1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kulkul Kala Bhuta, Harmonisasi Tenaga & Waktu – Catatan “Metulung Ngae Ben Banten”

Gde Nyana Kesuma by Gde Nyana Kesuma
February 14, 2018
in Esai
Kulkul Kala Bhuta, Harmonisasi Tenaga & Waktu – Catatan “Metulung Ngae Ben Banten”

Tetimpug. /Foto: Dede Nyana

PERNAH metulung ngae ben banten? Kalau diterjermahkan secara bebas pertanyaan ini ke Bahasa Indonesia mungkin jadi begini: Pernah membantu orang membuat daging banten (sarana upacara)?

Jawabannya: saya sering. Kalian? Jawab sendiri.

Membuat ben banten dalam sebuah upacara di pura atau di rumah seorang krama adat, kadang dianggap sebagai pekerjaan orang tua, sehingga anak-anak muda sering hanya menonton. Padahal sambil menonton bisa juga membantu. Awalnya bisa membantu kecil-kecilan, misalnya mengambil, mengiris, atau memasang. Lama-lama, bisa bikin sendiri. Bukankah suatu saat anak muda akan menjadi anak tua?

Metulung ngae ben banten bisa belajar banyak hal. Misalnya saat ada upacara mecaru, saya bisa belajar tentang harmonisasi, atau keseimbangan.

Bali terkenal dengan tradisi dan budaya yang sangat kental dengan kekuatan adat istiadat dan spiritual yang tinggi. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaan, yaitu dengan adanya kepercayaan tentang istilah Rwa Bineda yang sering ditentukan oleh Desa Kala Patra.

Desa Kala Patra memiliki pemahaman yang sering ditentukan oleh faktor ruang, waktu, dan kondisi riil di lapangan. Konsep tersebut menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif akan adanya menerima pengaruh kebudayaan luar.

Kebudayaan Bali sangat menjunjung tinggi keseimbangan dan harmonisasi dalam kehidupan. Hal tersebut tercerminkan melalui ajaran Tri Hita Karana, yang menyatakan tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Tri Hita Karana menjelaskan  hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan sesama manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan).

Untuk menjaga keseimbangan dan harmonisasi dalam kehidupan, masyarakat Bali percaya dengan mengadakan upacara bhuta yadnya yang disebut dengan caru. Caru merupakan upacara agama Hindu yang dipersembahkan kepada bhuta, lebih tinggi dari banten saiban, jotan dan yadnya sesa serta segehan.

Caru berarti baik, dan serasi. Sehingga caru merupakan upacara  yang bisa menyerasikan bhuana agung dan bhuana alit agar mencapai kesejahteraan.  Caru merupakan bagian dari upacara bhuta yadnya. Bhuta berarti kegelapan, membuat perasaan yang tidak baik, yang menggangu ketentraman hidup manusia.

Upacara caru memiliki beberapa makna dan fungsi . Upacara caru sebagai sarana untuk menetralisir kekuatan-kekuatan alam yang bersifat buruk yang dapat menghilangkan keseimbangan hidup antara manusia dengan alam disekitarnya sehungga muncul di muka bumi bermacam-macam kejadian yang dapat menyengsarakan kehidupan manusia.

Upacara caru sebagai sarana penyucian Tri Bhuana ini sehingga proses ekosistem alam ini dapat lestari, seimbang dan berkesinambungan.

Dalam upacara caru ada beberapa sarana dan prasara yang digunakan, antara lain: banten suci, banten caru, ayam (layang-layang), sanggah cucuk, sengkui, sampat, tulud, lis, sibuh pepek, payuk pere dan tetimpug. Sarana dan prasana upacara caru berbeda-beda menurut tingkatan dan  desa mawacara atau dresta yang dimiliki desa pakraman masing-masing.

Hal-hal semacam itulah yang bisa dipelajari saat membantu orang dalam sebuah upacara mecaru. Mungkin agak serius. Mungkin menyisakan pertanyaan. Mungkin menimbulkan diskusi lanjutan. Tapi begitulah selalu saat kita belajar.

Tetimpug

Ada yang menarik perhatian dalam sarana dan prasarana upacara caru dan sering terlepas dari perhatian masyarakat Bali ada umumnya. Jika ditanyakan tetimpug pasti banyak yang menjawab tahu akan tetapi kurang tahu maknanya.

Dalam kehidupan sehari-hari apabila ada upacara mecaru saya sering mengikuti persiapan dari rangkaian upacara tersebut. Sering disebut dengan matulung ngae ben banten,  dalam hal itu banyak hal yang dapat dipelajari secara adat istiadat.

Akan tetapi seperti pernyataan terkait dengan tetimpug sering kali saya penasaran akan arti dan makna dari satu sarana tersebut. Rasa penasaran tersebut saya pertanyakan kepada beberapa penglingsir dalam keluarga saya namun tak mendapatkan jawaban pasti pada saat merangkai bersama sarana dan prasarana caru tersebut.

Diskusi terkait dengan hal itu pun mengerucut dengan Ibu dan Bapak saya yang notabena menjadi pengayah pemangku yang sering menyusun hingga menjalankan upacara mecaru tersebut. Menariknya persepsi mereka tidak sama dengan saya,  akan tetapi informasi yang diberikan memberikan pemahaman yang baru bagi saya. Tetimpug merupakan sarana untuk mengundang kekuatan untuk melaksanakan sebuah upacara yadnya.

Menurut Ida Bagus Suragatana ketua paguyuban pemangku Desa Kelusa, Payangan, Gianyar menyatakan  tetimpug merupakan kulkul bhuta kala.  Tetimpug  terbuat dari satu ruas bambu yang nantinya akan dipanaskan menggunakan daun kelapa yang sudah tua yang dibakar, hingga menghasilkan sebuah letupan.

Tetimpug ada beberapa ada tiga atau lima buah. Sesuai dengan tingkatan. Upacara caru yang menggunakan tiga buah tetimpug digunakan dalam upacara caru yang biasa dan melambangkan Tri Kona, yaitu utpeti, stiti, dan pralina. Jika yang menggunakan lima buah tetimpug upacara caru tersebut sudah berada dalam tingkatan yang lebih besar, seperti karya agung. Hal tersebut melambangkan  Panca Maha Bhuta, yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.

Persepsi tersebut memberikan pemahaman bahwa tetimpug memiliki makna yang sangat mendalam dalam sebuah upacara yadnya, karena tetimpug merupakan sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. Jika tetimpug tidak bersuara maka kala itu tidak datang, begitu juga sebaliknya jika bersuara kala itu datang dan merasa terpanggil.  (T)

Tags: balihinduupacara
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Angga Wijaya# Sanur, Serenade, Sanghyang Ambu

Next Post

Mbloooo, Hari ini Valentine, Mblooo, Mari Ngisi TTS atau Berdoa agar Hujan

Gde Nyana Kesuma

Gde Nyana Kesuma

Lahir di Denpasar 19 Maret 1994. Tinggal di Banjar Yehtengah, Kelusa, Payangan, Gianyar. Lulusan Undiksha jurusan Pendidikan Bahasa Bali ini punya hobi main voli, namun kini merasa senang belajar menulis.

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Mbloooo, Hari ini Valentine, Mblooo, Mari Ngisi TTS atau Berdoa agar Hujan

Mbloooo, Hari ini Valentine, Mblooo, Mari Ngisi TTS atau Berdoa agar Hujan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co