23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa dan Wisya: Berguru pada Kisah Surpanaka yang Terlupakan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
June 20, 2020
in Esai
Bahasa dan Wisya: Berguru pada Kisah Surpanaka yang Terlupakan

Wayang tokoh surpanaka. || Sumber gambar: https://wayang.wordpress.com/2006/10/26/sarpakenaka/

Untuk menciptakan sebuah karya sastra yang berisi pesan-pesan moral kuat kepada pembacanya, pengarang memang wajib menghidupkan figur antagonis. Figur itu biasanya lekat dengan citra negatif, hitam, dan gelap sehingga jarang ada pembaca yang melirik, mendalami, apalagi menjadikannya sebagai ‘guru’ hidup. Padahal, untuk bisa memahami hidup ini dengan seimbang, figur yang penuh sandungan dan sanjungan mesti sama-sama diberikan nilai yang tidak berbeda. Dengan cara itulah sari-sari ajaran dapat direnungkan dan dihayati oleh pembaca sastra.

Surpanaka adalah salah satu figur dalam Kakawin Ramayana yang terlupakan salampah lakunya. Kisah hidupnya tak banyak menarik perhatian pembaca dan peneliti untuk menulis bahkan membelanya. Pengarang sukses menjadikan orientasi utama pembaca pada Rama, seorang reinkarnasi Wisnu yang menang melawan Rawana bukan atas usahanya sendiri, tetapi panah guhya wijaya pemberian Indra. Surpanaka memang tidak diceritakan kalah dalam perang seperti seluruh keluarga laki-laki Rawana, namun ia gugur dihadapan sesuatu abstrak yang sulit diceritakan tetapi bisa dirasakan. Ya. Ia dikalahkan oleh sesuatu bernama cinta.

Perasaan cinta ternyata bukan otonomi manusia dan dewa, melainkan juga raksasa. Entah kenapa, Kama berkenan berstana pada sosok raksasa bertaring, rambut kusut, mata mendelik, dengan kuku runcing yang siap menyayat manusia salah menempati ruang dan waktu.

Di titik ini, kita perlu merenungkan kembali kisah Kakawin Smaradahana. Benarkah kisah Kama berakhir ketika dibakar oleh api Siwa menggunakan mata ketiganya? Atau pembakaran itu sebuah awal anugerah? Karena tanpa dibakar menjadi abu oleh Siwa dengan mata ketiganya, Kama tentu tidak akan bisa menyusupi Siwa sehingga melakukan sanggama kosmis dengan Parwati. Semasih menjadi dewa bawahan Indra, mana mungkin Ia bisa memasuki dwara batin Siwa, dewa tertinggi. Tanpa dibakar oleh Siwa pula, suami Ratih itu tidak akan masuk ke dalam ceruk hati seorang perempuan raksasa bernama Surpanaka.

Raksasa perempuan yang konon beringas itu, tak berdaya di hadapan satu kata yaitu ‘cinta’. Sejak ia bertemu dengan Laksmana di hutan, ia tak pernah sedetikpun bisa melupakan putra dewi Sumitra. Lima indra persepsinya berhasil merekam kesempurnaan Laksamana, tanpa cela. Oleh sebab itu, Ia yang tidak pintar berkilah seperti manusia-pujangga mengibarkan bendera di dalam hatinya dengan tulisan “cinta harus diperjuangkan sebelum diikhlaskan hasilnya”! Dengan dasar itu, Ia mengerahkan seluruh kemampuan keraksasaannya. 

Ia tahu betul bahwa dengan wujud raksasa, Surpanaka tak akan mampu memikat hati saudara Satrughna yang berwujud manusia itu. Dengan seluruh bakat alaminya, Ia lalu berubah menjadi manusia berparas cantik. Wujud manusianya itu tentu membuatnya menjadi semakin percaya bahwa Laksmana akan tersungkur di ujung ibu jari kakinya.

Setelah sekian lama mengawasi Laksmana di hutan, ia menunggu waktu yang paling tepat untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Surpanaka berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri, sebab kuku yang sebelumnya panjang, runcing, dan tajam kini berubah menjadi lentik. Langkah kaki yang sebelumnya cepat, kuat, dan beringas kala menangkap manusia yang tersesat di hutan, kini dipaksa menjadi lambat seperti manusia pada umumnya. Mata yang biasa mendelik diatur agar kelihatan kuyu dan bersahaja. Lidah yang terbiasa menjuntai dengan air liur yang berbisa dilipat pendek di dalam mulutnya. Sungguh, perjuangan cinta yang tidak mudah!

Gerak tubuh raksasanya berhasil dikendalikan dengan sempurna oleh Surpanaka. Penyamaran sukses besar! Laksmana tidak sedikitpun menaruh rasa curiga. Ia percaya sepenuhnya bahwa di samping dirinya dengan Rama dan Sita, ada seorang gadis yang tengah tersesat di hutan. Dialog demi dialog telah dilakukan oleh Laksmana dengan Surpanaka jadi-jadian. Surpanaka berhasil menunjukkan kelemahannya sehingga Laksmana tidak bisa mengontrol jiwa kelelakiannya untuk menolong Ia yang tengah ada di hutan rimba. Setelah berdialog tentang berbagai hal, hasrat cinta yang membuncah di hatinya menyebabkan Surpanaka menawarkan dirinya kepada Laksmana.

Adik Rama itu tentu dengan tegas menolak permintaannya. Sebab Ia telah berikhtiar untuk membujang sampai akhir hayat untuk bisa mengabdi kepada Rama. Ditolak cintanya, Surpanaka masih tetap berjuang dengan melakukan berbagai penawaran kepada Laksmana. Tawaran yang semakin kuat dilakukan oleh Surpanaka ternyata justru berbalik menjadi kelemahannya. Perlahan-lahan melalui cara bertuturnya yang besar, kuat, kencang, dan tekanan tinggi, Ia membuka lapisan-lapisan jati dirinya sebagai seorang raksasa. Tubuhnya memang masih berwujud manusia berparas cantik, tapi watak keraksasaannya telah jelas diketahui oleh Laksmana.

Surpanaka tidak seberuntung raksasa Hidimbi yang akhirnya dinikahi oleh Bima dalam Bharata Yuddha. Ia tidak hanya mengalami kegagalan cinta, tetapi juga harus menerima kenyataan bahwa Laksmana bersikap kasar dengan melepaskan anak panah yang tepat mengenai ujung hidungnya. Sebagai raksasa perempuan, ia cacat sepanjang hayat.

Luka fisik dan batin inilah yang menyebabkan Surpanaka memprovokasi raja raksasa Rawana untuk mencuri istri Rama. Tidak hanya berhasil melarikan Sita selama bertahun-tahun, kata-kata hasutan Surpanaka juga menyebabkan terjadinya perang besar yang melibatkan manusia, raksasa, dewa, yaksa, asura, daitya di berbagai lapisan dunia. Entah berapa korban jiwa yang mesti ditanggung oleh pihak Rawana atau Rama pasca perang besar itu terjadi. Kata-kata yang mengandung wisya ‘bisa’ Surpanakalah pangkal dari segala perang besar dalam Ramayana.

Itu sebabnya, jangan mainkan hati wanita. Apalagi sampai melukai fisik dan psikisnya, jika tidak ingin memindahkan perang dalam Ramayana ke dalam kehidupan nyata! [T]

Tags: Bahasawayang
Share292TweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Momentum Menjaga Spirit Gotong Royong.

Next Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co