12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Bukan Bui – Sebuah Ingatan pada IGK Tribana

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

IBK Tribana bersama murid-muridnya. /Foto diambil di akun FB IBK Tribana

 

SEBELUMNYA harap maklum, kata ganti “dia” akan kugunakan di tulisan ini. Tidak masalah kalau aku terkesan tidak sopan, yang jelas sampai saat ini aku masih menyapanya dengan sebutan Bapak Guru. “Dia” kugunakan agar tulisan ini lebih enak kuketik.

IGK Tribana. Dia guru yang lahir pada era baby boomer, mengajar aku yang lahir di era Y. Dia guru yang cara mengajarnya melampaui generasinya. Dia mengajar seperti dia sudah paham bahwa dia sedang mengajar lintas generasi. Lahir di generasi yang serba harus manut, mengajar siswa, seperti aku, yang justru ingin bebas.

Setidaknya, itu terlihat dari kesenangannya didebat oleh siswanya. Tepatnya, meminta siswa mendebatnya saat dia menerangkan, pun ketika sedang membahas soal-soal mata pelajaran. Dia aneh, di saat banyak guru sejawatnya menganggap bahwa mengangguk menandai siswa paham, dia justru melihat bahwa menggelenglah tanda bahwa mereka mengerti. Tanda siswa berpikir.

Setidaknya ada dua alasan yang membuatnya begitu. Pertama, karena dia mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, yang memang soal-soalnya banyak multi-tafsir. Menimbulkan perdebatan. Kedua, karena memang karakternya yang suka berdebat, atau mungkin diskusi. Karena berdebat konotasinya mungkin lebih negatif.

Mengapa guru didebat atau mendebat guru menjadi penting? Karena pada dasarnya pendidikan itu proses memerdekakan pikiran. Oleh karena pikiran itu abstrak, maka cerminan kemerdekaannya baru dapat dilihat ketika bentuknya telah diubah menjadi hal yang lebih riil, wacana. Jadi, simpulan awalnya yaitu siswa yang pikirannya merdeka adalah mereka yang bebas bicara di kelas, termasuk mendebat guru, kalau keduanya tidak satu pandang terhadap satu hal.

Mungkin ini yang membuat Joyce & Weil, dua orang ahli pembelajaran, dalam bukunya yang berjudul Models of Teaching mengatakan bahwa ruang kelas adalah ruang kebebasan berekspresi dan miniatur demokrasi.

Banyak guru yang masih alergi berbedebat dengan siswa. Atau tepatnya tidak ingin didebat siswanya. Itu kemudian memunculkan dua hal. Satu, karakter guru yang ego. Dua, karakter siswa yang pasif dan penakut.

Karakter guru ego justru bertentangan dengan esensi pendidikan. Dia akan mengekang pikiran siswa bukan hanya dengan batas dinding kelas. Namun justru lebih sempit, akan mengekang pikiran siswa sejalan dengan pikirannya yang hanya dibatasi sendi mati tengkorak manusia. Ego itu juga mengekang kodrat pikiran.

Immanuel Kant mengatakan bahwa pikiran itu organ paling “liar” dalam diri manusia. Pengekangan berlebih terhadap sesuatu yang “liar” justru bukan akan berdampak baik. Atau mungkin hanya akan sekadar menjadi seolah-olah baik. Sementara.

Mari beranalogi. Singa liar dibawa ke pertunjukan sirkus memang sangat menghibur. Tapi, kepergian mereka dari habitat aslinya justru mengganggu keseimbangan hukum alam. Rantai makanan. Mengamankan hal kecil, merelakan hal yang lebih besar terganggu.

Hal serupa terjadi pada siswa, saat pembelajaran di kelas kegiatan memang aman, berjalan sesuai rencana guru, karena tidak ada siswa yang (berani) “membantah” guru. Tapi, selanjutnya, setelah ke luar kelas, mereka tidak akan mendapatkan apapun. Pikirannya masuk bui, dengan jeruji lingkar tengkorak sang guru.

Siswa yang pikirannya dibui, jelas tidak akan tahu apapun melebihi gurunya. Akan menjadi siswa yang pasif, penakut, dan tidak kritis. Parahnya lagi, mudah dibohongi. Dibohongi “tiang listrik”, “Toyota Fortuner yang menabrak tiang listrik”, bahkan “bakpao”. Kalau siswa pikirannya dibui, bukan tidak mungkin akan ada “tiang listrik” lain yang menjadi korban selanjutnya.

Pikiran yang dibui, mungkin juga membuat siswa mudah dibohongi oleh bansos. Akan senyum sumbringah menyambut pejabat yang datang membawa bantuan ke daerahnya. Menyambutnya dengan kalungan bunga Tagetes erecta, juga gamelan baleganjur.

Prihal macet berangkat kerja, banjir di mana-mana, birokrat korup, susah ngurus KK, izin usaha, dan lain lain lain lain, ya biar saja. Peduli apa, yang penting kan dibantu uang. Dapat bansos, pejabat senang, rakyat gembira, apalagi di masa-masa politik seperti sekarang. Sungguh contoh mutualisme yang baik.

Tapi, tentu, itu bukan keinginan pendidikan. Pendidikan melalui sekolah ingin mendidik anak bangsa yang siap membangun bangsanya. Sekolah penting untuk menciptakan manusia kritis, yang tidak mudah dikelabui. Yang berani mengatakan TIDAK ketika melihat sesuatu yang keliru, bahkan salah. Yang tidak manut begitu saja tentang kebijakan yang dibuat pemerintahnya. Yang siap bersaing dengan bangsa lain.

Dan, tentu siap berteriak lantang dan berjuang ketika bangsanya diganggu. Apakah itu bisa dilakukan oleh produk sekolah yang pasif, penakut, dan tidak kritis? Tentu Tidak. Mungkin ini benang merah antara pendidikan dan kemajuan bangsa.

Ini otokritik untuk profesi guru. Termasuk aku. Guru harus sadar bahwa kita bukan lagi menjadi sumber ilmu bagi para siswa. Ilmu saat ini sudah ada di ujung jari mereka. Guru sekarang adalah teman belajar, yang hadir di depan kelas, mendampingi dan membimbing siswa, untuk sebuah pembebasan, bukan pengekangan pikiran.

Sehingga, kelas bukan hanya tempat untuk membahas konten materi. Tapi, sekali lagi, menjadi tempat untuk memerdekakan pikiran melalui diskusi, tidak masalah juga kalau melalui perdebatan, tentu yang sehat.

Guru, sekarang, tidak perlu takut atau malu mengaku salah atau disebut salah oleh siswanya. Mengakui kesalahan tentu jauh lebih bijak daripada mencari pembenaran, apalagi melakukannya dengan jalan pengekangan. Karena, pada dasarnya guru itu bukan lebih tahu daripada siswanya, guru hanya tahu lebih dulu. Jadi, tidak ada alasan yang cukup logis bagi guru untuk mengekang pikiran siswa, menganggap diri selalu dan pasti benar. IGK Tribana tidak begitu.

Satu poin penting, agar ini tidak menjadi salah paham, bahwa yang menjadi otokritik adalah peran guru sebagai pengajar. Di sisi lain, sebagai pendidik, tentunya merupakan kewajiban bagi guru untuk menanamkan atau menyontohkan nilai, norma, dan etika. Prihal nanti dalam pelaksanaannya ada siswa yang dirasa melebihi batas dalam mendebat atau menyampaikan perbedaan pandangannya dengan guru, guru wajib menegur atau bahkan memberi sanksi padanya.

Susah memang menjadi guru, untuk itu, mereka tidak layak dipandang rendah, direndahkan, dan diberikan upah rendah. (T)

Tags: guruPendidikansekolah
Share85TweetSendShareSend
Previous Post

Lulus Tepat Waktu atau Lulus pada Waktunya?

Next Post

Generasi Pelurus Bangsa

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Generasi Pelurus Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co