Wayan Redika, Tumbal dan Ikan

KWATRIN KEGEMBIRAAN

1

Sebelum ucapan selamat petang terdengar
Aku tahu angin lebih dulu mengucapkannya
Dari luar jendela. Kau cukup tersenyum saja
Biarkan ruap kopi menyimpan dulu suaramu

2

Sebelum bisikan selamat tidur terucapkan
Aku tahu udara lebih dulu menyampaikannya
Dari balik kelambu. Kau cukup mengangguk saja
Biarkan musik malam menerjemahkan hatimu

2014

KWATRIN KESEDIHAN

1

Aku pernah sangat merindukanmu
Menempatkan matamu dalam lemari kaca
Serta menampung senyumanmu dengan piala
Dari tembikar. Lalu napasmu kujadikan napasku

2

Aku pernah sangat mencintaimu
Menjadikan rindu sebagai kiblat satu-satunya
Serta mengundang malaikat-malaikat bergembira
Dalam hatiku. Lalu kami minum anggur bersama

3

Aku pernah sangat mengagungkanmu
Belajar kepada pagi yang menerbitkan cahaya pertama
Juga berguru kepada senja yang mematangkan
Semua cahaya. Lalu aku terbakar api

2014

BATU AKIK

Puisi yang baik seharusnya
Seperti batu akik. Permukaanya halus
Kedalamannya dapat diterawang dan sinarnya
Memancar ke luar. Batu akik yang matang
Tidak banyak menampilkan gambar
Namun memantulkan bayangan
Hati yang menggosoknya

2015

SHARE
Previous articleBaca Lontar Menembus Lorong Waktu: Intelektual Bali Lampau dan Kegagapan Kita Kini
Next articleMbok
Acep Zamzam Noor

Penyair dan pelukis. Lahir di Tasikmalaya. Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan sambil terus menulis dan melukis. Buku kumpulan puisinya antara lain Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), dan Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY