23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengungsi ke Wanagiri & Mahapralaya Jawa

Anonim by Anonim
February 2, 2018
in Esai

ADA hutan dan pegunungan yang demikian penting dalam perjalanan Airlangga, yaitu pegunungan Wanagiri.

Berawal dari sebuah “pralaya”, lalu menggungsi ke Wanagiri, dan dari sanalah ia memulai perjalanan batinnya, melihat dari atas, menyusun lapis-demi-lapis yang tersisa, dan mempersatukan Jawa.

”Pralaya” atau ”mahapralaya” artinya zaman kekacauan / kiamat / mala petaka / porakporanda / kehancuran besar / kematian / gambaran amarah dari para dewa.

Pralaya Medang atau Mataram Kuno dalam Prasasti Pucangan (Calcuta) yang dikeluarkan Erlangga pada 1041M berbunyi :

“ri kālaning pralāya ring yawadwipa i rikāng sakakāla (Tahun tidak terbaca dengan jelas) 928 / 938 / 939 saka ri prahara haji wurawari masö mijil sangke lwaram ekarnawa rūpanikāng sayawadwipa rikāng kāla”

Prof. H. Kern mengartikan kurang lebih sebagai berikut:

“ketika terjadi pralaya di Pulau Jawa pada tahun 928 / 938 / 939 saka dari prahara Haji Wurawari, ketika ia keluar dari Lwaram, seperti hamparan lautan keadaan seluruh Pulau Jawa pada saat itu – rata”

3 versi tahun peristiwa Mahapralaya : 928 +78 : 1006 M (Kern, 1913) 938 +78 : 1016 M (Boechari, 1976) 939 +78 : 1017 M (Sedyawati, 2006). Tahun Suryasengkala “Locana agni vadane” berarti tahun 1010 M. Sedangkan jika membacanya “Sasalancana abdi vadane” maka berarti 1016 M.

Pralaya Kerajaan Mataram adalah Peristiwa serangan haji Wurawari dari Lwaram ke istana Medang di Wwatan. Peristiwa ditafsirkan terjadi tahun 1016 M era Raja Darmawangsa (991-1016 M) saat berlangsung pesta penikahan Pangeran Airlangga (16 tahun) dengan Dewi Laksmi, putri sulung Dharmawangsa. Di tengah keramaian, tiba-tiba istana diserang dan dibakar Wurawari, Serangan ini menyebabkan Medang mengalami kehancuran dan gugurnya Dharmawangsa beserta para petinggi kerajaan.

Inskripsi di Prasasti Kalkuta menggunakan kata Sanskerta “Arnawa” atau “Ekarnawa” kata ini menggambarkan adanya peran lain berupa bencana alam.

Beberapa tafsir “Arnawa” atau “Ekarnawa”

– Banjir besar

– Air laut yang menggenang

– Seperti lautan susu (Prof. C.C. Berg, epigraf dan sejarahwan)

– Lautan susu ini diaduk atau dikocok oleh para dewa (Mitologi Hindu)

– Berasosiasi buih laut yang berwarna putih

– Berdasarkan kalimat “the whole Jawa looked like one (milk) sea at that time” (Van H Labberton 1922) menginterprestasikan sebagai gemuruh aliran air, banjir atau gelombang pasang air laut

– “Milk sea” atau “Ocean of disaster”

Dari sudut pandang ini muncul dugaan bahwa peristiwa serangan Wurawari terjadi berbarengan dengan adanya bencana alam. Bencana bisa terkait dengan adanya Tsunami atau bisa juga Banjir Bandang. Tsunami atau Banjir. Mengacu pada kalimat “lautan susu memutih”, “banjir besar”, “laut menggenang”, sementara “diaduk atau dikocok” dikaitkan dengan gempa bumi kuat.

Tafsir ini diperkuat oleh arti nama Erlangga atau Airlangga

– Erlangga diartikan sebagai orang yang terhindar dari (banjir) air

– Airlangga berarti “Air yang melompat”

– Berg (dalam Bommelen, 1971) dan Van Hi Labberton sependapat bahwa “Erlangga” diterjemahkan sebagai “orang yang dapat lolos dari bencana (banjir)”

– ‘Er’ artinya adalah kata bahasa Jawa untuk air, dan ‘langga’ artinya “minum sedikit-sedikit” atau ‘menyesap’ tau ‘menyedot’.

– Airlangga artinya adalah ‘dia yang minum air’, yakni “ia yang menyedot air laut”

Menggungsi ke Wanagiri

Saat peristiwa serangan, Airlangga menyelamatkan diri ke baratdaya tepatnya di hutan dan pegunungan Wanagiri, desa Cane bersama permaisuri, Mpu Narotama dan para pertapa. Dari atas sini ia sepenuhnya dapat melihat keadaan dataran Jawa saat itu. Beberapa bulan kemudian Erlangga dan Narottama menuju desa Terep di kaki gunung Penanggungan.

Digambarkan pada saat itu “seluruh Jawa seperti hamparan yang memutih” bukan memerah oleh darah peperangan. “Seluruh Jawa” kalimat ini seakan memperjelas Airlangga sedang melihat Jawa dari atas. Dari pegunungan Wanagiri inilah ia menyaksikan pemandangan dramatis banjir besar tersebut.

Jika benar Tsunami, Airlangga juga akan mudah melihatnya dari atas, bekasnya membentang di arah pesisir selatan. Bukankah foto satelit pasca Tsunami Aceh 2004 daratan di pesisir tampak rata memutih? Oleh penulis Airlangga, digunakan kalimat seluruh Jawa untuk mendramatisir peristiwa tersebut. “Seluruh Jawa” bisa jadi untuk tujuan menggambarkan benfana yang dramatis, mungkin agar mendapat simpati rakyat Medang.

4 tahun pasca “Pralaya”, Gunung Merapi meletus tahun 1020 M skala VEI 4 (Newhall, 1998). Letusan besar ini menguatkan asumsi adanya aktifitas gempa bumi besar sebelumnya di sebelah timur pesisir DIY (Jawa Timur). Ada yang teman dan pendapat mengatakan bahwa Danau Borobudur menjadi semakin dangkal dan sempit, dan akhirnya menjadi kering pada akhir abad ke 13 atau pada tahun 1288 Masehi (Murwanto, 1996).

Bukti lain pasca serangan:

Pasukan Wurawari tidak menduduki wilayah istana tapi justru langsung mundur ke Blora yang kemudian memunculkan cerita bahwa pasukan Ratu Laut Kidul datang membantu mengusir Wurawari. Kisah Kedatangan pasukan Ratu Laut Kidul selalu identik dengan peristiwa gelombang tsunami besar yang menerjang daratan. Jika benar tsunami tentu saja tak sampai masuk ke istana Medang di Wwatan yang jauh di daratan. Namun gempa kuatnya mampu menyiutkan nyali siapapun yang merasakan.

Apa Wurawari?

Kerajaan Wurawari dari Lwaram (sekarang desa Ngloram, Cepu, Blora) hanyalah kerajaan bawahan yang kecil, atau vassal Sriwijaya. Sriwijaya bahkan sudah pernah dikalahkan Mataram dalam peristiwa Anjukladang di era kekuasaan Dyah Wawa. Prasasti Anjukladang berangka tahun 859 Saka (937M) dibuat oleh Mpu Sindok, merupakan prasasti kemenangan perang kerajaan Mataram dari serangan pasukan keturunan Balaputradewa Sriwijaya, Mpu Sindok pada masa itu masih menjabat Rakyan Mapatih Hino.

Pasca peristiwa serangan Wurawari, Airlangga kemudian membangun kembali kerajaan dan mengembalikan wibawa kerajaan. Pada tahun 1019 M Secara berturut-turut Air Langga dengan mudah menaklukan raja-raja bawahan (vassal) Sriwijaya seperti Bisaprabhawa tahun 1029 M, raja Wijayawarman dari Wengker tahun 1034, Raja Adhamapanuda tahun 1031 M termasuk Wurawuri tahun 1035.

Jadi mungkinkah Wurawari mampu menghancurkan Medang sedemikian dahsyat hingga menciptakan “pralaya” tanpa disertai bencana? Mungkinkah Medang porakporanda hanya karena mereka lengah dan melemah saat upacara perkawinan Airlangga? Kemungkinan besar: Tidak.

Demikianlah, kadang serangan manusia dan amukan alam sering datang bersamaan. Sejarah mengajari bahwa Airlangga menyelamatkan diri dalam situasi amukan manusia dan amukan alam dengan hijrah ke Wanagiri, menyepi dalam ketinggian pegunungan, melihat ke dalam diri dan melihat bentang alam sampai jauh ke tepian kaki langit. Setiap dari kita sebaiknya punya Wanagiri kita masing-masing, tempat mengungsi dari amukan situasi hidup yang kadang tak bersahabat. (T)

Tags: AirlanggajawaPralayasejarah
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Jero Nyoman Franklin

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Pura Gaduh, Bukan Tempat Terjadi Kegaduhan

Anonim

Anonim

Seseorang mengirim tulisan tanpa menyebutkan namanya...

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Pura Gaduh, Bukan Tempat Terjadi Kegaduhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co