6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupu-Kupu Merah Bata | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
January 23, 2021
in Cerpen
Kupu-Kupu Merah Bata | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

“Indah sekali!” Karin berujar dengan aksen kental Indonesia ketika mata kameranya menangkap kilau es puncak gunung Matterhorn.

Seketika seperti ada yang menampar telinga Franz. Ia kemudian menghampiri.

 “Mengapa perempuan Indonesia begitu berani jalan-jalan sendiri di Swiss?” Franz bertanya

 “Swiss yang ramah tak pernah memerlukan keberanian bagi perempuan yang lebih bahagia menikmati alam ketimbang mengurung diri di kamar.” Karin menjawab dingin seraya merogoh saku dan menawarkan sepotong coklat dengan asumsi bahwa coklat mampu merangsang rasa bahagia.

Percakapan mereka akhirnya tumpah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Karin mengatakan bahwa ia baru pertama kali ke Zenmart. Franz menceritakan kota di atas pegunungan itu dengan rinci mulai dari udara yang sejuk, waktu yang efisien, dan kebersihan yang tak akan ia temui di Indonesia. Dan karena memiliki tujuan yang sama, sore itu, di atas kereta menuju Basel Karin menceritakan perasaan jatuh setiap  cinta pada pintu kereta yang terbuka dan tertutup dengan anggun, juga veron  yang muncul ajaib di bawah kaki setelah kereta berhenti. Sampai di Basel, tak terasa mereka begitu jauh menceritakan nasib  masing-masing.

Franz mengatakan bahwa dia bukan lelaki Swiss tulen. Darahnya, setidaknya, setengah Indonesia dan separuhnya Swisss. Masa kecilnya tak pernah bahagia. Segala sayup kesedihan dalam hidupnya berasal dari sana.  Saat usia 10 tahun orang tuanya berpisah.  Mereka tak pernah akur semenjak ada lubang rahasia yang terbuka. Ayah Franz menjalin hubungan lain dan dengan niat tebal kemudian menceraikan ibunya dan menikahi perempuan rumah bordir di Surabaya. Karena sakit hati dan agar tak terkenang-kenang akan suaminya, Franz diajak ibunya pulang ke Swiss.

Sejak saat itu, ibunya selalu berusaha memupuk kebencian Franz kepada ayahnya, dan tentu juga, perempuan yang berhasil memikat ayahnya. Sampai sekarang. Sampai usianya 19 tahun, di depan ibunya Franz selalu berusaha membenci ayahnya dan tak sekalipun menyebut namanya. Tapi dalam hati sebenarnya Franz ingin mendapatkan jawaban yang pasti mengapa Franz harus membenci ayahnya. Ia ingin bertanya tentang kebenaran itu. Tapi bagaimana mungkin kebenaran  ia dapatkan? Franz tak memiliki alamat dan kerabat yang bisa menjelaskan keberadaan ayahnya.

Franz juga akhirnya sedikit tercengang ketika ia tahu bahwa Karin adalah orang Surabaya.  Elmo, ayah angkatnya, menawari untuk kuliah filsafat di Swiss. Mulanya, ibunya tak mengizinkan karena karin adalah perempuan satu-satunya. Ia begitu berarti bagi keluarga. Tapi dengan tegas karin sanggup menyakinkan, bahwa sejak lama ia ingin belajar serius dan pantas di perguruan tinggi. Petatah-petitih tentang pentingnya mengenyam pendidikan tinggi terus ia lontarkan kepada ibunya sampai pada akhirnya ia luluh.

Dalam keras keinginan Karin, ibunya sempat berkata dengan wajah sedih. “hidup begitu sepi seandainya kamu pergi” Karin tertegun dan langsung memeluk ibunya. Sekali lagi, ia memaksa ibunya untuk percaya bahwa ia tak akan lama meninggalkan Surabaya. Setelah selesai kuliah, ia berjanji akan mencari kerja untuk memperbaiki kegagalan kehidupan keluarganya selama ini. Karin benar-benar memaksa ibunya untuk berhenti bersedih dan memberikan pelukan hangat dalam beberpa menit. Franz tak begitu detail mendengarkan cerita Karin. Sambil membayangkan Surabaya, rasanya Franz telah banyak melewatkan cerita pedih dalam hidup Karin.

Di hari-hari berikutnya, kehadiran Karin kemudian membawa keberuntungan. Setiap enam bulan sekali, ia selalu meluangkan waktu pelesir ke Surabaya menemani Karin menikmati libur semester. Franz menyempatkan  berkunjung ke rumah-rumah bordir —tempat satu-satunya yang ia bayangkan untuk menemui ayahnya. Franz hanya ingin melihat apakah ayahnya bahagia dengan pilihan itu.  Hanya itu. Tak lebih. Tapi tanpa sengaja ia menikmati kebiasaan jalan-jalan mengunjungi rumah bordir satu ke yang lainnya.

Pada mulanya ia hanya menemukan rumah bordir sebagaimana rumah bordir pada umumnya yang memajang perempuan-perempuan dalam aquarium. Mereka seperti ikan hias yang  ditawarkan. Meski mereka cantik, Franz telah memendam perasaan benci. Sesekali Franz memang memesan perempuan itu, tapi bukan untuk ditiduri. Franz hanya mengajaknya bersenda gurau di sebuah kafe dan sekadar memancing perempuan-perempuan itu untuk menceritakan hidupnya dan bertanya apakah ia mengetahui Sukarjo, ayahnya. Tapi Franz tak menemukan apa-apa. Barangkali memang kehidupan orang tak selamanya perlu diceritakan.

Dari rumah bordir satu ke lainnya, Franz hampir melakukan hal yang sama. Tapi suatu kali, ia menemukan rumah bordir yang berbeda. Rumah Bordir Kupu-Kupu. Tapi anehnya, ketika Franz memasuki rumah bordir itu, tak satupun ia temukan perempuan muda yang cantik jelita. Hanya rumah kecil yang tembok-tembok sekelilingnya bersih. Tak ada debu yang menempel. Cat temboknya nampak selalu baru. Hanya perempuan tua yang mencoba terlihat muda dengan bedak tipis dan bening gincu di bibir halusnya. Gaun tipis dengan corak pantai membuat hidupnya tampak cerah. Kedua tangannya sibuk menulis sesuatu pada sebuah kertas. Sesekali ia juga memainkan telepon genggamnya. Suaranya tertahan. Batuk dan serak.

Franz mendengar rumor bahwa nama perempuan tua itu adalah adalah Maddam Hana. Entah itu nama asli atau hanya nama samaran dan Franz merasa tak perlu mengetahui  terlalu jauh. Melihat Franz berdiri di depan pintu, Maddam langsung menghentikan kesibukannya. Matanya langsung tertuju ke arah Franz.

“Hallo adik manis. Mau pesan yang umur berapa?”

“Apa saya boleh mampir saja dan tidak memesan apa-apa?” tanya Franz kepada Maddam.

“Sudah lama tak ada anak muda yang tertarik mengunjungi tempat ini. Duduklah barang sebentar. Jika tak terburu-buru, akan Maddam buatkan teh.”

Franz mengangguk. Perempuan tua tersenyum. Dengan saksama Franz memerhatikan wajahnya, kulit tuanya nampak menimbulkan gurat keriput. Ia membayangkan betapa cantiknya perempuan tua ini beberapa tahun silam.

“Meski tempatnya kecil, ini adalah rumah bordir terbesar di Surabaya, “ katanya sambil menghidangkan teh di meja.  Irisah jahe dan sereh tenggelam dalam gelas. Barangkali perempuan tua itu tak pernah nimkat minum teh tanpa rempah.

“Bahkan saking banyaknya pelayan, sampai-sampai tak ada yang menemani Maddam di sini kan?” kata Franz menimpali.

Mereka berdua tertawa lepas.

Hari-hari berikutnya, setiap berkunjung ke Surabaya, Franz hanya berkunjung ke rumah Bordir Kupu-Kupu dan merasa tak tertarik lagi mengunjungi rumah bordir lainnya. Ia merasa lebih tertarik bergurau dengan Maddam ketimbang sibuk mencari tahu keberadaan ayahnya. Sejak hari pertama Franz ke tempat ini, ia merasa betah dan melupakan ambisi mendatangi rumah- rumah bordir. Maddam Hana kemudian franz anggap sebagai ibunya sendiri. Madam Hanna baik dan menyayangi Franz. Ia kerap menyapa franz dengan  dengan pangggilan ‘anakku’. Tanpa sadar, Maddam telah menceritakan banyak hal tentang perempuan dan perihal mengapa rumah bordir ini tak menyediakan perempuan. Rumah ini hanya menyediakan pesanan. Bila kita memesan,maka pesanan itu akan diantar ke tempat tertentu (biasanya sebuah hotel atau losmen). Hal itu bertujuan sedikit menjaga identitas si pelaku bordir. Pernah suatu kali Franz bertanya perihal daftar nama pelayan di rumah ini, tapi segera Maddam menjawab tak ada daftar.

Perempuan-perempuan di rumah ini boleh datang dan pergi sesukanya. Rumah ini juga tak memandang usia dan wajah. Rumah bordir ini menjamin hak kebebasan perempuan. Franz tahu perempuan tua itu sedang bebohong dalam beberapa hal dan Franz juga tak ingin mengulik lebih dalam rahasia dapur perusahaan. Tapi satu yang Maddam tekankan, bahwa untuk memberikan ciri khas, Maddam memberitahukan bahwa setiap pelayan dari ruamah bordir ini memiliki gambar kupu-kupu merah bata di punggungnya.

Cerita cerita rahasia tanpa sadar telah semua menyembul dari mulut Maddam. Tapi setahun belakangan Franz tak pernah berkunjung ke Surabaya. Di Swiss, musim dingin semakin menumbuhkan cinta. Karin dan Franz mulai menimbang, apakah  berumah tangga adalah pilihan selanjutnya? Mulanya mereka abai, tapi akhirnya pilihan itu mereka jalani. Di usia yang sudah matang dan memiliki perkerjaan berpenghasilan mapan. Maka mereka akhirnya datang ke Surabaya untuk kesekian kalinya. Karin meminta restu kepada ibunya, sedangkan Franz menyempatkan diri mengunjungi Maddam. Mereka berdua tentu merestui. Di usia yang semakin ringkih, Maddam hanya memberi restu dan doa bahagia. Dengan alasan bahwa ia telah berjanji tak akan meninggalkan rumah bordir  kupu-kupu, maka ia tak akan datang ke acara pernikahan Franz.   

Di malam pertama bulan madu. Mereka menginap di pinggiran Danau Janeva. Mereka ingin menikmati sensasi bercinta pertama kali di balkon yang menghadap danau dengan interior kilau warna cahaya dari bening danau dan bulan yang tentu akan memantulkan bayangan yang sedang bercinta. Maka Franz dengan semangat menyongsong ranjang. Di sana karin menanti. Ketika karin membuka bajunya, Franz tiba-tiba menelan ludah. Di punggungnya, ada gambar setangkai bunga dan seekor kupu-kupu merah bata. Memandang gambar itu, Franz kemudian tersenyum. Indah sekali. Ia sejenak memalingkan wajah. Di atas sana, cahaya bulan membayang. Begitu tua.  [T]

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Uba ngamah ko?” | Mari Belajar Bahasa Pedawa

Next Post

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co