23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jaja Leburan” dan Kenangan Yang Tak Lesap

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
June 8, 2019
in Esai
“Jaja Leburan” dan Kenangan Yang Tak Lesap

Secangkir teh dan pepes jaje leburan (foto: penulis)

Bahan-bahan  utama, masing-masing bercitarasa enak.

Campur apa adanya,  aduk saja.

Bungkus dengan daun kenangan masa lalu.

Tersajilah senyum mereka yang dulu pernah bersama.

Juga senyum saya, tentu.

***

Odalan sanggah (upacara agama tiap enam bulan sekali) di pura keluarga kami menyisakan banyak buah, pisang dan jaja uli  begina. Selain peralatan upacara yang bertumpuk di beberapa tempat serta rasa letih yang akan pulih dengan tidur pulas setelah dua malam berlalu.

Selesai bersih-bersih dan membereskan peralatan upacara yang digunakan selama odalan, bertumpuklah buah dan jajan tersebut. Kami tidak bisa memberikan kepada sanak saudara, karena odalan kami bersamaan, sehingga tentunya mereka juga memiliki tumpukan buah dan jajan, yang sebaiknya dihabiskan, karena sesungguhnya seluruh buah dan jajan tersebut kualitas terbaik. Sudah pasti enak.

Untuk buah, selain pisang, solusinya tentu gampang. Tinggal dimasukkan ke dalam kulkas, amanlah dalam beberapa waktu dan bisa dicicil untuk dihabiskan. Nah, untuk pisang, agak sulit. Pisang, jika dimasukkan ke dalam kulkas, tampilannya akan tak elok lagi. Warnanya berubah coklat yang awalnya kuning gading. Meski sudah dibungkus dengan koran saat dimasukkan ke dalam kulkas, tetap saja bersemu coklat. Hilanglah selera untuk menikmatinya. Demikian juga dengan jaja uli dan begina. Jajan yang rasanya gurih dan renyah seperti kerupuk itu, bisa melempem jika tak segera dikonsumsi. Kadang jadilah dia penghuni tong sampah, padahal sungguh tak ada yang memungkiri, mereka enak sekali.

Hari ketiga setelah odalan. Saya memandang tumpukkan bahan-bahan berkualitas itu. Meski sudah dikonsumsi tiap hari selama tiga hari, tetap saja jumlah mereka masih banyak. Akhirnya hari ini saya memutuskan untuk membuat jaja leburan. Jajan yang selalu dibuat oleh kedua nenek saya, saat saya masih tinggal di kampung, belum menikah.

Saya hanya perlu membeli daun pisang. Bahan-bahan lain yang diperlukan sudah tersedia: pisang raja, jaja begina uli dan kelapa.

Sambil tersenyum karena berusaha mengingat bagaimana nenek saya dulu membuat jaja leburan, saya pun memulai melumatkan pisang raja. Sesungguhnya pisang apapun bisa dicampur, asal citarasanya manis, dan tentunya pisang batu tidak ikut serta. Pisang saya lumat dengan menggunakan garpu, dan karena merasa agak lambat, akhirnya tangannya saya pun ikut serta, tentu setelah dicuci bersih.

Kemudian saya melunakkan jaja begina dan uli. Saya gunakan air panas agar lebih cepat dan sekaligus membersihkannya. Jajan lunak dengan cepat. Dulu, nenek saya mencampur semua jajan lungsuran odalan. Jajan cacalan, jajan sabun (namanya memang begitu), jajan sirat, jajan matahari, satuh (yang bertekstur seperti pasir dan rasanya sangat manis karena campuran gula merah), dan entah jajan apalagi, yang penting berasa manis. Jajan yang dipakai oleh nenek saya ini memerlukan waktu yang lebih lama untuk melunakkannya karena lebih padat dibandingkan jajan begina dan uli. Kecuali satuh, tidak perlu ikut dilumatkan dengan air panas.

Saya kemudian mencampur seluruh bahan yang sudah dilunakkan, ditambah dengan kelapa yang sudah diparut. Sesudah tercampur seluruh bahan, saya kemudian mencicipi sedikit. Hmm…enak! Sudah pasti, karena seluruh bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang enak. Sebentar lagi akan jadilah jaja leburan yang saya buat.

Adonan jaja leburan itu saya sendok beberapa bagian dan saya pindahkan ke daun pisang yang sudah disiapkan. Masing-masing terdiri atas lima sendok makan adonan. Setelah membagi rata, terbentuknya lima bungkus jaja leburan.


BACA JUGA

  • Usai Galungan & Kuningan, Mari Nikmati “Leburan Cake” – Kuliner Nostalgia Tiada Dua

Lima bungkus jaja leburan itu saya pindahkan ke panci untuk mengukus. Api kompor menyala. Mengingatkan saya dulu harus meniup semprong (bambu utuh kecil) untuk menyalakan api, karena dulu kami memasak menggunakan tungku tradisional, bukan kompor gas seperti saat ini. Nenek  akan menggunakan daun-daun kering agar api cepat membesar, diantara kayu bakar.

Air mulai mendidih, uap panas muncul dari sela-sela tutup panci. Tak berapa lama, harum daun pisang bercampur dengan wangi pisang dan adonan lain yang tercampur, mulai memenuhi dapur, menelusup diantara lubang angin.

Sesudah terasa matang, saya pindahkan lima bungkus jaja leburan itu ke tempat untuk menyangrai, berupa wajan yang terbuat dari tanah liat. Jajan itu saya bakar atau dinyanyah,  agar terasa lebih gurih.

Sepuluh menit kemudian jadilah jaja leburan yang saya buat. Harum gurihnya benar-benar membuat saya tidak sabaran untuk mencicipinya. Saya buka satu bungkus jaja leburan, warnanya dominan coklat putih, tidak seperti jaja leburan buatan nenek yang berwarna-warni karena aneka ragam bahan yang digunakan. Dengan riang hati satu suap jaja leburan berpindah ke mulut saya. Enak sekali. Meski sesungguhnya mulut saya gelagapan karena jajan itu masih panas mengepul.

Secangkir teh segera terhidang sebagai teman jaja leburan. Lalu saya duduk sendiri di balai dangin. Mengingat keriangan saya dan saudara-saudara saya menikmati jaja leburan. Kami harus mengirisnya agak tipis, agar semua kebagian dan bisa mengambil beberapa kali. Untuk yang membantu nenek saat proses pengerjaan jaja leburan, dia boleh mengambil satu bungkus.

Kini, saya bisa tersenyum mengerti, mengapa kedua nenek saya berusaha mengolah lungsuran odalan menjadi kudapan lezat atau bentuk olahan lainnya, hingga tak ada yang terbuang. Meski dulu kami tidak punya kulkas dan harus meniup api menggunakan semprong. Paling tidak, dulu nenek telah menyiapkan cikal bakal kenangan yang bisa saya ingat hari ini. [T]

Tags: balikue tradisonalkulinernostalgia
Share89TweetSendShareSend
Previous Post

Diperlukan Oposisi yang Bisa Memuji –Kajian Interpretif Politik

Next Post

Catatan Dhamma Camp 2019: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Dhamma Camp 2019: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri

Catatan Dhamma Camp 2019: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co