6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog Pemabuk

Eka Prasetya by Eka Prasetya
March 16, 2020
in Cerpen
Monolog Pemabuk

Cerpen: Eka Prasetya

HARI beranjak malam. Waktunya sudah tiba. Aku segera beranjak ke kulkas di sudut kamar. Membukanya. Kosong. Tidak ada minuman yang tersisa.

Aku tahu. Ini pasti ulah istriku. Arak yang kemarin aku simpan di kulkas, sudah tak berbekas.

“Di mana arak yang kemarin itu Luh?” tanyaku.

“Sudah habis. Dipakai metabuh tadi. Itu minuman bhutakala,” jawab istriku.

Aku memilih tak menjawab. Urusannya bisa panjang dan berakhir pada pertengkaran. Salah-salah, ada piring terbang yang mengenai kepalaku.

Motor segera aku geber menuju warung milik Wawan, rekanku sesama alkoholik. Sebenarnya dia berjualan bakso. Tapi sembunyi-sembunyi, Wawan juga menjual arak. Wawan tahu minuman seperti apa yang aku butuhkan. Seperti apa campurannya. Aku cukup mengacungkan jari, tanda berapa banyak aku memesan.

Malam itu, Wawan memintaku minum di warungnya. Sebenarnya aku tak pernah nyaman minum di keramaian, terlebih dengan orang yang tak terlalu aku kenal. Tapi suasana di rumah sedang tidak kondusif.

Apalagi Wawan melontarkan kalimat yang tak bisa kutolak. “Minumlah di sini. Berapa pun yang kau minta, aku berikan. Gratis,” katanya.

Aku segera duduk di depan Wawan. Ia menyodorkan sebotol arak. Dia juga mengenalkan aku pada teman-temannya. Baru sekali ini aku lihat mereka belanja di sana.

Gelas pertama disodorkan. Ini minuman penyambutan. Tak patut ditolak. Meski porsinya agak berlebihan. Segera aku tenggak hingga tandas.

Otakku yang tadinya mumet, kini jadi rileks. Ternyata nikmat betul minuman ini. Rasa penat dan gelisah di tubuhku langsung menguar. Hilang entah ke mana.

Wawan kembali menyodorkan gelas. Ini putaran kedua. Konon gelas kedua akan memberikan kebahagiaan. Memang seperti itu yang aku rusakan. Bisa menenggak alkohol tiap hari, sudah jadi kebahagiaan. Apalagi bisa mendapat arak gratis.

Putaran ketiga datang. Katanya gelas ketiga akan membuat aku seperti raja. Tapi entahlah, aku tak merasa begitu. Bila pulang, aku akan merasa seperti bidak raja pada permainan catur. Langkahnya serba terbatas. Ah, peduli apa. Toh aku dapat minuman gratis. Bagiku, itu lebih penting.

Gelas keempat aku ambil. Mulutku mulai meracau. Orang-orang mulai terheran-heran. Sebab dari tadi aku hanya terdiam. Tersenyum pun sekenanya.

Aku mulai meracau soal kebiasaanku minum sendirian hingga tertidur di teras rumah. Mengeluh soal omelan istriku tiap kali aku menenggak minuman beralkohol.

“Padahal dari sebelum kawin, dia sudah tahu aku suka mabuk. Tapi sekarang dia sering marah-marah. Tiap aku beli minuman, tidak pernah aku pakai uang dapur,” kataku.

Wawan hanya tertawa mendengar keluhanku. “Kalau tidak sanggup dengar omelan istri, kawin saja lagi,” katanya.

“Mendengar omelan satu istri saja aku tidak kuat. Apalagi dua istri. Bisa mati berdiri aku,” kataku lagi.

Gelas kelima disodorkan padaku. Langsung saja kutenggak hingga tandas. Sejujurnya aku tak ingat apalagi yang kami bicarakan. Aku lebih fokus pada pramuria di warung milik Wawan yang mondar-mandir membawa mangkok bakso. Sesekali aku colek pinggulnya. Pramuria itu membalasku dengan senyuman genit.

“Katanya satu istri saja tidak sanggup. Mau tambah lagi? Pelayanku masih lajang,” goda Wawan.

Ah, lebih baik aku menjauhi masalah. Aku raih segelas minuman lagi. Badanku mulai merasa tidak nyaman. Sepertinya aku mau muntah. Mungkin aku sudah mabuk. Tapi aku belum mau pulang. Lebih baik aku bertahan sebentar lagi.

Kepala mulai kusandarkan di sofa. Rasanya sungguh berat. Tapi meninggalkan Wawan dan teman-temannya yang sedang bersukaria, rasanya sungguh tak pantas. Mungkin aku harus bertahan, barang segelas atau dua gelas lagi.

Segelas arak kembali disodorkan. Aku sebenarnya ragu menenggaknya. Rasanya sudah terlalu banyak. Tapi, aku tak bisa mengecewakan teman-teman satu botol yang baru aku kenal. Aku harus bertahan.

Arak itu segera aku tenggak hingga tandas. Kepalaku makin berputar. Perutku mulai bergejolak. Rasanya ada yang ingin keluar. Aku berlari keluar. Aku tak mau muntah di hadapan sesama peminum. Itu aib yang sangat memalukan.

Aku harus segera pulang ke rumah. Tiba-tiba aku kangen istri. Istriku bisa memijat kepalaku. Pijatannya sangat ampuh menghilangkan pengar. Meski biasanya dia memijat sambil mulutnya terus berbunyi. Marah-marah. Tak masalah, toh aku sudah mabuk. Aku tak akan ingat apa yang dia bicarakan.

Aku segera menggeber motor ke rumah. Tiba-tiba kepalaku terasa ringan. Ringan sekali.

“Istriku, istriku…!” Aku menyebut nama istriku berkali-kali.  Ia harus memberikan pijatan.

Tubuhku makin ringan. Aku menerobos lampu merah di perempatan pertama. Lalu seseorang kudengar berteriak, memaki. Tampaknya aku salah jalur. Di perempatan berikutnya, tak kulihat lagi, apakah lampu pengatur jalan itu merah, hijau atau kuning, kutererobos saja.  

Sedetik kemudian kudengar orang berteriak-teriak. Tubuhku yang terlentang di jalan dikerumuni banyak orang. Kulihat satu per satu.

Istriku, istriku, di mana istriku. Aku perlu pijatan… [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Etika Batuk, Cegah Penyakit Menular

Next Post

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co