Pentas teater Selem Putih dengan judul Revolusi di Nusa Damai. /Foto-foto: Doni Marta

 

“Saya salut dengan Putu Satria Kusuma,” begitu komentar Ida Bagus Martinaya (Gus Martin), dramawan dari Teater Agustus, usai menonton drama berjudul “Revolusi di Nusa Damai” dalam acara Bali Mandara Mahalango di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Denpasar, Kamis 17 Agustus 2017.

Pementasan itu dimainkan Teater Selem Putih, Singaraja, dengan sutradara Putu Satria Kusuma. Pementasan itu mendapat apresiasi luar biasa dari kalangan sastrawan dan drmawan. Selain Gus Martin, hadir juga antara lain dramawan dan sastrawan kondang Abu Bakar, Nyoman Wirata dan Alit S Rini, Nanoq da Kansas, Kadek Sonia Piscayanti dan Made Adnyana Ole.

Kenapa Gus Martin salut dengan Putu Satria? Bukan semata pementasan malam itu bisa dikata berhasil, namun juga karena upaya yang dilakukan Putu Satria selama ini bukan sekadar bermain drama, tapi juga melakukan gerakan literasi yang sesungguhnya.

“Putu Satria selama ini terus menggali dari karya-karya novel untuk dipentaskan dalam bentuk drama. Tidak mudah mengadopsi dari novel ke panggung,” kata Gus Martin.

Bagi Gus Martin, apa yang dilakukan Putu Satria merupakan upaya mengangkat literasi dari novel ke panggung teater. Ini jarang dilakukan para seniman. “Karena memang tidak mudah mengangkat cerita novel secara utuh ke atas pentas,” ujarnya.

“Revolusi di Nusa Damai” memang sebuah karya novel biografi yang ditulis Ktut Tantri, seorang Amerika yang mengubah namanya menjadi nama Bali. Novel itu memang menghadirkan suasana Bali pada masa penjajahan Belanda, Jepang  masa kemerdekaan.

Hubungan antara seorang penulis dari Amerika yang kemudian mendapat nama Ktut Tantri, bersahabat dengan Agung Nura di tengah penjajahan, perjuangan dan kemerdekaan, tetapi juga kegetiran. Pada masa itu Agung Nura melalui gerakan bawah tanah terus berjuang menjalin api kemerdekaan.

Pada saat demikian, pergolakan kemerdekaan sering mengalami salah paham yang berujung kematian. Itulah yang terjadi pada Agung Nura, ia ditembak di rumahnya di pegunungan akibat salah paham. “Kesalahpahaman  dapat menutup kesadaran, mengubah kawan menjadi lawan. Ini sebagian dari pesan drama ini, Hal ini juga beberapa kali terjadi di Indonesia secara berulang hingga kini,” pesan Putu Satria, sang sutradara.

Bukan kali ini saja Putu Satria mengangkat isi novel ke tengah panggung. Setidaknya dalam puluhan tahun ia berkesenian di dunia teater ia telah tiga kali mengangkat karya-karya novel ke atas panggung. Di antaranya, Sukreni Gadis Bali dan yang terbaru adalah Revolusi di Nusa Damai.

Memang terdapat sejumlah hal yang menganggu dalam pementasan itu, semisal tata lampu dan layar di panggung yang agak mengganggu. “Tetapi terlepas catatan kekurangan kecil tersebut, Putu Satria sudah luar biasa dalam menggarap drama ini,” puji Gus Martin. (T/R)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY