2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jaja Leburan” dan Kenangan Yang Tak Lesap

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
June 8, 2019
in Esai
“Jaja Leburan” dan Kenangan Yang Tak Lesap

Secangkir teh dan pepes jaje leburan (foto: penulis)

Bahan-bahan  utama, masing-masing bercitarasa enak.

Campur apa adanya,  aduk saja.

Bungkus dengan daun kenangan masa lalu.

Tersajilah senyum mereka yang dulu pernah bersama.

Juga senyum saya, tentu.

***

Odalan sanggah (upacara agama tiap enam bulan sekali) di pura keluarga kami menyisakan banyak buah, pisang dan jaja uli  begina. Selain peralatan upacara yang bertumpuk di beberapa tempat serta rasa letih yang akan pulih dengan tidur pulas setelah dua malam berlalu.

Selesai bersih-bersih dan membereskan peralatan upacara yang digunakan selama odalan, bertumpuklah buah dan jajan tersebut. Kami tidak bisa memberikan kepada sanak saudara, karena odalan kami bersamaan, sehingga tentunya mereka juga memiliki tumpukan buah dan jajan, yang sebaiknya dihabiskan, karena sesungguhnya seluruh buah dan jajan tersebut kualitas terbaik. Sudah pasti enak.

Untuk buah, selain pisang, solusinya tentu gampang. Tinggal dimasukkan ke dalam kulkas, amanlah dalam beberapa waktu dan bisa dicicil untuk dihabiskan. Nah, untuk pisang, agak sulit. Pisang, jika dimasukkan ke dalam kulkas, tampilannya akan tak elok lagi. Warnanya berubah coklat yang awalnya kuning gading. Meski sudah dibungkus dengan koran saat dimasukkan ke dalam kulkas, tetap saja bersemu coklat. Hilanglah selera untuk menikmatinya. Demikian juga dengan jaja uli dan begina. Jajan yang rasanya gurih dan renyah seperti kerupuk itu, bisa melempem jika tak segera dikonsumsi. Kadang jadilah dia penghuni tong sampah, padahal sungguh tak ada yang memungkiri, mereka enak sekali.

Hari ketiga setelah odalan. Saya memandang tumpukkan bahan-bahan berkualitas itu. Meski sudah dikonsumsi tiap hari selama tiga hari, tetap saja jumlah mereka masih banyak. Akhirnya hari ini saya memutuskan untuk membuat jaja leburan. Jajan yang selalu dibuat oleh kedua nenek saya, saat saya masih tinggal di kampung, belum menikah.

Saya hanya perlu membeli daun pisang. Bahan-bahan lain yang diperlukan sudah tersedia: pisang raja, jaja begina uli dan kelapa.

Sambil tersenyum karena berusaha mengingat bagaimana nenek saya dulu membuat jaja leburan, saya pun memulai melumatkan pisang raja. Sesungguhnya pisang apapun bisa dicampur, asal citarasanya manis, dan tentunya pisang batu tidak ikut serta. Pisang saya lumat dengan menggunakan garpu, dan karena merasa agak lambat, akhirnya tangannya saya pun ikut serta, tentu setelah dicuci bersih.

Kemudian saya melunakkan jaja begina dan uli. Saya gunakan air panas agar lebih cepat dan sekaligus membersihkannya. Jajan lunak dengan cepat. Dulu, nenek saya mencampur semua jajan lungsuran odalan. Jajan cacalan, jajan sabun (namanya memang begitu), jajan sirat, jajan matahari, satuh (yang bertekstur seperti pasir dan rasanya sangat manis karena campuran gula merah), dan entah jajan apalagi, yang penting berasa manis. Jajan yang dipakai oleh nenek saya ini memerlukan waktu yang lebih lama untuk melunakkannya karena lebih padat dibandingkan jajan begina dan uli. Kecuali satuh, tidak perlu ikut dilumatkan dengan air panas.

Saya kemudian mencampur seluruh bahan yang sudah dilunakkan, ditambah dengan kelapa yang sudah diparut. Sesudah tercampur seluruh bahan, saya kemudian mencicipi sedikit. Hmm…enak! Sudah pasti, karena seluruh bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang enak. Sebentar lagi akan jadilah jaja leburan yang saya buat.

Adonan jaja leburan itu saya sendok beberapa bagian dan saya pindahkan ke daun pisang yang sudah disiapkan. Masing-masing terdiri atas lima sendok makan adonan. Setelah membagi rata, terbentuknya lima bungkus jaja leburan.


BACA JUGA

  • Usai Galungan & Kuningan, Mari Nikmati “Leburan Cake” – Kuliner Nostalgia Tiada Dua

Lima bungkus jaja leburan itu saya pindahkan ke panci untuk mengukus. Api kompor menyala. Mengingatkan saya dulu harus meniup semprong (bambu utuh kecil) untuk menyalakan api, karena dulu kami memasak menggunakan tungku tradisional, bukan kompor gas seperti saat ini. Nenek  akan menggunakan daun-daun kering agar api cepat membesar, diantara kayu bakar.

Air mulai mendidih, uap panas muncul dari sela-sela tutup panci. Tak berapa lama, harum daun pisang bercampur dengan wangi pisang dan adonan lain yang tercampur, mulai memenuhi dapur, menelusup diantara lubang angin.

Sesudah terasa matang, saya pindahkan lima bungkus jaja leburan itu ke tempat untuk menyangrai, berupa wajan yang terbuat dari tanah liat. Jajan itu saya bakar atau dinyanyah,  agar terasa lebih gurih.

Sepuluh menit kemudian jadilah jaja leburan yang saya buat. Harum gurihnya benar-benar membuat saya tidak sabaran untuk mencicipinya. Saya buka satu bungkus jaja leburan, warnanya dominan coklat putih, tidak seperti jaja leburan buatan nenek yang berwarna-warni karena aneka ragam bahan yang digunakan. Dengan riang hati satu suap jaja leburan berpindah ke mulut saya. Enak sekali. Meski sesungguhnya mulut saya gelagapan karena jajan itu masih panas mengepul.

Secangkir teh segera terhidang sebagai teman jaja leburan. Lalu saya duduk sendiri di balai dangin. Mengingat keriangan saya dan saudara-saudara saya menikmati jaja leburan. Kami harus mengirisnya agak tipis, agar semua kebagian dan bisa mengambil beberapa kali. Untuk yang membantu nenek saat proses pengerjaan jaja leburan, dia boleh mengambil satu bungkus.

Kini, saya bisa tersenyum mengerti, mengapa kedua nenek saya berusaha mengolah lungsuran odalan menjadi kudapan lezat atau bentuk olahan lainnya, hingga tak ada yang terbuang. Meski dulu kami tidak punya kulkas dan harus meniup api menggunakan semprong. Paling tidak, dulu nenek telah menyiapkan cikal bakal kenangan yang bisa saya ingat hari ini. [T]

Tags: balikue tradisonalkulinernostalgia
Share89TweetSendShareSend
Previous Post

Diperlukan Oposisi yang Bisa Memuji –Kajian Interpretif Politik

Next Post

Catatan Dhamma Camp 2019: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Catatan Dhamma Camp 2019: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri

Catatan Dhamma Camp 2019: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co