23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sukla” versus “Surudan”

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
November 27, 2019
in Opini
“Sukla” versus “Surudan”

Foto ilustrasi diambil dari Koran Bali Express

Ada kebanggaan tersendiri yang terkandung dalam kata “sukla”,  yang seolah-olah bermakna murni atau virgin, suci dan lain sebagainya dan “surudan” seolah-olah tidak murni,  tidak suci dan lain-lain. Jika kedua kata ini dilekatkan  pada kata benda yang dipakai,  semisal baju, sandal, kain dan lain-lain kata sukla bisa diartikan sebagai baru yang belum pernah dipakai, dan yang sudah dipakai tidaklah kemudian disebut sebagai “surudan”,  tetapi hanya disebut tidak ‘sukla” saja. 

Bagaimana dengan makanan yang kini ramai dimainkan untuk kemudian dilabelkan meniru-niru gaya klaim-klaiman tetangga sebelah yang sarat politik ekonomi?

 Awalnya stiker sukla mungkin tidak menuntut imbalan ekonomi jangka pendek,  tapi pasti ada efek ekonomi jangka menengah dan jangka panjang yang ingin dipetik secara “arif’,  ” bijaksana” dan “suci” dari keluguan dan “kebelogajuman” para pedagang krama Bali.  Bahwa dengan adanya stiker “sukla” itu seolah-olah mereka telah turut serta dalam membela adat dan budaya Bali. Padahal mungkin mereka tak tahu persis apa arti “sukla” yang sesungguhnya itu, dan apa hubungannya dengan adat dan budaya Bali.  Mungkin yang mereka tahu dan rasakan bahwa dengan adanya stiker “sukla”  itu dagangan mereka sudah mendapat stempel “suci” yang membedakannya dengan dagangan-dagangan tidak suci lainnya. 

Bagi pedagang itu yang penting mereka diuntungkan,  diberikan  stempel “suci” (yang diwakili oleh stiker “sukla’) walaupun yang mereka jual belum tentu suci.    Karena mengukur kadar kesucian itu amat sangat sulit,  seperti mengukur kadar keiklasan yang berpusat di hati,  yang hanya hati kita dan Tuhan lah yang tahu sesungguhnya.  Maka,  jika kemudian  ada yang uglug-uglug datang menempel sesuatu yang bisa menambah keuntungan, maka tentu harus diterima dengan tangan terbuka,  senyum lebar dan kefanatikan yang amat sangat.  Alasannya hanya satu,  yakni karena merasa diuntungkan. 

Sayangnya rasa “merasa” diuntungkan yang sesungguhnya tidak menguntungkan ini,  sering dipakai oleh orang luar untuk mengambil simpati krama Bali.  Kenapa orang luar?  Karena kalau seseorang itu adalah orang dalam,  maka tentu ia tak akan mengambil keuntungan dari kelemahannya sendiri,  hanya orang luar yang berlagak di dalamlah yang tega mengambil keuntungan,  dengan strategi memperkuat kedalaman krama Bali,  yang justru didangkalkan karena hanya dimanfaatkan sebatas wacana, slogan dan ceremony.  Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang ada di dalam tetapi tanpa pijakan sehingga selalu merasa di luar. Sehingga setiap usaha yang yang seolah-olah untuk sebuah kedalaman menjadi terpental,, semakin menjauhkan,  sehingga makin menantang untuk melakukan stategi dan strategi lagi. 

Salah satu contohnya adalah kata “sukla”  yang lazimnya dikaitkan dengan sarana berupacara kini ditempelkan pada dagangan.  Dalam segala keirukpikukan upacara, kata “sukla” yang diversuskan dengan “surudan” selalu terdengar. Hal ini menyangkut bahan dan alat berupacara,  seperti misalnya pisang,  mangga,  berat,  kelapa yang sudah “surudan”  sudah dipakai aturan sebelumnya atau sudah dimakan, tidak diperkenankan lagi untuk dihaturkan ke hadapan Tuhan/Ida Sang Hyang Widi Wasa dan segala manifestasinya.  Demikian juga kain yang pernah kita pakai,  payung,  selendang dan lain-lain. 

Kata “sukla” yang berkaitan dengan makan ini sepertinya hanya untuk Tuhan dan manesfestasinya,  sangat jarang yang dipakai untuk manusia.  Kalaupun kadang-kadang ada juga beberapa orang yang masih merasa riskan untuk menikmati makanan “surudan” lebih disebabkan oleh anggapan seseorang/sekelompok orang terhadap perbedaan status sosial saja.   Rasa-rasanya hampir sebagian besar krama Bali yang benar-benar krama Bali akan sangat menikmati jika memakan “surudan”. Bahkan  dalam sebuah tradisi adat ada yang sampai berebut untuk mendapatkan “surudan”. Jadi dalam hal ini,  Tuhan atau para dewa-lah yang menikmati makanan yang sukla dan krama Bali sangat bahagia memakan ” surudan”.

Dalam bagawadgita juga dijelaskan tentang keistimewaan memakan makanan sisa persembahan atau “surudan”  dan tak pernah ada penjelasan tentang keistimewaan makan makanan “sukla”. Hal ini juga dilakukan oleh leluhur kita,  yang wajib menghaturkan banten “saiban”, banten kecil berupa nasi dan lauk pauk sebelum kita menikmati makanan.  Ini berarti yang kita makan sehari-hari adalah ” surudan”. Atau begitu juga kebiasan keluarga yang mempersembahkan makanannya (baik ditunjukan  maupun hanya diucapkan dalam hati) sebagai wujud rasa syukur sebelum menikmati makanan

Kebiasaan-kebiasaan itu terlihat sederhana,  namun setelah dipikir-pikir bermain sangat dalam.  Kedalaman ini,  bisa kita temukan jika kita mencoba memahami energi,  bahwa apapun itu mengandung energi.  Ada energi positif dan ada energi negatif yang sulit dipahami oleh manusia biasa.  Energi positif dan negatif itu mungkin saja ada dalam berbagai makanan yang kita makan.

Berbeda jenis dan asal makanan berbeda juga kadar dan jenis energinya.  Makanan yang berasal dari binatang berkaki empat,  binatang mamalia,  memiliki kadar dan jenis energi yang berbeda dengan binatang berkaki dua,  ikan, jenis serangga dan lain-lain.  Tentu akan berbeda juga dengan jenis makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan,  tumbuhan besar,  sedang,  kecil atau jenis perdu, rumput maupun lumut.  Begitu juga dalam hal cara mendapatkan makanan dan mengolahnya,  tentu ada kadar,  dan jenis perbedaan yang rumit yang, sulit kita pahami.  Dan leluhur kita dengan segala kesederhanaannya mengajarkan kita untuk mempersembahkan makan itu kehadapan Tuhan sebelum menyantapnya.  Persembahan makanan kepada Tuhan akan menjadikan makan sebagai “surudan”  yang juga berarti segala energi buruk yang menyertainya telah ternetralkan.

Mungkin leluhur kita tak paham energi,  tak membaca bagawadgita dan juga tak mahir menghapal veda.  Tetapi segala tingkah laku sederhananya yang sampai pada kita,  ternyata bermakna sangat dalam.  Mampu memberi jalan terang diantara kecerdasan-kecerdasan jaman now yang menyesatkan.  [T]

Tags: hindukulinermakan
Share85TweetSendShareSend
Previous Post

Unspoken – Bali Poetry Slam Kembali Lagi di Betelnut-Ubud

Next Post

Cara Dosen Merespons Kondisi Kekinian – Catatan Pameran Seni Rupa Dosen Undiksha

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Cara Dosen Merespons Kondisi Kekinian – Catatan Pameran Seni Rupa Dosen Undiksha

Cara Dosen Merespons Kondisi Kekinian – Catatan Pameran Seni Rupa Dosen Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co