24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hardiman di Nias 13 – Persembahan Usai Sidang Terbuka Promosi Doktor

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 3, 2019
in Esai
Hardiman di Nias 13 – Persembahan Usai Sidang Terbuka Promosi Doktor

Hardiman bersama seniman dan teman-teman usai sidang (foto/FB/Atmi Kristiadewi)

Pagi di Nias 13, agak tergesa saya memarkir kendaraan, hari jumat, 1 Maret 2019 melihat jam hampir tepat pukul 10.00 WITA. Nias 13 identik dengan Fakultas Sastra Universitas Udayana dan juga studi Kajian Budaya untuk program pascasarjana oleh karena kampus ini berada di Jalan Pulau Nias, No.13. Ada dua alasan mengapa saya di tempat ini sampai-sampai meminta ijin di institutsi saya mengajar untuk tidak ngampus dan mengajar. Pertama dan yang paling penting, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri sidang promosi doktoral, kedua juga yang tidak kalah penting adalah janji tukar buku plus ngopi siang di warung kopi dekat kampus sastra UNUD.

Sidang? Siapa yang sidang terbuka promosi doktoral sehingga penting bagi saya untuk hadir? Ini alasan utama saya sampai membolos secara halus dari kampus saya mengajar untuk dapat menyaksikan sidang terbuka doktoral kedua kalinya dalam hidup saya. Adalah Hardiman. Nama yang begitu pendek akan tetapi sangat familiar di dalam medan sosial seni rupa Bali juga Nasional. Ya, Hardiman, saya dan kawan-kawan yang pernah di UNDIKSHA memanggilnya dengan Pak Har.

Ia adalah dosen di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Mengapa menjadi penting bagi saya? Wahh saya rasa berjuta alasan untuk menjawab itu, karena awal mula saya mulai lebih serius untuk literasi dan membuat perpustakaan pribadi di rumah adalah setelah berkunjung ke rumahnya sewaktu saya masih berstatus mahasiswa GAMASERA Singaraja, Pak Har juga yang saya mintai rekomendasi untuk dapat melanjutkan pendidikan pascasarjana saya di ISI Denpasar, oh iya Pak Har juga yang menjadi pembimbing TA saya, mengajarkan cara menata pameran, kurasi, membaca karya, menulis, dan lainnya.

Cerita saya putar lagi ke tempat parkir saat saya masih tergesa karena merasa terlambat akibat hidup di kota yang setengah modern dan tradisi. Di parkiran saya berjumpa dengan kawan perupa, Galung Wiratmaja dan Atmi Kristiadewi yang katanya masih menunggu Made Supena mutar-mutar jalan cari tempat parkir, kita mengobrol sebentar dan mereka pun berada di Nias 13 ini untuk menyaksikan sidang terbuka promosi doktoral Pak Har.

Saya melihat waktu dari smartphone sudah menunjukan pukul 10.00 dan saya berpamitan kepada mereka berdua untuk menuju ruang sidang dan baru melangkah sedikit saya berjumpa sahabat sastra yang juga sebagai pengajar di Sastra Bali UNUD sekaligus bertugas di perpustakaan lontar, adalah Putu Gunayasa. Ia menunjukan jalan kepada saya untuk mencapai ruang sidang yang tepat di atas perpustakaan lontar, saya bergegas dan berterimakasih.

Melewati puluhan anak tangga di gedung Poerbatjaraka naik, hingga sampai di ruang Soekarno dan di sambut bagian administrasi. Salah seorang menyatakan bahwa sidang baru saja mulai dan saya dipersilahkan masuk. Benar saja Pak Har sudah presentasi. Saya duduk paling belakang dan tepat di samping sahabat sastra juga, adalah Gede Gita Purnama yang dikenal dengan nama Bli Tilem, ia menjanjikan kopi dan obrolan di warung kopi, ini alasan kedua saya ada di sini dan rela bolos. Haha.

Di samping Bli Tilem ada sahabat perupa saya juga, Wayan Suja Antara, dan Wayan Naya, tampak sudah hadir beberapa dosen-dosen dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan dosen di Fakultas Bahasa dan Seni UNDIKSHA Singaraja, juga sahabat saya yang berprofesi sebagai kurator muda Bali, adalah Made Susanta Dwitanaya, dan tentu juga banyak yang hadir yang tidak saya kenal hehe.

Ok, kembali ke Pak Har. Ia sedang presentasi, memaparkan Disertasinya, di pojok duduk sendiri, di hadapan saya duduk paling tinggi dewan sidang, ketua sidang, promotor, ko-promotor, penguji.

Pak Har memaparkan hasil studi S3-nya yang berjudul Tubuh Sebagai Ekspresi Perlawanan: Representasi Ideologi Seksual Perempuan Perupa Kontemporer Bali. Dapat dikatakan bahwa dalam konteks ini Pak Har tidak hanya fokus dalam menganalisa karya akan tetapi juga membaca kepemilikan tubuh para perempuan yang berada di jalan seni kontemporer dalam sosio-kultural masyarakat Bali.

Fokusnya adalah bagaimana ideologi yang bekerja di balik karya-karya yang dihasilkan oleh perempuan perupa Bali. Yang perlu digaris bawahi juga adalah nalar seksualitas yang dimaksud adalah hubungan seks dengan realitas kasatmata organ seks dan kualitas seks yang bertalian dengan seksi atau realitas tubuh yang dapat membangkitkan birahi (sebagaimana tulisan Hardiman dalam buku Ringkasan Disertasi).

Perempuan Perupa yang dimaksud keseluruhannya adalah pelukis, Cok Mas Astiti, Ni Nyoman Sani, Ni Nyoman Sutrisni, Murniasih, Nia adalah perupa yang menjadi penelitian Pak Har. Setelah selesai pemaparan materi, dimulailah pertanyaan atau sanggahan oleh dewan sidang.

Di bagian ini saya agak sedikit gugup sendiri, entahlah, Pak Har yang sidang tapi saya ikut gugup, (mungkin saya terlalu meromantisasi keadaan) melihat kondisi riil Pak Har yang sedang dalam kondisi stroke dan sesi tanya-jawab yang walaupun tidak begitu alot tapi sempat terjadi semacam sanggahan (pelurusan) oleh salah satu dewan sidang mengenai feminimisme (kultur studi) dan kajian seni, saya memperhatikan Pak Har yang menguasai materinya sangat fasih menjawab dan menanggapi lontaran-lontaran pertanyaan tersebut.

Mungkin benar kata Wayan Suja Antara bahwa Pak Har adalah orang yang kuat dan keras seperti dalam tanggapan komentar pada beranda FBnya seusai sidang adalah “Hard(i)man”, bisa jadi maksudnya memiliki kode (i) saya, “Hard” berarti keras/kuat, dan “man” adalah manusia, Hard(i)man = saya adalah manusia kuat. Sekali lagi saya salut.

Seusai sidang yang dimulai pukul 10.00 – 11.45, dewan sidang mempersilahkan peserta yang hadir mengikuti jalan sidang terbuka untuk rehat sejenak sambil dewan sidang memberikan penilaian final terhadap jalan panjang atas studi S3 yang ditempuh poleh Pak Har. Ketika peserta sudah mulai berdiri dan perlahan mulai keluar ruangan sejenak, terlihat Pak Har datang mendekat ke arah kami-kami yang masih berdiri mengobrol, kami menyalami Pak Har, berbincang sejenak lalu saya dengan Bli Tilem dan Made Susanta keluar sejenak guna mencari angin. Kurang lebih 15 menit pengumuman kelulusan dalam Sidang Terbuka

Promosi Doktor Kajian Budaya segera dimulai, dewan sidang sudah menempati tempat duduknya, begitu juga Pak Har dan Kami mulai duduk dan mendengarkan keputusan yang akan diumumkan bersama-sama.

Hardiman dinyatakan lulus dengan predikat sangat baik. (Foto: Dewas)

Ya, akhirnya.. Pak Har dinyatakan lulus dengan predikan Sangat Baik. Riuh tepuk tangan mengisi ruangan Soekarno di Nias 13. Pak Har, dipersilahkan berjalan ke tengah antara dewan penguji dan undangan, penyerahan piagam dan baju toga yang dipakai oleh Pak Har, menandai dirinya sah tahap satu menyandang gelar doktor sebelum sah tahap dua yaitu dalam wisuda nanti.

Setelahnya, salah satu dewan sidang yaitu Prof. Dharma Putra memberikan sepatah dua patah kata yang intinya memaparkan bagaimana perjuangan perempuan Bali di era 1927 (kolonial) dalam menyatakan kemerdekaan atas tubuhnya sebagai orang Bali, menolak poligami para suami masa itu dan perlawanan-perlawanan lainnya. Setelahnya sidang ditutup dan mulai sesi foto bersama.

Jurusan Pedidikan Seni Rupa UNDIKSHA Singaraja punya doktor lagi dan itu Pak Har. Dosen yang membawa print making (seni grafis) cetak di atas kanvas ke kampus pertama kali, yang menginisiasi lahirnya pegrafis muda dari Bali Utara, Penulis, Kurator, Perupa yang kini menjadi bagian dari medan sosial seni rupa Bali dan dunia.

Saya belajar banyak dari Pak Har meskipun waktu itu ia masih S2 belum doktor S3. Mahasiswa (kini) harusnya bersyukur punya Pak Har sebagai biang kerok yang mengompori mahasiswa-mahasiswa untuk selalu bekerja dengan serius, di lingkungan Kampus Bawah selain Pak Har juga ada bapak Wayan Sudiartasebagai kepala geng yang menyeret mahasiswa untuk bebas berekspresi di kampus juga di luar kampus, dan sederet dosen seni rupa UNDIKSHA yang tak kalah keren sebagai biang kerok yang mengompori mahasiswa seni rupa untuk lebih kreatif. Ahh lagi-lagi saya meromantisir ingatan masa kuliah di Singaraja.

Pak Har, sekali lagi saya ucapkan selamat atas peraihan gelar Doktor, jangan pernah lelah untuk memotivasi mahasiswa. Selamat… horeee….

Oh iya saya hampir lupa, setelah seni foto bersama dan ngobrol-ngobrol, saya, Bli Tilem, Made Susanta, dan Pak Wayan Sudiarta memohon pamit kepada Pak Har dan sahabat-sahabat lainnya yang masih berbincang di ruangan Soekarno, Nias 13. Kami meluncur ke warung kopi yang dekat dengan kampus, ya, tujuan kedua itu ngopi!! Ahh cerita berlanjut di warung sebelah.

Pohmanis, 3 Maret 2019

Tags: doktorPendidikanSeni RupaUndikshaUnud
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Rhythm Rebels, Sukses di Pamungkas Java Jazz Festival Hari Pertama

Next Post

Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co