23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

W.Adu.An – Konflik dan Beban Sejarah di Tubuh Perempuan

Wendra Wijaya by Wendra Wijaya
November 24, 2019
in Ulasan
W.Adu.An – Konflik dan Beban Sejarah di Tubuh Perempuan

W.Adu.An yang merupakan produksi #1 Canasta Creative Space bekerjasama dengan Ibed (Kalanari Theatre) serta Iin dan Devy (Teater Kalangan) (Foto Putu Sayoga)

Sebuah tempat, kain-kain hitam terbentang membatas ruang. Cermin-cermin digantung berjajar di bawah tali yang saling silang. Dua perempuan berjalan perlahan saja, mengisahkan sejarah diri mereka. Batu-batu dipungut lalu dihempaskan kembali di atas ranjang beralaskan tikar. Mereka seolah melepas beban sejarah yang lama lekat, mencoba berdamai pada diri sendiri.


Pentas W.Adu.An (Foto Putu Sayoga)

W.Adu.An, sebuah lakon yang ditulis dan disutradarai Ibed Surgana Yuga mencoba memertemukan 4 (empat) biografi yang berbeda; dua tokoh yang lahir pra 1965 dan dua lainnya pasca Orde Baru. Serpihan biografi yang dipertemukan dalam ikatan konflik ini merupakan kelindan relasi yang muncul dari sentuhan dan benturan antara ranah politik, seni, tubuh, kekerasan, kerabat, dan perempuan, juga pengleakan.

Kebimbangan sempat menyergap. Dua perempuan, dua bintang panggung itu, telah melafalkan biografi masing-masing ketika kami (penonton) baru memasuki ruang peristiwa dan duduk menghadap cermin yang telah disiapkan. Apakah pertunjukan sudah dimulai atau masih sebatas gladi?

Meski penuh tanda tanya, saya memilih mengabaikan perasaan itu dan fokus menjadi saksi kisah Iin Valentine dan Devy Gita. Bergantian-bersahutan, mereka mengisahkan hidupnya masing-masing. Kisah itu kemudian dibenturkan pada biografi dua bersaudara lainnya, bintang panggung dua partai politik yang berseberangan pada masa pra 1965. Masing-masing aktor pun memainkan peran ganda; menjadi dirinya sendiri, juga representasi kakak beradik lainnya, dengan perasaan yang luka. Pada akhirnya, dalam pertunjukan yang masih bersifat work-in-progress ini, ruang itu berubah menjadi arena konflik, sekaligus menawarkan cara menonton yang tak biasa.

Secara etimologis, W.Adu.An yang merupakan produksi #1 Canasta Creative Space bekerjasama dengan Ibed (Kalanari Theatre) serta Iin dan Devy (Teater Kalangan), merupakan sebuah variasi dan penyederhanaan dari asal kata “wadon”. Wadu bermakna perempuan, abdi, rakyat. Dalam variasi penulisan, muncul makna “adu” dan “aduan”, yang akhirnya menjadi simpul pemaknaan dalam teks pertunjukan tersebut.

Pertunjukan yang digelar pada 23-24 November di Canasta Creative Space di ini memang sarat konflik. Dengan tata musik yang digarap Heri Windi Anggara, dan artitstik dari Tress dan Dedek Sutejo, konflik yang terjadi pada akhirnya tidak sebatas peristiwa di panggung semata, tetapi merambat pula pada diri yang menyaksikan. Setelah “ketidakjelasan” pertunjukan itu bermula, konflik berikutnya ada pada cermin sebagai media yang digunakan untuk menonton. Kami dipaksa menyaksikan peristiwa yang terjadi di belakang pungggung, melalui proyeksi dari cermin itu sendiri.

Ada sensasi tersendiri ketika menonton tanpa keberhadapan ini. Selain harus kompromi terhadap kepala yang sakit –sekaligus mual akibat cermin yang sering bergoyang, mau tak mau, ingatan kekerasan 1965 yang saya dapatkan melalui buku, obrolan dan film kembali mengemuka. Mengenai ketidakpastian dan sengkarut wacana, fakta, fiksi dan kepentingan yang mengitarinya. Bahkan hingga hari ini, masih menjadi pembahasan sebagai upaya rekonsiliasi. Namun melalui cermin pula, kami pada akhirnya dibebaskan mencari sudut pandang masing-masing. Layaknya sebuah film, kami melakukan framing terhadap apa yang ingin disaksikan, entah itu sepenggal adegan, pertunjukan yang utuh, atau bahkan bisa juga menempatkan penonton lainnya menjadi bagian dari peristiwa yang tengah berlangsung. Dalam hal ini saya memilih menyaksikan W.Adu.An sebagai fragmen; kisah-kisah dan beban sejarah yang berletupan.


Pentas W.Adu.An (Foto Putu Sayoga)

Mencari Makna

Seperti diakui Ibed, W.Adu.An menjadi tawaran untuk menyaksikan pertunjukan dengan cara yang berbeda. Teks ini sendiri bisa dikatakan menjadi pengembangan Janger Merah yang pernah ditulis Ibed sebelumnya. Penonton dibebaskan mengarahkan cermin untuk memilih proyeksi mana yang diinginkan. Demikian pula dengan simbol-simbol yang hadir, hanyalah menjadi alat untuk mencapai makna. Hanya media, tetapi bukan menggambarkan makna itu sendiri.

Pertunjukan yang hadir sebagai pembuka Parade Teater Canasta 2019 dengan beragam simbolnya juga memberikan kebebasan kepada penonton untuk memaknainya kembali. Seperti hidup yang tak pernah hitam putih, pertunjukan ini juga berada di wilayah abu-abu tanpa benar-salah yang abadi.

Kenyataan ini terekam pula dalam salah satu adegan W.Adu.An, ketika Iin memertanyakan letak tato palu arit di paha sebelah kiri Sang Kakak. Refleksi cermin menghasilkan bayangan terbalik, sehingga paha kanan Devy-lah yang terlihat disingkap, meski pada akhirnya tato itu tak ditemukan.

Cermin dalam pertunjukan ini pada akhirnya bisa menjadi apa saja. Menghadap cermin juga bisa menggiring pemikiran bahwa sesungguhnya saya-kami juga menjadi bagian dari peristiwa yang tengah dipentaskan. Siasat pertunjukan (cara menonton) seperti ini membawa saya lebih dekat dengan W.Adu.An.

Penggunaan batu-batu yang dipegang-pikul kemudian dihempaskan kembali menimbulkan dentaman, menumbuhkan imajinasi tentang beban sejarah yang ingin ditumpaskan. Sejarah kelam yang melekat dalam diri kita masing-masing, yang entah oleh suatu sebab, kadangkala terkait satu sama lain. Seperti silang sengkarut tali yang saling terhubung satu sama lain, yang menaungi arena tersebut.

Kemudian Iin berjalan di belakang kami. Matanya tajam, penuh amarah. Ia menatap kami melalui cermin, meneror kami dengan tatapan penuh penghakiman.

Benarkah kami juga menjadi penyebab sejarah kelam dirinya? Benarkah ia telah terperangkap dalam beban dan konflik yang telah kita ciptakan, meski tanpa kesengajaan?

Ketegangan memuncak. Tiba-tiba api berkobar, rajah yang lekat di dada Devy dan paha Iin menyala. Mereka berteriak. Menggeram, menjelma leak dan siap bertarung satu sama lain dalam puncak amarah. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak. Kami yang tercekat digiring keluar area pertunjukan.

Pertunjukan belum benar-benar usai. Samar-samar saya masih bisa mendengar geraman itu yang perlahan merasuk ke ruang paling dalam diri. Geraman itu, teriakan itu terus terdengar, entah kapan akan usai. Barangkali hingga luka dan beban sejarah itu benar-benar telah tumpas dalam tubuh kita. [T]

Tags: Parade Teater CanastaPerempuanTeater
Share93TweetSendShareSend
Previous Post

Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Next Post

Tanpa Balas Jasa! – [Opini Seorang Guru Muda]

Wendra Wijaya

Wendra Wijaya

pengamat musik pengamat puisi, main musik juga menulis puisi

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Balas Jasa! – [Opini Seorang Guru Muda]

Tanpa Balas Jasa! - [Opini Seorang Guru Muda]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co