3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Dewa Yang Cacat

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 25, 2019
in Esai

Dewa Indra disebut bahu locana, artinya bermata banyak. Banyak itu berapa, tidak dijelaskan lebih lanjut. Meski banyak matanya, Indra yang konon menjadi dewa perang, dalam banyak cerita selalu meminta pertolongan jika kerajaannya hendak digempur musuh.

Karena demikian, keberaniannya sekaligus diragukan. Konon juga, buah zakarnya hanya satu. Benar atau tidak, saya tidak tahu, tidak pernah saya memeriksanya. Tapi begitu kata Nitisastra.

Sang Hyang Rembulan yang cahayanya konon indah itu, bukannya tanpa cacat. Keindahannya terganggu oleh sosok Sasa. Siapa Sasa? Ialah kelinci. Ada bayangan kelinci di dalam bulan. Ada juga yang menyebutnya seperti seorang nenek bungkuk yang sedang menenun.

Sang Hyang Matahari? Juga ada cacatnya. Cahaya matahari yang terang itu, sekaligus panas. Karena sangat panas, tidak ada yang bisa hidup jika terlalu dekat dengannya. Karena panasnya, matahari disebut cacat. Karena panas itu juga, banyak orang yang menghindarinya. Takut hitam, takut terbakar, dan takut-takut lainnya.

Jangan tanyakan kepada kaum spiritual. Karena jawabannya bisa berbeda. Ada sebuah rumus aneh tentang matahari, konon menurut rumusnya tidak ada yang lebih dingin dari panasnya matahari.

Sang Hyang Siwa yang dijadikan dewa utama, juga ada cacatnya. Kan Siwa juga disebut Nila Kanta. Artinya, yang berleher hitam. Jika membaca teks Adi Parwa, hitam di leher Siwa disebabkan oleh racun hala-hala yang muncul ketika pemutaran Gunung Mandara untuk mencari amerta. Agar dunia selamat, maka Siwa merelakan dirinya meminum racun itu.

Sang Hyang Wisnu juga tidak tanpa cacat. Cacatnya Wisnu karena pernah menjadi Pasupala. Pasupala adalah sebutan bagi pengembala. Karena pernah menjadi pengembala, maka Wisnu dianggap cacat. Tidak dijelaskan kenapa dewa yang menjadi pengembala dianggap cacat. Saya hanya yakin, pasti ada penjelasan untuk sebuah sebutan semacam itu. Masalahnya hanya satu, penjelasan itu belum ditemukan.

Dari beberapa penjelasan tersebut, diketahuilah bahwa ada dewa-dewa yang cacat. Cacat artinya memiliki kekurangan. Tapi tidak banyak yang mau melihat sisi ini, oleh sebab itu para dewa selalu dijunjung setinggi-tingginya. Mungkin memang begitu, bagi mereka yang terlanjut tinggi, kekurangannya ditutupi oleh ketinggian.

Oleh sebab itu, sangat tidak dianjurkan jika ada manusia yang mencela manusia lainnya di semesta ini hanya karena cacatnya. Tidak ada yang ingin hidup demikian. Tidak ada yang ingin kelahirannya begitu. Hidup tidak berhenti hanya karena kekurangan. Justru kekurangan adalah kekuatan.

Bukankah karena matanya yang banyak, Indra dapat melihat ke segala arah dan jadi lebih waspada? Justru karena ada sosok kelinci atau nenek menenun di bulan, kita tidak bosan memandanginya lalu menafsir-nafsir maknanya. Karena panas matahari dalam porsi yang tepat, manusia diberinya kehidupan.

Malah saya ingin berterimakasih kepada Siwa, karena rela meminum racun untuk menyelamatkan semesta. Terimakasih juga kepada Wisnu yang rela jadi pengembala, karenanya saya bisa minum susu dan melihat sapi-sapi gembalaannya dijadikan caru yang konon bertujuan mengharmoniskan bumi.

Dengan begitu, mari kita lihat sesuatu dari banyak sudut. Kita ini manusia, bukan kuda yang pakai kacamata. Jika tidak demikian, maka percumalah banyak buku yang telah dibaca. Karena ia berhenti hanya sebagai bacaan, bukan sebagai perlakuan, bukan tindakan.

Cara pikir itu juga yang dibangga-banggakan oleh manusia. Konon pikiranlah yang membedakan manusia dari tumbuhan dan hewan. Artinya, pikiran adalah power, kekuatan. Ada tiga kekuatan dasar yang dimiliki manusia. Pertama adalah pikiran yang disebut Idhӗp. Kedua adalah suara [sabdha]. Ketiga adalah tenaga [bayu].

Tenaga memang kekuatan. Menurut shastra tentang tenaga, ia berasal dari darah yang dipompa jantung. Bahkan saat tidur pun, jantung masih berdenyut tanpa disuruh. Itu terjadi karena saat tidur, seluruh tenaga berkumpul di jantung. Disebutnya papupulaning sarwa bayu.

Nafas yang menjaga dan memberitahu kalau tubuh ini masih hidup. Nafas pula yang memungkinkan jantung masih berdenyut dan mengalirkan darah. Karena darah mengalir, tubuh masih mendapatkan kehidupan. Bagian-bagian tubuh yang tidak dialiri darah, bisa jadi kesemutan. Bahkan tidak bisa digerakkan. Terimakasih kepada nafas dan darah!

Suara adalah kekuatan. Ia juga dihasilkan oleh bayu yang bergerak. Jadi suara berakar dari bayu. Maka mengendalikan bayu adalah cara mengendalikan sabda. Jika diibaratkan sebagai lilin, maka kendalikan anginnya, teguhlah apinya.

Tapi tidak semudah itu kawan. Mengendalikan angin tidak semudah membual tentang pengendaliannya yang diibaratkan seperti memegang batang teratai agar bunganya tenang. Melepaskannya juga tidak seromantis pengandaian tentang menyatunya udara di dalam bambu dengan udara di luarnya.

Metafora seromantis itu hanya ada dalam kata-kata. Kalau tidak percaya, cobalah. Tarik nafas dalam lima hitungan, tahan selama tiga hitungan, dan hembuskan selama tujuh hitungan. Terus begitu selama sejam penuh. Selamat mencoba.

Idӗp adalah kekuatan. Karena satu negara bisa hancur dan berkembang, hanya dikarenakan olehnya. Bayangkan berapa contoh negara yang hancur karena diliciki? Kita mesti menerima kenyataan pahit bahwa kelicikan adalah produk pikiran. Karena pikiran adalah kebanggaan, maka kelicikan dihasilkan oleh sesuatu yang dibanggakan.

Bukan rahasia lagi, banyak yang meyakini kalau pikiran bisa dikembangkan dan dikendalikan, ia akan menjadi kekuatan super. Kalau tidak, entah untuk apa banyak orang yang belajar ini dan itu sampai mati. Diberinya pikiran makanan berupa objek-objek material yang bisa direnungkan. Setelah semuanya melebar dan besar, lalu dibuatlah rumus-rumus untuk menyederhanakannya. Jadi produk puncak dari pikiran adalah penyederhanaan. Sama seperti mantra yang banyak itu, diringkas, disederhanakan menjadi kuta mantra.

Kalau orang adil sudah dari pikirannya, maka ia juga akan adil pada pengetahuan umum yang ia dapat. Banyak yang menerima bahwa gelombang pikiran yang dikendalikan membuat mereka tenang, tapi pada saat bersamaan mereka tidak menyetujui bahwa pikiran bisa balik mengendalikan ketenangannya. Selalu ingin mengendalikan, dan menolak dikendalikan. Itu sifat dasarnya.

Makanya jangan bilang aneh, kalau orang Bali diwarisi tentang pikiran-pikiran besar untuk mengendalikan gunung-gunung, danau-danau, para bhuta kala, bahkan para dewa. Bayangkan tentang mengendalikan para Dewa. Saya hanya bisa takjub sendiri sampai disana.   Para dewa yang dipuja-puja itu, konon bisa dikendalikan. Tidak cukup hanya dikendalikan, bahkan para dewa itu disebutnya sebagai saudara. Kalau para dewa itu adalah saudara, jadi manusia itu siapa? [T]

Tags: filsafatrenungansastra
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Sebagai Ruh dalam Karya Sastra – Buku “Di Kota Tuhan”

Next Post

Festival Tepi Sawah: Performing Arts In Nature

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Festival Tepi Sawah: Performing Arts In Nature

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co