6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Empat Puisi Air Zulkifli Songyanan

Ra’idah Azyyati by Ra’idah Azyyati
February 2, 2018
in Ulasan

MEMBACA puisi-puisi karya Kang Zul—begitu saya biasa menyebutnya, saya menjadi teringat masa kanan-kanak hingga awal remaja dahulu. Dalam LKS maupun buku paket Bahasa Indonesia, biasanya akan ditampilkan puisi-puisi karya penyair besar Indonesia seperti “Aku” karya Chairil Anwar, “Karangan Bunga” karya Taufiq Ismail, atau “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono.

Ibu guru akan meminta saya menerjemahkan puisi tersebut ke dalam makna dan amanat, dan biasanya saya akan merasa memasuki satu ruangan gelap, yang adalah bagian dari rumah besar dengan pintu-pintu yang terkunci, dan saya diminta untuk menyebutkan posisi benda-benda, serta menjelaskan kegunaannya. Saya tidak bisa melakukannya, tidak pula saya bisa pergi ke bagian ruangan lain. Tidak mengherankan sebab puisi-puisi memiliki makna yang berlapis, dan saya belum mengetahui latar belakang para penyair serta kaitannya dengan puisi-puisinya.

Setelah membaca puisi-puisi dalam kumpulan puisi “Kartu Pos dari Banda Neira” (2017), saya seperti memasuki ruangan yang memiliki pencahayaan yang cukup sehingga dapat mengamati sekitar saya dengan mudah, serta menggenggam kunci untuk membuka pintu-pintu ruangan lain.

Puisi-puisi Kang Zul dalam “Kartu Pos dari Banda Neira” ini cukup ramah nalar. Maksudnya, makna-makna dalam puisinya cukup mudah ditangkap sebab tidak ada kegelapan yang melingkupinya. Diksi-diksinya dekat dengan percakapan-percakapan biasa, dan permainan katanya tidak berbelit-belit. Seandainya LKS dan buku paket saya memuat puisi-puisi Kang Zul, mungkin saya akan lebih meminati puisi lebih dari saat ini.

“Kartu Pos dari Banda Neira” dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ‘Bagian Pertama : Masalah Personal, ‘Bagian Kedua : La Poésia Séentiméentalé, dan terakhir adalah bagian yang ditarik menjadi judul buku kumpulan puisi ini, ‘Bagian Tiga : Kartu Pos dari Banda Neira. Sebab keterbatasan ruang dan waktu, saya hanya akan membahas empat puisi dari ‘Bagian Pertama : Masalah Personal, yaitu “Akuarium (1), “Akuarium (2), “Sonet Laut Buat Bapak, dan “Hujan Dinihari.

Keempat puisi tersebut memiliki bau yang sama, yaitu citraan air yang kuat. Dalam puisi “Akuarium (1), yang adalah puisi pertama yang ditampilkan dalam buku, terdapat tiga bagian puisi. Bagian I mendeskripsikan sebuah akuarium dengan cukup detail sampai-sampai benak saya mampu membayangkan bentuk akuarium yang dimaksud penyair.

1/
Tujuh ikan koki
berenang
ke sana ke sini.

Ratusan batu kali, alas jagad ini
berserakan
warna-warni.

Tiga tebing karang—sebut saja demikian
tenang
menantang gelombang deburan.

Satu set selang air, dengung sirkulator
siklus hidup
pendek dan monoton
… (Songyanan, 2017, hlm. 1)

Pada bagian kedua, muncul pertanyaan dari aku lirik yang mungkin sedang mengamati ikan, dan penasaran pada kehidupan ikan yang hanya mondar-mandir mengarungi akuarium sembari mangap-mangap.

2/
Ikan, ikan! Bagaimana kau tidur?
Pernhakah bermimpi?
Atau setidaknya, merasa kehausan?
Mengapa tak dapat kaubedakan
pakan yang kuberi, dengan kotoran
keluar dari pantatmu sendiri?
Apa nama dunia yang kini kautinggali?
Berapa lapis langitnya?
Siapa tuannya?
Adakah di antara kalian punya peran
misal, sebagai guru sejarah atau biologi?
Ikan, ikan! Lekas ajari kami
cara terbaik merenangi
keruhnya hidup ini.
… (Songyanan, 2017, hlm 1-2)

Sementara dalam bagian ketiga, aku lirik mengaitkan serta membandingkan ‘kehidupan ikan’ dengan ‘kehidupan manusia’. Baginya, dunia yang dihuni ikan jauh lebih menyenangkan, tenang, nyaman, santai daripada kehidupan manusia yang penuh masalah, amarah, kesedihan dan kekecewaan.

Untuk puisi kedua, yang merupakan sekuel dari puisi “Akuarium, penyair mempersembahkannya kepada Narcissus. Dalam mitos Yunani, Narcissus, yang menjadi akar kata ‘narsis’, adalah seorang laki-laki sangat tampan yang dikutuk oleh Dewa Nemessis untuk jatuh pada bayangannya sendiri yang terpantul pada permukaan air danau. Narcissus yang sangat ingin memeluk pantulan wajah tersebut lantas terjun ke danau, dan tidak pernah lagi muncul ke permukaan.

Akuarium (2)
—Narcissus

Apakah takdir
bagi seorang lelaki yang—
sejak melihat tujuh ikan koki
berenang ke sana ke sini—
kerap dihinggapi
perasaan asing
akan nasib
dan parasnya sendiri. (Songyanan, 2017, hlm. 3)

Meskipun puisi “Akuarium 2” ini pendek, tetapi muatannya lebih padat. Eksistensialisme terasa pekat dalam 8 bait puisi ini. Bagaimana aku lirik mempertanyakan nasib, dan keasingan yang ia temukan dalam dirinya sendiri. Aku lirik mempertanyakan siapakah dirinya, dan apakah mencari jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan takdir yang harus dijalaninya.

Puisi selanjutnya adalah “Sonet Laut Buat Bapak” yang kental dengan nuansa kematian. Secara garis besar, makna puisi “Sonet Laut Buat Bapak” adalah ketakutan manusia mengenai kapankah maut akan menjemput. Pada alinea pertama, aku lirik memadankan ombak dengan segerombolan manusia suci yang mencari hakikat maut, sementara pada alinea kedua, aku lirik menyerupakan perahu dengan keranda yang menunggu penumpangnya. Pada alinea ketiga, aku lirik menyintesiskan kedua persamaan tersebut dengan mempertanyakan apakah manusia mampu melawan kematian, atau justru akan kalah oleh kematian. Di alinea terakhir terdapat semacam saran untuk meredakan kecemasan dalam alinea tiga, yaitu dengan belajar memahami dan menerima kematian.

Puisi bercitraan air terakhir yang terdapat dalam bagian pertama ini adalah puisi berjudul “Hujan Dinihari”. Aku lirik yang menjadi narator puisi adalah hujan yang turun, dan dia menjelaskan kondisi bumi, puisi, serta penyair dalam menyambut kedatangannya. Satu hal yang cukup menarik perhatian dalam puisi ini adalah pemilihan kata tidak baku yaitu ‘”ngalir” di paragraf kedua, dan ‘”ngerti”’ di paragraf keempat, yang memberi efek mengganggu pada pembaca.

Penggunaan dua diksi yang mengganggu tersebut, yang tentu saja dilakukan di bawah kesadaran penuh, mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa tidak semua orang senang dengan turunnya hujan. Ada beberapa orang yang terganggu oleh kedatangan hujan, dan ada beberapa bagian hujan yang mengganggu alias tidak selalu romantis, puitis dan menenangkan.

…
Di deras kucur air
kubiarkan
tangan-tangan gaib
ikut ngalir
agar rekah
bunga-bunga
juga timpas
asap duka
pikiran manusia.

…
Bahkan nanti
saat riuh tubuh dinihariku
tak ada lagi
sejatinya penyair
ngerti
di bumi yang tandus
pagi
tiap orang
hanya tengadah
menanti
baris-baris ajaib
sebuah puisi. (Songyanan, 2017, hlm. 13-14)

Demikianlah pembacaan saya terhadap empat puisi dengan citraan air yang kuat karya Zulkifli Songyanan dalam buku kumpulan puisi “Kartu Pos dari Banda Neira”. (T)

Catatan: Tulisan ini pertama kali disiarkan pada diskusi bulanan mahasiswa FIB Universitas Indonesia, “Di Luar Kantin Sastra #4”, Kamis 9 Maret 2017.

Tags: PenyairPuisiresensi
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan-catatan Rabindranath Tagore tentang Bali

Next Post

Metamorfosis Kanak-Kanak – Bukan Lelucon I Belog yang Bodoh

Ra’idah Azyyati

Ra’idah Azyyati

Mahasiswi pascasarjana, Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Metamorfosis Kanak-Kanak - Bukan Lelucon I Belog yang Bodoh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co