22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa dan Wisya: Berguru pada Kisah Surpanaka yang Terlupakan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
June 20, 2020
in Esai
Bahasa dan Wisya: Berguru pada Kisah Surpanaka yang Terlupakan

Wayang tokoh surpanaka. || Sumber gambar: https://wayang.wordpress.com/2006/10/26/sarpakenaka/

Untuk menciptakan sebuah karya sastra yang berisi pesan-pesan moral kuat kepada pembacanya, pengarang memang wajib menghidupkan figur antagonis. Figur itu biasanya lekat dengan citra negatif, hitam, dan gelap sehingga jarang ada pembaca yang melirik, mendalami, apalagi menjadikannya sebagai ‘guru’ hidup. Padahal, untuk bisa memahami hidup ini dengan seimbang, figur yang penuh sandungan dan sanjungan mesti sama-sama diberikan nilai yang tidak berbeda. Dengan cara itulah sari-sari ajaran dapat direnungkan dan dihayati oleh pembaca sastra.

Surpanaka adalah salah satu figur dalam Kakawin Ramayana yang terlupakan salampah lakunya. Kisah hidupnya tak banyak menarik perhatian pembaca dan peneliti untuk menulis bahkan membelanya. Pengarang sukses menjadikan orientasi utama pembaca pada Rama, seorang reinkarnasi Wisnu yang menang melawan Rawana bukan atas usahanya sendiri, tetapi panah guhya wijaya pemberian Indra. Surpanaka memang tidak diceritakan kalah dalam perang seperti seluruh keluarga laki-laki Rawana, namun ia gugur dihadapan sesuatu abstrak yang sulit diceritakan tetapi bisa dirasakan. Ya. Ia dikalahkan oleh sesuatu bernama cinta.

Perasaan cinta ternyata bukan otonomi manusia dan dewa, melainkan juga raksasa. Entah kenapa, Kama berkenan berstana pada sosok raksasa bertaring, rambut kusut, mata mendelik, dengan kuku runcing yang siap menyayat manusia salah menempati ruang dan waktu.

Di titik ini, kita perlu merenungkan kembali kisah Kakawin Smaradahana. Benarkah kisah Kama berakhir ketika dibakar oleh api Siwa menggunakan mata ketiganya? Atau pembakaran itu sebuah awal anugerah? Karena tanpa dibakar menjadi abu oleh Siwa dengan mata ketiganya, Kama tentu tidak akan bisa menyusupi Siwa sehingga melakukan sanggama kosmis dengan Parwati. Semasih menjadi dewa bawahan Indra, mana mungkin Ia bisa memasuki dwara batin Siwa, dewa tertinggi. Tanpa dibakar oleh Siwa pula, suami Ratih itu tidak akan masuk ke dalam ceruk hati seorang perempuan raksasa bernama Surpanaka.

Raksasa perempuan yang konon beringas itu, tak berdaya di hadapan satu kata yaitu ‘cinta’. Sejak ia bertemu dengan Laksmana di hutan, ia tak pernah sedetikpun bisa melupakan putra dewi Sumitra. Lima indra persepsinya berhasil merekam kesempurnaan Laksamana, tanpa cela. Oleh sebab itu, Ia yang tidak pintar berkilah seperti manusia-pujangga mengibarkan bendera di dalam hatinya dengan tulisan “cinta harus diperjuangkan sebelum diikhlaskan hasilnya”! Dengan dasar itu, Ia mengerahkan seluruh kemampuan keraksasaannya. 

Ia tahu betul bahwa dengan wujud raksasa, Surpanaka tak akan mampu memikat hati saudara Satrughna yang berwujud manusia itu. Dengan seluruh bakat alaminya, Ia lalu berubah menjadi manusia berparas cantik. Wujud manusianya itu tentu membuatnya menjadi semakin percaya bahwa Laksmana akan tersungkur di ujung ibu jari kakinya.

Setelah sekian lama mengawasi Laksmana di hutan, ia menunggu waktu yang paling tepat untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Surpanaka berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri, sebab kuku yang sebelumnya panjang, runcing, dan tajam kini berubah menjadi lentik. Langkah kaki yang sebelumnya cepat, kuat, dan beringas kala menangkap manusia yang tersesat di hutan, kini dipaksa menjadi lambat seperti manusia pada umumnya. Mata yang biasa mendelik diatur agar kelihatan kuyu dan bersahaja. Lidah yang terbiasa menjuntai dengan air liur yang berbisa dilipat pendek di dalam mulutnya. Sungguh, perjuangan cinta yang tidak mudah!

Gerak tubuh raksasanya berhasil dikendalikan dengan sempurna oleh Surpanaka. Penyamaran sukses besar! Laksmana tidak sedikitpun menaruh rasa curiga. Ia percaya sepenuhnya bahwa di samping dirinya dengan Rama dan Sita, ada seorang gadis yang tengah tersesat di hutan. Dialog demi dialog telah dilakukan oleh Laksmana dengan Surpanaka jadi-jadian. Surpanaka berhasil menunjukkan kelemahannya sehingga Laksmana tidak bisa mengontrol jiwa kelelakiannya untuk menolong Ia yang tengah ada di hutan rimba. Setelah berdialog tentang berbagai hal, hasrat cinta yang membuncah di hatinya menyebabkan Surpanaka menawarkan dirinya kepada Laksmana.

Adik Rama itu tentu dengan tegas menolak permintaannya. Sebab Ia telah berikhtiar untuk membujang sampai akhir hayat untuk bisa mengabdi kepada Rama. Ditolak cintanya, Surpanaka masih tetap berjuang dengan melakukan berbagai penawaran kepada Laksmana. Tawaran yang semakin kuat dilakukan oleh Surpanaka ternyata justru berbalik menjadi kelemahannya. Perlahan-lahan melalui cara bertuturnya yang besar, kuat, kencang, dan tekanan tinggi, Ia membuka lapisan-lapisan jati dirinya sebagai seorang raksasa. Tubuhnya memang masih berwujud manusia berparas cantik, tapi watak keraksasaannya telah jelas diketahui oleh Laksmana.

Surpanaka tidak seberuntung raksasa Hidimbi yang akhirnya dinikahi oleh Bima dalam Bharata Yuddha. Ia tidak hanya mengalami kegagalan cinta, tetapi juga harus menerima kenyataan bahwa Laksmana bersikap kasar dengan melepaskan anak panah yang tepat mengenai ujung hidungnya. Sebagai raksasa perempuan, ia cacat sepanjang hayat.

Luka fisik dan batin inilah yang menyebabkan Surpanaka memprovokasi raja raksasa Rawana untuk mencuri istri Rama. Tidak hanya berhasil melarikan Sita selama bertahun-tahun, kata-kata hasutan Surpanaka juga menyebabkan terjadinya perang besar yang melibatkan manusia, raksasa, dewa, yaksa, asura, daitya di berbagai lapisan dunia. Entah berapa korban jiwa yang mesti ditanggung oleh pihak Rawana atau Rama pasca perang besar itu terjadi. Kata-kata yang mengandung wisya ‘bisa’ Surpanakalah pangkal dari segala perang besar dalam Ramayana.

Itu sebabnya, jangan mainkan hati wanita. Apalagi sampai melukai fisik dan psikisnya, jika tidak ingin memindahkan perang dalam Ramayana ke dalam kehidupan nyata! [T]

Tags: Bahasawayang
Share292TweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Momentum Menjaga Spirit Gotong Royong.

Next Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co