6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutukan

IDK Raka Kusuma by IDK Raka Kusuma
December 28, 2019
in Cerpen
Kutukan

Ilustrasi diolah dari lukisan Komang Astiari

Cerpen IDK Raka Kusuma

I Dewa Manguri, dikawal empat orang prajurit berdiri di Pantai Kelingking. Keris terhunus  di tangan kanannya. Sedepa di depannya, seorang lelaki tanpa senjata, berdiri dengan kaki mengangkang. Telapak kakinya keras terhujam pada pasir.

Angin sasih karo membuat rambut I Dewa Manguri melambai. Begitu pula rambut lelaki yang berdiri di depannya. Karena berada di tempat ketinggian, ombak samudera yang berlarian ke pantai Kelingking tak mencapai pasir tempat telapak kaki mereka berpijak.

Lama kebisuan membentang diantara mereka. Kebisuan pecah oleh pertanyaan yang diajukan oleh lelaki itu.

“Atas dasar apa titiang dibunuh?”

“Atas dasar perintah raja,” I Dewa Manguri menjawab.

“Perintah raja?”

“Ya”

“Tunjukkan pada titiang.”

I Dewa Manguri, dari balik kain di dadanya mengeluarkan selembar lontar pendek. Lontar itu diserahkan. Lelaki itu mengambil langsung membaca.

“Kesalahan titiang tidak ditulis dalam lontar ini,” kata lelaki itu sambil menyerahkan kepada I Dewa Manguri, “Mengapa tiiang dibunuh?”

“Tiang hanya menjalankan titah raja.”

“Walaupun titah itu titah yang salah?”

“Menurut Jero titah raja ini salah. Menurut saya tidak.”

“Tidak?”

“Ya”

“Mengapa?”

“Taat perintah kewajiban utama seorang kepala balawadwa.”

“Seorang kepala balawadwa kerajaan, seharusnya cerdas dan berani.”

“Maksud Jero?”

“Cerdas mendalami perintah raja. Terutama mendalami kebenaran perintah itu. Berani menentang perintah raja yang salah.”

“Jero tahu, akibat yang diterima seorang kepala balawadwa kerajaan yang berani menentang dan tidak melaksanakan perintah raja?”

Tanpa memberi kesempatan, I Dewa Manguri menjawab pertanyaan yang diucapkannya.

“Seluruh keluarga ditumpas habis. Seluruh harta kekayaan diambil kerajaan.”

“Baiklah,” lelaki itu berkata. “Sebelum dibunuh izinkan titiang mengucapkan sesuatu”.

“Baiklah. Asal jangan minta tiang membatalkan membunuh. Atau melepaskan Jero pergi dari sini.”

“Titiang tidak serendah itu Jero. Titiang tahu, bila raja mengetahui titiang masih hidup, selain keluarga Jero keluarga titiang juga akan ditumpas habis.”

“Silakan ucapkan kata-kata terakhir Jero.”

Lelaki itu, tiba-tiba menghadapkan dirinya ke arah laut yang gemuruh. Bersila. Mencakupkan tangannya di kepala. Berdiri. Menghadapkan dirinya ke arah I Dewa Manguri berada dengan suara keras melepaskan kata-kata. Saking keras sampai tubuhnya bergetar.

“Disaksikan Dewa Baruna, disaksikan Dewa Surya, inilah kutukanku. Semua keturunan Raja. Seluruh keturunan yang membunuh tiang hari ini. Bila datang kemari, ke Pantai Klingking diseret ombak ke dasar laut. Jenazahnya tak akan ditemukan sampai kapanpun. Demikian juga seluruh keluarga raja dan seluruh keluarga yang membunuh titiang hari ini. Bila berkunjung kemari nasibnya sama!”

Peristiwa eksekusi itu adalah cerita masa lalu. Cerita yang disampaikan mendiang ayah, seminggu sebelum meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Disampaikan kepadaku, adikku yang kedua, adikku yang ketiga dan adikku yang keempat.

I Dewa Manguri adalah leluhur yang menurunkan kami. Sampai kini sudah sembilan generasi. Karena itu, ayah memberiku amanat sebagai anak sulung menyampaikan pesan yang sudah disampaikan turun-temurun.

“Walaupun Pantai Kelingking berada di Nusa Penida. Walau jauh dari sini. Beritahu anak-anak dan keluarga yang satu Dadia dengan kita. Bila ke Nusa Penida agar tidak ke Pantai Kelingking. Kutukan tidak bisa dilawan tetapi bisa dihindari. Semoga tidak ada yang ditimpa kutukan. Semoga semua lepas dari kutukan. Semoga Betara Kawitan melindungi kita.”

Pesan agar dijauhkan dari kutukan ini harus kusampaikan kepada keponakanku. Putra sulung adikku yang kedua. Seorang doktor sejarah. Seorang dosen di Universitas Gajah Mada. Yang menelepon ayahnya, mengatakan lagi lima hari akan ke Nusa Penida sekaligus ke Pantai Kelingking.

Walaupun diberikan amanat oleh ayah, karena anaknya kuminta adikku yang kedua menyampaikan. Setelah lama tarik ulur dalam perdebatan, aku menyanggupi asal adikku yang kedua mau menyampaikan dengan jujur mengapa tidak mau memberi tahu pesan mendiang ayah langsung kepada anaknya.

Tanpa menutup-nutupi ia sampaikan latar belakang penyebab tak mau memberi tahu anaknya.

“Putu, anak tiang yang pertama ini, sejak SMA menentang nasihat atau apa saja yang tiang sampaikan yang menurutnya tidak masuk akal. Tidak realistis. Tidak bisa diterima nalar dan logika. Tidak punya data yang akurat. Sudah kedaluwarsa. Sudah kuno sudah ketinggalan zaman.

Usai mengusap wajah dengan tangan kanan dia menyampaikan alasan berikutnya, “Tidak enak bertengkar dengan anak di masa tua ini. Lagi pula, kemarin, hasil cek laboratorium di rumah sakit BaliMed menunjukkan istri tiang diserang penyakit jantung”.

Meskipun aku menyanggupi menyampaikan kepada keponakanku, aku harus mencari cara agar yang kusampaikan bisa diterima dan dilaksanakan . Ya, aku harus mencari cara. Sepengetahuanku, di luar pengetahuan adikku, keponakanku ini sangat berani mengkritisi tradisi di desa ini, di mana aku menjadi Bendesa Adat. Demikian juga sangat berani mengkritisi bhisama leluhur yang dipegang teguh sebagai pusaka yang harus dipatuhi.

Keponakanku masih kuliah, ketika ada warga desa ini melahirkan bayi kembar buncing. Bayi berjenis laki dan perempuan lahir satu rahim. Tradisi yang berlaku di desa ini, bagi yang punya bayi kembar buncing wajib mondok selama tiga bulan dilayani oleh warga desa. Ternyata, ketika diadakan sangkepan banyak yang tidak setuju, terutama warga desa yang terkategori generasi muda. Terjadilah debat sengit. Debat sengit ini menyebabkan keputusan sulit diambil.

Hal itu, menyebabkan aku sebagai Bendesa Adat pusing tujuh keliling. Sebab seluruh warga desa menyerahkan keputusan kepadaku. Merasa buntu kupanggil keponakanku. Kukatakan apa yang kualami.

“Menegakkkan tradisi menurut tiang baik sekali. Tetapi menegakkan tradisi mewajibkan yang punya anak kembar buncing ini mondok tiga b ulan di tepi desa sikap yang salah.”

“Salahnya dimana?” tanyaku

“Bila terjadi apa-apa kepada kedua bayi itu, siapa yang bertanggung jawab?” Bila, siapa tahu, kedua bayi itu meninggal tidakkah akan memperparah keadaan yang sudah pecah di dalam sangkep tadi?”

Kepada keponakanku aku minta solusi.

“Di Puri kita ini, ada satu Puri yang kosong karena penghuninya semua di Denpasar. Tempatkan saja di sana. Yang punya bayi dan bayinya akan terlindungi. Keluarga yang punya bayi tidak merasa waswas. Warga desa yang melayani tidak takut bila malam. Yang paling utama terhindari dari gangguan Leak. Bukankah Kakyang Putra sakti mandraguna? Lagi pula, bukankah Puri kita letaknya di tepi utara desa?”

Ketika jalan keluar yang diberikan keponakanku kusampaikan dalam sangkep desa, semua warga desa setuju.

Ketegangan keluarga besar di Puri di tempatku dibesarkan berlangsung cukup lama. Yang memicu, ketika beberapa kepala keluarga yang masih muda mengajukan dalam rapat keluarga besar agar menghapus bhisama. Termasuk keponakanku yang baru beberapa bulan menikah. Saat itu, keponakanku tengah kuliah di strata dua program pendidikan sejarah.

Bhisama yang diajukan dihapus isinya: mencabut hak kepemilikan atas harta kekayaan Puri bagi anak gadisnya yang dilarikan lelaki berkasta Sudra. Mewajibkan bagi yang melarikan melakukan upacara patiwangi saat hari pernikahan.

Kepala keluarga yang tua tidak ada yang setuju. Mereka beranggapan yang berani menghapus tidak berbakti kepada leluhur. Ada menyebut menghina leluhur. Ada pula menyebut yang ingin menghapus manusia murtad.

Mereka yang tidak setuju menghapus dibuat tidak berdaya oleh cecaran kata-kata keponakanku. Yang aku ingat dia menyakan kebenaran Bhisama itu sebagai Sabda Ida Betara. Ida Betara, sosok yang suci sudah lepas dari dunia kasta, katanya. Lalu dia menyerang dengan pertanyaan tahun berapa bhisama ditulis dan siapa yang menulis bila di Puri ditulis di Puri yang mana.

“Bhisama itu pesan, “katanya” pesan yang dibuat di masa lalu. Ketika sistem kasta masih berlaku ketat. Ketika kasta yang dianggap lebih rendah harus menghormati kasta di atasnya. Di zaman globalisasi ini, bila kita masih memberlakukan, kita akan ditetawai. Bahkan dipertanyakan, mengapa begitu banyak keluarga Puri berpendidikan tinggi, tetapi masih juga memberlakukan tradisi yang membuat keluarga sendiri hancur dan memberati orang lain?”

Soal patiwangi, keponakanku menjelaskan, bukan penghapusan kasta lewat upacara. Tetapi dilakukan dengan gadis yang diambil atau dilarikan. Dan menyembah sanggah kemulan si lelaki.

“Bukankah dengan menyembah dua hal itu, pihak yang berkasta dengan sendirinya turun derajat kastanya menjadi kasta yang disembah?”

Agar ketegangan tidak berlarut-larut, kupanggil keponakanku di ruang tamu aku minta solusi.

Solusi yang diberikan, sarankan lelaki sudra yang akan melahirkan gadis Puri ini meminang. Yang meminang orang tua dan keluarga besarnya. Saat meminang, pihak Puri memberi tahu tidak lagi melakukan patiwangi melalui upacara yang dilakukan pendeta. Tapi, dilakukan, mempelai putri saat pernikahan atau sebelum menikah menyembah kedua orang tua laki-laki dan Sanggah Kemulannya.

Ketika dua hal itu berlalu dari pikiranku. Ketika pesan agar lepas dari kutukan muncul, aku kembali ke rencana semula. Mencari cara untuk menyampaikan agar keponakanku mau menerima dan melaksanakan.

Dalam hati aku berkata, rencana apa yang akan kutempuh? Dibandingkan yang akan kusampaikan, dua hal itu berbeda. Dua hal itu masih bisa dicari jalan keluarnya. Yang memberi jalan keluar, keponakanku. Sedangkan yang akan kusampaikan ini kutunjukkan pada keponakanku. Bagaimana mungkin bisa minta jalan keluar dari orang yang disodori masalah yang membebani dirinya? Masalah? benar, masalah. Bulankah dengan minta jangan pergi ke Pantai Kelingking sudah berarti menyodorkan masalah. Masalah akan bertambah bila kukatakan yang melatar belakangi kutukan di Pantai Kelingking. Dan, bila keponakanku minta bukti berupa data, bukankah masalah itu menyeruduk diriku? Akhirnya, menjadi masalah kami berdua. Tidak menutup kemungkinan, pada akhirnya jadi masalah yang menimbulkan masalah baru lagi. Yakni, pertengkaran yang tidak berujung pada penyelesaian. Melainkan berujung pada debat kusir berlarut-larut.

Sampai di sini, timbul minatku untuk minta bantuan kepada sahabatku. Minta bantuan agar diberi masukan, bagaimana caranya menyampaikan pesan ayah kepada keponakanku. tetapi tidak kulakukan. Tidak kulakukan, karena ini masalah keluarga. Di Puri tempatku lahir dan dibesarkan sangat dilarang melibatkan orang di luar tembok bila ingin menyelesaikan masalah keluarga. dengan melibatkan orang lain, berarti mengumumkan sisi buruk Puri yang bisa dibenahi bersama-sama. Bisa diluruskan secara kekeluargaan.

Kupejamkan mata untuk menenangkan diri. Agar tidak terbawa arus pikiran. pesan yang akan disampaikan bukan masalah tetapi upaya penyelamatan. Upaya penyelamatan keponakanku agar tidak menjadi santapan kutukan. Juga agar tidak larut dalam kontradiksi yang berkecamuk di dalam diri. Sekaligus menyadarkan diri, tengah berusaha mencari dan menemukan cara menyampaikan pesan. Pesan yang menghindarkan keponakanku dari libasan kutukan.

Kubiarkan ketenangan, pelan-pelan, meliputi diriku. [T]

Amlapura,  27 Oktober 2019


Keterangan

  • Betara Kawitan   :  Leluhur
  • Bhisama              :  Pesan
  • Dadia                   :  Pura Keluarga Besar
  • Jero                      :  Anda
  • Leak                    :  Manusia yang berubah bentuk
  • Puri                      :  Rumah bangsawan di Bali
  • Sasih karo            :  Bulan Juli
  • Sangkepan           :  Rapat
  • Titiang                 :  hamba
  • Tiang                   :  saya
Tags: Cerpen
Share212TweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Kegembiraan dan Kebhinekaan Melalui Musik #Catatan ICAS dari ISBI Bandung

Next Post

Keanehan dan Mitos di Bidang Medis

IDK Raka Kusuma

IDK Raka Kusuma

Lahir di Klungkung, 21 November 1957. Menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Keanehan dan Mitos di Bidang Medis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co