24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dikiranya Gampang Menanam Cabai

Redaksi Tatkala Buleleng by Redaksi Tatkala Buleleng
September 20, 2022
in Pertanian
Dikiranya Gampang Menanam Cabai

Kebun cabai | Foto: Edi Juliana

Saat kondisi ekonomi normal pun cabai selalu dibicarakan, dicari dan dibeli. Apalagi, saat ini, ketika inflasi melanda negeri, cabai makin seru jadi bahan bicara.

Ini akibat cabai dianggap sebagai salah satu komuditi penyebab inflasi, selain bawang.

Sejak harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, lalu disambung dengan inflasi, sejumlah pejabat sibuk membicarakan cabai. Lalu muncullah gerakan menanam cabai. Warga digerakkan menanam cabai di pekarangan rumah.

Ibu PKK, PNS. Dan pegawai kantoran, bersama keluarga mereka mendorong pergerakan untuk ikut menanam cabai dalam polybag,

Pejabat-pejabat dari pemerintah kabupaten di Bali pun ramai-ramai mengeluarkan instruksi yang mirip-mirip. Tanam cabai ramai-ramai. Mirip intruksi untuk senam kesegaran jasmani setiap Jumat.

Perusahaan daerah juga diminta membantu bibit pada TP PKK agar mereka bisa menanam cabai. Seakan-akan bertani itu gampang, Seakan siapa pun bisa. Padahal, jadi petani itu berat. Cukup petani saja.

Meski di google banyak tersebar tips menanam cabai dalam polybag, tapi menanam cabai tidak semudah membuat bumbu masak seperti juga banyak tutornya di google. Tips itu bisa dipahami, tapi bisa sngat susah diikuti.  

Perlu Perawatan Rutin

l Komang Edi Juliana, lelaki asal Buleleng yang memiliki usaha pertanian terpadu Amerta Giri Lesung (TARING), menilai instruksi menanam cabai dalam polybag itu bisa dianggap keliru.

“Daripada meminta ibu-ibu PKK dan keluarga menanam cabai dalam polybag, lebih baik pemerintah fokus membantu petani cabai yang selalu setia menanam cabai,” kata Edi Juliana.

Tidak semua orang bisa menanam cabai dan dengan mulus bisa langsung panen dalam waktu tiga bulan. Cabai tak bisa ditanam begitu saja, lalu si penanam ongkang-ongkang menunggu panen. Tidak bisa. Ada sejumlah tahap pearawatan agar pohon cabai tidak layu, lalu mati.

“Maaf ya, saya tak menyangsikan,” kata Juliana.

Ia mempertanyakan; ibu-ibu atau keluarga yang punya banyak kesibukan, apalagi mereka kerja kantor misalnya, apakah punya waktu untuk merawat pohon cabai yang ditanamnya? Jika tak dirawat dengan baik, bibit yang ditanam bisa saja tumbuh, tapi  di pertengahan perjalanan bisa mati dengan mudah jika tak mendapat dengan baik.

Menanam cabai, kata Juliana, memerlukan pengolahan lahan yang baik, juga upaya tekun dalam perawatan tanaman. Cabai itu sejenis tanaman sayur yang rentan dengan berbagai virus dan penyakit.

Jadi, lebih baik fokus membantu petani atau usaha tani yang memang sudah terbiasa menanam cabai. Masih banyak petani yang dengan tekun menanam cabai, meski misalnya seringkali gagal untung, antara lain akibat   

Wilayah Mana di Bali yang Kerap Punya Kebun Cabai?

Edi Juliana sendiri adalah seorang petani petualang. Dia biasa keliling Bali untuk menemui petani, mengajak diskusi sembari mengedukasi cara pengelolaan pertanian, misalnya bagaimana menggunakan pupuk organik.

Saat ini ia sedang menyiapkan 500 bibit cabai untuk ditanam di sejumlah wilatah pertanian “binaannya”. Salah satu yang terluas adalah di wilayah Tamblingan, Desa Munduk, Buleleng.

 Total lahan di wilayah Tamblingan yang telah ia siapkan seluas 1 hektar plus 30 are. Dari lahan seluas itu, 30 are akan ditanami cabai, sedangkan 1 hetarnya ia tanami kentang.

“Ini sedang persiapan,” katanya.

Edi Juliana melihat, selain di daerah Tamblingan, banyak petani di desa-desa atau di subak yang terus setia menanam cabai.

Di Gianyar, tepatnya di wilayah Desa Sukawati, di sekitar pasar seni, masih terdapat kebun cabai yang yang cukup luas. Ada sekitar 10 hektar tanaman cabai di Sukawati, dan itu ditanami dengan system tumpang sari dengan tanaman tembakau.

Di Buleleng selalu terdapat perkebunan cabai di Gerokgak. Bahkan di Gerokgak sempat terjadi booming panen, sehingga membuat harga cabai menjadi turun harga, sampai sekitar Rp 20 ribu hingga 25 ribu perkilo gram.

Di Wilayah Baturiti, Bedugul dan Pancasari terdapat sejumlah perkebunan cabai besar, atau di Bali biasa disebut cabai lombok.

Di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Tabanan, juga ada petani yang tetap menanam cabai, meski lahannya tergolong sedikit yakni sekitar 35 are. Demikian juga di wilayah Desa Sedang, Badung, terdapat juga petani tetap menanam cabai.

Jika Mahal Untung Berlipat

Tantangan menanam cabai memang lebih banyak pada harga pasar. Jika cabai dirawat dengan apik, lalu mulus hingga musim panen, maka petani pun untung berlipat-lipat. Tapi jika harga anjlok, ya petani rugi.

Namun jarang terjadi harga cabai anjlok sampai ke titik terendah. Hitungannya, harga berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu saja, petani sudah pakpok alias seri, alias sapih, alias tidak untung tidak rugi. Jika harganya sampai Rp 50 ribu seperti sekarang ini, maka petani pun dipastikan untung.

Cabai di Desa-Desa di Buleleng Dipantau

Di Buleleng, daerah yang menjadi sentra produksi beragam jenis cabai, mulai dari cabai rawit yang produksinya berpusat di Desa Pakisan dan Bontihing, Kecamatan Kubutambahan. Di desa itu terdapat luas kebun total sekitar 15 hektar.

Selain itu, terdapat cabai besar yang diproduksi pada wilayah Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, dan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar dengan luas kebun sekitar 50 hektar.

Kebun cabai di desa di Buleleng

Dinas Pertanian (Distan) Buleleng yang bersinergi dengan Perumda Pasar Argha Nayottama dan Perumda Swatantra, terus melakukan pantauan dan intervensi ke sentra produksi cabai demi menghindari lonjakan harga.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta  mengatakan, dari hasil pantauan menyebutkan harga komoditi cabai di Kabupaten Buleleng masih terkendali dengan baik. Komparasinya dengan harga cabai pada kabupaten/kota lain di Bali yang rata-rata bisa mencapai Rp 60.000 per kilogram, sedangkan di Buleleng per hari ini masih sekitar Rp 50.000 per kilogram.

“Untuk di tingkat petani sekarang harga cabai kisaran Rp 48.000 per kilogram dan Rp 50.000 per kilogram yang ada di pasaran,” kata Sumiarta, Selasa 20 September 2022.

Dari hasil pantauan ditemkan sejumlah kendala yang dihadapi petani cabai, antara lain adanya pengaruh iklim yang tidak menentu, serta beberapa spekulan dari luar Buleleng yang mencari kebutuhan cabai dalam jumlah yang cukup besar sehingga dapat berpotensi menaikan harga cabai di pasaran karena keterbatasan jumlah produksi.

“Tetapi hal ini tidak membuat tim inflasi daerah menyerah untuk tetap bersinergi dengan perumda yang langsung terjun meninjau ke laapangan,” tegasnya.

Dinas Pertanian mengupayakan berbagai hal untuk menanggulangi peningkatan inflasi komoditi cabai melalui pencarian langsung sentra produksi cabai serta memfasilitasi produk dengan perusahaan daerah guna menjaga stabilitas harga. [T][Ado/*]

Gerakan Tanam Jagung di Desa Gadungan: 2 Kali Jagung, 1 Kali Padi

Tags: bulelengcabaipertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak

Next Post

Tradisi Papua dan Hip Hop: Kelindan Gerak Penciptaan Eliz

Redaksi Tatkala Buleleng

Redaksi Tatkala Buleleng

Related Posts

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

by tatkala
August 3, 2025
0
Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

KABUPATEN Buleleng, Bali, menorehkan tonggak baru dalam ketahanan pangan dengan menyelenggarakan panen perdana varietas padi unggulan lokal, Semeton Buleleng, pada...

Read moreDetails

Inovasi Fermentasi Limbah Tandusan Sebagai Pakan Ternak

by Redaksi Tatkala Denpasar
May 15, 2024
0
Inovasi Fermentasi Limbah Tandusan Sebagai Pakan Ternak

DENPASAR | TATKALA.CO – Limbah tandusan (proses pembuatan minyak kelapa secara tradisional ternyata bisa difermentasi untuk makanan ternak. Inovasi itu...

Read moreDetails

Sorgum Makin Populer di Buleleng, Kini Panen Perdana di Desa Telaga

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 3, 2024
0
Sorgum Makin Populer di Buleleng, Kini Panen Perdana di Desa Telaga

SORGUM tampaknya makin populer di Buleleng. Banyak petani yang mulai menanamnya, dan makanan berbahan sorgum sudah mulai dikenal. Di Desa...

Read moreDetails

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

by Redaksi Tatkala Denpasar
February 6, 2024
0
Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

DENPASAR | TATKALA.CO --- Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof. Dr. I Wayan Budiasa, S.P., M.P., IPU, ASEAN Eng....

Read moreDetails

Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, “Melamar” Sebagai Desa Binaan Fakultas Pertanian Unud

by Redaksi Tatkala Tabanan
January 24, 2024
0
Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, “Melamar” Sebagai Desa Binaan Fakultas Pertanian Unud

TABANAN | TATKALA.CO -- Untuk keempat kali Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM FP Unud) menyelenggarakan Agricamp di Desa Marga...

Read moreDetails

Gagal Panen, Ada Asuransi Pertanian

by Redaksi Tatkala Buleleng
November 8, 2023
0
Gagal Panen, Ada Asuransi Pertanian

KINI ada asuransi untuk petani. Jika panen gagal, petani bisa tenang. Teorinya sesederhana itu. Tapia pa itu asuransi pertanian? Program...

Read moreDetails

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

by tatkala
October 16, 2023
0
Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

PEPAYA termasuk buah tropis yang memiliki kepentingan komersial karena nilai nutrisi dan pengobatannya yang tinggi. Biji dan kulit pepaya yang...

Read moreDetails

Wine dari Jeruk Siam Kintamani

by tatkala
October 13, 2023
0
Wine dari Jeruk Siam Kintamani

WINE bukan hanya dari buah anggur. Kini terdapat upaya pengembangan minuman wine yang diolah dari buah jeruk siam. Pengolahan jeruk...

Read moreDetails

Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

by tatkala
September 20, 2023
0
Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

BAGAIMANA bisa subak sampai kekeringan? Itu pertanyaan yang aneh. Tapi ada yang lebih aneh, sudah tahu subak mengalami kekeringan, tapi...

Read moreDetails

Intelektual Jepang Memperkenalkan Teknologi Ratoon-rice Kepada Petani Padi di Jatiluwih

by tatkala
September 5, 2023
0
Intelektual Jepang Memperkenalkan Teknologi Ratoon-rice Kepada Petani Padi di Jatiluwih

DI JEPANG tidak ada subak. Itu sudah jelas. Oleh karenanya, saat pengabdian masyarakat di Subak Jatiluwih, Tabanan, mahasiswa Universitas Meiji,...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Papua dan Hip Hop: Kelindan Gerak Penciptaan Eliz

Tradisi Papua dan Hip Hop: Kelindan Gerak Penciptaan Eliz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co