2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa dan Wisya: Berguru pada Kisah Surpanaka yang Terlupakan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
June 20, 2020
in Esai
Bahasa dan Wisya: Berguru pada Kisah Surpanaka yang Terlupakan

Wayang tokoh surpanaka. || Sumber gambar: https://wayang.wordpress.com/2006/10/26/sarpakenaka/

Untuk menciptakan sebuah karya sastra yang berisi pesan-pesan moral kuat kepada pembacanya, pengarang memang wajib menghidupkan figur antagonis. Figur itu biasanya lekat dengan citra negatif, hitam, dan gelap sehingga jarang ada pembaca yang melirik, mendalami, apalagi menjadikannya sebagai ‘guru’ hidup. Padahal, untuk bisa memahami hidup ini dengan seimbang, figur yang penuh sandungan dan sanjungan mesti sama-sama diberikan nilai yang tidak berbeda. Dengan cara itulah sari-sari ajaran dapat direnungkan dan dihayati oleh pembaca sastra.

Surpanaka adalah salah satu figur dalam Kakawin Ramayana yang terlupakan salampah lakunya. Kisah hidupnya tak banyak menarik perhatian pembaca dan peneliti untuk menulis bahkan membelanya. Pengarang sukses menjadikan orientasi utama pembaca pada Rama, seorang reinkarnasi Wisnu yang menang melawan Rawana bukan atas usahanya sendiri, tetapi panah guhya wijaya pemberian Indra. Surpanaka memang tidak diceritakan kalah dalam perang seperti seluruh keluarga laki-laki Rawana, namun ia gugur dihadapan sesuatu abstrak yang sulit diceritakan tetapi bisa dirasakan. Ya. Ia dikalahkan oleh sesuatu bernama cinta.

Perasaan cinta ternyata bukan otonomi manusia dan dewa, melainkan juga raksasa. Entah kenapa, Kama berkenan berstana pada sosok raksasa bertaring, rambut kusut, mata mendelik, dengan kuku runcing yang siap menyayat manusia salah menempati ruang dan waktu.

Di titik ini, kita perlu merenungkan kembali kisah Kakawin Smaradahana. Benarkah kisah Kama berakhir ketika dibakar oleh api Siwa menggunakan mata ketiganya? Atau pembakaran itu sebuah awal anugerah? Karena tanpa dibakar menjadi abu oleh Siwa dengan mata ketiganya, Kama tentu tidak akan bisa menyusupi Siwa sehingga melakukan sanggama kosmis dengan Parwati. Semasih menjadi dewa bawahan Indra, mana mungkin Ia bisa memasuki dwara batin Siwa, dewa tertinggi. Tanpa dibakar oleh Siwa pula, suami Ratih itu tidak akan masuk ke dalam ceruk hati seorang perempuan raksasa bernama Surpanaka.

Raksasa perempuan yang konon beringas itu, tak berdaya di hadapan satu kata yaitu ‘cinta’. Sejak ia bertemu dengan Laksmana di hutan, ia tak pernah sedetikpun bisa melupakan putra dewi Sumitra. Lima indra persepsinya berhasil merekam kesempurnaan Laksamana, tanpa cela. Oleh sebab itu, Ia yang tidak pintar berkilah seperti manusia-pujangga mengibarkan bendera di dalam hatinya dengan tulisan “cinta harus diperjuangkan sebelum diikhlaskan hasilnya”! Dengan dasar itu, Ia mengerahkan seluruh kemampuan keraksasaannya. 

Ia tahu betul bahwa dengan wujud raksasa, Surpanaka tak akan mampu memikat hati saudara Satrughna yang berwujud manusia itu. Dengan seluruh bakat alaminya, Ia lalu berubah menjadi manusia berparas cantik. Wujud manusianya itu tentu membuatnya menjadi semakin percaya bahwa Laksmana akan tersungkur di ujung ibu jari kakinya.

Setelah sekian lama mengawasi Laksmana di hutan, ia menunggu waktu yang paling tepat untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Surpanaka berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri, sebab kuku yang sebelumnya panjang, runcing, dan tajam kini berubah menjadi lentik. Langkah kaki yang sebelumnya cepat, kuat, dan beringas kala menangkap manusia yang tersesat di hutan, kini dipaksa menjadi lambat seperti manusia pada umumnya. Mata yang biasa mendelik diatur agar kelihatan kuyu dan bersahaja. Lidah yang terbiasa menjuntai dengan air liur yang berbisa dilipat pendek di dalam mulutnya. Sungguh, perjuangan cinta yang tidak mudah!

Gerak tubuh raksasanya berhasil dikendalikan dengan sempurna oleh Surpanaka. Penyamaran sukses besar! Laksmana tidak sedikitpun menaruh rasa curiga. Ia percaya sepenuhnya bahwa di samping dirinya dengan Rama dan Sita, ada seorang gadis yang tengah tersesat di hutan. Dialog demi dialog telah dilakukan oleh Laksmana dengan Surpanaka jadi-jadian. Surpanaka berhasil menunjukkan kelemahannya sehingga Laksmana tidak bisa mengontrol jiwa kelelakiannya untuk menolong Ia yang tengah ada di hutan rimba. Setelah berdialog tentang berbagai hal, hasrat cinta yang membuncah di hatinya menyebabkan Surpanaka menawarkan dirinya kepada Laksmana.

Adik Rama itu tentu dengan tegas menolak permintaannya. Sebab Ia telah berikhtiar untuk membujang sampai akhir hayat untuk bisa mengabdi kepada Rama. Ditolak cintanya, Surpanaka masih tetap berjuang dengan melakukan berbagai penawaran kepada Laksmana. Tawaran yang semakin kuat dilakukan oleh Surpanaka ternyata justru berbalik menjadi kelemahannya. Perlahan-lahan melalui cara bertuturnya yang besar, kuat, kencang, dan tekanan tinggi, Ia membuka lapisan-lapisan jati dirinya sebagai seorang raksasa. Tubuhnya memang masih berwujud manusia berparas cantik, tapi watak keraksasaannya telah jelas diketahui oleh Laksmana.

Surpanaka tidak seberuntung raksasa Hidimbi yang akhirnya dinikahi oleh Bima dalam Bharata Yuddha. Ia tidak hanya mengalami kegagalan cinta, tetapi juga harus menerima kenyataan bahwa Laksmana bersikap kasar dengan melepaskan anak panah yang tepat mengenai ujung hidungnya. Sebagai raksasa perempuan, ia cacat sepanjang hayat.

Luka fisik dan batin inilah yang menyebabkan Surpanaka memprovokasi raja raksasa Rawana untuk mencuri istri Rama. Tidak hanya berhasil melarikan Sita selama bertahun-tahun, kata-kata hasutan Surpanaka juga menyebabkan terjadinya perang besar yang melibatkan manusia, raksasa, dewa, yaksa, asura, daitya di berbagai lapisan dunia. Entah berapa korban jiwa yang mesti ditanggung oleh pihak Rawana atau Rama pasca perang besar itu terjadi. Kata-kata yang mengandung wisya ‘bisa’ Surpanakalah pangkal dari segala perang besar dalam Ramayana.

Itu sebabnya, jangan mainkan hati wanita. Apalagi sampai melukai fisik dan psikisnya, jika tidak ingin memindahkan perang dalam Ramayana ke dalam kehidupan nyata! [T]

Tags: Bahasawayang
Share292TweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Momentum Menjaga Spirit Gotong Royong.

Next Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co