7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seekor Kera Penjaga Sebuah Pura

I Putu Supartika by I Putu Supartika
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: I Putu Supartika

TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mereka. Bahkan orang tua mereka juga tidak tahu kapan persisnya pura itu dibangun. Dan mereka hanya tahu pura itu sudah berusia sangat tua, bahkan ratusan tahun ataupun bisa jadi ribuan tahun. Ini bisa dilihat dari keadaan pura yang sudah ditumbuhi lumut hampir di seluruh bagiannya. Mulai dari tembok penyengker-nya hingga ke bagian atap pelinggih pura. Orang-orang di sana menyebut pura itu Pura Subak, yaitu pura yang disungsung oleh para petani yang menggarap sawah di sekitar pura.

Memang pura itu memiliki keanehan, karena dari sekian banyak keturunan yang bermukim di sekitarnya, termasuk para penggarap sawah yang bekerja di sana secara turun-temurun tidak ada yang tahu asal-usul pura itu. Siapa yang mendirikan, atas dasar apa pura itu didirikan, dan bagaimana sejarah persisnya pura itu dibangun. Mungkin ini kesalahan leluhur terdahulu yang tidak menceritakan asal-usul pura itu. Atau mungkin pura itu memang berdiri karena kehendak alam dan bukan didirikan oleh manusia, dan atau mungkin pura itu dibangun untuk menciptakan ketentraman para petani di sana. Hanya cerita-cerita aneh saja yang beredar di sana tentang berdirinya pura itu dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Sungguh-sungguh itu menjadi teka-teki sepanjang masa dan menyimpan sebuah keanehan karena tidak ada yang tahu asal-usul berdirinya pura itu.

Hal lain yang mejadi teka-teki dan dianggap sebagai keanehan selain asal-usul berdirinya pura itu yang tidak diketahui adalah keberadaan pohon beringin yang ada di sebelah kiri pemedal pura. Tetapi bukan pohon beringin itu yang membuat keanehan, melainkan kera yang tinggal di pohon beringin itu.

Padahal di daerah itu tidak ada gunung, dan juga tidak ada habitat kera. Bahkan hingga radius 10 kilometer dari daerah itu tidak ada habitat kera. Yang ada hanyalah burung-burung kecil, musang, ataupun landak. Sedangkan kera sama sekali tidak ada. Nihil dan bisa dibilang kosong. Tetapi kenyataannya pada pohon beringin di pura itu tinggal seekor kera, dan ini kemustahilan atau ini memang keajaiban dari Sang Hyang Widhi.

Jika pagi hari di saat para petani berangkat ke sawah dan melewati jalan di depan pura. Kera itu turun dari pohon beringin dan kera itu bermain-main ke halaman pura. Kadang-kadang petani melihat kera itu duduk di atas atap pelinggih pura, kadang-kadang juga di penyengker pura, atau jika tidak kera itu berayun-ayun di akar-akar beringin sambil membawa pisang lungsuran yang diambilnya di pelinggih Pura Subak. Para petani melihat seakan-akan kera itu sangat betah tinggal di sana. Kadang-kadang juga kera itu terlihat seperti bercengkrama dengan seseorang, namun petani itu tidak melihat siapa yang diajaknya. Mungkin kera itu bercengkrama dengan Dewa yang berstana di sana, atau kera itu bercengkrama dengan leluhurnya terdahulu. Tapi entahlah, petani itu juga tidak mengerti. Dan petani itu lebih memilih melanjutkan perjalanannya menuju ke sawah garapannya, daripada melihat keanehan dari seekor kera.

Ketika siang menutup pagi, dan para petani dibawakan makanan oleh istri-istri mereka, maka kera itu selalu menghadang istri para petani di tengah jalan hanya untuk meminta sekadar makanan. Sepotong singkong, ataupun sebiji pisang. Dan para istri petani sudah tahu hal itu. Bahkan setiap hari mereka telah mengalaminya, maka tak lupa jika akan pergi ke sawah membawakan suaminya makanan istri petani itu selalu menyediakan sepotong singkong, atau sebiji pisang, ataupun makanan lain untuk kera itu. Sampai di depan pura istri para petani akan menghaturkan sepotong singkong, atau sedikit makanan yang dibawanya dahulu di pelinggih depan pura, setelah itu baru memberikannya untuk si kera.

Pernah dahulu ada suatu kejadian, ketika seorang istri petani yang bernama Men Suci membawakan suaminya makan siang melewati jalan depan pura itu. Tiba-tiba ia dicegat oleh kera penjaga pura itu dan kera itu meminta makanan. Karena Men Suci lupa membawa makanan untuk kera itu, maka ia meninggalkan kera itu. Sontak saja kera itu menjambak rambut Men Suci, hingga ia tersungkur jatuh, lalu kera itu mencabik-cabik tubuh Men Suci hingga berdarah. Untung saja ada petani yang lain yang menemukan kejadian itu sehingga Men Suci diselamatkan dari keganasan kera yang marah itu. Sehingga sejak saat itu semua orang yang lewat di depan pura tersebut yang membawa makanan pasti akan memberikannya sedikit untuk kera itu setelah dihaturkan di pelinggih depan pura. Tidak hanya untuk istri-istri petani, tetapi juga semua orang.

Selain itu orang-orang di dekitar sana percaya bahwa kera itu adalah penjaga pura itu dan kera itu juga yang menyebabkan sawah di sana terbebas dari hama, sehingga hasil yang diperoleh petani selalu memuaskan.

Selama berpuluh-puluh tahun juga telah beredar cerita tentang kera itu. Tapi tidak ada yang dapat menyimpulkan kebenarannya. Dan cerita ini konon juga berkaitan dengan berdirinya pura itu. Tapi tidak ada yang bisa memastikan apa itu benar atau salah.

***

KONON kera itu adalah jelmaan seorang manusia yang mendirikan pura itu.

Karena hasil pertanian semakin hari semakin menurun akibat serangan hama, maka para petani banyak yang merugi. Hasil panen yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan. Hal semacam ini terjadi secara berlarut-larut tanpa henti dan tidak ada yang bisa mengatasinya. Sudah banyak orang pintar yang mereka tanyai, namun tidak ada yang memberikan jawaban atas masalah yang mereka hadapi. Hingga semakin lama petani yang bekerja di sawah itu banyak berhenti mengolah sawahnya. Dan mereka memilih berpindah profesi menjadi buruh di pasar tradisional yang letaknya di perbatasan desa. Lama-kelamaan hanya tersisa seorang petani yang masih menggarap sawahnya dengan alasan sulit mencari pekerjaan lain. Petani itu konon bernama Pan Karta.

Karena hasil panennya tak kunjung membaik, maka pada suatu hari ia masesangi akan membangun sebuah pura di areal sawah itu, jika hasil panennya kembali seperti semula dan hama wereng tidak lagi menyerang sawahnya dan sawah warga lain di sekitarnya. Dan ia pula berjanji akan menjaga dan menyungsung pura itu hingga akhir hayatnya.

Tidak berselang lama setelah sesangi itu diucapkannya, semuanya menjadi terkabulkan. Hasil panennya telah kembali seperti semula dan bahkan mengalami peningkatan yang tajam, bahkan menjadi dua kali lipat dari biasanya. Hama yang menyerang sawahnya dan juga sawah warga lainnya seketika itu menghilang. Warga yang sudah beralih profesi menjadi buruh di pasar, kembali berbondong-bondong mengolah sawahnya. Sehingga kehidupan bertani kembali hidup dan kehidupan petani di sana menjadi sangat tentram.

Menyadari permohonannya telah terkabul, Pan Karta pun membayar sesangi-nya. Dia mendirikan sebuah pura di areal sawahnya sendiri, tepatnya di bawah sebuah pohon beringin yang besar dan lebat. Untuk membangun pura itu, ia dibantu oleh petani lain. Tetapi hanya bantuan tenaga saja, sementara biaya dan bahan bangunan Pan Karta sediakan sendiri.

Setelah dikerjakan selama dua bulan, akhirnya pura itu rampung, lalu dipelaspas pada hari Purnama. Sejak saat itu pura itu telah diresmikan, dan mulai saat itu juga para petani setiap hari baik itu hari biasa maupun hari raya menghaturkan sesajen.

Seperti sesangi-nya yang lain, Pan Karta juga rajin merawat pura itu dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Dan sekaigus ia juga diangkat menjadi pemangku di pura itu oleh petani yang lain.

Konon karena hasil pertaniannya yang semakin hari semakin meningkat pesat, Pan Karta merasa bahwa semua hasil yang diperolehnya telah cukup untuk biaya hidupnya sebagai seorang lelaki yang hidup sebatang kara. Dan ia menganggap bahwa penghasilannya selama ini juga sudah bisa digunakan untuk upacara pengabenan-nya nanti. Sehingga sejak saat itu ia menghentikan aktivitasnya sebagai petani. Bahkan lama kelamaan ia menjual sawah miliknya pada orang lain.

Awalnya, walaupun ia sudah menjual sawahnya kepada orang lain, namun ia masih tetap menjaga pura yang ia bangun. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Pan Karta semakin malas untuk pergi ke pura itu untuk sekadar membersihkan areal pura dari sampah, ataupun dari rumput liar. Hanya petani lain yang menggarap sawah di sekitar pura yang menjaga pura itu. Bahkan Pan Karta juga melupakan kewajibannya sebagai pemangku di pura itu. Sempat beberapa orang petani mengingatkan kewajibannya kepadanya, namun ia menanggapinya dengan ringan saja, “ya nanti saya akan ke pura saat hari raya saja,” sambil tersenyum kecil. Kenyataannya saat hari raya ia tidak pernah hadir. Ia memilih berdiam di rumah untuk sekadar tidur-tiduran atau menikmati secangkir kopi hangat daripada pergi ke pura itu.

Hingga akhirnya pada suatu hari, saat hari raya Purnama. Ketika malam datang, sinar rembulan begitu cerah menerpa dedaunan dan halaman rumah Pan Karta. Seperti biasanya ia duduk di teras rumah menikmati secangkir kopi hitam sambil menghitung jumlah bintang, dan mencuri-curi pandang pada bulan.

Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap, bulan yang mulanya tersenyum sumringah, kini ia tertutup kabut hitam yang tebal. Angin lebat datang, kilat menyambar-nyambar di angkasa, dan langit bagaikan mau runtuh. Dalam sekejap saja purnama berubah menjadi malam gelap, segelap warna kopi yang selalu ia nikmati setiap hari. Dan dari langit terdengar suara yang amat menakutkan bagi Pan Karta.

“Hai Karta, kau lupa dengan sesangi-mu, kau telah mengingkari dirimu sendiri, maka kau tak pantas untuk menjadi manusia lagi!”

“Siapa kamu? Siapa? Tampakkan wujudmu, jangan bersembunyi!” Pan Karta berkata dengan gemetar.

“Aku suara hatimu yang selalu mengingatkan kamu, tapi kamu mengingkarinya. Maka hiduplah kau menjadi hewan yang selalu menjaga pura yang kau bangun dulu. Karena hanya ini yang mampu menyelamatkan para petani di desa ini dari kegagalan dan ini juga satu-satunya cara untuk menebus kesalahanmu.”

Seketika suara itu hilang, hujan turun sangat lebat, dan Pan Karta mulai merasa aneh pada tubuhnya, mula-mula mukanya ditumbuhi bulu lebat, lalu bulu itu tumbuh menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu dari atas duburnya, tumbuh ekor yang kian memanjang. Dalam sekejap tubuh Pan Karta berubah. Dia bukan Pan Karta yang dulu lagi, namun ia adalah sesosok hewan dengan bulu yang lebat dan ekor yang panjang. Ya, kini ia adalah hewan, tepatnya seekor kera.

Karena menyesali perbuatannya, ia berlari ke pura yang ia bangun dulu. Dalam guyuran hujan lebat ia terus berlari hingga di depan pura itu. Di sana ia meminta agar wujudnya dikembalikan lagi menjadi manusia, namun semuanya sudah terlanjur. Ini sudah takdirnya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan harapan ia bisa kembali menjadi manusia, dan juga untuk menebus segala kesalahannya, maka ia berjanji akan tinggal di pohon beringin di samping pura itu, dan menjaga pura untuk waktu yang tidak bisa dihitung, dan tidak bisa diperkirakan.

***

HINGGA pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa para petani berangkat ke sawahnya. Sampai di depan pura, petani berhenti ingin melihat kera yang setiap hari mereka lihat. Namun kera itu tidak terlihat. Kemudian petani itu melihat ke pohon beringin yang besar tempat kera itu tinggal, namun kera itu tidak ada. Petani itu kembali menengok ke dalam pura, kera itu juga tidak ada. Hanya kulit pisang kemarin yang dimakan kera itu yang tersisa di bawah  pohon beringin. Karena tidak menemukan kera itu, lalu petani itu melanjutkan perjalanannya.

Ketika siang harinya, istri para petani membawakan suaminya bekal, ia juga tidak menemukan kera yang biasa mencegatnya di jalan depan pura. Akan tetapi, mereka tetap menaruh makanan yang biasa diberikan kepada kera itu di bawah pohon beringin. Mereka yakin kalau kera itu masih di sana. Mungkin, ia bermain-main kepinggiran sawah, atau ia sedang tidur di dalam rimbun daun beringin.

Sore harinya ketika para petani dan istri mereka kembali ke rumah. Kera itu juga tidak ada di sana. Mereka meihat ke segala arah dari depan pura itu, namun mereka tidak juga melihat kera itu. Dalam perjalanan pulangnya, mereka bertanya tentang kera itu.

“Ke mana perginya kera itu?”

“Entahlah.”

“Apa ada yang melihatnya?”

“Tidak.”

“Mungkin kera itu masih di sana, tetapi kita tidak melihatnya!”

“Mungkin juga kera itu tidak mau menampakkan dirinya kepada kita lagi.”

“Mungkin……..! Entahlah aku juga tidak tahu”

Hal itu berulang setiap hari, namun tak ada satu orangpun yang menemukan kera itu di sana. Walaupun begitu, istri para petani setiap hari tetap menyediakn makanan untuk kera itu. Dan sampai di depan pura mereka selalu menaruh makanan itu di bawah pohon beringin di samping pura.

Dan setiap hari keanehan juga terjadi di sana, setiap makanan yang mereka taruh di bawah pohon beringin selalu hilang dan esok harinya yang tersisa hanya kulitnya saja. Mereka percaya bahwa makanan itu diambil oleh si kera penjaga pura. Semua orang yang ada di sana juga percaya, bahwa kera itu masih ada di sana menjaga pura itu dan memberikan kebahagiaan kepada para petani sampai nanti.

Kelak cerita tentang keberadaan kera tersebut akan terus menjadi legenda yang akan bergulir dari generasi ke generasi berikutnya. (T)

Keterangan:

Penyengker: tembok pembatas.

Pelinggih: bangunan yang ada di pura yang dianggap sebagai stana dari Para Dewa bagi umat Hindu.

Pemedal: pintu keluar dari sebuah pura.

Lungsuran: sesajen yang sudah selesai di haturkan.

Masesangi: membuat janji kepada Para Dewa.

Pengabenan: upacara pembakaran mayat di Bali

Dipelaspas: di resmikan dengan upacara menurut keyakinan agama Hindu

Pemangku: orang yang memimpin jalannya upacara selain pendeta.

Tags: Cerpen
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Next Post

Membangun Kebudayaan, Mari Menjadi “Perempuan”

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post

Membangun Kebudayaan, Mari Menjadi “Perempuan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co