17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orasi Hardiman: Seni, Ambiguitas, dan Manusia

Hardiman by Hardiman
February 2, 2018
in Esai

Gambar Hardiman diolah dari lukisan karya Alit Suaja

Rekan-rekan seniman, penikmat seni, kaum terpelajar, budayawan, dan hadirin sekalian.

Perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada panitia “Festival Monolog 100 Putu Wijaya” yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan orasi budaya ini.

Rekan-rekan seniman, penikmat seni, kaum terpelajar, budayawan, dan hadirin sekalian.

Hari-hari ini kita tahu bahwa begitu banyak teoritikus dan kritikus yang membaca karya seni dengan mengabaikan persoalan bentuk,wacana tubuh, teks atau ‘apa yang tampak’. Para pengamat justru lebih tertarik kepada ‘apa yang disampaikan’, isi, muatan, atau konteks. Tentu saja ada musabab yang melahirkan cara pandang seperti ini.

Pertama, seniman sendiri sebagai kreator telah melahirkan karya seni yang tidak berpihak pada ‘apa yang tampak’, tetapi berpihak pada ‘apa yang dihadirkan’.

Kedua, adanya gelombang pemikiran yang mempertanyakan nilai universal pada karya seni. Sejalan dengan itu, batasan tentang ‘seni untuk seni’ ditinggalkan, dijauhi, bahkan dikubur.

Artinya, paham modernisme yang memuliakan bentuk sebagai bentuk dan ‘mengharamkan’ narasi, muatan, pesan, isi atau ‘apa yang dihadirkan’, kini tidak lagi dipercayai oleh seniman-seniman masa kini.

Seniman masa kini justru berpihak pada persoalan isi atau ‘apa yang disampaikan’.  Dan, itu adalah sebuah upaya seniman dalam rangka memberi makna atas kehidupan manusia. Dewasa ini kompleksitas pengalaman kehidupan manusia dikepung oleh berbagai persoalan, sebutlah misalnya kapitalisme global yang tidak terbendung, perusakan lingkungan yang tidak terkendali, sain dan teknologi informasi yang demikian maju pesat, perang fisik dan perang ideologi yang makin menjadi, pribadi manusia yang terbelah, masalah perempuan dan gender yang terus mengemuka, seks dan kekuasaan yang makin menajam, dll adalah contoh gambaran peradaban manusia masa kini.

Seniman masa kini adalah seniman yang sanggup memaknai kehidupan manusia masa kini. Pemaknaan ini, bagi seniman, tentu berkaitan dengan estetika. Namun demikian, estetika yang dimaksud tentu juga bukan lagi estetika dalam batasan konvensional atau yang modernis itu atau yang indah-indah itu atau yang menghias-hias itu, atau yang suntuk mengutak-ngatik bentuk itu, atau  yang berpuas-puas dengan ‘apa yang tampak’ itu.

Seni dan estetika yang dimaksud oleh para seniman masa kini adalah bukan seni dalam batasan konvensional itu. tetapi seni masa kini adalah seni yang mempersoalkan isi. Dengan demikian seni bisa leluasa berperan sebagai pemberi makna atas kehidupan manusia. Karena itulah bagi seniman masa kini, seni itu harus berpihak pada persoalan kehidupan manusia yang dimaknainya melalui cara representanya.

Kita percaya bahwa apa-apa yang direpesentasikan oleh seniman senantiasa dipengaruhi oleh keadaan diri sang seniman: biografi, visi kesenian, ideologi, dan lingkungan kemanusiaannya. Oleh karena itu, meminjam Piliang, kesenian secara umum, tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa menempatkannya dalam keseluruhan kerangka masyarakat dan kebudayaan. Hubungan timbal balik inilah yang melahirkan pendapat bahwa karya seni yang baik adalah suara zaman.

Rekan-rekan seniman, penikmat seni, kaum terpelajar, budayawan, dan hadirin sekalian.

Hari-hari ini seni pertunjukan—teater, tari, musik, termasuk seni rupa pertunjukan—banyak yang mengabaikan  “apa yang tampak” yaitu aspek formal seni pertunjukan mulai dari naskah hingga pemanggungannya. Dan, justru mengutamakan “apa yang disampaikan”, yaitu segala sesuatu tentang kompleksitas kehidupan manusia. Seni masa kini adalah seni yang berpihak kepada pemaknaan kehidupan manusia. Segala kompleksitas pengalaman kehidupan manusia adalah pokok garapan seni masa kini.

Sekadar menyebut contoh, ambillah misalnya naskah drama “Hari Ibu”, “Ibu Sejati” atau “Ih” ketiganya karya Putu Wijaya dengan tegas memerlihatkan kecenderungan estetika seni masa kini yang berpihak kepada persoalan isi atau persoalan “apa yang dihadirkan”.

Dalam “Hari Ibu” tokoh bernama Ami memerlihatkan problematika hidup atau pandangan tentang hidup yang juga memperlihatkan ambiguitas sudut pandang tentang ibu. Di satu sisi, Ami pada momen “Hari Ibu” mengingatkan kepada kita juga kepada anaknya untuk mengucapkan “Selamat Hari Ibu” kepada ibunya. Bahkan diucapkannya juga kepada ibu tirinya yang telah menguras kantong dan nurani ayahnya. Dalam situasi yang ambiguitas, ucapan “hari Ibu” itu disampaikan Ami.

Dalam naskah itu, jelas Putu Wijaya tidak menghadirkan Ami yang “hitam”, tidak pula menghadirkan Ami yang “putih”. Pendeknya cerita “Hari Ibu” ini tidaklah hitam-putih perkara baik dan buruk.

Contoh yang lebih menonjol diperlihatkan Putu Wijaya pada naskah “Ibu Sejati”. Si ibu dalam naskah ini adalah ibu yang sangat mencintai si Ujang, anaknya. Si ibu pulalah yang memenjarakan si Ujang dengan cara melaporkan “kejahatannya” kepada polisi. Di sini cinta sama dengan membunuh. Sebuah ambiguitas yang betul-betul membetot-betot nurani kita.

Contoh yang sama dapat dilihat pada cerpen “Tetek” karya Kadek Sonia Priscayanti. Dalam “Tetek” sama sekali tidak digambarkan ihwal kualitas seksual tubuh perempuan atau daya tarik seksual tubuh perempuan yang lebih bersifat ragawi, justru yang diperlihatkan Sonia adalah perkara petaka yang ditimbulkan dari sepasang tetek. Tubuh perempuan dalam cerpen Sonia adalah pemaknaan tubuh yang timbul karena konstruksi sosial-budaya yang patriarkhi.

Serupa dengan itu, pertunjukan “Jayaprana Layonsari” karya Putu Satria Kusuma yang naskah dan garapannya dikerjakan Putu Satria Kusuma beberapa tahun yang lalu, justru lakon yang bersumber dari cerita lisan ini dimaknai Putu Satria Kusuma pada persoalan  seks dan kekasaan, bukan dalam bingkai narasi dongeng suci yang telah dimitoskan itu. Karya Sonia dan karya Putu ini dengan terbuka memerlihatka keberpihakannya pada “apa yang disampaikan” yakni pemaknaan kehidupan manusia, yang juga memerlihatkan suara zaman.

Rekan-rekan seniman, penikmat seni, kaum terpelajar, budayawan, dan hadirin sekalian

Membaca karya Putu Wijaya, Kadek Sonia Priscayanti, dan Putu Satria Kusuma, segera tertangkap bahwa seni bagi mereka adalah persoalan isi atau “apa yang disampaikan”, bukan persoalan bentuk atau “apa yang tampak”. Inilah seni masa kini.

Sekian, terimakasih, salam budaya,

Hardiman

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologSeniseni pertunjukanTeaterTubuh
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Jujur Melalui Permainan dan Lagu “Meong-meong”

Next Post

Bukan Caka, tapi Saka – Selamat Tahun Baru Saka, Selamat Nyepi…

Hardiman

Hardiman

Kurator dan dosen Seni Rupa Undiksha Singaraja. Dikenal juga sebagai penggiat teater, penulis puisi dan pelukis. Buku kumpulan esai kuratorial diterbitkan Mahima Institute Indonesia dengan judul Eksplo(ra)si Tubuh (2015)

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post

Bukan Caka, tapi Saka – Selamat Tahun Baru Saka, Selamat Nyepi…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co