6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
February 17, 2021
in Ulasan
Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Foto Emha diambil dari caknun.com

Puisi bisa sangat pendek, sependek surat al-Kautsar. Bahkan bisa lebih pendek lagi. Puisi bisa pula sangat panjang, walaupun tidak sepanjang surat al-Baqarah.

Emha Ainun Nadjib dalam Satu Kekasihku, cuma butuh satu bait dan empat baris kalimat untuk berpuisi.

Mati hidup satu kekasihku // Takkan kubikin ia cemburu // Kurahasiakan dari anak istri // Kulindungi dari politik dan kiyai.

Iqbal, filsuf dan penyair India, bisa berpuisi sangat panjang. Dalam Tulip Dari Sinai dia bersajak sepanjang seratus enam puluh tiga (163) bait.Jumlah barisnya bersisi 163×4 = 652 kalimat. Tentu tidak akan saya tuliskan tubuh utuhnya di sini.

Saya akan mendaras puisi. Semacam balas dendam atas tadarus di bulan Ramadhan kemarin, yang tak cukup khusyu’ karena lebih sibuk menghikmat pandemi, daripada Yang Ilahi.

Seperti kata Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an, tadarus tidak mengharuskan hatam berulang-ulang. Tadarus lebih menekankan bobot penghayatan. Sedemikian tadarus Alquran. Ketika sampai pada puisi, saya kira serupa itu. Karena di puisi, setiap rupa kata mengimplisitkan ‘makna’.

Kalau puisi tidak mau didudukkan sebagai igauan kata, aspek maknawi tersebut harus ditarik ke permukaan, melalui kedalaman pencermatan dan penghayatan. Serupa tadarus tadi.

Kata Emha: Ajari Aku Tidur

Kita berhenti di pelataran rumah eksistensi kepenyairan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, bersejenak membaca pelan-pelan salah satu buah karyanya yang ‘puisi’: Ajari Aku Tidur (1986).


(1)

Tuhan sayang ajari aku tidur

Seperti dulu menemuimu di rahim ibu

Sesudah lahir menjadi anak kehidupan

Sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik dan kebodohan

Bisaku cuma tertidur

Tertidur


(2)

Tuhan sayang tak kurang-kurang engkau menghibur

Tapi setiap kali badan terbujur ruhku bangkit memekik-mekik!

Hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk

Tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur


(3)

Di siang dunia berseliweran kecemasan

Orang-orang berburu prasangka

Menumpuk salah paham terhadap kehidupan

Memburu dugaan, bersandar pada bayangan

Mengulum batu-batu akik, aku ngantuk

Sungguh-sungguh ngantuk


(4)

Di malam segala nina bobo yang menenggelamkan

Tak mampu kubaringkan mati kecilku

Ajari mati, ya tuhan sayang, ajari aku mati

Nasib sejarah menggumpal di jantungku

Jantung mengerjat-ngerjat

Tapi tak pingsan


(5)

Telah beribu kali

Jantung meledak tak mati-mati

Tuhan sayang, ya tuhan sayang

Rinduku amat tua

Dan sakit


Angka-angka di sela bait puisi di atas, bukanlah aslinya. Angka itu adalah tambahan dari saya. Supaya lebih nyaman kita mendaras.

Membaca Ajari Aku Tidur, kita semacam diajak bertanya: tidur yang bagaimana yang dimaksudkan Emha? Mengapa pula sehanya tidur saja, butuh minta ajar?

Bait pertama, sekilas sangat kacau: paradoks. “Tuhan sayang ajari aku tidur”, kata Aku-Sajak. Di pembukaan ini, dia mau mengatakan, dia sedang tidak bisa tidur. Minimalnya tak cukup memahami apa itu tidur. Tetapi baru tiga baris berlalu, dia melakukan pembalikan: “bisaku cuma tertidur”. Belum cukup kuat, dia nyatakan lagi: “Tertidur”.

Bait kedua. Paradoksa atau perseberangan maksud dari kata “ajari tidur” dan “bisaku cuma tertidur”, diuraikan di sini. Penulis ini mengatakan: “hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk. Tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur”. Penulis sajak, menjelaskan perbedaan mengantuk dan tidur. Mengantuk adalah kondisi jengah atau lelah membuka mata ‘kesadaran’. Lelah yang meminta untuk ditidurkannya badan. Tetapi ketika badan telah dibaringkan, disiapkan menuju tidur, hasilnya justru tidak bisa tidur lelap.

Bait ketiga. Dijelaskan di sini, penyebab utama rasa kantuk. Aku-sajak yang mengeluhkan ‘mengantuk’, ternyata karena menurutnya orang-orang kebanyakan menumpuk salah paham terhadap kehidupan, ditambah memburu dugaan, bersandar pada bayangan. Artinya ada kesalahan yang dilakukan banyak orang. Kesalahan ini berupa ‘salah memahami orientasi dan makna hidup’. Mereka hidup berdasarkan ‘dugaan-dugaan’ saja tanpa dilandasi pengetahuan yang kokoh.

Sebagai sandingan, keresahan semacam ini, belakangan dilantangkan oleh Aku Sajak-nya Rendra dalam Hai, Ma (1992). Rendra bahkan lebih panjang lagi melantangkan keresahannya. Tetapi yang paling telak berada pada kata “mereka merobek-robek buku dan menertawakan cita-cita”. Lalu aku sajak, merespon dengan: “aku marah, aku takut, aku gemetar, namun gagal menyusun bahasa”.

Tampaklah—bila dilensa melalui sajak Rendra di atas—yang membuat Aku-Sajak mengantuk dalam Ajari Aku Tidur, ialah nuansa takut, gemetar dan marah yang gagal menemukan pintu pengungkapan atau pelepasan.

Selanjutnya, di bait keempat, kegelisahan ini semakin menjadi. Dikatakan oleh Aku-Sajak bahwa gelisah dan rasa sakit, terus terbawa-bawa setiap akan memejam mata. Di saat lazimnya orang-orang tidur, dia si Aku-Sajak kesakitan mengerjat-ngerjat tanpa henti. Tak kuasa tidur, bahkan setelah membaring-baringkan tubuh.

Di bait penutup, Aku-Sajak masih kesakitan terus menerus. Kesakitan yang telah lama dirasa, dan masih selalu terasa. “Telah beribu-ribu kali, jantung meledak tak mati-mati”.

Sampai di sini, Emha dapat dikatakan mengukuhi jalan puisi yang bukan sebatas untaian kata bersayap, atau semacam bisikan rayuan kekasih kepada terkasihnya. Dia mengajak pembaca sajak dolan ke bilik refleksi ruhani. Sebangun ruang yang di dalamnya berisi (kesadaran) diri yang sunyi, sepi, kadang terasing. Kesunyian si Aku-Sajak, dikikis melalui jalan munajat: meminta ajar kepada Tuhan yang dia tahu Maha Bisa, termasuk bisa menuturkan “ilmu tidur”.

Pengejaan maksud-makna di sini tentu hanyalah sisi pojok saja, dari pembacaan saya. Suara yang mungkin salah, jauh dari tepat, akan tetapi penting. Penting sebagai pembuka suara lain yang mungkin benar, jauh dari menyeleweng. Lain perjumpaan, kita lanjut lagi di ayat-ayat puisi yang lain. []

Bibliografi:

  • Muhammad Iqbal. 1985. Pesan dari Timur (terj. Abdul Hadi WM). Bandung: Pustaka.
  • Emha Ainun Nadjib. 2004. Cahaya Maha Cahaya: Kumpulan Sajak. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Tags: Cak NunEmha Ainun NadjibPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Pelacuran | Potret Buram Kemanusiaan yang Perlu Kaji Tindak Non Diskriminatif

Next Post

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co