6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspresionisme

Komang Astiari by Komang Astiari
October 7, 2018
in Cerpen
Ekspresionisme

Lukisan Komang Astiari

Senja di bulan Februari. Di teras tak bernyawa, di bawah langit yang selalu memberi warna jingga, seorang wanita mengadu pilu.  Dia mengadu. Pada langit. Langit tak pernah bosan menjadi pendengar. Di teras bisu dia menghela nafas dengan ragu-ragu. Pelan dan berat. Mata dan pikirannya waspada namun lepas berkelana. Ada satu bintang kala itu, yang nampak bersembul malu-malu. Mata merekapun saling beradu tatap. Oh engkau adalah sejarah, gumamnya.

Wanita itu dipanggil Bie, nama pendek dari Bintang Erlana. Seorang pelukis wanita yang bekerja dengan imajinasi dan kekayaan warna. Warna memberi nyawa bagi karya-karyanya. Dia mencintai warna layaknya dia mencintai Bintang. Bintang adalah sejarah. Cahaya yang berpijar itu menempuh jutaan hari agar indahnya sampai ke bumi. Begitulah dia mencintai perjuangan satu bintang. Tuhan telah menyusun. Tuhan telah merencanakan pertemuannya dengan bintang-bintang itu. Inspirasinya.

Dunia ini tidak buruk, gumamnya. Hanya mata manusia yang memandangnya dengan kacamata luka, hingga yang Nampak hanya sayatan-sayatan, sajak-sajak air mata dan pagi yang lupa bernafas.

Wanita itu tak ingin lupa bernafas, setidaknya pada takdir yang tidak sesuai dengan doa-doanya. Nafas harus senantiasa hadir. Paru-paru adalah rumahnya. Oksigen tak mengenal jeda. Dia akan terus bergerak. Tak peduli bahagia, tak hiraukan kesedihan. Telah lama hilang dalam ingatan Bie, kapan dia memantapkan diri untuk menyematkan raganya pada pertiwi, menyerahkan jalannya pada akasa. Dan kapan dia mulai jatuh cinta pada senja dengan satu bintang.

Bintang lain nampak bermunculan. Langit semakin gelap.

Satu karyanya telah rampung, sebuah lukisan yang akan dipamerkan minggu depan bersama 18 pelukis lain dari Asia. Ini akan menjadi pameran paling bergengsi yang pernah diikutinya. Karyanya haruslah merupakan karya terbaik di antara yang terbaik. Lukisan itu beraliran ekspresionis. Ada guratan wajah, mata, tangan, kaki, membentuk sayatan dengan warna merah darah yang bercecer di lantai-lantainya. Darah ini seolah melayang-layang. Langit menyambut dengan tangan terbuka. Bukankah langit seharusnya berwarna biru? Merah melahirkan makna seolah marah. Bukankah langit selalu ingat tersenyum, bahkan di kala ranum sinar senjanya, dia masih menampakkan keindahan?

***

Dalam lukisan yang dibuat oleh tangan Bie, warna langit seolah neraka. Penuh kobaran api, merah, kuning dan jingga. Menyala ganas, bak darah yang mengalir deras tiada ampun dalam teriakan mencekam. Bie akan mengingat malam-malam temaram di musim yang tak menentu: hujan dan kadang panas. Barangkali alam memahami mood seorang seniman.

Bie beranjak dari teras, ke studio lukis miliknya. Studio yang menyapanya setiap hari dengan suka cita dan kegilaan, memeluk rasa hausnya untuk berkarya. Dengan hati bertanya, dia mengambil lukisan yang berukuran 150X 200 cm itu.

Dahinya mengernyit, mulai menganalisis, lukisan ini nampak artistik. Tapi bukan ini yang aku maksud. Keraguan menggerakkan akal sehatnya. Lagi-lagi dia ingat akan komentar pedas professor  Oda.

Seorang profesor di institute seni tempat dia bernaung dengan seni rupa. Komentar itu telah mendarah daging.

Melukislah dengan cara-cara yang benar, Bie, cobalah untuk fokus. Coba upayakan terus agar kamu tidak mempermalukan lembaga besar ini.Tugasmu berat, jangan sampai dikalahkan oleh pelukis otodidak. Ah, mau dibawa kemana wajah lembaga ini jika itu terjadi.

Begitulah sang profesor terus berkomentar. Berulang-ulang, setiap saat pada setiap pertemuan mereka. Hingga kata-kata yang perih itu terbenam rapi dalam pikiran. Menyelinap menuju kuas-kuas, cat-cat, menuju tiap sudut di studio lukis kecilnya. Semakin lama semakin bernyawa. Memiliki nafas. Membentuk makhluk mirip manusia. Tanpa mulut. Makhluk ini memiliki dua mata yang tidak hanya bisa melihat namun juga bicara. Kedua matanya mampu menyampaikan pesan secara diam-diam, dengan caranya sendiri.

Di luar nalar Bie, makhluk ini membisikkan sebuah teknik melukis. Sebuah cara. Aturan. Bie tidak menyukai aturan, tentu saja semua seniman tidak menyukainya. Bagi Bie, itu adalah sebuah kesesatan. Menjejalkan teori sama saja dengan melemparkan bom. Itu akan dengan mudah menghancurkan moodnya untuk berkarya secara bebas. Lagipula teknik-teknik itu sudah dikuasainya jauh sebelum makhluk aneh itu lahir. Melukis menggunakan rasa dan intuisi. Dua hal yang selalu menjadi nomor satu dalam proses penciptaan sebuah karya lukis yang indah.

Namun makhluk ini sungguh makhluk yang tidak tahu diri. Dengan seenaknya dia menggerakkan jemari Bie. Menggerakkan cat-cat yang berbaris rapi seolah menunggu gilirannya.

“Setelah merah, gunakan putih, lalu biru dan jadikan ungu , gradasi yang indah akan menciptakan lukisan yang indah pula.” Bie menuruti semua instruksi itu tanpa sadar. Begitu teratur, sangat terstruktur. Menjadi candu. Menghipnotisnya hingga Bie tertidur pulas. Saat pagi tiba, Bie akan terbangun dengan geram. Lukisannya berubah warna, bentuk dan komposisi. Ah, lagi-lagi makhluk itu.

Pameran akan berlangsung 5 hari lagi. Lukisan Bie belum benar-benar rampung. Inspirasinya hilang. Lenyap bersama gelap. Kreativitas yang dulu diagung-agungkan,kini berpaling muka, memusuhinya. Kreativitas dan inspirasi itu tengah bersembunyi, malu – malu dan mungkin akan seterusnya demikian. Di siang hari dia mengalihkan penat dengan menghubungi beberapa teman seniman. Berharap memberikannya pencerahan. Barangkali pertemuan-pertemuan mampu menggugah inspirasi itu untuk datang kembali. Namun nihil. Kali ini sang inspirasi takut untuk menampakkan batang hidungnya. Makhluk tanpa mulut yang datang tiap malam, makhluk tak bermulut yang memiliki banyak  teori itu tengah memenjarakan inspirasi milik Bie menuju penjara terburuk yang menyedihkan.

“Ajang ini terlalu bergengsi jika kamu menampilkan lukisan seadanya. Ciptakanlah mahakarya” ujar Prof. Oda. “Lukisan yang kamu perlihatkan itu masih belum sempurna, Bie.”

Bie mulai merasa rendah diri. Selama ini dia meyakini para kolektor mencintai lukisan-lukisannya sebagaimana dirinya mencintai karya-karyanya. Namun langit tengah tak bersahabat. Langit mengirimkan Prof.Oda ke dalam ruang kebebasan yang telah dibangunnya bertahun-tahun. Memolesnya dengan kritikan-kritikan pedas. Kritikan itu menyusup ke dalam nadinya, menuju jantung, tersebar ke seluruh tubuh, pikiran. Memasung pikiran liar yang menjadi senjatanya berkarya lalu membiarkan kreativitasnya pelan tapi pasti melangkah menuju kematian yang absolut. Setiap malam, makhluk tanpa mulut ciptaan Prof. Oda akan datang lagi, seenaknya mengubah estetika pada lukisannya.

Pada sebuah malam yang bergerimis, seorang tetangga menghampirinya. Diantara semua tetangga, hanya ibu ini yang paling banyak bertanya tentang dirinya. Seperti biasa dia akan melontarkan pertanyaannya tanpa rasa bersalah.

“Habis dari mana. Bie?” Tanya ibu setengah baya yang sering dipanggil Bu Sri oleh tetangga yang lain. apa urusannya, kenapa dia bertanya.

“Hanya mencari angin segar”, jawab Bie seadanya.

“ Hati-hati,Nak. Penjegal ada dimana-mana. Jangan sering pergi sendirian”

Bie sesungguhnya menghormati perhatian Bu Sri, tapi jika pertanyaan itu terus – menerus dilontarkan, lama-lama dia menjadi muak.

“ Oh ya, Bu? Saya sih hobi keluar malam-malam. Saya takut sama matahari,Bu”,  Bie menjawab dengan santai sambil membuka pintu. Dari balik kamar Bie bisa mendengar Bu Sri bercerita. Tentang apa, dia tidak terlalu hirau. Bie sibuk membuka sebuah bungkusan. Bungkusan itu penuh dengan alat-alat melukis. Malam ini Bie akan melanjutkan lukisannya.

Aku tidak boleh tidur, makhluk itu akan datang lagi dan lagi ketika aku tengah tertidur pulas, gumamnya. Suara Bu Sri masih terdengar, mengoceh tak tentu arah. Tapi Bie terlalu asyik dengan imajiasinya sendiri.

“… mereka masih menjadi buronan”, Bu Sri belum selesai bercerita, Bie memotong pembicaraannya. Topik yang tidak penting. Ibu ini korban infotainment. Kerjanya menggosip, keluh Bie. Dan aku tidak pernah tertarik dengan obrolan ibu-ibu. Dengan gosip yang tak penting.

Mulai malam itu, Bie berjanji untuk tidak tidur hingga hari-H. Menyeruput bercangkir-cangkir kopi panas adalah cara terbaik. Jika matanya terpejam, makhluk itu tentu akan dikirim lagi oleh langit ,mengobrak-abrik sisi kebebasannya. Merusak kreativitasnya. Merusak lukisannya. Berhari-hari  Bie mencoba untuk tetap terjaga. Ruangannya bau kopi, cangkir-cangkir itu penuh ampas kopi yang mengering. Studionya tidak rapi lagi. Dia hanya ingin fokus mencari sang inspirasi, sang taksu yang dulu hidup pada tiap karyanya.

Berhari-hari sebelum pameran berlangsung, Bie terjaga untuk menjadikan lukisannya menjadi seperti apa yang diinginkan oleh kata hatinya. Lukisan ini akan menjadi yang terbaik dan membanggakan institusinya. Bie terus bekerja. Kuas menari-nari dengan lihai dan lincah. Iramanya berdendang mesra. Cat-cat beradu membentuk warna-warni indah yang harmonis, saling menggoda, saling memuji, saling melengkapi, lalu saling jatuh hati: memberi warna tercantik yang pernah ada. Satu langkah lagi akan rampung, pikirnya.

Di siang hari Bie akan keluar untuk membeli makan. Seperti biasa bu Sri akan menyapa dengan ramah. Beberapa  teman kerap menghubunginya. Daryanto, salah satu pelukis yang sedang naik daun itu meneleponnya pada suatu pagi.

“Katakan bahwa lukisanmu sudah siap,Bie. Aku tidak sabar melihat mahakarya itu”, ucapnya dengan nada yang dibesar-besarkan.

Mahakarya? “Tentu saja. Sedikit lagi”

“Bolehlah aku bertandang ke studiomu, Bie? Kau tampak sangat fokus sehingga lupa memberi kabar pada kawan-kawanmu. Kemana saja gerangan kekasihku ini tiga hari belakangan ini?”

“Mencari udara segar” Jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama. Kenapa semua orang sangat ingin tahu apa yang aku lakukan?Kekasih? Ngaco!

“Kau terlalu mendengarkan nasihat Prof.Oda”, ucap Daryanto.

“Tidak juga”, jawab Bie singkat, tak sabar mengakhiri basa-basi ini.

“ Kabarnya….”

Tanpa ragu Bie menutup telepon. Mematikan deringnya. Mendengar nama Prof.Oda menjadi hal yang menusuk hati.

***

Tiba saatnya lukisan ini harus dikirim. Panitia telah menghubunginya bahwa hari ini akan dilakukan setting lukisan di ruang pameran. Dengan bangga Bie membawa lukisan itu, meski langkahnya lemah, kepalanya berat dan detak jantungnya tak karuan. Berhari-hari tanpa tidur adalah hal yang berat.

Hatinya berbisik pada dirinya sendiri, namun sebentar lagi, setelah pameran itu dibuka dan saat langit sedang berbaik hati, lukisanmu akan diterima, langit akan memayungimu dengan doa, lalu kamu akan menjadi yang terbaik. Prof. Oda akan merasa malu telah mengkritikmu dengan tajam.

Tiba di ruang pameran, dia bertemu 18 seniman lain dari 18 negara di Asia. Masing – masing pelukis membawa hasil karya terbaiknya. Mereka Nampak tersenyum lebar. Mata – matanya masih segar, wajah yang memancar cerah dan bahagia. Diskusi hangat mengalir di antara mereka, tawa melukis tiap sudut ruang pameran. Terasa hangat. Ada cinta, penerimaan., ungkapan kebersyukuran. Melihat pemandangan itu, Bie terpukul. Selama ini dia tertidur meski matanya tak terpejam. Dia tertidur dan membiarkan keraguan mendarah daging dalam dirinya.

Dimanakah Prof Oda saat ini? Bukankah dia berjanji akan datang? Bie mengecek handphone, mencari nama itu. Whatsappnya aktif lima hari yang lalu. Bie agak sedikit panik, keringat dingin jatuh pelan-pelan seperti irama biola yang teratur. Menghanyutkan.

Prof Oda menjadi orang yang paling bertanggungjawab dengan karyaku kali ini, dengan nama  baikku, nama baik institusi yang aku wakili kali ini. Dia kini melenyapkan raganya. Tak terlihat. Setting akan dimulai namun prof. Oda masih belum muncul ke ruang pameran.

Panitia membuka satu persatu lukisan dari bungkusya. Ketika mereka membuka lukisan milik Bie, semua orang yang hadir di ruangan itu melotot, lalu berteriak histeris seolah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Apakah itu mahakarya yang hendak Bie tampilkan ataukah sebuah sensasi di dunia seni rupa yang akan memberi warna berbeda? Salah seorang panitia sontak menelepon polisi.

Panitia yang lain menyambar tubuh Bie lalu melarikannya ke sebuah ruangan. Bie nampak pasrah ketika dia digiring ke dalam sebuah ruangan dan dikunci rapat-rapat. Seniman lain mendekat, ketakutan memandang karya seorang pelukis bernama Bintang Erlana. Irisan wajah seorang manusia menempel di kanvas. Itu adalah kulit wajah, mata, hidung, alis dan mulut milik Prof. Oda, diikuti lekukan badan bergaya ekspresionisme, menjadikan lukisan itu berbeda.

Institusi seni itu memang tengah dihebohkan dengan berita menghilangnya Prof.Oda. Jejaknya sulit dicari. Ketika polisi mengkonfirmasi Bie ke studio lukisnya, studio itu selalu tak berpenghuni.  Bie telah menyewa satu ruangan di sebuah kamar kos yang jauh dari rumahnya, sehingga tidak ada orang yang bisa menghubunginya. Bie telah merencanakan segalanya. Dengan rapi.

Langit senja merah menyala, Bie masih terkunci di dalam kamar yang kecil dan pengap itu sebelum polisi datang dan menangkap badan mungilnya. Dia terkekeh pelan, berbisik :

Satu karyaku telah rampung, sebuah lukisan indah. Ada wajah, ada mata, ada tangan, ada kaki, ada sayatan dan darah yang bercecer di lantai-lantainya. Darah itu terbang ke langit, hingga langit berwarna merah pekat nyaris gelap. Karyaku akan menjadi yang terbaik dan eksentrik. Lalu sejarah seni rupa akan mengingat dan menyebut-nyebut namaku, seumur hidup.

Tags: Cerpen
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Next Post

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co