23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastrawan?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sastrawan berarti ia yang bertubuh shastra. Tidak ada bedanya shastra dengan dirinya. Singkatnya, dialah wujud dari shastra. Makanya menurut tradisi yang konon melankolis puitis khas Bali, sastrawan berarti ia yang telah menjadi shastra. Gitu melankolisnya!

Lalu apa ciri-ciri orang yang sudah membadankan shastra? Menurut Sarjana Sastra Bali yang khas, orang yang membadankan shastra terlihat dari perilakunya. Konon orang yang sudah mapan pengetahuannya tentang shastra, secara tidak langsung akan mempengaruhi perilakunya. Perilaku tidak diterjemahkan hanya sebagai tindakan, tapi trilogy pikiran-perkataan-perbuatan. Dari ketiga ciri itu, seseorang dapat dilihat tingkat pemahamannya terhadap shastra. Salah satu aturan yang mengatur shastrawan dalam paradigma berpikir saya yang pelajar sastra ala Bali melankolis puitis adalah:

yamāṁś ca niyamāṁś caiva yadā rakṣen nu paṇḍitaḥ|

teṣāṁ saṁrakṣitenaiva buddhir asya na cālyate ||

Terjemahannya:

saṅ paṇḍita sira, rinakṣanira ikaṅ yamabrata, mvaṅ ikaṅ niyamabrata,

apan yan karakṣa yamaniyamabrata, tan cala buddhinira.

Artinya, saya sedang menyamakan pandita dengan sastrawan. Karena Pandita bagi saya adalah sastrawan. Karena tiap Pandita harus belajar shastra. Karena Pandita yang tidak tahu shastra, khususnya dalam tradisi Bali, tidak tahulah saya apa yang akan dilakukannya. Masak iya, kalau ada orang yang nunas baos dikasi kaos. Beda urusan.

Yang dikatakan oleh Wretisasana di atas, setidaknya seorang Pandita memegang teguh ajaran Yama dan Niyama. Masing-masing terdiri dari lima anggota. Yama beranggotakan Ahimsa [tidak menyakiti], Brahmacari [tidak pernah bersetubuh dari kecil, dan paham mantra kabrahmacarian], Satya [setia pada ucapan], Awyawaharika [tidak berdagang, tidak berselisih], Astainya [tidak menipu]. Niyama anggotanya Akroda [tidak marah], Gurususrusa [bakti pada guru], Sauca [selalu memuja Surya], Aharalagawa [tidak sembarang makan], dan Apramada [mempelajari kabhujanggan]. Bayangkan betapa sulitnya aturan-aturan itu harus ditaati.

Tidak mudah untuk tidak menyakiti, karena bisa saja kita tidak bermaksud menyakiti orang lain tapi nyatanya orang lain tersakiti. Tidak bersetubuh dari kecil? Yang ini barangkali bisa dilakukan oleh beberapa orang. Tapi yang namanya Pandita, boleh kawin. Brahmacari ada tingkatannya. Yang tidak kawin sama sekali namanya Sukla, yang kawin sekali saja seumur hidup namanya Sewala, kalau yang kawin sebanyak maksimal empat kali namanya Kresna. Menurut Slokantara, katanya boleh kawin sampai empat kali karena meniru-niru Rudra yang beristrikan empat Dewi. Keempat Dewi itu disebut Caturbhagini. Caturbhagini ialah Uma, Gangga, Gauri dan Durga. Ternyata boleh sampai empat kali! Ada yang mampu?

Setia pada ucapan juga susah. Banyak yang tidak setia pada janji. Janji ini, janji itu, akhirnya janji tinggal janji. Biasanya cara ini dipahami betul oleh politikus kardus yang mendengus-dengus. Tapi saya tidak, saya berjanji akan menyeberangkan saudara-saudara dari telaga ini. Dengan cara saya.

Tidak berdagang dan berselisih juga sulit dilakukan. Bayangkan segala barang yang diperjualbelikan itu ternyata terlarang. Mau makan apa kita nanti? Sekarang don biu saja sudah beli muahal. Kenapa pakai don biu? Karena plastic dilarang. Plastik dilarang, tapi timbunannya semakin menggunung. Dimana tidak nyambungnya? I don’t know bro.

Bagaimana caranya tidak berselisih? Tiap hari di kantor, di sekolah, di rumah kerjaan kita adalah berselisih. Saling ingin menunjukkan kemampuan sendiri-sendiri. Caranya ada banyak. Ada yang belajar mati-matian bagaimana cara menjilat pantat bos, ada yang tekun baca buku-buku teori, ada juga yang belajar bagaimana caranya memperbanyak muka. Di rumah juga sama. Bagaimana caranya biar keluarga yang lain melihat kita berhasil. Beli motor, mobil, beli kapal, beli pesawat, bangun rumah berlantai tiga sambil terus mencari ilmu gaib.

Tidak menipu? Mana mungkin hari ini kita jalani tanpa penipuan. Ada saja celah di benteng kesusilaan itu agar penipuan bisa masuk dan merajalela. Boleh kutip sloka kitab-kitab Weda, Lontar, Tantra, dan lain sebagainya. Asalkan keinginan kita terisi! Bilang saja ada aksara di tubuh kita, yang bisa bikin begini dan begitu. Orang yang mendengarnya akan berkaca-kaca sambil berdendang bahwa “baru ku temukan yang sejati-jatinya jati”.

Lima yang selanjutnya apalagi. Terlalu pusing saya untuk menulis contoh-contoh yang tidak nyambung antara ajaran dengan praktik. Silahkan cari sendiri. Saya mau tidur dan berdoa kepada Tuhan yang Mahasegalanya itu. Semoga ini hanya mimpi. Besok saat bangun, saya berharap kita semua sudah baik-baik saja. Selamat Purnama. Selamat menerangi gelap.

Lalu apakah Sastrawan? Terjemahkanlah sendiri. Kalau saya, Sastrawan adalah manusia yang memiliki kemanusiaan. Silahkan dilanjutkan.[T]

Kacang [Kamus Cangak]

Munafik          : Pelajaran yang tidak perlu dipelajari, tapi semua orang bisa ahli

Tags: renungansastrasastrawan
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Celekontongmas The Movie – Tunggu Banyolan Sengap, Sokir dan Tompel, di Film Layar Lebar!

Next Post

“Waktu, Kenangan dan Ruang Sunyi” – Single Baru dari Nicolas Mora

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Waktu, Kenangan dan Ruang Sunyi” – Single Baru dari Nicolas Mora

“Waktu, Kenangan dan Ruang Sunyi” - Single Baru dari Nicolas Mora

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co