• Kumpulan Puisi KEKASIH TELUK
  • Penulis : Saras Dewi
  • Editor/Proof-Read : Olin Monteiro
  • Kata Pengantar : Joko Pinurbo
  • Ilustrasi:  Parwa Lay-Out :Arif Hidayatullah
  • Penerbit : PBP Publishing  / PWAG Indonesia
  • Cetakan Pertama : Maret 2017

PUISI Saras Dewi merupakan puisi yang segar untuk dinikmati dan dipahami. Puisi yang dihadirkan oleh Saras Dewi sebagian besar adalah bentuk kecewa, kemarahan, dan gugatan terhadap manusia perusak alam.  Rasa kecewa itu seperti tidak henti menjadi perjalanan puisi Saras Dewi.

Puisi yang tersaji sangat menarik karena pembaca akan memahami kekecewaan sekaligus harapan di dalamnya. Ketika menyampaikan keterhubungan antara kecewa dan harapan, Saras Dewi lebih memilih untuk bertimbang rasa kepada alam. Dialog-dialog pada alam sangat terasa dalam kumpulan puisi Kekasih Teluk ini. Saras Dewi mengajak alam berbicara seolah bersama kawan, kekasih, bahkan Ibu.

Menyelami puisi Saras Dewi seperti menyelami rahim ibu. Kembali pada ibu yakni alam. Seperti pada puisinya yang berjudul Ibu 

Aku tidak mau manusia menang

Dalam perkelahian tidak setimbang dengan alam

Sebab bila mereka menang,

berarti mereka telah kalah

Karena mereka sejatinya membunuh,

Ibunya sendiri

Menghormati ibu sama halnya dengan menghormati alam. Saras Dewi mengajak Ibu untuk bertimbang rasa dan berkeluh kesah. “Mereka” dalam puisi ini mengacu pada manusia yang semakin jemawa menindas alam. Kekecewaan itu juga terasa pada puisi Pernyataan untuk Teluk

Di atas pasir yang basah

Aku tuliskan pertanyaan kepada Teluk,

“Mengapa begitu sakit untuk mencintaimu?”

Aku menatap huruf-huruf itu

Yang jawabannya sudah tersembunyi di nadiku

Ombak datang lalu menghapuskan pertanyaan itu

Lagi kutuliskan dengan ujung telunjuk

“Mengapa begitu pilu untuk mencintaimu?”

Penggalan puisi tersebut penulis kembali berdialog dengan alam kali ini Teluk. Perbincangan itu seperti rasa sakit hati karena begitu mencintai. Pada puisi ini Saras Dewi menghadirkan alam bagai kekasihnya yang sangat sulit untuk dipertahankan. Hal serupa juga terdapat pada puisi 

Percumbuan dengan Teluk

Cara bercinta dengan Teluk

Tanpa tergesa-gesa

Sebab Mahakala mengendurkan

Ikatan waktu yang lazimnya mengekang dunia

Bibirku yang panas

Mengarungi lekuk tubuh

Teluk Dadaku menindih dadanya

Debarannya melahirkan tunas-tunas puisi

Saras Dewi mencurahkan cintanya pada alam seperti dia menghormati manusia. Baginya alam adalah rumah yang penuh dengan cerita dan taksu. Bahkan pada puisi Rumah untuk Semua mampu menghadirkan percik-percik kisah dari Sanur. 

Sanur adalah sahabat

Ibu Yang memohon berkat untuk bayi mungilnya

Agar matahari menguatkan tulang kecilnya

….

Milayaran cerita tumpah ruah di Sanur

Energinya menyala-nyala,

Bermukim didalam jiwa para pemujanya

Taksu Sanur,

Taksu Sanur,

Taksu Sanur 

Selain soal Teluk, romansa serupa juga hadir pada Sanur. Beberapa puisi tentang Sanur juga hadir dan memberikan karakteristik kisahnya. Seperti pada judul Sanur dan Mereka yang Menjaga Sanur. Dari berbagai kekecewaan dan hasrat mengugat Saras, sampailah pada doa yang dia panjatkan tanpa nama agama.

 

Agamaku tidak diciptakan tuhan

Atau para dewata Ia dinyanyikan oleh lumba-lumba

Yang senyumnya mengajarkanku,

Kebebasan

Keyakinanku tidak bertempat,

Di rumah ibadah buatan manusia

Laut adalah persemayaman yang luhur

Pegunungan adalah kesaktian semesta

Padang lamun adalah ruang suciku.

Agamaku tidak dituliskan

Dalam aksara-aksara pewahyuan

Agamaku tertera didalam guratan batang-batang pepohonan raksasa.

Ayat-ayat kehidupan terpatri

Didalam kulit mereka.

Puisi pembuka pada kumpulan puisi ini yakni “Agamaku”. Pembuka yang menjadi kesimpulan atas tujuan dan impian Saras Dewi bahwa tumbuhan dan hewan merupakan kebebasan yang luhur dan ruang suci untuk menyelami kehidupan. Wujud permohonan maaf juga dia sampaikan kepada hewan yang sangat jarang kita lihat proses ini. Wujud permohonan maaf itu terlihat pada puisi Nyanyian Terakhir

Yang tersisa hanya permohonan maaf

Dibalut dengan ribuan lapis air mata,

Juga bertumpuk rasa sesal yang tiada berujung

Maafkan aku burung layang

Maafkan aku pohon cendana

Maafkan aku paus biru

Maafkan aku orang utan  

Saras Dewi memiliki caranya sendiri untuk berdoa sebagai permohonan maaf dan rasa cinta. Bentuk penghormatan kepada alam ini juga terlihat di Bali pada ritual Tumpek Kandang yakni penghormatan dan rasa syukur kepada hewan yang telah memberikan kehidupan bagi manusia. Namun, Saras Dewi justru meminta maaf. Permohonan maaf tersebut lebih dalam dibandingkan hanya rasa terima kasih.

Maka rasa memiliki sangat nyata dalam puisi-puisi Saras Dewi. Berawal dari kecewa kumudian menyepi menjadi doa cinta yang tetap akan memberikan harapan untuk hidup di hari esok. Puisi Pinta adalah bentuk keihklasan atas penerimaan yang terjadi. Segala harapan diyakini akan tumbuh dalam senyuman.

Izinkanlah aku, menulis untukmu

Cintaku bebas,

Ia tidak menuntut apapun sebagai imbalan

Ia menerima perih kerugian

Sebagai mutiara didalam senyuman

Harapan masih menyala, doa masih dipanjatkan, cinta masih menjadi bahagia. Selama semua itu utuh, maka puisi akan selalu hadir memberi ruang segar untuk setiap kepenatan jiwa dan kehidupan. Selamat atas lahirnya Kekasih Teluk. Kelak puisi akan hadir sebagai keberanian untuk tetap hidup memperjuangkan kehidupan bagi semua makhluk, seperti kata Pramoedya Ananta Toer “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” (T)

Singaraja, 20 Agustus 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY