30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagi Seniman Muda, Mana Pertanyaan Bikin Galau, “Dija Megae” atau “Apa Gae”?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 19, 2019
in Esai

Ilustrasi: Dek Omo

Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan apa menanggapi pertanyaan ini.

Bagaimana sebaiknya memberikan jawaban yang pas pada si mpunya tanya. Jika kita pemain teater misalnya, bisakah menjawab dari panggung ke panggung? Tentu. Sah-sah saja sebenarnya memberikan jawaban.

Namun harus hati-hati juga. Sebab jawaban yang terlontar bisa jadi nyeleneh kedengaran apalagi buat mereka yang berjarak dengan dunia panggung. Nanti dikiranya kita terlalu mendramatisir pekerjaan, terlalu sok teater, sampai-sampai istilah perteateran pun dibawa kemana-mana.

Jika menjawab dengan nama panggung, juga kurang sreg rasanya. Di sini hampir-hampir tak ada yang bisa disebut panggung teater. Jikapun ada, paling cuma panggung-panggungan yang lebih banyak dijadikan tempat mabuk dan gaya-gayaan ketimbang pementasan itu sendiri. Tak ada tempat yang benar-benar bisa dijadikan identitas. Sebuah brand layaknya Broadway di Amerika yang ketika mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang takjub.

Boleh dikata, inilah pertanyaan paling sulit bin ajaib bagi mereka yang bekerja tanpa tempat kerja yang jelas. Senasib dengan pengangguran, namun jauh lebih sibuk dibandingkan kapal pesiar yang (katanya) hanya tidur 2 jam dalam sehari. Seakan waktu 24 jam begitu sempit.

Banyak kegiatan yang mesti dilakukan. Berteater misalnya, selalu (sok) sibuk dengan urusan diskusi, jadi juri, bedah buku, nonton pementasan, latihan, buat setting, dan menggali dana. Itupun tak dihitung dengan waktu makan, ngopi, dan tidur yang sehat, sebab mana bisa berteater kalau tubuh tidak sehat, bukan?

Plus jangan lupa dengan saat tebar pesona pada anak-anak SMA yang baru ikut bergabung. Menceramahi mereka, mengajarkan betapa teater begitu menghidupkan kita sebagai manusia, walaupun kenyataannya tanpa teaterpun sebenarnya hidup tetap aman-aman saja, kok. Kita masih bisa makan lalapan, minum cola, berceloteh di angkringan, bahkan lebih punya banyak waktu buat care sama pacar.

Keadaan ini begitu terbalik dengan kawan-kawan di kantor, sekolah, hotel, rumah sakit, bank, dan sebagainya. Bagai langit dengan bumi, bagai otak dengan pantat. Masih mending seorang miskin yang tak punya tempat tinggal. Setidaknya kan ada saja yang mengasihani mereka karena keterbatasannya. Sedangkan teater, penyair, film, komposer, serta pekerjaan yang (lagi-lagi) tak punya tempat kerja lainnya?

Oh, saudara-saudara. Jangan salah kaprah. Ini bukanlah pekerjaan bagi orang-orang dengan kemampuan sembarang dan terbatas. Ini adalah pekerjaan yang mengharuskan kita melewati batas ruang, waktu, dan keadaan apapun. Tak ada yang mampu membatasinya. Bahkan Tuhan, pun tak bisa! Tak ada yang bisa. Kecuali orang tua kita yang kelak bertanya, dija cai lakar megae nyanan?

Betapa ironis memang. Namun apa boleh dikata. Inilah Bali yang sehari-hari tak pernah hirau soal pekerjaan. Masih teringat jelas bayangan kanak saat kumpi, pekak, iwa menyeruput kopi pagi hari sembari menikmati jaja lungsuran odalan malam kemarin. Begitu damai. Begitu santainya.

Tegalan dan carik hanyalah sepetak taman hias pengisi waktu senggang. Sedang sisa waktu lain dihabiskan dengan meyadnya dan menyama braya. Tak khayal begitu banyak pertanyaan semacam kija to? bertebaran setiap berpapasan dengan masyarakat sehari-hari. Penanda tempat dalam hal ini menjadi pemahbah untuk menjelaskan keberadaan seseorang, bahkan sudah jadi keterangan ganti penanda kerja.

Saat lawan bicara mengatakan ka carik, konteks pekerjaan pasti tertuju pada bertani, begitu seterusnya. Sampai kini, tempat kerja menjadi semacam prestise terhadap tingkat status sosial masyarakatnya.

Jika boleh jujur, pekerjaan tanpa punya tempat kerja pun sebenarnya tak kalah berprestisenya. Malahan membuat kita kaya segalanya. Kaya waktu, kaya tenaga, kaya pikiran, kaya hati, kaya akal dan kaya-kaya lainnya.

Bayangkan saja, bagaimana bisa membuat pementasan kalau tak punya banyak waktu, tenaga, pikiran, dan hati sementara kul-kul desa sudah sedari tadi memanggil buat ngayah di pura, istri minta dikeloni, si sulung minta bayar uang sekolah, si bungsu minta susu, ayah ibu yang sudah sakit-sakitan minta diurus, tagihan listrik, pulsa, air berdatangan, belum lagi mengurusi sanak saudara yang berebut tanah warisan, ditambah orang-orang yang datang mencekoki kita dengan nasihat, Kel kene gen gaen cai nganti tua? Apa kel baang cai panake nyanan? Puisi? Naskah drama?

Alamaaakk… Bagaimana bisa dapat inspirasi coba? Boro-boro inspirasi, mahasiswa saja ada yang gantung diri hanya karena skripsi. Sedang kita? Tetap terlihat bahagia dengan segala kekayaan yang kita punya. Saking bahagia karena kayanya, sampai-sampai dianggap orang gila yang seolah tak pernah mengurusi dan memikirkan apapun.

Padahal nyatanya, inilah pekerjaan paling sibuk, paling intelek dengan tingkat kecerdasan Einstein dan emosi Budha Rulai tentang eksistensialisme manusia terhadap Tuhan dan segala kehidupannya dalam dunia yang serba absurd nan fana (boooeeeeee). Lalu kurang luar biasa apalagi pekerjaan ini?

Kalau ditanya soal materi, cobalah pikir, mana bisa membuat pementasan teater yang notabene menghabiskan dana paling sedikit 20 juta? Lihat juga produksi gong kebyar saat PKB yang pengeluaran per-kabupatennya bisa sampai 400 ratus juta! Belum lagi acara-acara adat yang digelar hampir setiap saat.

Hanya orang kaya dengan mentalitas Tong Sam Cong yang mampu memanajemen pemasukan begitu banyaknya, menjadikan kosong adalah berisi, berisi adalah kosong. Tak percaya? Bolehlah tanya pada sanggar-sanggar di Bali dari A sampai Z. Tak usah diragukan. Mereka sudah biasa bolak-balik luar negeri untuk acara pentas.

Bisa bandingkan dengan ormas-ormas di media masa yang saling gontok-gontokan memperebutkan lahan. Terang sajalah. Sebagaimana sedalam-dalam sajak Sutardji yang takan mampu menampung air mata bangsa, Pulau Bali yang cuma seuprit jelas tak mungkin mampu menyediakan tempat kerja bagi penduduk yang jumlahnya kian bertambah dari tahun ke tahun.

Daripada berkoar mengusir pendatang, menjadikan kita masyarakat yang rasis, mending kita setujui saja Reklamasi Telok Benoa. Bila perlu, langsung saja satukan sampai Sulawesi, Kalimantan, Papua. Lumayan kan, hitung-hitung mengembangkan destinasi pariwisata sekaligus menambah lapangan kerja orang Bali sebagai tukang parkir, cleaning service, dan office boy.

Sungguh bukan maksud saya membandingkan pekerjaan. Perkara ini bukanlah tentang apa dan dimana kita bekerja. Melainkan bagaimana mesti berjuang dan percaya dengan pekerjaan yang ditekuni. Meluapnya kebutuhan manusia telah melahirkan berjibun jenis pekerjaan. Dengan bermacam tawaran dan kompleksitasnya, ruang, waktu, dan keadaan suatu jenis pekerjaan seolah mengalami distorsi yang tak mampu lagi menunjukan tingkatan status sosial seseorang.

Pun sebenarnya tak cukup diwakilkan hanya dengan pertanyaan, dija megae jani. Namun sungguh terlalu, saat semesta menyodorkan banyak hal yang semestinya bisa dikerjakan, tetap saja ada nyama Bali yang semasa muda jadi pelukis, kini bekerja di hotel atau pesiar. 

Pula anak-anak yang dilarang orang tuanya saat ingin kuliah kerawitan hanya karena alasan, dija cai lakar megae nyanan? Jika ada orang Bali yang masih berpikir demikian, perlu kiranya sesekali diajak piknik ke jaba pura, mendengarkan banyolan para rare yang sibuk menertawai diri mereka sendiri sambil berkata, “Yen onyang sibuk ngalih tongos megae, nyen ane lakar dadi bosne?” (T)

 

Tags: baliDunia KerjaReklamasiTeater
Share126TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Cupak Tanah: Teater Kampung di Panggung Modern

Next Post

Bercerai Kawin Lagi — Bacaan Orang Dewasa

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post

Bercerai Kawin Lagi -- Bacaan Orang Dewasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co