14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hardiman di Nias 13 – Persembahan Usai Sidang Terbuka Promosi Doktor

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 3, 2019
in Esai
Hardiman di Nias 13 – Persembahan Usai Sidang Terbuka Promosi Doktor

Hardiman bersama seniman dan teman-teman usai sidang (foto/FB/Atmi Kristiadewi)

Pagi di Nias 13, agak tergesa saya memarkir kendaraan, hari jumat, 1 Maret 2019 melihat jam hampir tepat pukul 10.00 WITA. Nias 13 identik dengan Fakultas Sastra Universitas Udayana dan juga studi Kajian Budaya untuk program pascasarjana oleh karena kampus ini berada di Jalan Pulau Nias, No.13. Ada dua alasan mengapa saya di tempat ini sampai-sampai meminta ijin di institutsi saya mengajar untuk tidak ngampus dan mengajar. Pertama dan yang paling penting, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri sidang promosi doktoral, kedua juga yang tidak kalah penting adalah janji tukar buku plus ngopi siang di warung kopi dekat kampus sastra UNUD.

Sidang? Siapa yang sidang terbuka promosi doktoral sehingga penting bagi saya untuk hadir? Ini alasan utama saya sampai membolos secara halus dari kampus saya mengajar untuk dapat menyaksikan sidang terbuka doktoral kedua kalinya dalam hidup saya. Adalah Hardiman. Nama yang begitu pendek akan tetapi sangat familiar di dalam medan sosial seni rupa Bali juga Nasional. Ya, Hardiman, saya dan kawan-kawan yang pernah di UNDIKSHA memanggilnya dengan Pak Har.

Ia adalah dosen di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Mengapa menjadi penting bagi saya? Wahh saya rasa berjuta alasan untuk menjawab itu, karena awal mula saya mulai lebih serius untuk literasi dan membuat perpustakaan pribadi di rumah adalah setelah berkunjung ke rumahnya sewaktu saya masih berstatus mahasiswa GAMASERA Singaraja, Pak Har juga yang saya mintai rekomendasi untuk dapat melanjutkan pendidikan pascasarjana saya di ISI Denpasar, oh iya Pak Har juga yang menjadi pembimbing TA saya, mengajarkan cara menata pameran, kurasi, membaca karya, menulis, dan lainnya.

Cerita saya putar lagi ke tempat parkir saat saya masih tergesa karena merasa terlambat akibat hidup di kota yang setengah modern dan tradisi. Di parkiran saya berjumpa dengan kawan perupa, Galung Wiratmaja dan Atmi Kristiadewi yang katanya masih menunggu Made Supena mutar-mutar jalan cari tempat parkir, kita mengobrol sebentar dan mereka pun berada di Nias 13 ini untuk menyaksikan sidang terbuka promosi doktoral Pak Har.

Saya melihat waktu dari smartphone sudah menunjukan pukul 10.00 dan saya berpamitan kepada mereka berdua untuk menuju ruang sidang dan baru melangkah sedikit saya berjumpa sahabat sastra yang juga sebagai pengajar di Sastra Bali UNUD sekaligus bertugas di perpustakaan lontar, adalah Putu Gunayasa. Ia menunjukan jalan kepada saya untuk mencapai ruang sidang yang tepat di atas perpustakaan lontar, saya bergegas dan berterimakasih.

Melewati puluhan anak tangga di gedung Poerbatjaraka naik, hingga sampai di ruang Soekarno dan di sambut bagian administrasi. Salah seorang menyatakan bahwa sidang baru saja mulai dan saya dipersilahkan masuk. Benar saja Pak Har sudah presentasi. Saya duduk paling belakang dan tepat di samping sahabat sastra juga, adalah Gede Gita Purnama yang dikenal dengan nama Bli Tilem, ia menjanjikan kopi dan obrolan di warung kopi, ini alasan kedua saya ada di sini dan rela bolos. Haha.

Di samping Bli Tilem ada sahabat perupa saya juga, Wayan Suja Antara, dan Wayan Naya, tampak sudah hadir beberapa dosen-dosen dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan dosen di Fakultas Bahasa dan Seni UNDIKSHA Singaraja, juga sahabat saya yang berprofesi sebagai kurator muda Bali, adalah Made Susanta Dwitanaya, dan tentu juga banyak yang hadir yang tidak saya kenal hehe.

Ok, kembali ke Pak Har. Ia sedang presentasi, memaparkan Disertasinya, di pojok duduk sendiri, di hadapan saya duduk paling tinggi dewan sidang, ketua sidang, promotor, ko-promotor, penguji.

Pak Har memaparkan hasil studi S3-nya yang berjudul Tubuh Sebagai Ekspresi Perlawanan: Representasi Ideologi Seksual Perempuan Perupa Kontemporer Bali. Dapat dikatakan bahwa dalam konteks ini Pak Har tidak hanya fokus dalam menganalisa karya akan tetapi juga membaca kepemilikan tubuh para perempuan yang berada di jalan seni kontemporer dalam sosio-kultural masyarakat Bali.

Fokusnya adalah bagaimana ideologi yang bekerja di balik karya-karya yang dihasilkan oleh perempuan perupa Bali. Yang perlu digaris bawahi juga adalah nalar seksualitas yang dimaksud adalah hubungan seks dengan realitas kasatmata organ seks dan kualitas seks yang bertalian dengan seksi atau realitas tubuh yang dapat membangkitkan birahi (sebagaimana tulisan Hardiman dalam buku Ringkasan Disertasi).

Perempuan Perupa yang dimaksud keseluruhannya adalah pelukis, Cok Mas Astiti, Ni Nyoman Sani, Ni Nyoman Sutrisni, Murniasih, Nia adalah perupa yang menjadi penelitian Pak Har. Setelah selesai pemaparan materi, dimulailah pertanyaan atau sanggahan oleh dewan sidang.

Di bagian ini saya agak sedikit gugup sendiri, entahlah, Pak Har yang sidang tapi saya ikut gugup, (mungkin saya terlalu meromantisasi keadaan) melihat kondisi riil Pak Har yang sedang dalam kondisi stroke dan sesi tanya-jawab yang walaupun tidak begitu alot tapi sempat terjadi semacam sanggahan (pelurusan) oleh salah satu dewan sidang mengenai feminimisme (kultur studi) dan kajian seni, saya memperhatikan Pak Har yang menguasai materinya sangat fasih menjawab dan menanggapi lontaran-lontaran pertanyaan tersebut.

Mungkin benar kata Wayan Suja Antara bahwa Pak Har adalah orang yang kuat dan keras seperti dalam tanggapan komentar pada beranda FBnya seusai sidang adalah “Hard(i)man”, bisa jadi maksudnya memiliki kode (i) saya, “Hard” berarti keras/kuat, dan “man” adalah manusia, Hard(i)man = saya adalah manusia kuat. Sekali lagi saya salut.

Seusai sidang yang dimulai pukul 10.00 – 11.45, dewan sidang mempersilahkan peserta yang hadir mengikuti jalan sidang terbuka untuk rehat sejenak sambil dewan sidang memberikan penilaian final terhadap jalan panjang atas studi S3 yang ditempuh poleh Pak Har. Ketika peserta sudah mulai berdiri dan perlahan mulai keluar ruangan sejenak, terlihat Pak Har datang mendekat ke arah kami-kami yang masih berdiri mengobrol, kami menyalami Pak Har, berbincang sejenak lalu saya dengan Bli Tilem dan Made Susanta keluar sejenak guna mencari angin. Kurang lebih 15 menit pengumuman kelulusan dalam Sidang Terbuka

Promosi Doktor Kajian Budaya segera dimulai, dewan sidang sudah menempati tempat duduknya, begitu juga Pak Har dan Kami mulai duduk dan mendengarkan keputusan yang akan diumumkan bersama-sama.

Hardiman dinyatakan lulus dengan predikat sangat baik. (Foto: Dewas)

Ya, akhirnya.. Pak Har dinyatakan lulus dengan predikan Sangat Baik. Riuh tepuk tangan mengisi ruangan Soekarno di Nias 13. Pak Har, dipersilahkan berjalan ke tengah antara dewan penguji dan undangan, penyerahan piagam dan baju toga yang dipakai oleh Pak Har, menandai dirinya sah tahap satu menyandang gelar doktor sebelum sah tahap dua yaitu dalam wisuda nanti.

Setelahnya, salah satu dewan sidang yaitu Prof. Dharma Putra memberikan sepatah dua patah kata yang intinya memaparkan bagaimana perjuangan perempuan Bali di era 1927 (kolonial) dalam menyatakan kemerdekaan atas tubuhnya sebagai orang Bali, menolak poligami para suami masa itu dan perlawanan-perlawanan lainnya. Setelahnya sidang ditutup dan mulai sesi foto bersama.

Jurusan Pedidikan Seni Rupa UNDIKSHA Singaraja punya doktor lagi dan itu Pak Har. Dosen yang membawa print making (seni grafis) cetak di atas kanvas ke kampus pertama kali, yang menginisiasi lahirnya pegrafis muda dari Bali Utara, Penulis, Kurator, Perupa yang kini menjadi bagian dari medan sosial seni rupa Bali dan dunia.

Saya belajar banyak dari Pak Har meskipun waktu itu ia masih S2 belum doktor S3. Mahasiswa (kini) harusnya bersyukur punya Pak Har sebagai biang kerok yang mengompori mahasiswa-mahasiswa untuk selalu bekerja dengan serius, di lingkungan Kampus Bawah selain Pak Har juga ada bapak Wayan Sudiartasebagai kepala geng yang menyeret mahasiswa untuk bebas berekspresi di kampus juga di luar kampus, dan sederet dosen seni rupa UNDIKSHA yang tak kalah keren sebagai biang kerok yang mengompori mahasiswa seni rupa untuk lebih kreatif. Ahh lagi-lagi saya meromantisir ingatan masa kuliah di Singaraja.

Pak Har, sekali lagi saya ucapkan selamat atas peraihan gelar Doktor, jangan pernah lelah untuk memotivasi mahasiswa. Selamat… horeee….

Oh iya saya hampir lupa, setelah seni foto bersama dan ngobrol-ngobrol, saya, Bli Tilem, Made Susanta, dan Pak Wayan Sudiarta memohon pamit kepada Pak Har dan sahabat-sahabat lainnya yang masih berbincang di ruangan Soekarno, Nias 13. Kami meluncur ke warung kopi yang dekat dengan kampus, ya, tujuan kedua itu ngopi!! Ahh cerita berlanjut di warung sebelah.

Pohmanis, 3 Maret 2019

Tags: doktorPendidikanSeni RupaUndikshaUnud
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Rhythm Rebels, Sukses di Pamungkas Java Jazz Festival Hari Pertama

Next Post

Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co