7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demo Bukan Cara Orang Bali, Orang Bali Cinta Damai dan Santun, Ini Buktinya…

I Putu Supartika by I Putu Supartika
October 12, 2020
in Esai
Demo Bukan Cara Orang Bali, Orang Bali Cinta Damai dan Santun, Ini Buktinya…

Ilustrasi diambil dari https://mahendramade.wordpress.com/

Sebelum memulai artikel ini, saya perlu katakan bahwa di sini saya netral, tidak pro yang demonstrasi, ataupun pro yang anti demonstrasi. Dan ini bukan sepenuhnya membahas tentang demo, namun juga tentang orang Bali yang cinta damai dan santun.

Begini bapak dan ibu sekalian. Belakangan gara-gara UU Cipta Kerja disahkan oleh DPR RI, berbagai elemen baik buruh, mahasiswa, bahkan ada pula pelajar ikut turun ke jalan menolak UU tersebut. Dan pada akhirnya, sebagian besar dari penolakan tersebut berakhir ricuh. Tak terkecuali di Bali.

Dan belakangan pula, terlepas dari demonstrasi yang digelar di Bali berakhir ricuh ataupun tidak, sebagian masyarakat Bali berseloroh secara sinis. Bahkan sejumlah warga ada yang mengatakan: demo bukan cara-cara orang Bali, orang Bali itu suka damai, yang ikut demo kebanyakan orang luar yang ingin merusak nama Bali, dan lain sebagainya. Ada juga yang mengatakan: demo merusak citra pariwisata Bali, membuat wisatawan takut datang ke Bali, memperburuk kondisi saat ini di tengah pandemi Covid-19, dan kata-kata lainnya yang berseliweran di beranda media sosial.

Ini bukan kali pertama, beberapa demo sebelumnya, walaupun berjalan lancar dan damai juga ada beberapa masyarakat Bali yang nyeletuk: demo ngae pariwisata usak! Bali cinta damai, ne jelema dauh tukad ne demo di Bali.

Orang Bali santun dan damai. Hal ini mungkin perlu digarisbawahi. Apakah benar orang Bali santun dan damai? Mungkin ada yang mengatakan benar, dan ada pula yang mengatakan tidak. Mari kita bicara kangin kauh di sini.

Orang Bali itu cinta damai dan memilih ribut di media sosial. Cobalah lihat postingan media sosial yang memajang foto demonstrasi khususnya di Bali, bukan hanya demo kali ini saja, tapi demo sebelum-sebelumnya dan baca komentar mereka. Lihatlah beberapa nama yang berkomentar di sana yang menggunakan nama orang Bali. Bacalah bagaimana caranya mereka berkomentar dengan sumpah serapah dan kata-kata kasar mereka. Misalkan saja: ada nak asli Bali milu demo? Dengan pertanyaan tersebut, bukankah langsung merujuk pada Sara?

Tak hanya masalah demo, masalah lain pula, coba lihat grup-grup facebook dengan anggota yang besar, baca komentar-komentar orang Bali di sana. Bagaimana mereka menghujat, bahkan hanya dengan membaca judul artikel yang diposting pun mereka sudah berkomentar dan menghujat tanpa mau sedikit saja meluangkan waktunya untuk membaca isi artikel tersebut sebelum berkomentar. Di sana kita bisa melihat, seberapa damai dan seberapa santun mereka.

Orang Bali cinta damai, tapi lihatlah bagaimana jika ada yang berebut tapal batas desa atau berebut setra (kuburan). Bagaimanakah caranya menyelesaikan masalah itu? Semua orang Bali pasti punya bayangan sendiri tentang bagaimana caranya menyelesaikan masalah itu.

Dan kalau mau ke waktu yang lebih jauh, tahun 1965-1966, bagaimana pembunuhan masal terjadi di Bali dan bagaimana ribuan orang Bali terbunuh bahkan oleh kenalan atau keluarganya sendiri. Santun dan damai?

Apa yang saya ungkapkan tadi mungkin terlalu jauh, terlalu luas. Oke, mari kita tinggalkan yang jauh jika ingin melihat seberapa damai orang Bali itu. Lihatlah mulai dari tingkat keluarga. Bagaimana saya melihat hubungan antara mertua dan menantu pada beberapa keluarga di sekitar saya dan bahkan di keluarga saya sendiri. Begini ceritanya.

Si X adalah mertua dari Si Y. Si X tidak setuju jika anaknya menikah dengan Si Y. Mereka tinggal dalam satu pekarangan rumah dan mencoba membuat drama seolah-olah mereka akur-akur saja. Pada suatu hari, Si Y membuat kesalahan kecil yang tidak perlu dipermasalahkan dan dibesar-besarkan, namun Si X menganggap bahwa masalah itu adalah masalah besar dan sekaligus jalan untuk bisa mengusir Si Y. Maka terjadilah pertengkaran hebat antara Si X dan Si Y yang pada akhirnya membuat Si Y harus menyingkir dari rumah mertuanya bersama sang suami. Si Y bersama suaminya pun memilih tinggal di tempat lain dengan cara mengontrak rumah.

Ini baru satu perkara orang Bali yang cinta damai dalam keluarga.

Kedua, bagaimana seorang mertua dan menantu yang akur-akur saja di dalam rumah. Tapi begitu keluar rumah, mereka akan menjelek-jelekkan satu sama lain. Si menantu tidak bisa ini itu, si mertua suka ngeyel, cerewet dan lain sebagainya.

Selanjutnya, bagaimana orang Bali sampai pegat menyama hanya gara-gara berebut warisan orang tua. Merasa mendapat bagian yang kurang adil, terjadilah keributan yang ujung-ujungnya musuhan walaupun dengan saudara kandung.

Selanjutnya lagi, bagaimana cara orang Bali menjelek-jelekkan orang yang tidak disukainya di tempat-tempat umum. Mereka tidak akan peduli apakah itu saat ngayah di pura, sangkep di banjar, saat gotong royong, ataupun di warung kecil tempat mereka berbelanja.

Ya, apa yang dikatakan orang Bali itu benar, demo bukan cara orang Bali, tapi cara orang Bali itu berbeda. Maka belakangan muncullah kasak-kusuk di masyarakat entah ini benar atau tidak: masyarakat Bali itu ramah pada pendatang, dan tidak ramah pada saudaranya sendiri.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DenPasar 2020: Regeneration – Sebuah Program yang Mendukung Perkembangan Infrastruktur Kesenian dan Kelestarian Budaya Bali

Next Post

Parade Teater Muda Bali Utara; Perasaan yang Keruh Dalam Episode Daun Kering

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Parade Teater Muda Bali Utara; Perasaan yang Keruh Dalam Episode Daun Kering

Parade Teater Muda Bali Utara; Perasaan yang Keruh Dalam Episode Daun Kering

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co