24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mari Mengenal Strategi Kesantunan dan Prinsip Kesantunan dalam Pragmatik

tatkala by tatkala
December 24, 2020
in Esai
Mari Mengenal Strategi Kesantunan dan Prinsip Kesantunan dalam Pragmatik

Siti Ummul Khoir Saifullah [penulis]

Penulis: Siti Ummul Khoir Saifullah

________

Bahasa yang menjadi alat komunikasi manusia sangat menarik untuk dipelajari. Ilmu untuk mempelajari bahasa dinamakan dengan linguistik. Dalam ilmu linguistik sendiri, terdapat banyak cabang ilmu lagi. Salah satunya adalah pragmatik. Secara umum, pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna berdasarkan konteks. (George Yule, 1996:3)

Tidak sampai situ, di dalam ilmu pragmatik juga ternyata mengkaji banyak hal. Salah satunya adalah adalah kesantunan bahasa. Nah, kesantunan bahasa inilah yang menjadi sorotan utama dalam tulisan ini.

Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya perihal konsep kesantunan. Brown dan Levinso adalah salah satu ahli yang memperkenalkan konsep strategi kesantunan.

Strategi Kesantunan

Konsep strategi kesantunan diadaptasi oleh Brown dan Levinso dari konsep face yang diperkenalkan oleh Erving Goffman, seorang sosiolog. Menurut Goffman, face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati. Face ini dapat diartikan sebagai kehormatan, harga diri (self-esteem), dan citra diri di depan umum (public self-image). Jadi, face di sini tidak diartikan sebagai wajah ya, tetapi harga diri.

Kita sebagai makhluk sosial ketika berinteraksi dengan orang lain memiliki potensi untuk menciderai atau merugikan harga diri orang lain. Hal tersebut disebut dengan face threatening acts (FTA) atau suatu tindakan yang menyerang harga diri.

Tindakan menyerang harga diri atau FTA ini memiliki hubungan dengan kesantunan bahasa. Kenapa? Karena apabila ketika kita akan menyerang harga diri seseorang, secara naluriah kita akan menyadari bahwa tindakan kita akan merugikan orang lain. Sehingga kita pun akan menyiapkan strategi kesantunan ketika bertutur dengan orang lain dengan mencari cara bagaimana agar tindakan kita tidak menyinggung lawan tutur.

Strategi yang kita cari terdapat tingkatannya. Brown dan Levinson mengkategorikannya ke dalam 5 tingkatan. Di antaranya adalah:Bald-on record strategy (tanpa strategi), strategi ini dilakukan oleh penutur dengan tidak melakukan usaha apapun untuk mengurangi akibat dari mengancam. Alias berbicara secara terang-terangan. Strategi ini biasanya dilakukan kepada orang yang sudah akrab. Contoh ujarannya adalah “woi, bangun!”

  •  Negative politeness strategy (strategi kesantunan negatif), strategi ini mengandung kesopanan yang kadarnya rendah. Misalnya ketika kita membangunkan teman satu kosan dengan tuturan, “Ven, bangung dong”. Sebutan Ven adalah bentuk dari kesantunan negatif.
  • Positives politeness strategy (Strategi Kesantunan Positif), strategi ini digunakan untuk menunjukkan keakraban dan biasanya digunakan kepada lawan tutur yang tidak dikenal atau kepada lawan tutur yang sudah kenal tetapi kebutuhannya besar. Misal, kita akan berbicara lebih sopan dengan teman kampus yang belum dikenal daripada kepada teman yang sudah kenal.
  • Off-record politeness strategy (strategi tidak langsung atau tersamar), strategi ini direalisasikan dengan cara sindirian atau tersamar. Misalnya, kita lupa tidak memabawa pen saat  akan mengikuti ujian tulis PNS, kemudian kita mau meminjam kepada bapak-bapak di sebelah kita. Kita tidak langsung berkata “Bapak pinjam pulpen”, tetapi berkata “Maaf Pak, punya pulpen lebih tidak?”.
  • Do not do FTA (tidak melakukan apapun), strategi ini strategi kesantunan tertinggi. Dalam strategi ini kita tidak melakukan apapun yang dapat mengganggu harga diri. Misalnya kita sedang diajak dosen liburan, tiba-tiba di jalan kita ingin kencing. Tetapi kita diam saja, tidak berani berbicara karena sangat sungkan untuk meminta berhenti di toilet umum.

Jadi, konsep strategi kesopanan yang ditawarkan oleh Brown dan Levinso ini dapat kita gunakan untuk pencegahan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan dari tindakan yang menyerang harga diri.

Oke, sekarang mari kita lanjut ke prinsip kesantunan!

Prinsip Kesantunan (Politeness Principle)

Menurut Leech (dalam Joan Cutting, 2002), terdapat enam maksim dalam prinsip kesantunan Keenam prinsip tersebut adalah:

Maksim Kebijaksanaan (Tact), yakni prinsip yang mengacu pada pengurangan keuntungan diri sendiri dan pemaksimalan keuntungan bagi orang lain. Menurut Leech, jenis maksim ini adalah the most important kind of politeness in society atau jenis maksim kosopanan yang paling penting dalam masyarakat. (Joan Cutting, 2002: 419)

Contoh:

A: “Ayo habiskan salad buahnya! Di dalam masih banyak, kok.”

B: “Wah, segar sekali salad buahnya, Bu.”

Tuturan di atas menunjukkan bahwa apa yang dituturkan oleh A memaksimalkan keuntungan bagi B.

Kedermawanan (Generosity)

Maksim kedermawanan atau kemurahan hati adalah prinsip yang mengacu pada peminimalan manfaat untuk diri sendiri dan pemaksimalan pengorbanan diri sendiri. (Joan Cutting, 2002: 49)

Contoh:

Ibu A: “Waduh, minyang goreng saya habis.”

Ibu B: “Pakai minyak goreng saya saja, Bu. Saya ambilkan ke dapur dulu.”

Tuturan di atas menunjukkan bahwa apa yang dituturkan Ibu B meminimalkan manfaat untuk diri sendiri dan memaksimalkan pengorbanan diri sendiri, yakni dengan mau menawarkan dan mengambilkan minyak goreng.

Maksim Penerimaan (Approbation), yakni prinsip yang mengacu pada peminimalan meremehkan orang lain dan pemaksimalan pujian pada orang lain. (Joan Cutting, 2002:49) Contoh, tuturan “wah, roti kamu enak, ya” akan dihargai daripada tuturan, “roti kamu tidak enak!”.

Kesopanan (Modesty), yakni prinsip yang mengacu pada pengurangi pujian pada diri sendiri dan penambahan cacian pada diri sendiri. (Joan Cutting, 2002:49)

Contoh:

X: “Nanti kamu nyanyi di acara pernikahan ya.”

Y: “oke, tapi suaraku nggak enak.”

Dari maksim di atas dapat kita ketahui bahwa Y melakukan pengurangan pujian pada diri sendiri dan penambahan cacian pada diri sendiri dengan menyebut suaranya tidak enak.

Persetujuan (Agreement), yakni prinsip yang mengacu pada pengurangan ketidaksesuaian dengan orang lain dan peningkatan persetujuan dengan orang lain. (Joan Cutting, 2002:50)

Contoh:

X: “Wah, rasanya hari berjalan sangat cepat.”

Y: “Ya, memang!”

Dari maksim di atas dapat kita ketahui bahwa pernyataan Y adalah menerapkan prinsip persetujuan, yakni dengan menyetujui apa yang dituturkan X.

Maksim simpati (shympathy), yakni prinsip yang  mengacu pada peminimalan rasa antipati dan pemaksimalan rasa simpata pada orang lain. (Joan Cutting, 2002:50)

Contoh:

A: “Bulan depan bukuku akan terbit.”

B: “Wah, selamat! Kamu hebat!”

Dari tuturan di atas dapat kita ketahui bahwa apa yang dituturkan B menerapkan prinsip simpati, yakni dengan mengucapkan selamat atas keberhasilan A.

Nah, jadi gitu ya gais penjelasan dari strategi dan prinsip kesantunan. Pengetahuan ini sangat penting untuk diketahui siapapun mengingat kita adalah makhluk sosial yang setiap hari melakukan interaksi kepada orang lain. [T]

Daftar Pustaka   

  • Cutting, Joan. Pragmatics and Discourse. London: Routledge. 2002.
  • Syahrin, Elvi. “Strategi Kesantunan Sebagai Kompetensi Pragmatik dalam Tindak Tutur Direktif Bahasa Prancis”. Universitas Negeri Medan. 2008.
  • Yule, George. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press. 1996.

Siti Ummul Khoir Saifullah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester V UIN Jakarta

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Youtube Artist” Vs “Artist Youtube”

Next Post

Inilah Ruang Temu yang Tak Kaku, Bahkan Terlalu Cair || Ulasan Malam Olah Sastra Siar Siur Kalangan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Inilah Ruang Temu yang Tak Kaku, Bahkan Terlalu Cair || Ulasan Malam Olah Sastra Siar Siur Kalangan

Inilah Ruang Temu yang Tak Kaku, Bahkan Terlalu Cair || Ulasan Malam Olah Sastra Siar Siur Kalangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co