2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

80 Anak-anak Menari Rejang Shanti di Lovina – Damai Itu Sederhana

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Pertanian

Foto-foto: Mursal Buyung

PAGI, Purnama, 12 Maret 2017, terasa berbeda di Pantai Lovina, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekitar 80 anak-anak menarikan Rejang Shanti di pantai rindang yang landai itu. Mereka meliuk, pelan, ritmis, dan mistis. Menyebarlah kedamaian ke segala arah.

Para penari itu adalah anak-anak SDN 1 Kaliasem. Setelah melewati sebuah upacara di Pura Taman Campuhan Shanti Lovina (sebelah Kantin 21), para penari berparade shanti, berjalan dari pura, menyeberang jalan raya, menuju Pantai Lovina.

Di Patung Dolphin, para penari berputar satu kali, lalu bergerak ke pantai di depan Sea-Breeze. Di tepi pantai anak-anak itu menari, melakukan pembersihan secara simbolis sekala-niskala, ruwat diri dan ruwat bumi.

Sebelum ditarikan di Lovina, Tari Rejang Shanti sudah ditarikan di sejumlah tempat di Indonesia. Pertama ditarikan di Di Bentara Budaya Bali 3 Februari 2017, lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Anjungan Jawa Tengah, 12 Februari. Kemudian juga di TMII di depan Tugu Api Pancasila dengan formasi 60 orang, 26 Februari. Kemudian tarian itu ditarikan untuk membuka Women’s March Jakarta di depan Istana Merdeka di Monas, 4 Maret.

Rejang Shanti dikonsep oleh penari senior, Ayu Bulantrisna Djelantik, koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau akrab dipanggil Dayu Ani dari Maha Bajra Sandhi, serta lirik oleh seniman Cok Sawitri, dan diproduksi Bengkel Tari Ayu Bulan, Februari 2017.

Sang konseptor Ayu Bulantrisna Djelantik datang langsung ke kawasan Lovina disertai tiga pelatih tari yaitu Ketut Putri Minangsari, Ida Ayu Nova Premasanti dan Ida ayu Gayatri Wulansari Mertha Jaya. Selain sejak beberapa hari melatih anak-anak, mereka juga turut menari di Lovina.

Biyang Bulan, panggilan akrab Ayu Bulantrisna Djelantik, mengatakan tari ini memiliki konsep membersihkan diri, membersihkan bumi, atau disebut pula ruwat diri dan ruwat bumi.

Tujuannya tentu saja untuk menciptakan damai yang dimulai dari diri sendiri, dimana dalam liriknya terdapat frasa “damai itu sederhana”. Jika saja semua orang memulai dan memiliki konsep ini, maka kedamaian akan tercipta dengan sederhana saja.

Seluruh konsep tari ini menunjukkan pluralisme budaya baik ditinjau dari segi kostum dan lirik yang dilagukan. Kostum rejang berupa mahkota sederhana terbuat dari daun lontar berbentuk bunga, dimana dalam pentas tari di Lovina diadaptasi dengan menggunakan canang sari tiga buah dan dupa empat buah. Kain yang digunakan adalah kain ikat (endek) yang beraneka warna, dan selendang putih.

Para penari bergerak sambil menari. Begini liriknya:

Hana kidung angraksa
Siang latri teguh rahayu
Adoh ing alara Luputing bala ing kabeh
Jim setan natan purun
Paneluhan norana wani
Luput pagawe ala Gni wong aluput
Geni atemahan tirta maling adoh
Tan hana wani ring kami
Guna dudu pan sirna **

Bumi Pertiwi memanggil hati
Putra-putri anak negeri
Warna warni rupa diri
Semerbak kasih mewangi
Bhinneka Tunggal Ika Pancasila dasar negara
Merah putih berkibarlah
Jayalah yang cinta sesama.
Dari Utara Selatan,
dari Barat hingga Timur
Seluas semesta raya
Damai itu sederhana **

Ngreronce sasolahanne
Nglilit kayun sane becik
Makenyung saking ati
Sampunang je sumanangsaye
Maideran kayun kasih
Jrijine masoca bakti Luh muani saking garba
Nenten wenten sane tegeh endep
Makesami maduwe karma
Manyame braye Baktine ken solah Tri parisudha
Langit tegeh gumi linggah
Isin jagate ceraken Makejang paican Widhi
Ngudiang tandruh manandruhin
Pejang kutang keneh inguh
Masolah nyolahang kayun
Kadi panca mahabhuta, wantah cumpu Jagadhita **

Ratu Ayu, Wusan iratu mesolah 2 x
Sepyane menunas tamba 2x
Kenakan kayune mangkin

Secara lirik, diawali oleh kidung pangraksa jiwa dan diakhiri dengan sesanghyangan, dapat dipahami bahwa tari ini mengandung konsep pluralisme dan bahwa perbedaan adalah anugerah yang harus dijaga. Sekali lagi, intinya adalah damai itu sederhana.

Tari ini mewakili kedamaian itu dengan segenap gerak, makna dan totalitas pementasannya. Para penari biasanya digolongkan menjadi Rejang Niyang, Rejang Biyang, Rejang Jegeg dan Rejang Alit. Yang di Lovina masuk dalam golongan campuran yang didominasi Rejang Alit.

Parade dan pergelaran Rejang Shanti di Lovina itu merupakan rangkaian dari piodalan di Pura Taman Campuhan Shanti. Menurut Jro Campuhan, sebagai penjaga Pura Taman Campuhan Shanti, di kawasan pura terdapat sebelas mata air. Mata air sebelas ini adalah simbol sebelas arah mata angin yang menjadi sumber kedamaian dan kesucian. Beliau selalu mengawali ritual suci dengan gayatri mantra ke sebelas penjuru mata angin sebagai simbol doa kedamaian bagi bumi.

Perempuan ini mengakui bahwa air adalah penyembuh dan pendamai jiwa. Sebagai penjaga dan pemelihara mata air, beliau selalu mengajak siapapun untuk menjaga lingkungan, termasuk menjaga pikiran dan hati agar senantiasa damai (Shanti).

Sebagai sebuah proses perjalanan ritual Shanti yang sangat penting didokumentasikan, ritual ini juga melibatkan fotografer Mursal Buyung, dosen Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha dan mahasiswanya, juga fotografer Danny Tumbelaka. (T/Laporan:Sonia)

Tags: anak-anakbulelengLovinaseni taritari bali
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Next Post

Kisah dari Sebuah Desa: Tiga Bocah Yatim-Piatu, Kerupuk dan Cita-Cita…

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

by tatkala
August 3, 2025
0
Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

KABUPATEN Buleleng, Bali, menorehkan tonggak baru dalam ketahanan pangan dengan menyelenggarakan panen perdana varietas padi unggulan lokal, Semeton Buleleng, pada...

Read moreDetails

Inovasi Fermentasi Limbah Tandusan Sebagai Pakan Ternak

by Redaksi Tatkala Denpasar
May 15, 2024
0
Inovasi Fermentasi Limbah Tandusan Sebagai Pakan Ternak

DENPASAR | TATKALA.CO – Limbah tandusan (proses pembuatan minyak kelapa secara tradisional ternyata bisa difermentasi untuk makanan ternak. Inovasi itu...

Read moreDetails

Sorgum Makin Populer di Buleleng, Kini Panen Perdana di Desa Telaga

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 3, 2024
0
Sorgum Makin Populer di Buleleng, Kini Panen Perdana di Desa Telaga

SORGUM tampaknya makin populer di Buleleng. Banyak petani yang mulai menanamnya, dan makanan berbahan sorgum sudah mulai dikenal. Di Desa...

Read moreDetails

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

by Redaksi Tatkala Denpasar
February 6, 2024
0
Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

DENPASAR | TATKALA.CO --- Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof. Dr. I Wayan Budiasa, S.P., M.P., IPU, ASEAN Eng....

Read moreDetails

Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, “Melamar” Sebagai Desa Binaan Fakultas Pertanian Unud

by Redaksi Tatkala Tabanan
January 24, 2024
0
Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, “Melamar” Sebagai Desa Binaan Fakultas Pertanian Unud

TABANAN | TATKALA.CO -- Untuk keempat kali Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM FP Unud) menyelenggarakan Agricamp di Desa Marga...

Read moreDetails

Gagal Panen, Ada Asuransi Pertanian

by Redaksi Tatkala Buleleng
November 8, 2023
0
Gagal Panen, Ada Asuransi Pertanian

KINI ada asuransi untuk petani. Jika panen gagal, petani bisa tenang. Teorinya sesederhana itu. Tapia pa itu asuransi pertanian? Program...

Read moreDetails

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

by tatkala
October 16, 2023
0
Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

PEPAYA termasuk buah tropis yang memiliki kepentingan komersial karena nilai nutrisi dan pengobatannya yang tinggi. Biji dan kulit pepaya yang...

Read moreDetails

Wine dari Jeruk Siam Kintamani

by tatkala
October 13, 2023
0
Wine dari Jeruk Siam Kintamani

WINE bukan hanya dari buah anggur. Kini terdapat upaya pengembangan minuman wine yang diolah dari buah jeruk siam. Pengolahan jeruk...

Read moreDetails

Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

by tatkala
September 20, 2023
0
Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

BAGAIMANA bisa subak sampai kekeringan? Itu pertanyaan yang aneh. Tapi ada yang lebih aneh, sudah tahu subak mengalami kekeringan, tapi...

Read moreDetails

Intelektual Jepang Memperkenalkan Teknologi Ratoon-rice Kepada Petani Padi di Jatiluwih

by tatkala
September 5, 2023
0
Intelektual Jepang Memperkenalkan Teknologi Ratoon-rice Kepada Petani Padi di Jatiluwih

DI JEPANG tidak ada subak. Itu sudah jelas. Oleh karenanya, saat pengabdian masyarakat di Subak Jatiluwih, Tabanan, mahasiswa Universitas Meiji,...

Read moreDetails
Next Post

Kisah dari Sebuah Desa: Tiga Bocah Yatim-Piatu, Kerupuk dan Cita-Cita…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co