Bagian dari pementasan monolog Damai yang dimainkan Wayan Sumahardika/ Foto: Mursal Buyung

TEATER kini cenderung bicara dengan bahasa visual. Hanya saja penonton (pasar) masih lebih nyaman menikmati tontonan verbal. Kita harus berani membuat kompromi dengan paradigma baru: bahwa kompromi bukan kekalahan atau pun pelacuran tetapi upaya sungguh-sungguh untuk (belajar dari seni pertunjukan tradisi) bisa menciptakan (baca: menambah) pengalaman batin.

Kompromi apa dan bagaimana yang bisa kita tauladan dari teater tradisi?

Kita harus melihat bagaimana seni pertunjukan tradisi memposisikan diri dalam kehidupan.  Dalam tradisi, seni bukan profesi, tapi dharma — urunan anggota masyarakat pada komunitasnya. Di situ tidak ada keuntungan atau kerugian. Yang ada perasaan berguna.

Rasa berguna itu adalah harga yang besar. Membuat anggota masyarakat yang terlibat dalam seni pertunjukan, merasa nyaman dalam kehidupan bersama. Karena kewajibannya pada komunitas terpenuhi. Tentu saja ia tak akan mau kehilangan itu. Sebagai akibatnya, ia akan selalu berusaha untuk mempertahankan keadaan itu dengan menjaga reputasinya. Berarti ia akan sangat menjaga perasaan penggemarnya.

Seni pertunjukan dalam kehidupan tradisi ada dua jenis. Yang sakral, terkait dengan upacara, dan yang profan, yang bisa dipertunjukkan kepada umum setiap saat.

Tapi walau bebas dipertunjukkan, seni profan terkait dengan hajatan warga. Tak ada pertunjukkan berdiri sendiri yang tak terkait hajatan.

Sebagai bagian dari hajatan, tak jarang seni pertunjukan menyesuaikan tema cerita. Atau sekalian memasukkan, titipan pesan dari sang empunya hajat. Tapi itu dilakukan dengan baik dan tepat. Sama sekali tak mengganggu keutuhan persembahan.

Beberapa jenis pertunjukan tradisi sudah menjadi perangkat “terapi sosial”. Ada jenis pertunjukan yang digelar untuk mengundang hujan, menolak bala atau untuk memberitahu masyarakat waspada karena sedang ada wabah.

Fungsi sosial itu menyebabkan seni pertunjukan bukan ajang meniti karir. Tapi seutuhnya pengabdian. Toh di situlah justru banyak lahir maestro yang legendaris.

Seni pertunjukan tradisi juga tak menolak menjadi alat kampanye. Kampanye keluarga berencana dari pemerintah (Orde Baru) misalnya, telah membuat KB di Bali tercatat sangat berhasil, lewat seni pertunjukan.

Kubu politik pun gencar memakai seni pertunjukan untuk kampanye. Tak akan mungkin dipakai kalau tidak dianggap sangat efektif untuk membentuk opini dan memenangkan kompetisi.

Walhasil seni pertunjukan tak perlu diragukan lagi potensinya: sangat meyakinkan sebagai sekutu/alat tembak. Pasti dicari dan dibutuhkan dan tak mungkin tidak dengan “penghargaan tinggi”

Posisi seni pertunjukan yang begitu strategis dan seksi itu, menyebabkan harga tawarnya menggiurkan. Kompromi yang dilakukan teater tak akan mungkin tak menguntungkan, asal pelakunya pintar dalam negosiasi. Awas, waspada dan pantang mengabdi kecuali pada hati nurani sendiri. Kompromi tak akan mengubur tapi menyuburkan teater. Kompromi tak akan membikin kabur, tapi masyur teater. (T)

Jakarta. 30 Maret ’17

BACA JUGA: Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (2), Hakekatnya Memang Batasan

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY