2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persoalan Bahasa Prancis (Juga) Persoalan Bahasa Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Jean-Marie Domenach, seorang penulis Prancis yang nasionalis dan progresif, di tahun 1990 menerbitkan bukunya berjudul Europe: Le Delfi Culturel. Buku ini khusus mendiskusikan masalah kebudayaan Eropa setelah menjalin persatuan di bawah bendera Uni-Eropa.

Dalam buku tersebut terlontar pertanyaan besar bagi Eropa: Jika Eropa bisa tersatukan dalam Uni-Eropa secara ekonomi dan sampai batas politis tertentu apakah bisa ia tersatukan secara kultural?

Domenach menjawab:

”Sesungguhnya masalah pertama dan utama adalah masalah bahasa, (dan) maka bahasa menambah masalah tersebut (di Eropa) menghadapi hambatan di depan semua upaya-upaya pertolongan jangka dekat… jika masyarakat Eropa tumbuh dalam bahasa bersama maka bahasa tersebut adalah bahasa Inggris. Dan, kenyataan tersebut tidak diinginkan Prancis. Prancis tidak terima jika bahasa Inggris menjadi bahasa Uni-Eropa karena beberapa hal.

Pertama, akan mengakibatkan bahasa Prancis kehilangan kedudukan internasionalnya, lalu (hanya) menjadi bahasa massa. Kedua, akan mengakibatkan menyusutnya pluralitas Eropa dan karenanya mengakibatkan proses pemiskinan (terhadap budaya Eropa), lalu ia akan mengalami keterputusan dengan ruang Franco-phonism—sehingga menimbulkan pemiskinan tersebut. Kemudian, ketiga, hal itu akan mengakibatkan (dan ini terkait dengan yang sebelumnya) proses Amerikanisasi Eropa.”

Terhadap gempuran bahasa Inggris semua bangsa di dunia tampaknya waswas. Dalam pandangan pemikir dunia Arab, Mohamed Abed Al-Jabiri menangkap kekhawatiran yang tercermin dalam buku Domenech itu sebagai gambaran saling silang penetrasi budaya yang terjadi di abad ini. Menurutnya, Arab dan negara dunia ketiga akan menghadapi berlipat-lipat penetrasi budaya: Inggris/Amerika dan Prancis (atau Eropa).

Situasi Bahasa Bali

Masyarakat Bali tidak dapat dipungkiri lagi menghadapi ”triple penetrasi bahasa”. Bukan hanya kesiapan masuk ke pangkuan Indonesia (yang telah bersepakat memakai bahasa Indonesia sebagai ”bahasa negara”), tetapi gempuran langsung penetrasi budaya asing lewat beragam media (cetak, radio, TV) bersatu padu dengan realitas Bali sebagai daerah tujuan wisata yang ”mewajibkan” masyarakat Bali untuk berlomba-lomba menguasai bahasa asing sebagai jalan untuk ”meningkatkan kesejahteraan” (mendulang dolar dan yen).

Problem kebahasaan Eropa yang terjadi setelah kesepakatan untuk bergerak dalam gerbong politik-ekonomi Uni-Eropa yang memunculkan persoalan kultural seperti yang diterangkan Domenech, sesungguhnya terjadi kawasan Nusantara dengan terjadinya pembentukan ”Uni-Nusantara” ke dalam NKRI.

Sumpah Pemuda 1928 yang mengikrarkan bahasa persatuan bahasa Indonesia, secara nyata telah kita terima konsekuensinya bahwa peranan bahasa daerah digantikan oleh bahasa Indonesia di jalur pendidikan dan urusan formal lainnya. Hampir dapat dipastikan keberadaan pemakaian aksara dan kemampuan menulis Bali di kalangan masyarakat Bali yang sangat lemah terkait dengan digesernya peran bahasa dan aksara Bali oleh aksara Latin dan bahasa Indonesia.

Anak-anak (khususnya di perkotaan) banyak yang kehilangan bahasa ibunya. Bahasa Bali bagi mereka adalah bahasa yang tak diresapi dengan mendalam, kosakata Bali hanya mereka kuasai satu dua yang berhubungan dengan aktivitas keseharian saja. Mereka tidak lagi berpikir dalam bahasa Bali, mereka membaca, menulis, dan berdiskusi dalam bahasa Indonesia. Sebagian kecilnya lagi, merasa lebih mampu mengarang atau menuliskan pemikirannya dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Bali.

Sisi baiknya, mereka sekarang lebih siap memasuki pergaulan internasional ketimbang para leluhur kita yang ”buta bahasa asing” yang mengakibatkan tidak bisa bernegosiasi dengan pihak internasional (Belanda dan masyarakat Eropa) yang cederung menjajah kita. Artinya, generasi muda sekarang, lebih mampu bersaing dalam aktivitas bisnis dan dunia industri—walaupun kebanyakan hanya pelengkap bukan pengambil kebijakan atau keputusan.

Alasan ini pula yang membuat orang tua mereka tidak berkeras hati untuk mengajar putra-putri mereka bahasa Bali. Bahasa daerah tidak punya daya jual. Bahasa daerah tidak menjanjikan masa depan. Lain dengan bahasa Inggris atau Jepang. Mereka setidaknya bisa bersaing untuk menjadi guide atau pelayan restoran jika mereka punya dasar bahasa asing. Syukur-syukur bekerja di perusahaan asing atau kapal pesiar yang menjanjikan faedah finalsial.

Mempertahankan Bahasa Bali

Bahasa Bali adalah akses ke masa lalu. Akses untuk memasuki alam pikir manusia Bali sebelumnya atau setidaknya dari orang tua kita. Dalam bahasa itu terkandung pemikiran, pencapaian sebuah bangsa atau suku. Jika generasi penerusnya terputus secara linguistik, barangkali persoalan tersebut bisa digantikan dengan bahasa lain, tetapi dalam urusan pencapaian ”nilai”, ”rasa”, dan ”teks” yang diwariskan akan kehilangan ”konteks”, atau akan terjadi ketimpangan di wilayah psikologis. Antarorang tua dan anak jika bicara dalam bahasa ibu yang berbeda, setidaknya akan ada gap atau jurang psikologis yang terhampar dalam sebuah keluarga. Dan, keluarga adalah domain aman untuk membentuk identitas seseorang yang memberikan sedikit keterjaminan identitas bagi seseorang.

Hilangnya ”ruang Franco-phonism”, atau ruang bunyi Prancis, yang dimaksudkan oleh Jean-Marie Domenach, dan pemikir kebudayaan Prancis lainnya adalah sebuah ”ruangan berpikir dalam simbol-simbol bahasa Prancis”. Ini sama dengan hilangnya sarana mereka untuk memasuki kedirian atau ”ke-Prancis-an” mereka sehingga menimbulkan pemiskinan tersebut dan akan mengakibatkan (dan ini terkait dengan yang sebelumnya) proses Amerikanisasi Eropa. Di Bali, hilangnya ”ruang Bali-phonism” (atau ruang bertutur dan berpikir dalam simbol-simbol bahasa Bali), dan berkuasanya bahasa lain akan memutus atau memotong ”keberlanjutan” pencapaian ”rasa” dan ”nilai” manusia Bali yang sudah dibangun berabad-abad.

Bahasa Bali, di balik aturan sor singgih basa yang bertingkat-tingkat (dan tidak egaliter), masih punya harapan menjadi benteng pertahanan untuk tidak terseragamkan (atau ter-Amerikanisasi), baik secara pola pikir (ideologis) dan ranah kultural lainnya. Penguasaan terhadap bahasa Bali adalah cara kita untuk mempertahankan diri dari penyeragaman pikiran itu. Penutur bahasa Bali punya alat atau perangkat untuk berpikir berbeda dari mainstream Barat yang konsumtif-kapitalistik, dengan menjadi bahasa Bali sebagai sarana meneguhkan diri, sarana pencarian kemanusiaan/spiritualitas/kedirian, dan agenda-agenda kemanusiaan lainnya yang sangat personal yang tidak harus mengekor atau bersifat massal.

Secara sederhana untuk menangkap realitas dari penjelasan paragraf di atas, kalau kita membaca geguritan atau karya sastra berbahasa Bali—katakanlah Geguritan Tamtam, Kawiswara, atau Sucita-Subudi)—yang terlihat/terbaca dalam karya-karya adalah renungan yang merangkum titik-titik pencapaian spiritualitas manusia Bali yang disampaikan dengan pencapaian estetik bahasa dan puitika seimbang dengan nilai pesan yang diembannya.

Apakah orang Bali akan mampu mencapai renungan sedemikian tingginya seandainya mereka kehilangan bahasanya? Apakah bahasa Bali yang susut tergerus zaman tidak sama artinya dengan kehilangan sebuah alat untuk berpikir dan merenung secara lebih dalam? Seperti seorang pengebor sumur tanah, untuk memasuki kedalaman dan bantuan tertentu ia akan mampu menggalinya sampai sedalam-dalamnya kalau alatnya lengkap/memadai. Kalau bahasa Bali makin miskin perbendaharaannya, berkurang kemampuan kita memakai bahasa Bali, sama dengan situasi seorang pengebor sumur yang kehilangan mata bor yang membuat dia tidak mampu menggali lebih dalam.

Manusia tidak hanya butuh sekadar bahasa komunikasi pasar atau komunikasi kerja semata, mereka membutuhkan sarana renungan (bahasa ibu) yang kaya. Kehilangan bahasa atau menyusutnya penguasaan bahasa Bali berarti hambatan bagi kiat (orang Bali) untuk menggali ke dalam kedalaman yang kita butuhkan untuk menjadi ”manusia putus”, manusia yang tercerahi. Inilah akibat terburuk yang harus menimpa peradaban Bali seandainya bahasanya terlantar: kita kehilangan sarana untuk memasuki diri kita sendiri. (T)

Tags: BahasaBahasa Baliperancis
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan

Next Post

Mendaki Malam Menemu Pagi di Pucak Mangu, Gunung Catur, Badung…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Mendaki Malam Menemu Pagi di Pucak Mangu, Gunung Catur, Badung…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co