23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merespons Bali yang Berubah

Made Metera by Made Metera
January 27, 2019
in Esai
Merespons Bali yang Berubah

Empat bagian catatan ini adalah respon untuk buku “Mencari Bali yang Berubah” karya I Ngurah Suryawan, terbitan BasaBasi (2018).

I

Setiap masyarakat, di Utara maupun di Selatan, dalam konteks ekonomi, di Barat maupun di Timur, dalam konteks sosial budaya, pasti memiliki sistem sosial budaya terdiri dari sub-sub sistem yang saling terkait satu sama lain yaitu, sub sistem ideologi, sub sistem struktur sosial, dan sub sistem infrastruktur material. Teori Marxis biasa menyebut sistem sosial budaya masyarakat terdiri dari base da super stucture.

Selain memiliki sistem sosial budaya, setiap masyarakat tidak terhindarkan dari perubahan sosial budaya. Perubahan itu bisa dimulai dari sub sistem manapun, sub sistem ideologi, sub sistem struktur sosial, ataupun sub sistem infrastruktur material.

Jika perubahan sosial budaya dimulai pada suatu sub sistem, misalnya pada sub sistem ideologi kemudian dikuti oleh perubahan sub sistem lainnya yang sejalan dengan perubahan pada sub sistem ideologi, maka terjadi perubahan sosial budaya yang harmonis. Sebaliknya jika perubahan pada suatu sub sistem tidak diikuti oleh perubahan pada sub sistem lainnya, maka bisa terjadi masalah sosial budaya, kemandegan sosial budaya, bahkan konflik sosial budaya.

Dalam khasanah teori perubahan sosial, locus dimulainya perubahan sosial budaya telah berkembang menjadi teori yang berdiri sendiri. Ada teori perubahan sosial yang percaya perubahan sosial budaya dimulai dari sub sistem ideologi. Ada juga teori perubahan sosial budaya yang meyakini perubahan sosial budaya dimulai dari sub sistem infrastruktur material. Teori-teori Marxis mengajarkan perubahan masyarakat dimulai dari perubahan basis material. Tentu saja tidak berarti orang yang percaya perubahan sosial budaya dimulai dari perubahan basis material adalah Marxis.

Perubahan sosial budaya adakalanya dapat membuat masyarakat pendudkung suatu kebudayaan merasa cemas. Mereka khawatir nilai-nilai budaya yang mereka anut yang dipandang adi luhung tergerus oleh perubahan sosial budaya. Namun di sisi lain ada yang percaya bahwa perubahan sosial budaya tidak akan membuat identitas mereka tergerus. Bahkan mereka memandang perubahan sosial budaya perlu direspons agar masyarakat berkembang menjadi lebih baik, sekurang-kurangnya tidak ditinggalkan oleh perubahan jaman.

Perubahan sosial budaya Bali sudah terjadi. Apakah perubahan sosial budaya Bali itu harus dicemaskan? Ataukah perubahan sosial budaya itu direspons dengan optimis untuk membuat masyarakat Bali berkembang menjadi lebih baik?  (

II

Bali yang berubah adalah keniscayaan. Bahwa perubahan itu menimbulkan ada pihak yang cemas, khawatir identitas ke-Bali-an akan punah, dan ada pihak yang menatap perubahan dengan kegairahan untuk menyosong masa depan Bali lebih baik, semua itu berakar pada dan tidak terlepas dari pemahaman dan pandangan mengenai kebudayaan.

Pemahaman dan pandangan mengenai kebudayaan sebagai warisan nilai-nilai adi luhung semata, akan berupaya melestarikan apa yang dinilai sebagai kebudayaan. Perubahan kebudayaan dengan demikian akan memicu kecemasan karena kehilangan nilai-nilai adi luhung yang merupakan warisan berharga.

Pemahaman dan pandangan mengenai kebudayaan sebagai warisan berharga dan juga respons terhadap dunia akan memandang perubahan kebudayaan harus direspons agar tidak tergilas oleh perubahan. Warisan budaya yang ada yang masih sesuai dapat dipakai untuk merespons perubahan, dan nilai-nilai budaya yang tidak sesuai lagi, tidak menjadi masalah kalau ditinggalkan. Itu tidak perlu diratapi.

Perubahan sosial budaya Bali yang telah terjadi tidak dapat juga dipisahkan dari politik kebudayaan dan praktik ekonomi politik kekuasaan yang telah diterapkan oleh pemegang kekuasaan sejak jaman feodal, kolonial, sampai kemerdekaan Bali.

Praktik politik kebudayaan dan ekonomi politik yang diterapkan oleh kekuasaan di Bali menyasar sub sistem ideologi, sub sistem struktur sosial, maupun sub sistem infrastruktur material.

Politik kebudayaan dan ekonomi politik yang diterapkan oleh kekuasaan itu kemudian menimbulkan praktik-praktik budaya di bidang pariwisata, ritual, dan lainnya. Wujud dari praktik budaya itu dapat berupa persuasi dan sering berupa kekerasan.

Wujud politik kebudayaan dan ekonomi politik persuasif biasanya tidak disadari oleh sebagian orang.

Politik kebudayaan dan ekonomi politik represif telah menebar teror dan ketakutan pada sebagian orang. Represi dan teror yang dilakukan secara sistematis dan dalam waktu cukup lama oleh kekuasaan dalam sejarah panjang Bali melahirkan kisah-kisah pilu pada kelompok pinggiran orang Bali yang tidak mampu diungkapkan ke permukaan.

Masa reformasi 1998 telah memberi ruang untuk menyuarakan kisah-kisah pilu itu ke permukaan. Namun, masih banyak praktik budaya yang dilakukan oleh masyarakat Bali yang memerlukan respons untuk membawa Bali ke masa depan yang lebih baik.

Perlu strategi budaya untuk merespons perubahan sosial budaya yang telah terjadi di Bali. Siapa yang bertanggungjawab merancang strategi itu? (

III

Perubahan sosial budaya yang signifikan di Bali yang masih membutuhkan respons untuk membawa Bali menjadi lebih baik adalah perubahan yang dipicu oleh pembangunan Bali sebagai destinasi pariwisata.

Pembangunan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia tidak dipungkiri telah memberikan hasil ekonomi kepada sebagian orang Bali, tetapi juga menyisakan persoalan-persoalan yang memerlukan solusi.

Gagasan pembangunan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia pada mulanya bukanlah gagasan yang muncul dari masyarakat Bali. Ide itu merupakan bagian dari politik kebudayaan dan ekonomi politik yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pada awal abad XX pemerintah kolonial Belanda bermaksud menguasai Bali sebagai bagian dari politik membulatkan kekuasaannya di seluruh Nusantara. Untuk melaksanakan rencana itu, dengan berbagai dalih yang dicari-cari maka diperangi kerajaan Badung tahun1906 dan kerajaan Kelungkung tahun1908 dengan menggunakan senjata perang moderen. Banyak korban nyawa di pihak rakyat Bali. Kedua kerajaan itu jatuh ke tangan pemerintah kolonial Belanda.

Kejatuhan Badung dan Kelungkung menyebabkan seluruh Bali menjadi kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, karena kerajaan-kerajaan kecil lainnya di Bali waktu itu tunduk kepada Badung dan Kelungkung.

Penundukkan Bali oleh pemerintah kolonial Belanda melalui perang yang mengorbankan banyak nyawa penduduk Bali mendapat kritik keras oleh sesama negara kolonial Eropa. Hanya untuk menundukkan pulau kecil Bali pemerintah kolonial Belanda mengorbankan banyak nyawa penduduk Bali, yang seharusnya bisa diselesaikan melalui diplomasi.

Untuk menangkis kritik itu pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik kebudayaan dan ekonomi politik. Seni dan Budaya Bali diangkat dan dipromosikan sebagai Seni dan Budaya yang eksotik dari negeri timur.

Berbagai pameran di Eropa diikuti oleh pemerintah kolonial Belanda dengan menampilkan Seni dan Budaya Bali secara besar-besaran. Destinasi pariwisata dan fasilitas pariwisata mulai disiapkan di Bali.

Wisatawan asing diundang datang ke Bali untuk menyaksikan keagungan Seni dan Budaya Bali sekaligus juga untuk menunjukkan bahwa pemerintah kolonial Belanda adalah pemerintahan yang sangat peduli kepada pengembangan Seni dan Budaya, bukan pemerintahan yang kejam yang membantai penduduk daerah jajahan.

Untuk memfasilitasi kedatangan wisatawan asing ke Bali, kapal pengangkut wisatawan asing dari pusat kekuasaan kolonial di Jawa ke Bali disiapkan. Kapal laut yang semula dipakai mengangkut ternak dimodifikasi untuk mengangkut wisatawan asing. Di awal tahun 1920-an wisatawan asing ke Bali sudah berlabuh di pelabuhan Buleleng.

Kedatangan wisatawan asing ke Bali yang jumlahnya semakin banyak dari tahun ke tahun, memberikan keuntungan politik dan ekonomi kepada pemerintah kolonial Belanda.

Secara politik pemerintah kolonial Belanda tidak lagi dituduh sebagai pemerintahan yang kejam oleh rekan-rekannya di Eropa karena berhasil menunjukkan diri sebahai pemerintahan yang sangat peduli kepada pengembangan Seni dan Budaya Bali.

Secara ekonomi pemerintah kolonial Belanda mendapat devisa dari kedatangan wisatawan asing ke Bali.

Dalam kedudukan sebagai daerah dan masyarakat jajahan, tidak dipungkiri masyarakat Bali juga memeroleh keuntungan dari politik kebudayaan dan ekonomi politik yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pengembangan Bali sebagai destinasi pariwisata dan kedatangan wisatawan asing ke Bali menimbulkan persentuhan antara wisatawan asing dengan masyarakat Bali. Dari interaksi itu memicu kreatifitas seni masyarakat Bali.

Di Buleleng tempat berlabuh wisatawan asing pertama di Bali hasil dari politik kebudayaan pemerintah kolonial Belanda, muncul beberapa kreasi seni misalnya gong kebyar, seni ukir yang kemudian lebih berkembang di Bal selatan karena basis materialnya lebih tersedia di sana.

Di Bali selatan juga lahir berbagai kreasi seni, di Tabanan muncul maestro seni I Marya yang menciptakan Tari Oleg Tambulilingan sebagai masterpiece karya tarinya. Konon tari itu terinspirasi oleh tari balet yang diperkenalkan kepada I Marya melalui video oleh rekan asingnya.

Di Ubud Gianyar muncul kreasi seni lukis karena persentuhan pelukis lokal dengan pelukis asing. Tentu di tempat lain di Bali juga mencul kreasi seni lainnya sebagai akibat persentuhan dengan orang asing di masa kolonial itu.

Sebagian orang Bali yang mampu merespons kedatangan wisatawan asing di masa kolonial tentu saja juga mendapat hasil ekoni.

Bagi Bali secara keseluruhan ada hasil yang dapat dinikmati sampai saat ini dari kedatangan wisatawan asing di masa kolonial yaitu buku-buku yang mulai ditulis oleh wisatawan asing yang datang ke Bali dan diterbitkan mulai tahun 1930-an. Buku-buku tentang Seni dan Budaya Bali itu membuat Bali menjadi terkenal di seluruh dunia.

Tentu politik kebudayaan dan ekonomi politik yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Bali selain mendatangkan keuntungan bagi Bali seperti sudah disampaikan di depan, juga menyisakan persoalan yang bahkan diwarisi sampai saat ini oleh masyarakat Bali. (

IV

Pembangunan pariwisata Bali yang pada awalnya merupakan artikulasi politik kebudayaan dan ekonomi politik pemerintah kolonial Belanda, dengan kelebihan dan masalahnya, berlanjut di jaman Indonesia merdeka, “Orde Lama”, “Orde Baru” dan seterusnya.

Pada era “Orde Lama” pembangunan pariwisata Bali dilanjutkan ditandai dengan pembangunan infrastruktur, fasilitas pariwisata dan promosi budaya.

Pelabuhan udara internasional Ngurah Rai dibangun sebagai infrastruktur yang menunjang pembangunan pariwisata Bali. Hotel Bali Beach dengan 10 lantai yang sampai sekarang menjadi bangunan tertinggi di Bali, dibangun sebagai fasilitas pariwisata. Keduanya dibangun dengan pampasan perang dengan Jepang.

Promosi budaya dilakukan dengan mengirim misi kesenian Bali ke berbagai negara maju di dunia.

Upaya-upaya itu berhasil mendatangkan kunjungan wisatawan asing ke Bali dan menjadikan Bali sebagai destinasi wisata terkenal di dunia.

Di masa “Orde Baru” pembangunan pariwisata Bali dilakukan secara besar-besaran. Dimulai tahun 1970 dirancang pembangunan hotel di wilayah tandus Nusa Dua dengan bantuan konsultan dari Prancis. Lembaga Pendidikan Pariwisata juga disiapkan dengan nama Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata.

Pembangunan pariwisata Bali yang dilakukan secara masif mulai tahun 1970 itu diberi label Pariwisata Budaya yang dimaksudkan budaya Bali menjadi basis pembangunan pariwisata Bali.

Pembangunan fasilitas pariwisata di wilayah tandus Nusa Dua kemudian diikuti dengan pembangunan fasilitas pariwisata di pantai selatan Bali dengan mengalihfungsikan lahan pertanian karena pariwisata dilihat mendatangkan keuntungan ekonomi. Pembangunan fasilitas pariwisata juga kemudian dilakukan di pinggir jurang, di pinggir sungai, di kaki gunung.

Pembangunan pariwisata Bali secara masif itu tidak terbantahkan telah menghasilkan keuntungan ekonomi bagi Bali sebagai wilayah dan juga bagi sebagian orang Bali yang mampu merespons perubahan itu.

Struktur ekonomi Bali berubah dari ekonomi berbasis pertanian sampai tahun 1970-an menjadi ekonomi berbasis pariwisata mulai pertengahan tahun1980-an. Perubahan struktur ekonomi Bali itu oleh beberapa ekonom Bali disebut perubahan struktur ekonomi yang melompat.

Hasil ekonomi yang dicapai dari pembangunan pariwisata Bali itu tidak lepas juga dari masalah. Paruh kedua tahun 1980-an sudah disadari bahwa hasil ekonomi dari pembangunan pariwisata Bali lebih banyak dinikmati oleh pemodal besar. Pemodal kecil dan juga orang Bali hanya memeroleh remah-remah kue pariwisata Bali.

Ketimpangan juga dirasakan antar wilayah di Bali. Oleh karena fasilitas pariwisata lebih banyak di bangun di wilayah Bali selatan terutama Badung dan Denpasar maka hasil pariwisata Bali lebih banyak dinikmati oleh penduduk di wilayah Bali selatan.

Ketimpangan yang sama juga terjadi antar sektor. Pembangunan masif sektor pariwisata nampak menelantarkan sektor lain terutama sektor pertanian.

Gagasan mengatasi ketimpangan itu sudah ada. Ketimpangan antar wilayah solusinya digagas melalui pembangunan Bali sebagai pembangunan one island management. Bahasa politik pemerintahannya otonomi khusus Bali.

Ketimpangan antar sektor digagas diatasi dengan integrasi antar sektor pertanian, pariwisata, dan industri rumah tangga kemudian industri kreatif.

Gagasan yang sudah lama ada itu hanya tinggal gagasan yang belum bisa diwujudkan.

Singaraja, 18-21 Januari 2019

Tags: baliBudayaPolitiksosial
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Next Post

“Bubuh Nasi”, Olahan Nasi Sisa ala Pedesaan di Bali

Made Metera

Made Metera

Pengamat masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik. Mantan Rektor Universitas Panji Sakti Singaraja Bali

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Bubuh Nasi”, Olahan Nasi Sisa ala Pedesaan di Bali

“Bubuh Nasi”, Olahan Nasi Sisa ala Pedesaan di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co