2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastrawan?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sastrawan berarti ia yang bertubuh shastra. Tidak ada bedanya shastra dengan dirinya. Singkatnya, dialah wujud dari shastra. Makanya menurut tradisi yang konon melankolis puitis khas Bali, sastrawan berarti ia yang telah menjadi shastra. Gitu melankolisnya!

Lalu apa ciri-ciri orang yang sudah membadankan shastra? Menurut Sarjana Sastra Bali yang khas, orang yang membadankan shastra terlihat dari perilakunya. Konon orang yang sudah mapan pengetahuannya tentang shastra, secara tidak langsung akan mempengaruhi perilakunya. Perilaku tidak diterjemahkan hanya sebagai tindakan, tapi trilogy pikiran-perkataan-perbuatan. Dari ketiga ciri itu, seseorang dapat dilihat tingkat pemahamannya terhadap shastra. Salah satu aturan yang mengatur shastrawan dalam paradigma berpikir saya yang pelajar sastra ala Bali melankolis puitis adalah:

yamāṁś ca niyamāṁś caiva yadā rakṣen nu paṇḍitaḥ|

teṣāṁ saṁrakṣitenaiva buddhir asya na cālyate ||

Terjemahannya:

saṅ paṇḍita sira, rinakṣanira ikaṅ yamabrata, mvaṅ ikaṅ niyamabrata,

apan yan karakṣa yamaniyamabrata, tan cala buddhinira.

Artinya, saya sedang menyamakan pandita dengan sastrawan. Karena Pandita bagi saya adalah sastrawan. Karena tiap Pandita harus belajar shastra. Karena Pandita yang tidak tahu shastra, khususnya dalam tradisi Bali, tidak tahulah saya apa yang akan dilakukannya. Masak iya, kalau ada orang yang nunas baos dikasi kaos. Beda urusan.

Yang dikatakan oleh Wretisasana di atas, setidaknya seorang Pandita memegang teguh ajaran Yama dan Niyama. Masing-masing terdiri dari lima anggota. Yama beranggotakan Ahimsa [tidak menyakiti], Brahmacari [tidak pernah bersetubuh dari kecil, dan paham mantra kabrahmacarian], Satya [setia pada ucapan], Awyawaharika [tidak berdagang, tidak berselisih], Astainya [tidak menipu]. Niyama anggotanya Akroda [tidak marah], Gurususrusa [bakti pada guru], Sauca [selalu memuja Surya], Aharalagawa [tidak sembarang makan], dan Apramada [mempelajari kabhujanggan]. Bayangkan betapa sulitnya aturan-aturan itu harus ditaati.

Tidak mudah untuk tidak menyakiti, karena bisa saja kita tidak bermaksud menyakiti orang lain tapi nyatanya orang lain tersakiti. Tidak bersetubuh dari kecil? Yang ini barangkali bisa dilakukan oleh beberapa orang. Tapi yang namanya Pandita, boleh kawin. Brahmacari ada tingkatannya. Yang tidak kawin sama sekali namanya Sukla, yang kawin sekali saja seumur hidup namanya Sewala, kalau yang kawin sebanyak maksimal empat kali namanya Kresna. Menurut Slokantara, katanya boleh kawin sampai empat kali karena meniru-niru Rudra yang beristrikan empat Dewi. Keempat Dewi itu disebut Caturbhagini. Caturbhagini ialah Uma, Gangga, Gauri dan Durga. Ternyata boleh sampai empat kali! Ada yang mampu?

Setia pada ucapan juga susah. Banyak yang tidak setia pada janji. Janji ini, janji itu, akhirnya janji tinggal janji. Biasanya cara ini dipahami betul oleh politikus kardus yang mendengus-dengus. Tapi saya tidak, saya berjanji akan menyeberangkan saudara-saudara dari telaga ini. Dengan cara saya.

Tidak berdagang dan berselisih juga sulit dilakukan. Bayangkan segala barang yang diperjualbelikan itu ternyata terlarang. Mau makan apa kita nanti? Sekarang don biu saja sudah beli muahal. Kenapa pakai don biu? Karena plastic dilarang. Plastik dilarang, tapi timbunannya semakin menggunung. Dimana tidak nyambungnya? I don’t know bro.

Bagaimana caranya tidak berselisih? Tiap hari di kantor, di sekolah, di rumah kerjaan kita adalah berselisih. Saling ingin menunjukkan kemampuan sendiri-sendiri. Caranya ada banyak. Ada yang belajar mati-matian bagaimana cara menjilat pantat bos, ada yang tekun baca buku-buku teori, ada juga yang belajar bagaimana caranya memperbanyak muka. Di rumah juga sama. Bagaimana caranya biar keluarga yang lain melihat kita berhasil. Beli motor, mobil, beli kapal, beli pesawat, bangun rumah berlantai tiga sambil terus mencari ilmu gaib.

Tidak menipu? Mana mungkin hari ini kita jalani tanpa penipuan. Ada saja celah di benteng kesusilaan itu agar penipuan bisa masuk dan merajalela. Boleh kutip sloka kitab-kitab Weda, Lontar, Tantra, dan lain sebagainya. Asalkan keinginan kita terisi! Bilang saja ada aksara di tubuh kita, yang bisa bikin begini dan begitu. Orang yang mendengarnya akan berkaca-kaca sambil berdendang bahwa “baru ku temukan yang sejati-jatinya jati”.

Lima yang selanjutnya apalagi. Terlalu pusing saya untuk menulis contoh-contoh yang tidak nyambung antara ajaran dengan praktik. Silahkan cari sendiri. Saya mau tidur dan berdoa kepada Tuhan yang Mahasegalanya itu. Semoga ini hanya mimpi. Besok saat bangun, saya berharap kita semua sudah baik-baik saja. Selamat Purnama. Selamat menerangi gelap.

Lalu apakah Sastrawan? Terjemahkanlah sendiri. Kalau saya, Sastrawan adalah manusia yang memiliki kemanusiaan. Silahkan dilanjutkan.[T]

Kacang [Kamus Cangak]

Munafik          : Pelajaran yang tidak perlu dipelajari, tapi semua orang bisa ahli

Tags: renungansastrasastrawan
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Celekontongmas The Movie – Tunggu Banyolan Sengap, Sokir dan Tompel, di Film Layar Lebar!

Next Post

“Waktu, Kenangan dan Ruang Sunyi” – Single Baru dari Nicolas Mora

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Waktu, Kenangan dan Ruang Sunyi” – Single Baru dari Nicolas Mora

“Waktu, Kenangan dan Ruang Sunyi” - Single Baru dari Nicolas Mora

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co