9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagi Seniman Muda, Mana Pertanyaan Bikin Galau, “Dija Megae” atau “Apa Gae”?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 19, 2019
in Esai

Ilustrasi: Dek Omo

Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan apa menanggapi pertanyaan ini.

Bagaimana sebaiknya memberikan jawaban yang pas pada si mpunya tanya. Jika kita pemain teater misalnya, bisakah menjawab dari panggung ke panggung? Tentu. Sah-sah saja sebenarnya memberikan jawaban.

Namun harus hati-hati juga. Sebab jawaban yang terlontar bisa jadi nyeleneh kedengaran apalagi buat mereka yang berjarak dengan dunia panggung. Nanti dikiranya kita terlalu mendramatisir pekerjaan, terlalu sok teater, sampai-sampai istilah perteateran pun dibawa kemana-mana.

Jika menjawab dengan nama panggung, juga kurang sreg rasanya. Di sini hampir-hampir tak ada yang bisa disebut panggung teater. Jikapun ada, paling cuma panggung-panggungan yang lebih banyak dijadikan tempat mabuk dan gaya-gayaan ketimbang pementasan itu sendiri. Tak ada tempat yang benar-benar bisa dijadikan identitas. Sebuah brand layaknya Broadway di Amerika yang ketika mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang takjub.

Boleh dikata, inilah pertanyaan paling sulit bin ajaib bagi mereka yang bekerja tanpa tempat kerja yang jelas. Senasib dengan pengangguran, namun jauh lebih sibuk dibandingkan kapal pesiar yang (katanya) hanya tidur 2 jam dalam sehari. Seakan waktu 24 jam begitu sempit.

Banyak kegiatan yang mesti dilakukan. Berteater misalnya, selalu (sok) sibuk dengan urusan diskusi, jadi juri, bedah buku, nonton pementasan, latihan, buat setting, dan menggali dana. Itupun tak dihitung dengan waktu makan, ngopi, dan tidur yang sehat, sebab mana bisa berteater kalau tubuh tidak sehat, bukan?

Plus jangan lupa dengan saat tebar pesona pada anak-anak SMA yang baru ikut bergabung. Menceramahi mereka, mengajarkan betapa teater begitu menghidupkan kita sebagai manusia, walaupun kenyataannya tanpa teaterpun sebenarnya hidup tetap aman-aman saja, kok. Kita masih bisa makan lalapan, minum cola, berceloteh di angkringan, bahkan lebih punya banyak waktu buat care sama pacar.

Keadaan ini begitu terbalik dengan kawan-kawan di kantor, sekolah, hotel, rumah sakit, bank, dan sebagainya. Bagai langit dengan bumi, bagai otak dengan pantat. Masih mending seorang miskin yang tak punya tempat tinggal. Setidaknya kan ada saja yang mengasihani mereka karena keterbatasannya. Sedangkan teater, penyair, film, komposer, serta pekerjaan yang (lagi-lagi) tak punya tempat kerja lainnya?

Oh, saudara-saudara. Jangan salah kaprah. Ini bukanlah pekerjaan bagi orang-orang dengan kemampuan sembarang dan terbatas. Ini adalah pekerjaan yang mengharuskan kita melewati batas ruang, waktu, dan keadaan apapun. Tak ada yang mampu membatasinya. Bahkan Tuhan, pun tak bisa! Tak ada yang bisa. Kecuali orang tua kita yang kelak bertanya, dija cai lakar megae nyanan?

Betapa ironis memang. Namun apa boleh dikata. Inilah Bali yang sehari-hari tak pernah hirau soal pekerjaan. Masih teringat jelas bayangan kanak saat kumpi, pekak, iwa menyeruput kopi pagi hari sembari menikmati jaja lungsuran odalan malam kemarin. Begitu damai. Begitu santainya.

Tegalan dan carik hanyalah sepetak taman hias pengisi waktu senggang. Sedang sisa waktu lain dihabiskan dengan meyadnya dan menyama braya. Tak khayal begitu banyak pertanyaan semacam kija to? bertebaran setiap berpapasan dengan masyarakat sehari-hari. Penanda tempat dalam hal ini menjadi pemahbah untuk menjelaskan keberadaan seseorang, bahkan sudah jadi keterangan ganti penanda kerja.

Saat lawan bicara mengatakan ka carik, konteks pekerjaan pasti tertuju pada bertani, begitu seterusnya. Sampai kini, tempat kerja menjadi semacam prestise terhadap tingkat status sosial masyarakatnya.

Jika boleh jujur, pekerjaan tanpa punya tempat kerja pun sebenarnya tak kalah berprestisenya. Malahan membuat kita kaya segalanya. Kaya waktu, kaya tenaga, kaya pikiran, kaya hati, kaya akal dan kaya-kaya lainnya.

Bayangkan saja, bagaimana bisa membuat pementasan kalau tak punya banyak waktu, tenaga, pikiran, dan hati sementara kul-kul desa sudah sedari tadi memanggil buat ngayah di pura, istri minta dikeloni, si sulung minta bayar uang sekolah, si bungsu minta susu, ayah ibu yang sudah sakit-sakitan minta diurus, tagihan listrik, pulsa, air berdatangan, belum lagi mengurusi sanak saudara yang berebut tanah warisan, ditambah orang-orang yang datang mencekoki kita dengan nasihat, Kel kene gen gaen cai nganti tua? Apa kel baang cai panake nyanan? Puisi? Naskah drama?

Alamaaakk… Bagaimana bisa dapat inspirasi coba? Boro-boro inspirasi, mahasiswa saja ada yang gantung diri hanya karena skripsi. Sedang kita? Tetap terlihat bahagia dengan segala kekayaan yang kita punya. Saking bahagia karena kayanya, sampai-sampai dianggap orang gila yang seolah tak pernah mengurusi dan memikirkan apapun.

Padahal nyatanya, inilah pekerjaan paling sibuk, paling intelek dengan tingkat kecerdasan Einstein dan emosi Budha Rulai tentang eksistensialisme manusia terhadap Tuhan dan segala kehidupannya dalam dunia yang serba absurd nan fana (boooeeeeee). Lalu kurang luar biasa apalagi pekerjaan ini?

Kalau ditanya soal materi, cobalah pikir, mana bisa membuat pementasan teater yang notabene menghabiskan dana paling sedikit 20 juta? Lihat juga produksi gong kebyar saat PKB yang pengeluaran per-kabupatennya bisa sampai 400 ratus juta! Belum lagi acara-acara adat yang digelar hampir setiap saat.

Hanya orang kaya dengan mentalitas Tong Sam Cong yang mampu memanajemen pemasukan begitu banyaknya, menjadikan kosong adalah berisi, berisi adalah kosong. Tak percaya? Bolehlah tanya pada sanggar-sanggar di Bali dari A sampai Z. Tak usah diragukan. Mereka sudah biasa bolak-balik luar negeri untuk acara pentas.

Bisa bandingkan dengan ormas-ormas di media masa yang saling gontok-gontokan memperebutkan lahan. Terang sajalah. Sebagaimana sedalam-dalam sajak Sutardji yang takan mampu menampung air mata bangsa, Pulau Bali yang cuma seuprit jelas tak mungkin mampu menyediakan tempat kerja bagi penduduk yang jumlahnya kian bertambah dari tahun ke tahun.

Daripada berkoar mengusir pendatang, menjadikan kita masyarakat yang rasis, mending kita setujui saja Reklamasi Telok Benoa. Bila perlu, langsung saja satukan sampai Sulawesi, Kalimantan, Papua. Lumayan kan, hitung-hitung mengembangkan destinasi pariwisata sekaligus menambah lapangan kerja orang Bali sebagai tukang parkir, cleaning service, dan office boy.

Sungguh bukan maksud saya membandingkan pekerjaan. Perkara ini bukanlah tentang apa dan dimana kita bekerja. Melainkan bagaimana mesti berjuang dan percaya dengan pekerjaan yang ditekuni. Meluapnya kebutuhan manusia telah melahirkan berjibun jenis pekerjaan. Dengan bermacam tawaran dan kompleksitasnya, ruang, waktu, dan keadaan suatu jenis pekerjaan seolah mengalami distorsi yang tak mampu lagi menunjukan tingkatan status sosial seseorang.

Pun sebenarnya tak cukup diwakilkan hanya dengan pertanyaan, dija megae jani. Namun sungguh terlalu, saat semesta menyodorkan banyak hal yang semestinya bisa dikerjakan, tetap saja ada nyama Bali yang semasa muda jadi pelukis, kini bekerja di hotel atau pesiar. 

Pula anak-anak yang dilarang orang tuanya saat ingin kuliah kerawitan hanya karena alasan, dija cai lakar megae nyanan? Jika ada orang Bali yang masih berpikir demikian, perlu kiranya sesekali diajak piknik ke jaba pura, mendengarkan banyolan para rare yang sibuk menertawai diri mereka sendiri sambil berkata, “Yen onyang sibuk ngalih tongos megae, nyen ane lakar dadi bosne?” (T)

 

Tags: baliDunia KerjaReklamasiTeater
Share126TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Cupak Tanah: Teater Kampung di Panggung Modern

Next Post

Bercerai Kawin Lagi — Bacaan Orang Dewasa

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post

Bercerai Kawin Lagi -- Bacaan Orang Dewasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co