6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutub Selatan & Kutub Utara – Pentas Teater Angin & Galang Kangin di Parade Teater Canasta 2018

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
November 6, 2018
in Ulasan
Kutub Selatan & Kutub Utara – Pentas Teater Angin & Galang Kangin di Parade Teater Canasta 2018

Teater Galang Kangin, SMAN 4 Singaraja

DILIHAT dari judulnya kayaknya bakal dingin pembahasan saya kali ini. Sepertinya begitu. Tapi entah bagaimana kedepanya, mari kita mulai. Tanggal 1 November 2018, hari ke-4 pementasan teater dalam rangkaian acara “Parade Teater Canasta 2018” kali ini kita kedatangan dua kelompok teater sekolah yaitu Teater Galangan Kangin dari SMAN 4 Singaraja dan Teater Angin dari SMAN 1 Denpasar.

Pembahasan saya kali ini bukan tentang bagaimana alur cerita dari naskah yang mereka bawakan, melainkan dari sudut pandang bentuk pementasan mereka. Kebetulan mereka berasal dari daerah yang berlainan yakni kubu utara Bali dan kubu selatan Bali. Tentu saja ada cara proses dan pertumbuhan teater tersendiri di daerah mereka masing-masing. Saya selalu bangga ketika melihat anak SMA tampil di acara parade Teater yang begitu sederhana ini.

Pementasan pertama adalah Teater Galang Kangin. Saat pentas berlangsung, saya begitu menikmati pertunjukan yang mereka tampilkan, membawakan naskah “Tentang Kita Dan Pertemuan Yang Hilang”. Pementasanya begitu realis kalau dibilang. Jadi siapapun yang menyaksikan langsung mengerti bagaimana alur dan akhir ceritanya. Dengan artistik dan properti yang begitu tertata rapi sesuai dengan kebutuhan di naskah itu, dengan lampu yang enak dilihat sesuai dengan adeganya.

Mereka menceritakan orang-orang di zaman sekarang begitu terhipnotisnya dengan kejahatan tekhnologi seperti telpon genggam misalnya. Terkadang kita sampai lupa waktu dan tempat kalau sudah berhadapan empat mata dengan telpon genggam. Apalagi ditambah sekarang ada media-media sosial yang membebaskan kita untuk menyuarakan apapun.

Setelah pementasan dari Teater Galang Kangin selesai, penonton beristirahat sekaligus memberikan waktu untuk persiapan pementasan selanjutnya dari Teater Angin. Justru disini saya merasa agak aneh ketika melihat dari segi pemilihan tempat dan artistik yang dipakai oleh Teater Angin.

Timbul beribu pertanyaan ketika saya melihat beberapa artistik mereka. Ada tiga helm yang dicat emas dengan kawat yang menyerupai tanduk tapi bentuknya tak sama. Kemudian ada ratusan tisu yang mereka gantung. Tisu itu memang sudah ada dari sebelumnya karena itu bekas karya instalasi teman saya Komang Tress. Mau di apakan tisu-tisu itu?

Sebelum mengetahui tisu itu akan menjadi apa dan bagaimana, saya akan memberi tau terlebih dahulu naskah berjudul “Cut Out” karya Riyadh’i Solihin yang dibawakan oleh Teater Angin. Sebelumnya saya belum pernah sama sekali membaca naskah ini. Ketika pementasan berlangsung saya duduk dengan tenang. Tetapi perasaan tenang itu berubah ketika terlihat para aktor mulai berdialog.

Dialognya terdengar samar karena lokasi yang mereka pilih sangat dekat sekali dengan jalan raya. Secara tidak langsung, mau tidak mau saya harus lebih fokus mendengarkan mereka berdialog. Gerakan tubuh dan koreonya begitu tertata rapi. Tetapi saya tidak mengerti dengan dialog dan gerak tubuhnya karena koreo yang mereka buat seperti simbol dan mempunyai arti sendiri.

Beberapa menit kemudian ada cahaya dari arah proyektor, mengarah ke arah ratusan tisu bergantung itu. Ternyata mereka memanfaatkan tisu itu sebagai layarnya. Menarik. Di layar tersebut terdapat beberapa gambar dan video tentang rakyat dan petugas keamanan sebelum kemerdekaan Indonesia tampaknya, karena kualitas dan bentuk videonya terlihat jelas tahunnya tapi saya tidak tau tepatnya itu tahun berapa. Apalagi setelah mendengar beberapa dialog mereka juga seperti makalah atau artikel sejarah. Bukan lagi berbicara tentang dialog keseharian. Sumpah ini berat saya pahami.

Saya tetap menyaksikan pementasan mereka berlangsung walau dialognya tidak dapat saya mengerti keseluruhan. Setidaknya saya mengetahui tambahan sedikit tentang kesejarahan negara Indonesia. Ya, walaupun sedikit, lumayanlah. Ditambah lagi penggunaan helm berwarna emas yang saya bilang tadi, mungkin bisa jadi bekal saya bertanya ketika diskusi.

Beberapa saat kemudian pementasan dari Teater Angin selesai dan mendapat tepuk tangan yang begitu meriah. Secara sepontan saya ikut bertepuk tangan, tapi dalam hati masih bingung dan penonton yang lain pasti sama. Saya yakin itu. Akhirnya waktu diskusi tiba dengan pembukaan kesan dari I Wayan Sumahardika atau biasa dipanggil Suma, tentang pembacaanya kepada teater di Singaraja dan Denpasar. Kebetulan dia sudah lama berkecimpung di dunia teater Denpasar dan Singaraja. Setelah Suma selesai memberikan beberapa pengalamanya melihat teater SMA di Bali khususnya Singaraja dan Denpasar, waktunya dari kedua kelompok teater tersebut memberikan pengalamanya selama proses kreatif mereka.

Ada persamaan dari kedua kelompok ini ketika menceritakan tentang proses kreatif mereka terutama saat proses latihan. Mereka masih agak susah membagi waktunya untuk berproses latihan teater dan kegiatan rutin sekolah. Apalagi dengan jangka waktu latihan mereka yang begitu singkat. Hanya jelang dua minggu sebelum pementasan.

Ada juga yang berbagi kesannya ketika harus mendalami peran sebagai suami atau istri, misalnya. Seperti yang diceritakan salah satu aktor dari Teater Galang Kangin. Mereka agak kesulitan karena memang tubuh mereka belum sampai disana. Tapi kan secara tidak langsung bagi saya ketika mereka bisa membagi waktu dan mendalami tokoh yang mereka perankan, itu membangun kesadaran mereka perlahan tentang rasa tanggung jawab, “assssek”.

Tapi ada juga ketidaksamaan dari kedua kelompok ini dari segi bentuk pementasan, dan tentang pemahaman naskah. Bahkan sepertinya tidak saya saja yang merasakan itu. Disini menariknya ketika ada ruang terbuka untuk mengekspresikan apa yang sebenarnya mereka ingin buat dengan idenya masing-masing. Setidaknya memberikan pandangan berbeda antara kedua kelompok dan penonton tentang teater.

Kalau dari bentuk pementasan sudah jelas terlihat berbeda ketika saya menyaksikan langsung. Tetapi yang belum saya ketahui adalah tentang pemahaman dan proses menghafal naskah. Dari keterangan pembina mereka, disini juga ada ketidaksamaan cara memahami naskah itu sendiri. Kalau dari Teater Angin keterangan dari pembinanya, bahwa si pembina itu sendiri lebih menginginkan kesadaran para aktornya tentang sejarah, secara tidak langsung para aktornya mengetahui sejarah negaranya, dan kalimat yang jarang mereka jumpai di keseharian. Karena dari cerita salah satu aktornya dia harus membuka “google” dulu untuk mengetahui apa arti dari satu kata yang dia tidak ketahui artinya.

Sedangkan pendapat dari pembina Teater Galang Kangin sendiri, bahwa si pembina lebih menginginkan kepada para aktornya untuk mengenalkan teater lebih luas lagi. Sementara kalau soal naskah mereka selalu berdiskusi antara pembina dan aktor tentang alur dan cerita yang dimaksud, agar mereka benar-benar paham tentang naskah dan tokohnya.

Diskusi malam itu berjalan begitu hangat dan menarik. Saya sampai iri kepada anak-anak SMA, apalagi mereka lucu dan yang perempuan saya lihat cantik-cantik “hahahaa”.

Teater Angin SMAN 1 Denpasar

Setelah beberapa lama diskusi dan waktu terus berjalan, tak terasa hari sudah begitu malam. Bagi anak seumuran mereka, diskusi harus disudahi. Karena dari Teater Galang Kangin kebetulan juga harus balik ke Singaraja malam itu juga untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran di sekolahnya. Sebelum diskusi selesai ada sepatah dua patah kata lagi dari Suma, untuk kedua kelompok teater itu khususnya teater sekolah-sekolah di Bali.

Dia menjelaskan bahwa mereka harus terus menggiati teater. Jangan beranggapan teater itu hanya sebuah pementasan di dalam ranah panggung. Buktinya mereka bisa merespon beberapa ruang yang ada di Canasta untuk dijadikan tempat pementasan dengan lampu dan properti seadanya. Dalam artian tidak menuntut kemungkinan untuk mereka berteater di ruang apapun untuk berekspresi.

Karena sebenarnya teater secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk menjadi dirinya sendiri yang mereka inginkan. Ditambahkan pula untuk para pembina, bahwa dalam berteater tidak harus dan tidak hanya memberikan materi tentang teater saja. Namun harus selalu ada pembelajaran lain di dalamnya. Percayalah bahwa teater akan memanusiakan manusia. Begitu kata Suma sebelum mengakhiri diskusi malam itu.

Dan begitupun dengan tulisan ini. Saya akhiri dulu sampai di sini, karena saya rasa pengalaman menonton kali ini sudah selesai. Apalagi saya mulai mengantuk karena harus megadang menulis ini “hehehee”. (T)

 

Tags: denpasarParade Teater CanastaSingarajaTeater
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Next Post

Perahu Kertas dan Kapsul Harapan Anak-anak Donggala – Catatan Baksos Kapal Pemuda Nusantara 2018

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Perahu Kertas dan Kapsul Harapan Anak-anak Donggala – Catatan Baksos Kapal Pemuda Nusantara 2018

Perahu Kertas dan Kapsul Harapan Anak-anak Donggala – Catatan Baksos Kapal Pemuda Nusantara 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co