12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Coac-tail Effect & Koster Effect” -Catatan atas Kemenangan PDIP pada Pileg 2019 di Bali

Gregorius Rusmanda by Gregorius Rusmanda
May 3, 2019
in Opini
“Coac-tail Effect & Koster Effect” -Catatan atas Kemenangan PDIP pada Pileg 2019 di Bali

Ilustrasi diolah dari sumber foto di Google

WALAU belum ada penetapan resmi dari KPU, bisa dipastikan PDIP menang besar di Bali. Dari klaim yang disampaikan para petinggi partai berlambang kepala banteng moncong putih ini, diprediksi lima caleg PDIP akan melenggang ke Senayan, caleg dari kabupaten/kota juga akan ‘menguasai” Renon (kantor DPRD Bali).

Dan semua posisi Ketua DPRD di sembilan kabupaten/kota di Bali akan disapu bersih. Capaian yang luar biasa secara politik, nyaris mengulang kedigdayaan PDIP 20 tahun silam, tepatnya pada Pemilu 1999.

Tanpa bermaksud mendahului keputusan KPU, menarik dicermati apa yang menyebabkan suara PDIP melonjak begitu signifikan di Bali?

Banyak analisa berkembang, salah satunya sebagai efek ekor jas (coac-tail effect) pencalonan Jokowi sebagai presiden. Di mana PDIP sebagai pengusung utama Jokowi dan mantan Wali Kota Solo itu selama ini memang identik dengan PDIP. Masyarakat Bali juga cukup puas dengan kinerja Kabinet Kerja dalam lima tahun terakhir.

Analisa tersebut mungkin benar, namun pertanyaannya, mengapa hal yang sama tidak terjadi di derah lain?

NTT dan Sulawesi Utara misalnya, di mana paslon 01 Jokowi – Ma’ruf juga unggul signifikan—merujuk hasil quick count dari sejumlah lembaga survei, mengapa PDIP di kedua provinsi itu tidak menang besar?

Tampaknya, khusus dalam konteks Bali, coac-tail effect pencalonan Jokowi sebagai presiden bukan faktor tunggal. Tentu ada faktor lain. Yang pasti, soal ketokohan dari masing-masing caleg PDIP di dapilnya, terutama yang new comer. Sementara caleg PDIP yang incumbent juga disokong oleh guyuran bansos yang selama ini cukup masif.

Di luar itu, tentu ketokohan Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster yang mampu menggerakan mesin partai secara maksimal. Itulah yang dibahas secara khusus dalam ulasan kecil ini.

Kebijakan Koster dalam beberapa bulan ini setelah dilantik menjadi Gubernur Bali 2018 – 2023 cukup meyakinkan. Sebutlah misalnya Pergub tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali , Pergub Bali tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali dan Pergub tentang Pembatasan Sampah Plastik.

Belakangan juga, menjelang Pemilu 2019 lalu, Pemprov Bali bersama DPRD Bali berhasil mensahkan Perda Desa Adat. Kini, setiap hari Kamis, pelajar, mahasiswa dan pegawai, baik ASN maupun swasta mengenakan busana adat Bali. Gebrakan Koster, walau hasil nyatanya belum terlalu kelihatan, tampaknya telah berhasil mengembalikan kepercayaan para pemilih diam (silent voters) terhadap PDIP sejak 20 tahun lalu, romantika pasca-reformasi tahun 1998.

Berbagai kebijakan Koster yang sangat “Bali” belakangan ini telah mampu memanggil pulang para silent voters yang selama ini sempat berpaling ke lain hati. Wayan Koster selaku Ketua DPD PDIP Bali sekaligus Gubernur Bali, terlihat maksimal menerapkan strategi dan kerja politik memenangkan partai yang dipimpinnya.

‘Salam satu jalur’ yang sudah didengungkan jauh hari sebelum Pemilu 2019 merupakan bagian dari strategi itu. Resonansinya menyentuh kognisi sosial hampir semua lapisan masyarakat, baik kelas menengah perkotaan maupun rakyat jelata di pelosok Bali. Kelas menengah perkotaan menangkap “salam satu jalur’ sebagai peluang efisiensi dan efektivitas tata kelola pemerintahan dari aspek ‘one island management’.

Sebab selama ini banyak kebijakan yang dianggap ideal di tingkat provinsi, namun terganjal oleh ‘raja-raja’ kecil di kabupaten/kota yang mempunyai rasionalitas berbeda berlabel kepentingan lokal serta diferensiasi haluan politik dengan gubernur.

Dengan adanya ‘satu jalur’ kepemimpinan, diharapkan kebijakan di level provinsi yang menyentuh kepentingan Bali sebagai kesatuan entitas geografis dan budaya, ke depan bisa lebih bergegas. ‘Raja-raja kecil’ di kabupaten/kota bisa lebih ‘dikontrol’ agar segenderang-sepenarian dengan kebijakan Pemerintah Provinsi. Sementara rakyat jelata di seluruh pelosok Bali menangkap ‘salam satu jalur’ sebagai semacam ‘the new ajeg Bali’—sesuatu yang di kalangan intelektual sesungguhnya masih diperdebatkan esensinya.

Selain di tataran rasional itu, Wayan Koster tampaknya juga memainkan sisi bawa sadar masyarakat Bali. Entah disengaja atau tidak, pria asal Sambiran, Buleleng ini memainkan ‘politik fashion’. Selama ini, baik dalam urusan dinas sebagai Gubernur Bali maupun sebagai Ketua PDIP Bali, Koster selalu mengenakan kostum yang identik dengan warna PDIP, kalau tidak merah, ya hitam atau putih. Jarang sekali Koster mengenakan pakaian harian berwarna coklat, hijau lumut atau berbaju Korpri sebagaimana pejabat sebelumnya. Hal ini setidaknya dalam penampilan Koster yang tertangkap kamera dan menghiasai media massa, baik mainstream cetak maupun online di Bali.

Perhatikan pula papan nama semua perusahaan swasta atau instansi/badan pemerintah yang terlihat berwarna merah-putih. Rasionalitasnya sih, menjalankan amanat Pergub Bali tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Tetapi, coba tengok fisualnya. Sepintas terlihat seperti bendera merah putih, namun sesungguhnya bukan; karena tidak ada pemisahan yang jelas antara merah dan putih. Yang nampak justru gradasi warna dari merah ke putih. Hal ini menarik, karena merah putih juga kebetulan warna yang identik dengan PDIP, selain hitam.

Disengaja atau tidak, Koster seolah ingin memberi pesan bahwa PDIP merupakan partai yang bisa menjawab ‘keresahan’ sebagian besar masyarakat di Bali terhadap kelompok politik tertentu khususnya di pusat yang ingin mengganti Pancasila, tentu termasuk Sang Saka Merah Putih—sebagai identitas keindonesiaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Analisa ini tentu sumir dan layak diperdebatkan, tetapi ada jejak referensi kepustakaannya, bahwa warna bisa mempengaruhi persepsi seseorang.

Seorang psikolog yang mendalami peran warna dan simbol dalam kehidupan sosial, J. Linschoten berteori, warna bukanlah suatu gejala yang dapat diamati secara fisual semata. “Warna bisa mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang terhadap bermacam-macam benda,” kata Linschoten.

Dari pemahaman di atas, warna ikut mempengaruhi persepsi sesorang terhadap suatu benda. Dalam konteks ini, papan nama beraksara Bali dengan latar belakang ‘merah-putih’ tak semata dilihat sebagai identitas suatu lembaga, tetapi mengandung pesan simbolik bahwa lembaga-lembaga itu menjadi bagian terdepan dalam mempertahankan NKRI. Dan inisiatornya adalah Koster dan PDIP.

Dalam perspektif semiotika (ilmu tentang lambang), fenomena pemanfaatan simbol warna menegaskan bahwa penggunaan simbol mengandung makna maupun pesan tersendiri yang ingin disampaikan (dalam hal ini) oleh Koster dan PDIP kepada publik. Pesan melalui simbol itu tentu memiliki kekuatan untuk mengkonstruksi realitas bagi siapa saja yang melihat atau mencerna simbol dimaksud.

Dalam kehidupan bermasyarakat, keberadaan simbol tidak dapat dilepaskan mengingat kekuatan simbol yang luar biasa menciptakan realitas, wacana, hingga imperasi mengubah tingkah laku serta persepsi publik. Jika mencermati simbol sebagai salah satu instrumen politik, penggunaan tiga warna PDIP oleh Koster, tentu memiliki pesan politik yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Penggunaan tiga warna itu diharapkan mampu menjadi sebuah upaya untuk ‘mempengaruhi” preferensi politik masyarakat Bali terhadap PDIP.

Dengan pola yang sangat soft, melalui instruksi lisan, maupun digaungkan melalui media, mampu mengubah struktur berpikir serta bertindak pemilih. Ketika pola yang digunakan dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik oleh semua pihak, maka tujuan telah tercapai. Di situlah keberhasilan ‘Koster Effect’ dalam Pemilu 2019.

Namun, keberhasilan ini bukan tanpa tantangan. Karena harapan masyarakat terpenuhi masih pada tataran simbol, maka sangat diperlukan hal-hal konkret untuk membumikan simbol-simbol itu. Lugasnya, kebijakan tentang pemanfaatan produk lokal, upaya menekan sampah plastik dan berbagai kebijakan populis Koster dan jajaran PDIP di kabupaten/kota harus bisa terwujud dan dirasakan masyarakat.

Masyarakat juga ingin melihat apakah ke depan pemimpin-pemimpin PDIP di Bali, mulai dari provinsi sampai kabupaten/kota benar-benar bebas KKN. Kalau PDIP mampu merawat momentum ini dengan baik dan setiap kadernya, baik di eksekutif maupun di legislatif mampu memperlihatkan kebijakan dan kerja politik yang pro- kesejahteraan rakyat, maka pada Pilgub 2023 dan Pemilu 2024 PDIP akan ‘penen raya’.

Bila tidak, maka potensi terulangnya ‘paceklik’ dukungan pasca-Pemilu 1999 sangat terbuka. Bahkan, kalau tidak hati-hati mengelola kepercayaan publik kali ini, PDIP bisa terpuruk menjadi the party of past. Semoga tidak! [T]

Tags: JokowiPartai PolitikPDIPpemiluPilpresPolitikWayan Koster
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Ulama yang Ulama

Next Post

Pendidikan & Keutuhan Bangsa

Gregorius Rusmanda

Gregorius Rusmanda

wartawan tinggal di Denpasar.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Pendidikan & Keutuhan Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co