2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

W.Adu.An – Konflik dan Beban Sejarah di Tubuh Perempuan

Wendra Wijaya by Wendra Wijaya
November 24, 2019
in Ulasan
W.Adu.An – Konflik dan Beban Sejarah di Tubuh Perempuan

W.Adu.An yang merupakan produksi #1 Canasta Creative Space bekerjasama dengan Ibed (Kalanari Theatre) serta Iin dan Devy (Teater Kalangan) (Foto Putu Sayoga)

Sebuah tempat, kain-kain hitam terbentang membatas ruang. Cermin-cermin digantung berjajar di bawah tali yang saling silang. Dua perempuan berjalan perlahan saja, mengisahkan sejarah diri mereka. Batu-batu dipungut lalu dihempaskan kembali di atas ranjang beralaskan tikar. Mereka seolah melepas beban sejarah yang lama lekat, mencoba berdamai pada diri sendiri.


Pentas W.Adu.An (Foto Putu Sayoga)

W.Adu.An, sebuah lakon yang ditulis dan disutradarai Ibed Surgana Yuga mencoba memertemukan 4 (empat) biografi yang berbeda; dua tokoh yang lahir pra 1965 dan dua lainnya pasca Orde Baru. Serpihan biografi yang dipertemukan dalam ikatan konflik ini merupakan kelindan relasi yang muncul dari sentuhan dan benturan antara ranah politik, seni, tubuh, kekerasan, kerabat, dan perempuan, juga pengleakan.

Kebimbangan sempat menyergap. Dua perempuan, dua bintang panggung itu, telah melafalkan biografi masing-masing ketika kami (penonton) baru memasuki ruang peristiwa dan duduk menghadap cermin yang telah disiapkan. Apakah pertunjukan sudah dimulai atau masih sebatas gladi?

Meski penuh tanda tanya, saya memilih mengabaikan perasaan itu dan fokus menjadi saksi kisah Iin Valentine dan Devy Gita. Bergantian-bersahutan, mereka mengisahkan hidupnya masing-masing. Kisah itu kemudian dibenturkan pada biografi dua bersaudara lainnya, bintang panggung dua partai politik yang berseberangan pada masa pra 1965. Masing-masing aktor pun memainkan peran ganda; menjadi dirinya sendiri, juga representasi kakak beradik lainnya, dengan perasaan yang luka. Pada akhirnya, dalam pertunjukan yang masih bersifat work-in-progress ini, ruang itu berubah menjadi arena konflik, sekaligus menawarkan cara menonton yang tak biasa.

Secara etimologis, W.Adu.An yang merupakan produksi #1 Canasta Creative Space bekerjasama dengan Ibed (Kalanari Theatre) serta Iin dan Devy (Teater Kalangan), merupakan sebuah variasi dan penyederhanaan dari asal kata “wadon”. Wadu bermakna perempuan, abdi, rakyat. Dalam variasi penulisan, muncul makna “adu” dan “aduan”, yang akhirnya menjadi simpul pemaknaan dalam teks pertunjukan tersebut.

Pertunjukan yang digelar pada 23-24 November di Canasta Creative Space di ini memang sarat konflik. Dengan tata musik yang digarap Heri Windi Anggara, dan artitstik dari Tress dan Dedek Sutejo, konflik yang terjadi pada akhirnya tidak sebatas peristiwa di panggung semata, tetapi merambat pula pada diri yang menyaksikan. Setelah “ketidakjelasan” pertunjukan itu bermula, konflik berikutnya ada pada cermin sebagai media yang digunakan untuk menonton. Kami dipaksa menyaksikan peristiwa yang terjadi di belakang pungggung, melalui proyeksi dari cermin itu sendiri.

Ada sensasi tersendiri ketika menonton tanpa keberhadapan ini. Selain harus kompromi terhadap kepala yang sakit –sekaligus mual akibat cermin yang sering bergoyang, mau tak mau, ingatan kekerasan 1965 yang saya dapatkan melalui buku, obrolan dan film kembali mengemuka. Mengenai ketidakpastian dan sengkarut wacana, fakta, fiksi dan kepentingan yang mengitarinya. Bahkan hingga hari ini, masih menjadi pembahasan sebagai upaya rekonsiliasi. Namun melalui cermin pula, kami pada akhirnya dibebaskan mencari sudut pandang masing-masing. Layaknya sebuah film, kami melakukan framing terhadap apa yang ingin disaksikan, entah itu sepenggal adegan, pertunjukan yang utuh, atau bahkan bisa juga menempatkan penonton lainnya menjadi bagian dari peristiwa yang tengah berlangsung. Dalam hal ini saya memilih menyaksikan W.Adu.An sebagai fragmen; kisah-kisah dan beban sejarah yang berletupan.


Pentas W.Adu.An (Foto Putu Sayoga)

Mencari Makna

Seperti diakui Ibed, W.Adu.An menjadi tawaran untuk menyaksikan pertunjukan dengan cara yang berbeda. Teks ini sendiri bisa dikatakan menjadi pengembangan Janger Merah yang pernah ditulis Ibed sebelumnya. Penonton dibebaskan mengarahkan cermin untuk memilih proyeksi mana yang diinginkan. Demikian pula dengan simbol-simbol yang hadir, hanyalah menjadi alat untuk mencapai makna. Hanya media, tetapi bukan menggambarkan makna itu sendiri.

Pertunjukan yang hadir sebagai pembuka Parade Teater Canasta 2019 dengan beragam simbolnya juga memberikan kebebasan kepada penonton untuk memaknainya kembali. Seperti hidup yang tak pernah hitam putih, pertunjukan ini juga berada di wilayah abu-abu tanpa benar-salah yang abadi.

Kenyataan ini terekam pula dalam salah satu adegan W.Adu.An, ketika Iin memertanyakan letak tato palu arit di paha sebelah kiri Sang Kakak. Refleksi cermin menghasilkan bayangan terbalik, sehingga paha kanan Devy-lah yang terlihat disingkap, meski pada akhirnya tato itu tak ditemukan.

Cermin dalam pertunjukan ini pada akhirnya bisa menjadi apa saja. Menghadap cermin juga bisa menggiring pemikiran bahwa sesungguhnya saya-kami juga menjadi bagian dari peristiwa yang tengah dipentaskan. Siasat pertunjukan (cara menonton) seperti ini membawa saya lebih dekat dengan W.Adu.An.

Penggunaan batu-batu yang dipegang-pikul kemudian dihempaskan kembali menimbulkan dentaman, menumbuhkan imajinasi tentang beban sejarah yang ingin ditumpaskan. Sejarah kelam yang melekat dalam diri kita masing-masing, yang entah oleh suatu sebab, kadangkala terkait satu sama lain. Seperti silang sengkarut tali yang saling terhubung satu sama lain, yang menaungi arena tersebut.

Kemudian Iin berjalan di belakang kami. Matanya tajam, penuh amarah. Ia menatap kami melalui cermin, meneror kami dengan tatapan penuh penghakiman.

Benarkah kami juga menjadi penyebab sejarah kelam dirinya? Benarkah ia telah terperangkap dalam beban dan konflik yang telah kita ciptakan, meski tanpa kesengajaan?

Ketegangan memuncak. Tiba-tiba api berkobar, rajah yang lekat di dada Devy dan paha Iin menyala. Mereka berteriak. Menggeram, menjelma leak dan siap bertarung satu sama lain dalam puncak amarah. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak. Kami yang tercekat digiring keluar area pertunjukan.

Pertunjukan belum benar-benar usai. Samar-samar saya masih bisa mendengar geraman itu yang perlahan merasuk ke ruang paling dalam diri. Geraman itu, teriakan itu terus terdengar, entah kapan akan usai. Barangkali hingga luka dan beban sejarah itu benar-benar telah tumpas dalam tubuh kita. [T]

Tags: Parade Teater CanastaPerempuanTeater
Share93TweetSendShareSend
Previous Post

Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Next Post

Tanpa Balas Jasa! – [Opini Seorang Guru Muda]

Wendra Wijaya

Wendra Wijaya

pengamat musik pengamat puisi, main musik juga menulis puisi

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Balas Jasa! – [Opini Seorang Guru Muda]

Tanpa Balas Jasa! - [Opini Seorang Guru Muda]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co