6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 12, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

“Kija to, Dek?”  kata seorang ibu kepada anaknya. Artinya, “Mau ke mana, Dek?”

“Kal ke WC!” sahut si anak. Maksudnya, “Mau ke WC!”

Percakapan semacam ini menjadi hal yang lumrah ketika saya berada di kampung. Percakapan itu terjadi karena jarak kamar dan jarak WC memang berjauhan.

Sebuah rumah dengan desain arsitektur tradisional Bali yang sangat erat dengan asta kosala kosali, membuat bentuk rumah saya mempunyai banyak bale-bale. Ada bale daja, bale dangin, bale delod, paon, kamar mandi, dan sebuah bale untuk metanding. Bale-bale ini terpisah satu sama lain membentuk sebuah sirkulasi ruang yang sangat besar, yang menyebabkan banyak terdapat ruang terbuka.

Bale daja yang dimaksud bangunan di bagian utara, bale dangin adalah bangunan di timur, bale delod  adalag bangunan di seblah utara, dan paon adalah dapur.

Dengan terpisahnya bale satu dengan yang lain membuat penghuninya harus berjalan keluar kamar untuk sekedar buang air atau untuk makan. Banyak sekali alasan yang membuat seseorang untuk keluar dari kamarnya.

Saking banyaknya, maka pertanyaan seperti mau ke mana akan sangat sering kita dengar, misalnya pertanyaan dari kakek yang duduk di bale daja, atau dari nenek yang menghabiskan waktu di paon, atau pertanyaan dari ayah ibu yang sekadar lewat menyaksikan kita keluar masuk kamar atau keluar masuk di ruang lainnya.

Kondisi yang berbeda saya temukan ketika mengontrak rumah di Denpasar atau ketika bermain ke rumah teman yang kedua bangunannya memakai desain arsitektur minimalis. Hampir saya tidak pernah mendengar pertanyaan “Kal kija to?”

Saya mulai mempertanyakan, apa yang menyebabkan hal seperti itu tidak hadir ketika saya tinggal di Denpasar atau berada di rumah teman saya?

Melihat dari bentuk kontrakan rumah dan rumah teman saya, akan tampak perbedaannya dengan rumah di kampung halaman. Untuk rumah di kampung, seperti yang saya jelaskan, merupakan rumah dengan arsitektur tradisional Bali. Sedang pada rumah kontrakan dan rumah teman saya, merupakan rumah yang berdesain minimalis.

Pada rumah dengan arsitektur tradisional Bali, ruang kosong yang hadir akibat adanya bangunan yang terpisah satu sama lain menjadi sebuah area sirkulasi. Area sirkulasi ini akan menghubungkan satu ruang dengan ruang yang lain, bale satu dengan bale yang lain. Tak hanya menghubungkan ruang dan bale, sirkulasi ini pulalah yang menghubungkan penghuni satu dengan penghuni lainnya.

Pertemuan bisa terjadi ketika kita keluar dari kamar untuk sekedar makan di dapur atau untuk buang air atau untuk pergi keluar rumah. Pertemuan itu akan menyebabkan sapaan, percakapan kecil, sampai percakapan panjang antarsesama anggota penghuni rumah. Hal ini yang biasanya tidak hadir pada rumah berdesain minimalis kebanyakan.

Rumah minimalis biasanya hanya memiliki satu bangunan atau satu atap, dengan sebuah kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Secara tidak langsung membuat penghuninya tidap perlu keluar kamar untuk mandi atau melakukan aktivitas lainnya.

Anehnya lagi, setiap fungsi rumah dalam desain rumah minimalis tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ketika saya berkunjung ke rumah teman yang berada di kompleks perumahan berdesain minimalis misalnya, saya tidak diajak ke ruang tamu padahal teman saya memiliki ruang tersebut di rumahnya. Saya malah diajak ke kamarnya. Di sini sudah terjadi penambahan fungsi pada ruang kamar sebagai tempat penerimaan tamu.

Bertambahnya fungsi ini membuat semakin kompleks fungsi ruang kamar. Tidur dan kegiatan di dalam kamar adalah fungsi utamanya. Ditambah dengan kamar mandi yang ada di dalam kamar. Lalu bertambah lagi fungsi kamar menjadi ruang tamu. Fungsi yang beragam ini menjadikan kamar seakan-akan sebuah rumah di dalam rumah. Membuat penghuninya menjadi nyaman untuk berlama-lama diam di kamar. Karena banyaknya fungsi kamar, menyebabkan semakin sedikit pula alasan untuk keluar.

Hal ini berbanding terbalik dengan rumah arsitektur tradisional. Tamu-tamu yang berkunjung tidak diajak ke kamar. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang rumah ketika melihat kita masuk mengajak kawan ke kamar? Apalagi kawan cewek?

Tamu-tamu biasanya akan dipersilakan untuk duduk di bataran bale dangin, bale daja, atau bale dauh. Duduk di bataran atau disebut lesehan, di atas sebuah alas tikar atau karpet yang mengahadap ke natah (halaman).

Dengan keadaan demikian, pembicaraan menjadi sebuah hal yang bersifat publik. Dapat dilihat dan didengarkan oleh semua anggota keluarga. Keterbukaan pun terjadi dengan adanya hal tersebut. Setidaknya anggota keluarga lain dapat beramah tamah atau sekedar berkenalan dengan sang tamu.

Rumah dengan arsitektur tradisional Bali cenderung lebih terbuka pada bangunannya. Membuat banyak aktivitas harus dilakukan di luar kamar. Aktivitas di luar ruangan tersebutlah yang kemudian membentuk perjumpaan. Menghasilkan komunikasi antarsesama anggota keluarga. Membuat kedekatan hubungan diantara keluarga jadi erat.

Sementara ruang tertutup memiliki kecenderungan untuk membuat para penghuninya bersifat tertutup. Membuat penghuninya lebih senang berdiam diri di kamar. Kalaupun keluar kamar, alasan paling banyak pasti keluar rumah untuk pergi. Jadi jika ada pertanyaan “kal kija to?”, jawabannya sudah pasti “kel pesu”.

Membandingkan rumah dengan arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur minimalis, membuat saya jadi bertanya lagi tentang jarak. Jarak yang berjauhan tak selamanya membuat orang jadi jauh. Demikian pula dengan jarak yang dekat, tak selamanya bisa mendekatkan orang. Dalam arsitektur tradisional Bali, antarbangunan sengaja diberi jarak untuk menciptakan sirkulasi ruang. Sirkulasi yang menghubungkan bangunan, penghuni dan pertemuan. Sementara pada arsitektur minimalis, hanya punya satu bangunan. Hampir-hampir tak ada jarak antarruangan.

Ketiadaan jarak ini, bukannya membuat penghuni makin dekat, tapi justru membuat penghuninya berjarak satu sama lain. Tak banyak bahan yang bisa dimunculkan. Tak ada alasan untuk bercakap. Syukur-syukur jika para penghuninya cuma jarang bercakap. Tapi jika jarang juga memikirkan keadaan anggota keluarga mereka satu sama lain? Wah… kalau begini sih sebuah rumah bukan lagi rumah namanya… Tapi perumahan! Perumahan di dalam rumah! [T]

Badung, 2021

Tags: arsitekturbaliRumahRumah Tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi: Waktu Menata Tubuh dan Bunga-Bunga

Next Post

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co