23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persoalan Bahasa Prancis (Juga) Persoalan Bahasa Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Jean-Marie Domenach, seorang penulis Prancis yang nasionalis dan progresif, di tahun 1990 menerbitkan bukunya berjudul Europe: Le Delfi Culturel. Buku ini khusus mendiskusikan masalah kebudayaan Eropa setelah menjalin persatuan di bawah bendera Uni-Eropa.

Dalam buku tersebut terlontar pertanyaan besar bagi Eropa: Jika Eropa bisa tersatukan dalam Uni-Eropa secara ekonomi dan sampai batas politis tertentu apakah bisa ia tersatukan secara kultural?

Domenach menjawab:

”Sesungguhnya masalah pertama dan utama adalah masalah bahasa, (dan) maka bahasa menambah masalah tersebut (di Eropa) menghadapi hambatan di depan semua upaya-upaya pertolongan jangka dekat… jika masyarakat Eropa tumbuh dalam bahasa bersama maka bahasa tersebut adalah bahasa Inggris. Dan, kenyataan tersebut tidak diinginkan Prancis. Prancis tidak terima jika bahasa Inggris menjadi bahasa Uni-Eropa karena beberapa hal.

Pertama, akan mengakibatkan bahasa Prancis kehilangan kedudukan internasionalnya, lalu (hanya) menjadi bahasa massa. Kedua, akan mengakibatkan menyusutnya pluralitas Eropa dan karenanya mengakibatkan proses pemiskinan (terhadap budaya Eropa), lalu ia akan mengalami keterputusan dengan ruang Franco-phonism—sehingga menimbulkan pemiskinan tersebut. Kemudian, ketiga, hal itu akan mengakibatkan (dan ini terkait dengan yang sebelumnya) proses Amerikanisasi Eropa.”

Terhadap gempuran bahasa Inggris semua bangsa di dunia tampaknya waswas. Dalam pandangan pemikir dunia Arab, Mohamed Abed Al-Jabiri menangkap kekhawatiran yang tercermin dalam buku Domenech itu sebagai gambaran saling silang penetrasi budaya yang terjadi di abad ini. Menurutnya, Arab dan negara dunia ketiga akan menghadapi berlipat-lipat penetrasi budaya: Inggris/Amerika dan Prancis (atau Eropa).

Situasi Bahasa Bali

Masyarakat Bali tidak dapat dipungkiri lagi menghadapi ”triple penetrasi bahasa”. Bukan hanya kesiapan masuk ke pangkuan Indonesia (yang telah bersepakat memakai bahasa Indonesia sebagai ”bahasa negara”), tetapi gempuran langsung penetrasi budaya asing lewat beragam media (cetak, radio, TV) bersatu padu dengan realitas Bali sebagai daerah tujuan wisata yang ”mewajibkan” masyarakat Bali untuk berlomba-lomba menguasai bahasa asing sebagai jalan untuk ”meningkatkan kesejahteraan” (mendulang dolar dan yen).

Problem kebahasaan Eropa yang terjadi setelah kesepakatan untuk bergerak dalam gerbong politik-ekonomi Uni-Eropa yang memunculkan persoalan kultural seperti yang diterangkan Domenech, sesungguhnya terjadi kawasan Nusantara dengan terjadinya pembentukan ”Uni-Nusantara” ke dalam NKRI.

Sumpah Pemuda 1928 yang mengikrarkan bahasa persatuan bahasa Indonesia, secara nyata telah kita terima konsekuensinya bahwa peranan bahasa daerah digantikan oleh bahasa Indonesia di jalur pendidikan dan urusan formal lainnya. Hampir dapat dipastikan keberadaan pemakaian aksara dan kemampuan menulis Bali di kalangan masyarakat Bali yang sangat lemah terkait dengan digesernya peran bahasa dan aksara Bali oleh aksara Latin dan bahasa Indonesia.

Anak-anak (khususnya di perkotaan) banyak yang kehilangan bahasa ibunya. Bahasa Bali bagi mereka adalah bahasa yang tak diresapi dengan mendalam, kosakata Bali hanya mereka kuasai satu dua yang berhubungan dengan aktivitas keseharian saja. Mereka tidak lagi berpikir dalam bahasa Bali, mereka membaca, menulis, dan berdiskusi dalam bahasa Indonesia. Sebagian kecilnya lagi, merasa lebih mampu mengarang atau menuliskan pemikirannya dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Bali.

Sisi baiknya, mereka sekarang lebih siap memasuki pergaulan internasional ketimbang para leluhur kita yang ”buta bahasa asing” yang mengakibatkan tidak bisa bernegosiasi dengan pihak internasional (Belanda dan masyarakat Eropa) yang cederung menjajah kita. Artinya, generasi muda sekarang, lebih mampu bersaing dalam aktivitas bisnis dan dunia industri—walaupun kebanyakan hanya pelengkap bukan pengambil kebijakan atau keputusan.

Alasan ini pula yang membuat orang tua mereka tidak berkeras hati untuk mengajar putra-putri mereka bahasa Bali. Bahasa daerah tidak punya daya jual. Bahasa daerah tidak menjanjikan masa depan. Lain dengan bahasa Inggris atau Jepang. Mereka setidaknya bisa bersaing untuk menjadi guide atau pelayan restoran jika mereka punya dasar bahasa asing. Syukur-syukur bekerja di perusahaan asing atau kapal pesiar yang menjanjikan faedah finalsial.

Mempertahankan Bahasa Bali

Bahasa Bali adalah akses ke masa lalu. Akses untuk memasuki alam pikir manusia Bali sebelumnya atau setidaknya dari orang tua kita. Dalam bahasa itu terkandung pemikiran, pencapaian sebuah bangsa atau suku. Jika generasi penerusnya terputus secara linguistik, barangkali persoalan tersebut bisa digantikan dengan bahasa lain, tetapi dalam urusan pencapaian ”nilai”, ”rasa”, dan ”teks” yang diwariskan akan kehilangan ”konteks”, atau akan terjadi ketimpangan di wilayah psikologis. Antarorang tua dan anak jika bicara dalam bahasa ibu yang berbeda, setidaknya akan ada gap atau jurang psikologis yang terhampar dalam sebuah keluarga. Dan, keluarga adalah domain aman untuk membentuk identitas seseorang yang memberikan sedikit keterjaminan identitas bagi seseorang.

Hilangnya ”ruang Franco-phonism”, atau ruang bunyi Prancis, yang dimaksudkan oleh Jean-Marie Domenach, dan pemikir kebudayaan Prancis lainnya adalah sebuah ”ruangan berpikir dalam simbol-simbol bahasa Prancis”. Ini sama dengan hilangnya sarana mereka untuk memasuki kedirian atau ”ke-Prancis-an” mereka sehingga menimbulkan pemiskinan tersebut dan akan mengakibatkan (dan ini terkait dengan yang sebelumnya) proses Amerikanisasi Eropa. Di Bali, hilangnya ”ruang Bali-phonism” (atau ruang bertutur dan berpikir dalam simbol-simbol bahasa Bali), dan berkuasanya bahasa lain akan memutus atau memotong ”keberlanjutan” pencapaian ”rasa” dan ”nilai” manusia Bali yang sudah dibangun berabad-abad.

Bahasa Bali, di balik aturan sor singgih basa yang bertingkat-tingkat (dan tidak egaliter), masih punya harapan menjadi benteng pertahanan untuk tidak terseragamkan (atau ter-Amerikanisasi), baik secara pola pikir (ideologis) dan ranah kultural lainnya. Penguasaan terhadap bahasa Bali adalah cara kita untuk mempertahankan diri dari penyeragaman pikiran itu. Penutur bahasa Bali punya alat atau perangkat untuk berpikir berbeda dari mainstream Barat yang konsumtif-kapitalistik, dengan menjadi bahasa Bali sebagai sarana meneguhkan diri, sarana pencarian kemanusiaan/spiritualitas/kedirian, dan agenda-agenda kemanusiaan lainnya yang sangat personal yang tidak harus mengekor atau bersifat massal.

Secara sederhana untuk menangkap realitas dari penjelasan paragraf di atas, kalau kita membaca geguritan atau karya sastra berbahasa Bali—katakanlah Geguritan Tamtam, Kawiswara, atau Sucita-Subudi)—yang terlihat/terbaca dalam karya-karya adalah renungan yang merangkum titik-titik pencapaian spiritualitas manusia Bali yang disampaikan dengan pencapaian estetik bahasa dan puitika seimbang dengan nilai pesan yang diembannya.

Apakah orang Bali akan mampu mencapai renungan sedemikian tingginya seandainya mereka kehilangan bahasanya? Apakah bahasa Bali yang susut tergerus zaman tidak sama artinya dengan kehilangan sebuah alat untuk berpikir dan merenung secara lebih dalam? Seperti seorang pengebor sumur tanah, untuk memasuki kedalaman dan bantuan tertentu ia akan mampu menggalinya sampai sedalam-dalamnya kalau alatnya lengkap/memadai. Kalau bahasa Bali makin miskin perbendaharaannya, berkurang kemampuan kita memakai bahasa Bali, sama dengan situasi seorang pengebor sumur yang kehilangan mata bor yang membuat dia tidak mampu menggali lebih dalam.

Manusia tidak hanya butuh sekadar bahasa komunikasi pasar atau komunikasi kerja semata, mereka membutuhkan sarana renungan (bahasa ibu) yang kaya. Kehilangan bahasa atau menyusutnya penguasaan bahasa Bali berarti hambatan bagi kiat (orang Bali) untuk menggali ke dalam kedalaman yang kita butuhkan untuk menjadi ”manusia putus”, manusia yang tercerahi. Inilah akibat terburuk yang harus menimpa peradaban Bali seandainya bahasanya terlantar: kita kehilangan sarana untuk memasuki diri kita sendiri. (T)

Tags: BahasaBahasa Baliperancis
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan

Next Post

Mendaki Malam Menemu Pagi di Pucak Mangu, Gunung Catur, Badung…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Mendaki Malam Menemu Pagi di Pucak Mangu, Gunung Catur, Badung…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co