id). Dia membaginya menjadi 2 jenis yaitu naluri kehidupan (eros) dan kematian (thanatos). Contoh dari naluri kehidupan adalah lapar, haus dan ‘seks’. Wayan Upadana merefleksikan naluri seksual. Burung akan selalu terbang bebas tapi akan ingat kembali ke pijakan.

[][][]

Pornografi berasal dari kata porno. Pengertian porno adalah cabul. Dalam KBBI, cabul diartikan tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan). Kesopanan dan kesusilaan adalah norma; aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan. Sesuatu dianggap cabul tergantung pada norma di masyarakat, di lingkungan setempat sedangkan budaya masyarakat sangat beragam. Begitu pun soal norma. Di masyarakat satu dan lainnya berbeda. Pada masa Lempad tentu berbeda dengan masa sekarang dalam hal tatanan norma di masyarakat. Begitu pula pada lingkup antardaerah, desa dan kota.

Melihat dokumentasi foto tahun 1930-an – 1960-an tak sedikit gadis-gadis muda Bali yang bertelanjang dada. Di pasar pemandangan ini juga banyak ditemui pada pedagang atau pembeli. Penari dulu dadanya juga terbuka. Ketelanjangan sangat biasa ditemui di sungai. Di pemandian yang jarak pancuran satu dengan lainnya cuma semeter, laki-perempuan biasa mandi berdampingan, telanjang. Patung telanjang, kerajinan pembuka tutup botol berujud penis banyak dijumpai di pasar seni, di kios-kios kerajinan. Masyarakat tradisional tidak pernah terganggu. Pikiran masyarakat moderen sudah di-framing bahwa ketelanjangan, gambar persenggamaan itu pornografi.

[][][]

Pilihan warna merah pada sofa semata-mata pertimbangan keindahan dan komposisi. Tak ada maksud untuk meningkatkan berahi seksual penonton. Tentu banyak alternatif warna tapi satu pilihan itu mutlak. Komposisi diagonal pada objek perempuan telanjang lebih terasa dinamis jika dibandingkan horisontal, misalnya. Tak perlu bertanya; apa yang dinanti perempuan tersebut. Lukisan ‘The Red Sofa’ Syakieb Sungkar adalah sebuah proses studi, penggalian.

Hampir semua perupa pernah memvisualkan figur telanjang dalam bentuk patung maupun lukisan karena itu bagian dari proses belajar, pemahaman, pendalaman dan berkesenian. Ketelanjangan bagi seniman itu keindahan karena seniman studi dan menarasikan keindahan bukan pornografi.

[][][]

Pada ‘Studi Erotika’, Syakieb mendeformasi tubuh objek meski tidak drastis. Lukisan persenggamaan sepasang laki-perempuan ini dipenuhi goresan atau sapuan ekspresif pada sekujur tubuh. Syakieb tidak melukisnya secara realistik.

Di latar belakang, sengaja dijejalkan sapuan-sapuan dan torehan warna cukup riuh, terkesan seperti abstraksi lanskap atau tafril. Syakieb ingin mengacaukan asosiasi atau mereduksi center of interest pada objek. Aplikasi warna-warna dengan intensitas senada menjadikan lukisan ini terasa adem. Tidak menggelegak.

Ida Bagus Made pernah melukis persenggamaan manusia dengan celeng. Lempad memiliki gambar seri Kamasutra. Lukisan Lempad dan Ida Bagus Made tentang ketelanjangan dan persenggamaan pada masanya dianggap hal biasa. Kultur masyarakat setempat menerima bahkan istilah pornografi barangkali tidak dikenal di masyarakat tradisional pada waktu itu. Istilah pornografi adalah produk masyarakat modern. Pornografi semata-mata membangkitkan berahi seksual. Lebih-lebih jika menjadi industri komoditas. Pada erotika ada unsur-unsur lain yaitu estetika, artistik, puitik dst.

[][][]

Pengalaman pribadi banyak menginspirasi para seniman dalam menciptakan karya seninya. Selama 18 tahun Syakieb Sungkar terlibat dengan kucing. Dari seekor anak kucing yang mati kelaparan di dalam kamar terkunci, berganti ke kucing Siam, Anggora dan kucing kampung American Shorthair.

Sosok makhluk hibrida berkepala kucing duduk di kursi menyilangkan kaki sedang menikmati secangkir kopi. Dia mengenakan jas dan celana panjang. Sebelah kakinya yang bertumpu ke lantai seperti batang pohon. Kursinya tanpa kaki. Sebuah meja menyerupai bonggol pohon dihadirkan ke tengah ruang. Bentuknya bergelombang tak beraturan. Permukaannya datar. Ada lepek kopi di sana. Lambungnya beralur-alur searah lingkaran meja. Menyembul tatahan seraut wajah dengan ekspresi aneh.

“Meja itu melambangkan kekacauan dan ketidakpastian, mungkin juga ketakutan akan masa depan,” kata Syakieb. Posisi meja itu enigmatis, terkesan melayang tapi juga nampak berpijak di lantai. Ada kegalauan pada diri Syakieb. Bagaimana jika kucing satu-satunya mati? Kucing ini seperti keluarga. Kerap tidur bersamanya. Apakah isterinya akan seterusnya memungut kucing lagi setiap kucing peliharaan mati? Bagaimana seandainya isterinya bisa mengandung kucing? Haruskah Syakieb menjadi seekor kucing?

Syakieb membongkar dan mempreteli realita. Menyusunnya di tafril kanvasnya, menciptakan drama yang ganjil. Tafril ini surealistis. Permainan perspektif ruang dan dimensi yang acak. Seorang perempuan berdiri telanjang di ruang di dalam ruang, tersusun di bidang kanan kanvas. Ruangnya datar dengan langit penuh susunan awan menjadi latar belakang. Ia tengah mengandung seekor kucing. Komposisi awan menyimbolkan dinamika imajinasi, gejolak angan dan harapan. Di bagian kiri ada tirai. Bagian tengah yang terbuka menampakkan ruang belakang. Sepotong halaman, dinding batu dan lanskap tumbuhan tersusun datar.

Sebuah gambar dramatis meneror mata kita. Seekor kucing sedang berbaring santai. Kepalanya menoleh ke penonton. Bagian tengah tubuh terkupas menampakkan tulang rangkanya, mengingatkan pada tulang ikan bakar di atas piring yang menyisakan ekor dan kepala. Kucing ini sepenggal kenangan pada kucing yang mati kelaparan. Kucing ini menyediakan dagingnya untuk disantap. Keluarga Kucing menggambarkan keluarga hibrid. Keluarga imajinatif yang liar.

[][][]

Sebagai sastrawan, lukisan-lukisan Goenawan Mohamad terkesan puitis dan surealistis. Lukisan ‘Pasca Orgasme’ terinspirasi dari karya puisinya.

Semakin ke tengah tubuhmu / yang telanjang / dan berenang / pada celah teratai merah

Ketika desau angin berpusar / ikan pun / ikut menggeletar

Puisi ini penggalan dari puisi ‘Persetubuhan Kunti’. Bait puisi ini mengisi bidang atas lukisan. Di bagian lain berada dua tubuh diferensial. Di latar depan berdiri tubuh lelaki tanpa kepala. Tangannya sebatas lengan. Kakinya pun sebatas paha. Posenya menghadap ke depan menampakkan kemaluannya. Di belakangnya, sesosok perempuan telanjang berdiri membelakangi. Kakinya melangkah seperti hendak berjalan pergi, meninggalkan sang lelaki.

Lukisan ini dilaburi warna abu-abu sebagai dasar. Objek kemudian dilukis di atasnya. Pada tubuh perempuan, warna abu-abu kekuningan dipulaskan dengan sapuan-sapuan lembut. Refleksi cahaya berwarna oranye disapukan pada satu sisi tubuh. Jika pulasan warna di tubuh perempuan menggunakan sapuan lembut, goresan-goresan kasar disapukan pada sekujur tubuh lelaki. Karakter ini memunculkan kesan maskulin. Warna oker diisikan ke tubuh, tidak penuh. Sebagian menyisakan warna dasar abu-abu sebagai tone gelap. Garis-garis lembut seperti kontur yang ada pada tepi figur membuat kesan plastis. Goresan mengambang, tidak menekan dalam ke kanvas menghasilkan efek optis, bergetar.

Kepala adalah tempurung pikiran. Dia juga simbol identitas karena memiliki rupa. Dua tubuh diferensial yang berada dalam satu situasi ini tak menampakkan rupa. Persetubuhan suci adalah persetubuhan jiwa, tak perlu pikiran. Identitas persetubuhan itu ialah lingga dan yoni.

[][][]

Pada lukisan yang lain, sosok telanjang tanpa kepala berada di tengah kanvas. Kaki dan tangan terpotong. Payudaranya menonjol. Organ genitalnya digambarkan dengan garis lengkung. Tubuh ini bentuknya gembung. Warnanya kecoklatan. Karakternya mirip kayu. Nampak seratnya yang terbentuk dari goresan-goresan kuas. Beberapa lubang atau liang ada di kaki, perut dan di kerongkongan. Liang jamak dijumpai pada kayu. Pendek kata, tubuh ini tidak ideal. Bagai benda rusak. Tak indah, tak mulus, keras, dingin. Sama sekali tidak merangsang, tidak erotis meski telanjang dan menampakkan organ sensual.

Di depan sosok gembung tersebut diletakkan sepatu wanita dengan hak tinggi. Tidak lengkap. Cuma sebelah. Warnanya kemerahan, pink tua. Mencolok, menyedot perhatian. Tidak ada wanita di situ tapi sepatu warna pink membawa imajinasi kita ke sosok wanita cantik, mulus, indah. Syukur-syukur telanjang. Sepatu pink ini bisa sangat naratif dalam imajinasi kita. Lukisan ‘Antierotika’ karya Goenawan Mohamad ini berlatar belakang kelabu kebiruan bagai langit mendung. Objek seperti melayang. Tak ada batas ruang. Tak ada batas imajinasi.

“Seperti kebanyakan orang, saya memahami ‘erotika’ dalam kaitannya dengan tubuh dan berahi. Persoalannya, bagaimana kedua hal itu — yang erat bertaut — dipandang.”  Statement Goenawan Mohamad dalam konsep karyanya di pameran ini. [T]

Bedulu, 16-10-2022

[][][]

Warna Bali, Natural Balinese Colors in The Contemporary Art –Pameran 14 Perupa di Gala Rupa Balinesia Art Space
Tags: erotikaerotisGoenawan MohamadPameran Seni RupaSeni RupaUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Next Post

Teater Gadhang UNS Surakarta Pentaskan Anai-Anai

AS Kurnia

AS Kurnia

Pelukis dan Penulis. Lahir di Semarang, 1960 dan sejak tahun 1990 bermukim di Bali. Beberapa kali pameran tunggal dan banyak terlibat dalam pameran bersama. Pernah meraih Penghargaan Pertama "Kompetisi Pelukis Muda Indonesia" tahun 1989 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Alliance Francaise. Menulis di Koran Jayakarta, Dharma, Kartika Minggu, Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Tribun Bali.

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Teater Gadhang UNS Surakarta Pentaskan Anai-Anai

Teater Gadhang UNS Surakarta Pentaskan Anai-Anai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co