13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Coac-tail Effect & Koster Effect” -Catatan atas Kemenangan PDIP pada Pileg 2019 di Bali

Gregorius Rusmanda by Gregorius Rusmanda
May 3, 2019
in Opini
“Coac-tail Effect & Koster Effect” -Catatan atas Kemenangan PDIP pada Pileg 2019 di Bali

Ilustrasi diolah dari sumber foto di Google

WALAU belum ada penetapan resmi dari KPU, bisa dipastikan PDIP menang besar di Bali. Dari klaim yang disampaikan para petinggi partai berlambang kepala banteng moncong putih ini, diprediksi lima caleg PDIP akan melenggang ke Senayan, caleg dari kabupaten/kota juga akan ‘menguasai” Renon (kantor DPRD Bali).

Dan semua posisi Ketua DPRD di sembilan kabupaten/kota di Bali akan disapu bersih. Capaian yang luar biasa secara politik, nyaris mengulang kedigdayaan PDIP 20 tahun silam, tepatnya pada Pemilu 1999.

Tanpa bermaksud mendahului keputusan KPU, menarik dicermati apa yang menyebabkan suara PDIP melonjak begitu signifikan di Bali?

Banyak analisa berkembang, salah satunya sebagai efek ekor jas (coac-tail effect) pencalonan Jokowi sebagai presiden. Di mana PDIP sebagai pengusung utama Jokowi dan mantan Wali Kota Solo itu selama ini memang identik dengan PDIP. Masyarakat Bali juga cukup puas dengan kinerja Kabinet Kerja dalam lima tahun terakhir.

Analisa tersebut mungkin benar, namun pertanyaannya, mengapa hal yang sama tidak terjadi di derah lain?

NTT dan Sulawesi Utara misalnya, di mana paslon 01 Jokowi – Ma’ruf juga unggul signifikan—merujuk hasil quick count dari sejumlah lembaga survei, mengapa PDIP di kedua provinsi itu tidak menang besar?

Tampaknya, khusus dalam konteks Bali, coac-tail effect pencalonan Jokowi sebagai presiden bukan faktor tunggal. Tentu ada faktor lain. Yang pasti, soal ketokohan dari masing-masing caleg PDIP di dapilnya, terutama yang new comer. Sementara caleg PDIP yang incumbent juga disokong oleh guyuran bansos yang selama ini cukup masif.

Di luar itu, tentu ketokohan Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster yang mampu menggerakan mesin partai secara maksimal. Itulah yang dibahas secara khusus dalam ulasan kecil ini.

Kebijakan Koster dalam beberapa bulan ini setelah dilantik menjadi Gubernur Bali 2018 – 2023 cukup meyakinkan. Sebutlah misalnya Pergub tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali , Pergub Bali tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali dan Pergub tentang Pembatasan Sampah Plastik.

Belakangan juga, menjelang Pemilu 2019 lalu, Pemprov Bali bersama DPRD Bali berhasil mensahkan Perda Desa Adat. Kini, setiap hari Kamis, pelajar, mahasiswa dan pegawai, baik ASN maupun swasta mengenakan busana adat Bali. Gebrakan Koster, walau hasil nyatanya belum terlalu kelihatan, tampaknya telah berhasil mengembalikan kepercayaan para pemilih diam (silent voters) terhadap PDIP sejak 20 tahun lalu, romantika pasca-reformasi tahun 1998.

Berbagai kebijakan Koster yang sangat “Bali” belakangan ini telah mampu memanggil pulang para silent voters yang selama ini sempat berpaling ke lain hati. Wayan Koster selaku Ketua DPD PDIP Bali sekaligus Gubernur Bali, terlihat maksimal menerapkan strategi dan kerja politik memenangkan partai yang dipimpinnya.

‘Salam satu jalur’ yang sudah didengungkan jauh hari sebelum Pemilu 2019 merupakan bagian dari strategi itu. Resonansinya menyentuh kognisi sosial hampir semua lapisan masyarakat, baik kelas menengah perkotaan maupun rakyat jelata di pelosok Bali. Kelas menengah perkotaan menangkap “salam satu jalur’ sebagai peluang efisiensi dan efektivitas tata kelola pemerintahan dari aspek ‘one island management’.

Sebab selama ini banyak kebijakan yang dianggap ideal di tingkat provinsi, namun terganjal oleh ‘raja-raja’ kecil di kabupaten/kota yang mempunyai rasionalitas berbeda berlabel kepentingan lokal serta diferensiasi haluan politik dengan gubernur.

Dengan adanya ‘satu jalur’ kepemimpinan, diharapkan kebijakan di level provinsi yang menyentuh kepentingan Bali sebagai kesatuan entitas geografis dan budaya, ke depan bisa lebih bergegas. ‘Raja-raja kecil’ di kabupaten/kota bisa lebih ‘dikontrol’ agar segenderang-sepenarian dengan kebijakan Pemerintah Provinsi. Sementara rakyat jelata di seluruh pelosok Bali menangkap ‘salam satu jalur’ sebagai semacam ‘the new ajeg Bali’—sesuatu yang di kalangan intelektual sesungguhnya masih diperdebatkan esensinya.

Selain di tataran rasional itu, Wayan Koster tampaknya juga memainkan sisi bawa sadar masyarakat Bali. Entah disengaja atau tidak, pria asal Sambiran, Buleleng ini memainkan ‘politik fashion’. Selama ini, baik dalam urusan dinas sebagai Gubernur Bali maupun sebagai Ketua PDIP Bali, Koster selalu mengenakan kostum yang identik dengan warna PDIP, kalau tidak merah, ya hitam atau putih. Jarang sekali Koster mengenakan pakaian harian berwarna coklat, hijau lumut atau berbaju Korpri sebagaimana pejabat sebelumnya. Hal ini setidaknya dalam penampilan Koster yang tertangkap kamera dan menghiasai media massa, baik mainstream cetak maupun online di Bali.

Perhatikan pula papan nama semua perusahaan swasta atau instansi/badan pemerintah yang terlihat berwarna merah-putih. Rasionalitasnya sih, menjalankan amanat Pergub Bali tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Tetapi, coba tengok fisualnya. Sepintas terlihat seperti bendera merah putih, namun sesungguhnya bukan; karena tidak ada pemisahan yang jelas antara merah dan putih. Yang nampak justru gradasi warna dari merah ke putih. Hal ini menarik, karena merah putih juga kebetulan warna yang identik dengan PDIP, selain hitam.

Disengaja atau tidak, Koster seolah ingin memberi pesan bahwa PDIP merupakan partai yang bisa menjawab ‘keresahan’ sebagian besar masyarakat di Bali terhadap kelompok politik tertentu khususnya di pusat yang ingin mengganti Pancasila, tentu termasuk Sang Saka Merah Putih—sebagai identitas keindonesiaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Analisa ini tentu sumir dan layak diperdebatkan, tetapi ada jejak referensi kepustakaannya, bahwa warna bisa mempengaruhi persepsi seseorang.

Seorang psikolog yang mendalami peran warna dan simbol dalam kehidupan sosial, J. Linschoten berteori, warna bukanlah suatu gejala yang dapat diamati secara fisual semata. “Warna bisa mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang terhadap bermacam-macam benda,” kata Linschoten.

Dari pemahaman di atas, warna ikut mempengaruhi persepsi sesorang terhadap suatu benda. Dalam konteks ini, papan nama beraksara Bali dengan latar belakang ‘merah-putih’ tak semata dilihat sebagai identitas suatu lembaga, tetapi mengandung pesan simbolik bahwa lembaga-lembaga itu menjadi bagian terdepan dalam mempertahankan NKRI. Dan inisiatornya adalah Koster dan PDIP.

Dalam perspektif semiotika (ilmu tentang lambang), fenomena pemanfaatan simbol warna menegaskan bahwa penggunaan simbol mengandung makna maupun pesan tersendiri yang ingin disampaikan (dalam hal ini) oleh Koster dan PDIP kepada publik. Pesan melalui simbol itu tentu memiliki kekuatan untuk mengkonstruksi realitas bagi siapa saja yang melihat atau mencerna simbol dimaksud.

Dalam kehidupan bermasyarakat, keberadaan simbol tidak dapat dilepaskan mengingat kekuatan simbol yang luar biasa menciptakan realitas, wacana, hingga imperasi mengubah tingkah laku serta persepsi publik. Jika mencermati simbol sebagai salah satu instrumen politik, penggunaan tiga warna PDIP oleh Koster, tentu memiliki pesan politik yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Penggunaan tiga warna itu diharapkan mampu menjadi sebuah upaya untuk ‘mempengaruhi” preferensi politik masyarakat Bali terhadap PDIP.

Dengan pola yang sangat soft, melalui instruksi lisan, maupun digaungkan melalui media, mampu mengubah struktur berpikir serta bertindak pemilih. Ketika pola yang digunakan dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik oleh semua pihak, maka tujuan telah tercapai. Di situlah keberhasilan ‘Koster Effect’ dalam Pemilu 2019.

Namun, keberhasilan ini bukan tanpa tantangan. Karena harapan masyarakat terpenuhi masih pada tataran simbol, maka sangat diperlukan hal-hal konkret untuk membumikan simbol-simbol itu. Lugasnya, kebijakan tentang pemanfaatan produk lokal, upaya menekan sampah plastik dan berbagai kebijakan populis Koster dan jajaran PDIP di kabupaten/kota harus bisa terwujud dan dirasakan masyarakat.

Masyarakat juga ingin melihat apakah ke depan pemimpin-pemimpin PDIP di Bali, mulai dari provinsi sampai kabupaten/kota benar-benar bebas KKN. Kalau PDIP mampu merawat momentum ini dengan baik dan setiap kadernya, baik di eksekutif maupun di legislatif mampu memperlihatkan kebijakan dan kerja politik yang pro- kesejahteraan rakyat, maka pada Pilgub 2023 dan Pemilu 2024 PDIP akan ‘penen raya’.

Bila tidak, maka potensi terulangnya ‘paceklik’ dukungan pasca-Pemilu 1999 sangat terbuka. Bahkan, kalau tidak hati-hati mengelola kepercayaan publik kali ini, PDIP bisa terpuruk menjadi the party of past. Semoga tidak! [T]

Tags: JokowiPartai PolitikPDIPpemiluPilpresPolitikWayan Koster
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Ulama yang Ulama

Next Post

Pendidikan & Keutuhan Bangsa

Gregorius Rusmanda

Gregorius Rusmanda

wartawan tinggal di Denpasar.

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Pendidikan & Keutuhan Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co