Foto: FB/Hendri Harliawan

 

MINGGU, 12 November 2017, di Aula Kementrian Agama Buleleng, Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Singaraja, melangsungkan acara bedah buku “Munajat Hati” sebuah novel karangan saya sendiri.

Dalam acara tersebut, dihadiri oleh Bpk. Dr. I Wayan Artika, S.Pd,M.Hum (dosen PBSI) dan Kakanda Suwardi Rasyid, S.Pd (Presidium KAHMI Bali) sebagai pembedahnya. Pak Artika, sesuai dengan keahliannya di bidang sastra dan Bang Onang (panggilan Kanda Suwardi Rasyid) yang melihat dari perspektif ke-Islamannya menjadi perpaduan yang pas pada acara kemarin.

Diskusi yang dipandu oleh Kakanda Marazaenal Adipta, S.Pd (selaku moderator) itu didatangi oleh berbagai organisasi mahasiswa seperti: Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Al-Hikmah UNDIKSHA, beberapa mahasiswa dari jurusan Pendidikan Sejarah, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan ada juga beberapa siswa-siswi Sekolah Menengah Atas.

Saya, selaku penulis novel tersebut, akan memberitahukan apa yang menjadi latarbelakang saya menulis novel tersebut. Ada tiga latarbelang dalam penulisan novel ini.

Pertama, keadaan ummat Islam yang senang dengan taklid buta. Memaknai “jihad” hanya sebatas peperangan saja. Akhirnya, kata “jihad” disalah artikan maka timbullah terorisme. Padalah dalam Islam sendiri tidak ada ajaran tentang terorisme. Bukan hanya Islam, saya kira semua agama tidak ada yang mengajarkan perbuatan terkutuk itu.

Kedua, saya melihat generasi (baca: pemuda) saat ini sudah lupa dengan siapa pembawa ajaran Islam hingga kita nikmati sampai saat ini. Nabi Muhammad. Kapan beliau lahir, siapa ayahnya, siapa ibunya, siapa kakeknya, kapan beliau meninggal, dll. Pengetahuan seperti itu perlahan-lahan sudah tergerus dengan tokoh-tokoh di luar Islam.

Saya tidak melarang siapa pun untuk mengidolakan arti korea, filsuf barat, atau tokoh-tokoh lain di luar Islam, akan tetapi, saya ingin kita sebagai pemuda-pemudi Islam harus mampu meyeimbangkan hal tersebut. Ibaratkan 50% mengidolakan Nabi Muhammad dan sisanya mengidolakan tokoh-tokoh lainya.

Latarbelakang yang ketiga adalah, saya mencoba memberikan pemahaman bahwa Islam itu bukan statis, tapi harus dipahami secara dinamis. Islam itu seperti cair bukan padat. Seprti air bukan seperti batu. Ketika air dituangkan ke dalam gelas yang bulat, maka air itu akan mengikuti bentuk gelas tersebut.

Tidak dengan batu yang padat. Batu yang padat jika dimasukkan ke dalam bentuk wadah apapun, dia tidak ada berubah bentuk. Begitu pun Islam. Secara historis, Islam diturunkan di Jazirah Arab, akan tetapi tidak serta merta Islam di Indonesia harus seperti Islam di Arab. Atau Islam di negara lain.

Munajat Hati, novel yang ceritanys dimulai dengan kisah seorang pemuda bernama Muhammad Amirullah. Ia adalah seorang mahasiswa S-1 akhir di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Jurusan Pendidikan Ekonomi.

Muhammad Amirullah adalah seorang mahasiswa yang sangat menjaga identitas keislamannya walaupun ia hidup di tengah-tengah kaum mayoritas agama Hindu. Dalam menjalani rutinitasnya, Amir selalu ditemani oleh ketiga mahasiswa yang berada di bawahnya. Ketiga mahasiswa itu ialah, Wahyudi, Ahmad dan Nur. Mereka bertiga satu kontrakan denganya dan satu daerah dengannya, Tuban.

Dalam cerita, saya menceritakan ada seorang gadis bernama Anak Agung Ayu Alisha. Ia adalah gadis Hindustan cantik nan cerdas dari Negara. Seorang gadis yang sangat misterius. Seorang gadis Hindu yang sangat cinta dengan Islam dan ritual ke Puura tidak pernah ia tinggalkan. Seorang gadis Hindu yang lebih Islami daripada gadis Islam yang hanya mengaku Islam.

Hingga suatu ketika, ia berani bertanya kepada Amir tentang apa itu jihad. Apakah jihad itu terorisme? Dan ia juga sangat antusias bertanya sejarah kelahiran seorang pemimpin besar umat Islam baginda Nabi SAW. di tengah kaum muda muslim-muslimah yang sudah lupa dengan kelahiran Nabi Muhammad, justru gadis Hindustanlah yang sangat antusias akan hal itu. Dan akhirnya Alisha jatuh cinta dengan Amir.

Saya sengaja memilih gadis non-muslim sebagai simbol bahwa sudah lunturnya kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad. Saya berharap dengan adanya novel ini, dapat menjadi tamparan keras kepada generasi muslim saat ini. Dalam novel ini, saya juga sedikit mengkritik masalah sosial yang ada di Kabupaten Tuban mengenai adanya pabrik semen.

Satu lagi tokoh yang menjadi saingan Alisha. Dia bernama Fatimah—belahan hati Amir. Fatimah gadis yang nantinya akan dinikahi oleh Amir adalah seorang mahasiswi alumni Pondok Pesantren Al-Anwa, Sarang, Jawa Tengah. Pondok Pesantren asuhan KH. Maemun Zubair.

Rumitnya rumah tangga Amir dan Fatimah menjadi klimaks dari novel ini. Setelah menikah dengan Amir, Fatimah harus kembali ke Bali untuk melanjutkan kuliahnya. Sedangkan Amir berada di Tuban bekerja serta mempersiapkan diri untuk S-2nya di Turki. LDR tidak membuat cinta yang telah mereka jalin putus.

Novel ini diakhir dengan lumayan dramatis. Semenjak Amir menikah dengan Fatimah, Alisha tak lagi berhubungan dengan Amir. Pada saat Amir dan Fatimah akan berangkat ke Turki, mereka berdua hendak meminta restu kepada Alisha. Akan tetapi, Alisha sudah meninggal dunia dalam keadaan muslim. Terdapat penyesalan yang mendalam di hati Amir dan Fatimah.

Ini adalah novel pertama yang saya tulis. Seperti kata Pak Artika, Bang Onang dan para peserta bedah buku yang hadir dan memberikan kritik-saran, saya sebagai penulis pemula, masih banyak sekali kekurangan-kekurangan novel yang saya tulis. Saking banyaknya, saya sampai tidak bisa menuliskannya. Dan saya sangat merasakan akan hal itu. Mulai dari pemilihan diksi, teknik pengutipan, alur cerita, plot, karakter tokoh, dan masih banyak kekurangan-kekurangan lainya.

Saya terlalu cepat menyudahi novel ini. Sebenarnya masih dapat dieksplor dan dikembangkan lagi alur ceritanya. Latar tempat yang berpindah dari Bali ke Tuban membuat pembaca harus lebih konsentrasi dalam berimajinasi saat membacanya.

Sebelum saya mengakhiri ulasan ini, sebelumnya saya ucapkan beribu terimakasih kepada Bpk Dr. I Wayan Artika, S.Pd,M.Hum, yang telah banyak memberikan masukan kepada saya khususnya dan kepada peserta umumnya. Masukan-masukan dan motivasi tentang literasi yang membangun. Memberikan masukan tanpa harus menyalahkan.

Kepada Kakanda Suwardi Rasyid, S.Pd, yang juga memberikan kritik dan saran serta motivasi kepada saya dan juga peserta bedah buku. Kemudian, kepada Kakanda Harian Noris Saputera selaku Ketua Umum HMI Cabang Singaraja yang telah membantu berupa moril dan material untuk melancarkan acara tersebut.

Kepada Ayunda Indriani Lestari (ketua panitia) dan Quratul Aen (sekretaris panitia) yang dengan semangatnya mengkoordinir teman-teman panitia untuk mensukseskan acara bedah buku kemarin. Intinya saya sangat berterimakasih kepada semua KOHATI HMI Singaraja.

Kepada Kakanda Marazaenal Adipta,S.Pd (Bang Zen) yang bersedia menjadi moderator acara bedah buku kemarin. Dziky Muhammad Nur Cholif, yang dengan sabar saya suruh membuat pamflet dan baner, Taufikur Rahman, yang dengan setia menemani saya kesana-kemari, Muhammad Fahmi, dengan kameranya untuk mendokumentasikan, Achmad Chalim dan Frengky serta teman-teman yang tidak dapat saya sebut namanya satu persatu. Terimakasih. Tanpa kalian semua, acara tersebut tidak akan pernah terlaksana.

YAKUSA!!! (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY