25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagi Seniman Muda, Mana Pertanyaan Bikin Galau, “Dija Megae” atau “Apa Gae”?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 19, 2019
in Esai

Ilustrasi: Dek Omo

Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan apa menanggapi pertanyaan ini.

Bagaimana sebaiknya memberikan jawaban yang pas pada si mpunya tanya. Jika kita pemain teater misalnya, bisakah menjawab dari panggung ke panggung? Tentu. Sah-sah saja sebenarnya memberikan jawaban.

Namun harus hati-hati juga. Sebab jawaban yang terlontar bisa jadi nyeleneh kedengaran apalagi buat mereka yang berjarak dengan dunia panggung. Nanti dikiranya kita terlalu mendramatisir pekerjaan, terlalu sok teater, sampai-sampai istilah perteateran pun dibawa kemana-mana.

Jika menjawab dengan nama panggung, juga kurang sreg rasanya. Di sini hampir-hampir tak ada yang bisa disebut panggung teater. Jikapun ada, paling cuma panggung-panggungan yang lebih banyak dijadikan tempat mabuk dan gaya-gayaan ketimbang pementasan itu sendiri. Tak ada tempat yang benar-benar bisa dijadikan identitas. Sebuah brand layaknya Broadway di Amerika yang ketika mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang takjub.

Boleh dikata, inilah pertanyaan paling sulit bin ajaib bagi mereka yang bekerja tanpa tempat kerja yang jelas. Senasib dengan pengangguran, namun jauh lebih sibuk dibandingkan kapal pesiar yang (katanya) hanya tidur 2 jam dalam sehari. Seakan waktu 24 jam begitu sempit.

Banyak kegiatan yang mesti dilakukan. Berteater misalnya, selalu (sok) sibuk dengan urusan diskusi, jadi juri, bedah buku, nonton pementasan, latihan, buat setting, dan menggali dana. Itupun tak dihitung dengan waktu makan, ngopi, dan tidur yang sehat, sebab mana bisa berteater kalau tubuh tidak sehat, bukan?

Plus jangan lupa dengan saat tebar pesona pada anak-anak SMA yang baru ikut bergabung. Menceramahi mereka, mengajarkan betapa teater begitu menghidupkan kita sebagai manusia, walaupun kenyataannya tanpa teaterpun sebenarnya hidup tetap aman-aman saja, kok. Kita masih bisa makan lalapan, minum cola, berceloteh di angkringan, bahkan lebih punya banyak waktu buat care sama pacar.

Keadaan ini begitu terbalik dengan kawan-kawan di kantor, sekolah, hotel, rumah sakit, bank, dan sebagainya. Bagai langit dengan bumi, bagai otak dengan pantat. Masih mending seorang miskin yang tak punya tempat tinggal. Setidaknya kan ada saja yang mengasihani mereka karena keterbatasannya. Sedangkan teater, penyair, film, komposer, serta pekerjaan yang (lagi-lagi) tak punya tempat kerja lainnya?

Oh, saudara-saudara. Jangan salah kaprah. Ini bukanlah pekerjaan bagi orang-orang dengan kemampuan sembarang dan terbatas. Ini adalah pekerjaan yang mengharuskan kita melewati batas ruang, waktu, dan keadaan apapun. Tak ada yang mampu membatasinya. Bahkan Tuhan, pun tak bisa! Tak ada yang bisa. Kecuali orang tua kita yang kelak bertanya, dija cai lakar megae nyanan?

Betapa ironis memang. Namun apa boleh dikata. Inilah Bali yang sehari-hari tak pernah hirau soal pekerjaan. Masih teringat jelas bayangan kanak saat kumpi, pekak, iwa menyeruput kopi pagi hari sembari menikmati jaja lungsuran odalan malam kemarin. Begitu damai. Begitu santainya.

Tegalan dan carik hanyalah sepetak taman hias pengisi waktu senggang. Sedang sisa waktu lain dihabiskan dengan meyadnya dan menyama braya. Tak khayal begitu banyak pertanyaan semacam kija to? bertebaran setiap berpapasan dengan masyarakat sehari-hari. Penanda tempat dalam hal ini menjadi pemahbah untuk menjelaskan keberadaan seseorang, bahkan sudah jadi keterangan ganti penanda kerja.

Saat lawan bicara mengatakan ka carik, konteks pekerjaan pasti tertuju pada bertani, begitu seterusnya. Sampai kini, tempat kerja menjadi semacam prestise terhadap tingkat status sosial masyarakatnya.

Jika boleh jujur, pekerjaan tanpa punya tempat kerja pun sebenarnya tak kalah berprestisenya. Malahan membuat kita kaya segalanya. Kaya waktu, kaya tenaga, kaya pikiran, kaya hati, kaya akal dan kaya-kaya lainnya.

Bayangkan saja, bagaimana bisa membuat pementasan kalau tak punya banyak waktu, tenaga, pikiran, dan hati sementara kul-kul desa sudah sedari tadi memanggil buat ngayah di pura, istri minta dikeloni, si sulung minta bayar uang sekolah, si bungsu minta susu, ayah ibu yang sudah sakit-sakitan minta diurus, tagihan listrik, pulsa, air berdatangan, belum lagi mengurusi sanak saudara yang berebut tanah warisan, ditambah orang-orang yang datang mencekoki kita dengan nasihat, Kel kene gen gaen cai nganti tua? Apa kel baang cai panake nyanan? Puisi? Naskah drama?

Alamaaakk… Bagaimana bisa dapat inspirasi coba? Boro-boro inspirasi, mahasiswa saja ada yang gantung diri hanya karena skripsi. Sedang kita? Tetap terlihat bahagia dengan segala kekayaan yang kita punya. Saking bahagia karena kayanya, sampai-sampai dianggap orang gila yang seolah tak pernah mengurusi dan memikirkan apapun.

Padahal nyatanya, inilah pekerjaan paling sibuk, paling intelek dengan tingkat kecerdasan Einstein dan emosi Budha Rulai tentang eksistensialisme manusia terhadap Tuhan dan segala kehidupannya dalam dunia yang serba absurd nan fana (boooeeeeee). Lalu kurang luar biasa apalagi pekerjaan ini?

Kalau ditanya soal materi, cobalah pikir, mana bisa membuat pementasan teater yang notabene menghabiskan dana paling sedikit 20 juta? Lihat juga produksi gong kebyar saat PKB yang pengeluaran per-kabupatennya bisa sampai 400 ratus juta! Belum lagi acara-acara adat yang digelar hampir setiap saat.

Hanya orang kaya dengan mentalitas Tong Sam Cong yang mampu memanajemen pemasukan begitu banyaknya, menjadikan kosong adalah berisi, berisi adalah kosong. Tak percaya? Bolehlah tanya pada sanggar-sanggar di Bali dari A sampai Z. Tak usah diragukan. Mereka sudah biasa bolak-balik luar negeri untuk acara pentas.

Bisa bandingkan dengan ormas-ormas di media masa yang saling gontok-gontokan memperebutkan lahan. Terang sajalah. Sebagaimana sedalam-dalam sajak Sutardji yang takan mampu menampung air mata bangsa, Pulau Bali yang cuma seuprit jelas tak mungkin mampu menyediakan tempat kerja bagi penduduk yang jumlahnya kian bertambah dari tahun ke tahun.

Daripada berkoar mengusir pendatang, menjadikan kita masyarakat yang rasis, mending kita setujui saja Reklamasi Telok Benoa. Bila perlu, langsung saja satukan sampai Sulawesi, Kalimantan, Papua. Lumayan kan, hitung-hitung mengembangkan destinasi pariwisata sekaligus menambah lapangan kerja orang Bali sebagai tukang parkir, cleaning service, dan office boy.

Sungguh bukan maksud saya membandingkan pekerjaan. Perkara ini bukanlah tentang apa dan dimana kita bekerja. Melainkan bagaimana mesti berjuang dan percaya dengan pekerjaan yang ditekuni. Meluapnya kebutuhan manusia telah melahirkan berjibun jenis pekerjaan. Dengan bermacam tawaran dan kompleksitasnya, ruang, waktu, dan keadaan suatu jenis pekerjaan seolah mengalami distorsi yang tak mampu lagi menunjukan tingkatan status sosial seseorang.

Pun sebenarnya tak cukup diwakilkan hanya dengan pertanyaan, dija megae jani. Namun sungguh terlalu, saat semesta menyodorkan banyak hal yang semestinya bisa dikerjakan, tetap saja ada nyama Bali yang semasa muda jadi pelukis, kini bekerja di hotel atau pesiar. 

Pula anak-anak yang dilarang orang tuanya saat ingin kuliah kerawitan hanya karena alasan, dija cai lakar megae nyanan? Jika ada orang Bali yang masih berpikir demikian, perlu kiranya sesekali diajak piknik ke jaba pura, mendengarkan banyolan para rare yang sibuk menertawai diri mereka sendiri sambil berkata, “Yen onyang sibuk ngalih tongos megae, nyen ane lakar dadi bosne?” (T)

 

Tags: baliDunia KerjaReklamasiTeater
Share126TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Cupak Tanah: Teater Kampung di Panggung Modern

Next Post

Bercerai Kawin Lagi — Bacaan Orang Dewasa

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post

Bercerai Kawin Lagi -- Bacaan Orang Dewasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co