6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesopanan Tak Perlu dalam Sinema #Catatan Kurator Denpasar Documentary Film Festival 2019

Putu Kusuma Wijaya by Putu Kusuma Wijaya
September 30, 2019
in Ulasan
Kesopanan Tak Perlu dalam Sinema #Catatan Kurator Denpasar Documentary Film Festival 2019

Poster film unggulan DDFF 2019. (Foto: FB?Tonny Trimarsanto A)

Tidak seperti perkembangan film fiksi pendek dan panjang yang mencerahkan langit perfilman Indonesia, film dokumenter pendek dan panjang masih berada dalam awan gelap bercampur asap menyesakkan. Sedikit sekali para produser dan sutradara yang mencurahkan raga dan hatinya ke dalam genre ini.  Film dokumenter dianggap membosankan, tak laku dijual dan jauh dari glamor karper merah layaknya film-film cerita fiksi. Tak ada jaringan bioskop yang mau mati-matian membela film jenis ini, membuatnya hanya tumbuh dalam lingkaran ruang putar film kantong budaya dan film festival. 

Dalam Festival Film Indonesia dari tahun ke tahun memang ada piala citra untuk kategori dokumenter, tetapi ini hanya untuk sebatas ada saja. Film yang dinominasikan tak pernah beredar secara normal dan teratur seperti saudaranya film cerita dan hanya tersimpan rapi di lemari para pembuatnya setelah itu.

Dalam sirkuit film festival dokumenter  ada beberapa yang masih membara, menghidupkan semesta para pembuat film dokumenter di negeri ini. Jogja film Festival masih memberi peluang kepada para pembuat film dokumenter panjang berkompetisi, sementara Denpasar Film festival yang sudah sepuluh tahun berkibar, memberikan peluang kepada para pelajar, sutradara film pendek dokumenter untuk berkompetisi dengan para juri yang sangat mumpuni menilai sebuah film.  

Kesempatan untuk menggali potensi cikal bakal pembuat film dokumenter Indonesia telah dihidangkan dan disambut oleh para sineas dari berbagai sudut daerah, memperkenalkan karakter dan potensi daerah masing-masing. Dari tahun ke tahun, kita bisa menyaksikan film dari Aceh, Nias hingga Papua.

Yang menggembirakan munculnya para sineas pelajar dengan pendekatan dan ide-ide segar. Dalam edisi DEDOFF ke !0 tahun ini, ada Sarah Salsabila berkunjung ke pasar Sepur  Surabaya untuk melihat situasi yang ada. Agung Natha Prabangsa dengan tata fotograpi yang rapi memotret tukad Pakerisan serta Yunita Putri mengisahkan masalah air di derahnya. Anak-anak ini telah sanggup dan mampu menngabarkan persoalan-persoalan di daerahnya dengan baik.  Memang ide-ide besar tak akan jauh dari rumah.

Perkembangan dunia fotografi dengan makin mudahnya mendapatkan kamera digital canggih dengan hasil bagus, begitu pesat dimana-mana di dunia ini. Semua orang saat ini bisa menjadi pewarta, bisa membuat film dan mengabadikan apa saja dengan murah dan mudah. Sayang pencapaian ini tidak dibarengi oleh ilmu pengetahuan tentang film (dokumenter) sehinga karya-karya film dokumenter saat ini sering jatuh terjerembab ke dalam lubang kebosanan. Inilah yang menyebabkan film dokumenter tak laku dijual, karena masih menggunakan cara-cara lama layaknya film propaganda atau reportase televisi yang memamerkan hasil panen yang melimpah, misalnya.


PASUR karya Sarah Salsabila

Dalam bagan film dokumenter dunia, laju pencapaian begitu canggih. Inilah genre yang menjadi ujung tombak perkembangan sinema.  Film dokumenter bukan sebuah reportase jurnalisme semata, bukan juga film untuk televisi.  Jauh lebih besar dan tinggi dari itu. Untuk menjadikan karya yang berbicara, pendekatan sinema diperlukan. Bahasa sinema digunakan. Sentuhan personal diharapkan. Karakter misterius nan dalam dibutuhkan. Ini tidak saja orang-orang yang terkenal, tetapi bisa saja ayah, ibu atau adik-adik kita. Ini bukan saja orang yang sanggup mendaki puncak Jaya Wijaya, tetapi orang yang terkapar tak berdaya di dipan rumah sakit. Dalam dunia dokumenter modern, semua bisa dilakukan, dan bisa mencuri perhatian. Inilah sejatinya materi uanggu film dokumenter.

Dunia dokumenter Indonesia kebanyakan masih dipenuhi oleh serial wawancara yang dilakukan dengan pakem standar membosankan. Tidak pernah orang diwawancarai sambil makan, atau mandi, atau tidur, karena tidak sopan. Kesopanan tak perlu dalam sinema. Ini hanya hadir dalam film pelatihan atau propaganda.

Hal yang paling sering dijumpai dalam film dokumenter Indonesia, adalah pertanyaan seputar penghasilan nara sumber. Pembuat film ingin menyederhanakan segala jerih payahnya dengan satu pertanyaan. Ini adalah jurnalisme.

Bagi seorang sineas, dia akan mengikuti sang nara sumber bekerja, lalu akan melihat bagaimana sang nara sumber menerima sejumlah uang, lalu menunjukkannya. Tunjukkan apa yang diperbuat adalah sinema. Bertanya apa yang diperbuat, adalah jurnalistik.

Minimnya akademi film di Indonesia membuat para seneas muda tumbuh dengan segala macam cara tanpa bimbingan. Dari you tube,  pelajaran extra kurikuler sekolah, satu dua ilmu diperoleh. Tetapi itu sama sekali tak menjamin mengerti bahasa sinema yang benar.  Hal-hal yang menyangkut teknik  begitu digandrungi.  Anak muda mengejar satu kecanggihan merk kamera satu ke lainnya.  Mereka mengabadikan momen lalu akan berakhir nyaman dalam bisnis foto dan video kawinan. Dijuluki tukang foto oleh orang-orang.

Denpasar Documentary Film Festival dalam edidi ke 10 * benar-benar serius untuk memberikan edukasi dan wadah bagi perkembangan sinema dokumenter yang masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Dengan semangat tak henti-henti dan disokong oleh pemerintah daerah, DIDOFF mengadakan pembekalan film dokumenter bagi pelajar dengan mengadakan kemah. Ini diharapkan mampu mendidik para sineas muda menggali potensi daerahnya. Perjalanan masih panjang dan jauh. Langkah awal jelas diperlukan. Dengan alat seadannya seharus cukup menggetarkan dunia melalui film dokumenter. Banyak film-film penting dokumenter dunia hanya dikerjakan dengan seorang diri.

Tersendatnya aliran distribusi film film dokumenter di Indonesia ke penontonnya,  karena minimnya ruang putar yang layak. Ini kendala serius mengkerdilkan.  Persoalan yang sudah patut  dibantu oleh pemerintah dari pajak bioskop yang diterima. Jika ini  dilakukan, maka akan terjadi siklus sehat perkembangan  distribusi sinema Indonesia. Yang kuat menolong yang lemah. Film fiksi panjang sudah mampu hidup, membiayai film dokumenter yang masih belum mampu berjalan. Jika film fiksi panjang hanya berpusat di Jakarta, maka film dokumenter sudah tumbuh dari Aceh hingga Papua. Mereka lahir dari sineas-sineas daerah penuh harapan. Dengan membantu film dokumenter membantu Nusantara berbicara dan menumbuhkan benih-benih industri film di daerah.

Akhirnya, mencari celah agar film dokumenter tidak lagi sesuatu yang membosankan  mesti tetap dilakukan. Maka cobalah tonton film dokumenter pendek dari  Rina Tsou berjdul Horrible 30 me, My Father and Richard the Tiger, yang nanti akan diputar dalam Minikino Film week ke 5 tanggal 5-12 Oktober di berbagai tempat di Bali.  Dengan menggunakan arsip film lama Taiwan, sang sutradara 30 tahun ini, sanggup membuat kita menangis tersedu-sedu. Karya dokumenter yang hidup dan begitu personal. Inilah sejatinya arah perkembangan dokumenter dunia. Dia adalah kita yang tak bisa berbuat apa-apa, bukan mereka yang begitu besar dan tenar. Dia adalah lubuk hati kita yang paling personal.  Sesuatu yang personal ternyata begitu universal.  

Tags: Denpasar Documentary Film Festivalfilmfilm dokumentersinema
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

September 30

Next Post

Restorasi Lontar Antar Generasi – Catatan Harian Sugi Lanus

Putu Kusuma Wijaya

Putu Kusuma Wijaya

Pembuat film. Pengelola Rumah Film Sang Karsa di Jalan Singaraja-Seririt KM 13.2, Kaliasem, Buleleng

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Restorasi Lontar Antar Generasi – Catatan Harian Sugi Lanus

Restorasi Lontar Antar Generasi – Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co