27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Parade Teater Muda Bali Utara; Perasaan yang Keruh Dalam Episode Daun Kering

Santi Dewi by Santi Dewi
October 12, 2020
in Ulasan
Parade Teater Muda Bali Utara; Perasaan yang Keruh Dalam Episode Daun Kering

Parade Teater Muda Bali Utara; 2020

Setelah jejak terakhir di tahun 2017, di tahun 2020 ini Parade Teater Muda Bali Utara kembali hadir untuk menyapa kawan-kawan yang mungkin sudah bertanya-tanya ke mana perginya acara antar kelompok teater di Bali Utara tersebut. Setelah vacuum selama dua tahun, kini Parade Teater Muda Bali Utara kembali dibangkitkan oleh Teater Kampus Seribu Jendela dan langsung mendobrak pintu virtual untuk pertama kalinya.

Kondisi pandemi saat ini menjadi moment yang sangat tegang sekaligus penuh pembelajaran, tentu. Karena mungkin ada banyak kelompok atau pegiat seni yang pikiran dan tubuhnya sudah linglung di tengah keterbatasan saat ini lalu bermunculanlah pentas-pentas atau pun diskusi virtual sebagai jembatan penyaluran kreativitas pun kegelisahan yang meronta-ronta dalam kebekuan stay at home.

Sama halnya seperti kelompok-kelompok lain, Teater Kampus Seribu Jendela pun mencoba menjajaki ranah virtual untuk dapat merasakan bagaimana hiruk-pikuk kerja virtual yang mungkin segala pekerjaannya dapat terselesaikan hanya dalam genggaman tangan. Namun yang tidak bisa kita hindari dari kegiatan virtual maupun non-virtual adalah proses dan management. Dalam Parade Teater Muda Bali Utara misalnya, terdapat lima kelompok teater yang berpartisipasi dalam kesempatan ini yaitu Teater Ilalang, Teater Lalang, Teater 9 Pohon, Komunitas Omah Laras, dan Teater Kampus Seribu Jendela sendiri yang tentu melalui proses dan management kegiatan sebelum akhirnya dapat disaksikan dalam layar gadget khalayak.

Dalam parade kali ini, hari perdana tanggal 18 September 2020 lalu dibuka dengan penampilan monolog dari Teater Kampus Seribu Jendela yang membawakan naskah berjudul Episode Daun Kering karya Zulfikri Sasma yang diperankan oleh Satrio Gustiwisnumurti. Episode Daun Kering seakan mewakili kekeringan kabar tentang Parade Teater Muda Bali Utara yang sudah lama tak tersiram oleh kreativitas dan karya-karya dari kelompok teater di Bali Utara. Namun jangan terlalu dianggap serius, itu hanya cocokologi saya saja alias cocok-mencocokan sebagai penonton yang berusaha menerka-nerka sesuatu. Bukankah penonton memang seperti itu?

Alih-alih menerka pentas, saya justru lebih hanyut dalam keruh perasaan tokoh Sarjun yang diperankan oleh Satrio. Dalam pementasan virtual yang berdurasi kurang lebih 15 menit itu, baik cerita, musik, maupun peran aktor sama-sama mampu menguras hati penonton. Saya sendiri merasa seperti masuk ke dalam perasaan aktor. Walau tidak menonton secara langsung dan hanya menatap layar handphone, namun perasaan yang diciptakan aktor sebagai tokoh Sarjun mampu menangkap perasaan penonton untuk turut merasakan kekecewaan dan emosi tokoh sehingga bermunculan berbagai reaksi penonton di kolom komentar saat pentas berlangsung di live instagram.

Senjata makan tuan. Mungkin inilah peribahasa yang tepat untuk cerita Episode Daun Kering yang dibawakan oleh Teater Kampus Seribu Jendela. Naskah ini sebenarnya bercerita tentang kekecewaan Sarjun terhadap ayahnya yang ternyata telah mengelabuinya. Suatu malam Sarjun membuntuti ayahnya untuk buru babi di hutan, namun yang ia dapati adalah kenyataan bahwa selama ini ayahnya menghidupi ia dan juga adiknya, Alpin dari hasil menanam ganja. Dan satu hal lagi yang lebih menampar Sarjun adalah kabar bahwa ternyata adiknya, Alpin ditahan polisi karena terpergok menghisap daun yang ditanam oleh ayahnya sendiri.

Bagian paling menarik dan paling menohok bagi saya adalah ketika Sarjun sengaja menyalakan lintingan ganja atau yang ia sebut daun jahanam itu tepat di depan ayahnya. Ketika memergoki ayahnya di hutan, ia memang sengaja mengambil beberapa helai daun untuk kemudian membuat ayahnya sadar akan apa yang ia perbuat. Kemudian asap lintingan itu sengaja ia hembuskan tepat pada ayahnya.

“Buang! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melainkan untuk anak-anak orang lain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!”

“Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang tidak memikirkan anak-anak orang lain. Aku bangga! Aku bangga Pa!”

            Dialog antara ayah dan Sarjun tersebut menjadi klimaks di mana emosi tokoh pecah, namun kemungkinan lainnya klimaks tersebut tidak akan sampai kepada penonton apabila aktor tidak mampu membawakannya dengan tepat dan porsi puncak kemarahan yang pas. Hal ini rupanya menjadi bagian yang sangat diperhatikan oleh Teater Kampus Seribu Jendela. Sebagai aktor, Satrio mampu menyampaikan perasaan betapa kecewanya tokoh Sarjun. Terlihat dari begitu banyaknya helaan nafas yang dalam, suara gemetar bercampur sedih dan marah, juga ekspresi geram dan mata lembab aktor yang seolah berusaha menahan pedih kenyataan yang menyerbunya bertubi-tubi.

Sebagai mata penonton, hal lain yang menarik adalah permainan lampu yang dilakukan seolah menjadi pembeda suasana di mana saat terjadi dialog antara Sarjun dan ayahnya, lampu akan berubah menjadi warna hijau. Kemudian pada adegan Sarjun bermonolog, lampu berubah menjadi merah dan hampir konsisten seperti itu. Saya katakan hampir karena lampu yang dimainkan juga cukup beraneka warna seperti warna biru yang sesekali muncul bergantian dengan kuning. Setting panggung pun di drop dengan kain hitam yang semakin membendung suasana kemalangan nasib Sarjun dan sebuah bangku panjang di tengah. Panggung yang sangat sederhana dengan dekorasi kejutan-kejutan emosi yang diberikan oleh aktor.

Jika ditelisik dari awal adegan hingga akhir, naskah ini sepertinya memang sangat emosional. Di mana sepanjang pentas terlihat emosi naik turun yang dimainkan oleh aktor. Sejak awal adegan, aktor sudah memasuki panggung dengan bekal perasaan kecewa dan berjalan lesu seolah ingin memberitahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Dan benar saja, mulai pertengahan cerita, begitu banyak kejutan-kejutan kejadian dan didihan perasaan yang meletup-letup. Sampai di akhir cerita, tokoh Sarjun memasrahkan nasibnya dan percaya pada skenario tuhan lalu berjalan meninggalkan panggung dengan beban yang jauh lebih berat.

Huh… menyaksikan pentas ini sungguh membuat hati saya larung bersama perasaan tokoh Sarjun, sebab perasaan yang dibentuk aktor dan ekspresi yang dimainkannya memang cukup kuat menarik mata dan perasaan saya sebagai penonton. Mewujudkan perasaan tokoh memanglah hal yang sangat sulit, namun hal ini rupanya menjadi fokus dominan yang ingin ditampilkan oleh aktor. Sebagai persembahan awal dari rangkaian Parade Teater Muda Bali Utara yang dilaksanakan selama 6 hari berturut-turut tersebut, tentu pementasan ini telah berhasil memikat hati penonton sejak pandangan pertama dan menumbuhkan rasa penasaran tentang pementasan hari-hari selanjutnya.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demo Bukan Cara Orang Bali, Orang Bali Cinta Damai dan Santun, Ini Buktinya…

Next Post

Layangan dan Tawa yang Abadi

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Layangan dan Tawa yang Abadi

Layangan dan Tawa yang Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co