25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Dewa Yang Cacat

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 25, 2019
in Esai

Dewa Indra disebut bahu locana, artinya bermata banyak. Banyak itu berapa, tidak dijelaskan lebih lanjut. Meski banyak matanya, Indra yang konon menjadi dewa perang, dalam banyak cerita selalu meminta pertolongan jika kerajaannya hendak digempur musuh.

Karena demikian, keberaniannya sekaligus diragukan. Konon juga, buah zakarnya hanya satu. Benar atau tidak, saya tidak tahu, tidak pernah saya memeriksanya. Tapi begitu kata Nitisastra.

Sang Hyang Rembulan yang cahayanya konon indah itu, bukannya tanpa cacat. Keindahannya terganggu oleh sosok Sasa. Siapa Sasa? Ialah kelinci. Ada bayangan kelinci di dalam bulan. Ada juga yang menyebutnya seperti seorang nenek bungkuk yang sedang menenun.

Sang Hyang Matahari? Juga ada cacatnya. Cahaya matahari yang terang itu, sekaligus panas. Karena sangat panas, tidak ada yang bisa hidup jika terlalu dekat dengannya. Karena panasnya, matahari disebut cacat. Karena panas itu juga, banyak orang yang menghindarinya. Takut hitam, takut terbakar, dan takut-takut lainnya.

Jangan tanyakan kepada kaum spiritual. Karena jawabannya bisa berbeda. Ada sebuah rumus aneh tentang matahari, konon menurut rumusnya tidak ada yang lebih dingin dari panasnya matahari.

Sang Hyang Siwa yang dijadikan dewa utama, juga ada cacatnya. Kan Siwa juga disebut Nila Kanta. Artinya, yang berleher hitam. Jika membaca teks Adi Parwa, hitam di leher Siwa disebabkan oleh racun hala-hala yang muncul ketika pemutaran Gunung Mandara untuk mencari amerta. Agar dunia selamat, maka Siwa merelakan dirinya meminum racun itu.

Sang Hyang Wisnu juga tidak tanpa cacat. Cacatnya Wisnu karena pernah menjadi Pasupala. Pasupala adalah sebutan bagi pengembala. Karena pernah menjadi pengembala, maka Wisnu dianggap cacat. Tidak dijelaskan kenapa dewa yang menjadi pengembala dianggap cacat. Saya hanya yakin, pasti ada penjelasan untuk sebuah sebutan semacam itu. Masalahnya hanya satu, penjelasan itu belum ditemukan.

Dari beberapa penjelasan tersebut, diketahuilah bahwa ada dewa-dewa yang cacat. Cacat artinya memiliki kekurangan. Tapi tidak banyak yang mau melihat sisi ini, oleh sebab itu para dewa selalu dijunjung setinggi-tingginya. Mungkin memang begitu, bagi mereka yang terlanjut tinggi, kekurangannya ditutupi oleh ketinggian.

Oleh sebab itu, sangat tidak dianjurkan jika ada manusia yang mencela manusia lainnya di semesta ini hanya karena cacatnya. Tidak ada yang ingin hidup demikian. Tidak ada yang ingin kelahirannya begitu. Hidup tidak berhenti hanya karena kekurangan. Justru kekurangan adalah kekuatan.

Bukankah karena matanya yang banyak, Indra dapat melihat ke segala arah dan jadi lebih waspada? Justru karena ada sosok kelinci atau nenek menenun di bulan, kita tidak bosan memandanginya lalu menafsir-nafsir maknanya. Karena panas matahari dalam porsi yang tepat, manusia diberinya kehidupan.

Malah saya ingin berterimakasih kepada Siwa, karena rela meminum racun untuk menyelamatkan semesta. Terimakasih juga kepada Wisnu yang rela jadi pengembala, karenanya saya bisa minum susu dan melihat sapi-sapi gembalaannya dijadikan caru yang konon bertujuan mengharmoniskan bumi.

Dengan begitu, mari kita lihat sesuatu dari banyak sudut. Kita ini manusia, bukan kuda yang pakai kacamata. Jika tidak demikian, maka percumalah banyak buku yang telah dibaca. Karena ia berhenti hanya sebagai bacaan, bukan sebagai perlakuan, bukan tindakan.

Cara pikir itu juga yang dibangga-banggakan oleh manusia. Konon pikiranlah yang membedakan manusia dari tumbuhan dan hewan. Artinya, pikiran adalah power, kekuatan. Ada tiga kekuatan dasar yang dimiliki manusia. Pertama adalah pikiran yang disebut Idhӗp. Kedua adalah suara [sabdha]. Ketiga adalah tenaga [bayu].

Tenaga memang kekuatan. Menurut shastra tentang tenaga, ia berasal dari darah yang dipompa jantung. Bahkan saat tidur pun, jantung masih berdenyut tanpa disuruh. Itu terjadi karena saat tidur, seluruh tenaga berkumpul di jantung. Disebutnya papupulaning sarwa bayu.

Nafas yang menjaga dan memberitahu kalau tubuh ini masih hidup. Nafas pula yang memungkinkan jantung masih berdenyut dan mengalirkan darah. Karena darah mengalir, tubuh masih mendapatkan kehidupan. Bagian-bagian tubuh yang tidak dialiri darah, bisa jadi kesemutan. Bahkan tidak bisa digerakkan. Terimakasih kepada nafas dan darah!

Suara adalah kekuatan. Ia juga dihasilkan oleh bayu yang bergerak. Jadi suara berakar dari bayu. Maka mengendalikan bayu adalah cara mengendalikan sabda. Jika diibaratkan sebagai lilin, maka kendalikan anginnya, teguhlah apinya.

Tapi tidak semudah itu kawan. Mengendalikan angin tidak semudah membual tentang pengendaliannya yang diibaratkan seperti memegang batang teratai agar bunganya tenang. Melepaskannya juga tidak seromantis pengandaian tentang menyatunya udara di dalam bambu dengan udara di luarnya.

Metafora seromantis itu hanya ada dalam kata-kata. Kalau tidak percaya, cobalah. Tarik nafas dalam lima hitungan, tahan selama tiga hitungan, dan hembuskan selama tujuh hitungan. Terus begitu selama sejam penuh. Selamat mencoba.

Idӗp adalah kekuatan. Karena satu negara bisa hancur dan berkembang, hanya dikarenakan olehnya. Bayangkan berapa contoh negara yang hancur karena diliciki? Kita mesti menerima kenyataan pahit bahwa kelicikan adalah produk pikiran. Karena pikiran adalah kebanggaan, maka kelicikan dihasilkan oleh sesuatu yang dibanggakan.

Bukan rahasia lagi, banyak yang meyakini kalau pikiran bisa dikembangkan dan dikendalikan, ia akan menjadi kekuatan super. Kalau tidak, entah untuk apa banyak orang yang belajar ini dan itu sampai mati. Diberinya pikiran makanan berupa objek-objek material yang bisa direnungkan. Setelah semuanya melebar dan besar, lalu dibuatlah rumus-rumus untuk menyederhanakannya. Jadi produk puncak dari pikiran adalah penyederhanaan. Sama seperti mantra yang banyak itu, diringkas, disederhanakan menjadi kuta mantra.

Kalau orang adil sudah dari pikirannya, maka ia juga akan adil pada pengetahuan umum yang ia dapat. Banyak yang menerima bahwa gelombang pikiran yang dikendalikan membuat mereka tenang, tapi pada saat bersamaan mereka tidak menyetujui bahwa pikiran bisa balik mengendalikan ketenangannya. Selalu ingin mengendalikan, dan menolak dikendalikan. Itu sifat dasarnya.

Makanya jangan bilang aneh, kalau orang Bali diwarisi tentang pikiran-pikiran besar untuk mengendalikan gunung-gunung, danau-danau, para bhuta kala, bahkan para dewa. Bayangkan tentang mengendalikan para Dewa. Saya hanya bisa takjub sendiri sampai disana.   Para dewa yang dipuja-puja itu, konon bisa dikendalikan. Tidak cukup hanya dikendalikan, bahkan para dewa itu disebutnya sebagai saudara. Kalau para dewa itu adalah saudara, jadi manusia itu siapa? [T]

Tags: filsafatrenungansastra
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Sebagai Ruh dalam Karya Sastra – Buku “Di Kota Tuhan”

Next Post

Festival Tepi Sawah: Performing Arts In Nature

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Festival Tepi Sawah: Performing Arts In Nature

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co