23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Provinsi Madura Swasta

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
September 25, 2018
in Esai
Provinsi Madura Swasta

Ilustrasi diambil dari Google

DALAM artikelnya, Tirmizi menyebutkan bahwa antara Madura ‘swasta’ dengan Madura ‘murni’ selalu memiliki keterikatan citra, reputasi keduanya saling bergantung antara satu sama lain (Lontar Madura: 2012). Tentu, hal ini tak lain karena orang-orang Madura yang ada di bagian timur Jawa Timur ini (yang memiliki sejarah panjang perpindahannya sejak awal abad 18 itu) masih sebagai pantulan cermin dari Madura pulau dalam segala hal, terutama dari segi sosio-etnik.

Namun, dari sisi eksistensi Madura yang kita kenal dengan olok-olok sebagai “swasta” itu tak lebih hanya merupakan bayang-bayang semata, atau sebagai sub kultur dan alteritas, yang identitasnya selalu tertutupi Madura ‘murni’.

Walaupun secara genealogi mereka adalah orang-orang Madura, bukan duplikat, bukan fotokopi, apalagi imitasi, pun secara kuantitas mereka tidak kalah banyak dengan orang Madura yang ada di pulau—Hitung saja keberadaannya di Probolinggo yang kurang lebih 85% dari total penduduknya, di Situbondo dan Bondowoso memdekati 90%. Belum lagi di Jember, Lumajang, sebagian Pasuruan dan sebagian kecil Banyuwangi—tapi masih sulit ditemukan kepercaya-diriannya sebagai identitas.

Dengan kata lain Madura ‘swasta’ belum menemukan pijakan eksistensial-identitasnya, dan sebenarnya ini merupakan problematik yang samar dan sedikit abstrak.

Di tahun-tahun lewat, memang pernah digulirkan wacana-budaya semacam Pendhalungan di Jember dan Probolinggo untuk mengokohkan identitas etnik terutama bagi Madura di bagian Jawa Timur yang dikenal sebagai daerah “Tapal Kuda” ini. Namun rupa-rupanya wacana itu tidak tepat sasaran dan sampai sekarang masih mengambang. Sebab istilah pendhalungan sendiri seperti yang kita tahu merupakan pengertian dari pembauran dua budaya atau lebih dalam satu wilayah. Sedangkan orang-orang Madura yang ada di sana masih mengakar kuat dan berpijak dengan kemaduraannya, alias masih menjaga kemurnian warisan kulturalnya; Jarang ditemukan kebudayaan yang sudah benar-benar melebur dan bisa disebut “pendalungan”. Warisan Madura masih tetap Madura, begitu pun hal yang berbau Jawa masih murni dengan kejawaannya.

Dari gambaran kasus seperti ini, senyata-nyatanya mereka sedang berada di sebuah identitas Madura namun meragukan. Untuk mengakui sebagai orang Jawa jelas tidak ada persangkut-pautan apa-apa, baik secara genealogi maupun budaya. Hanya saja mereka tinggal di tanah Jawa. Tapi untuk menyebut sebagai Madura dalam makna sebenar-benarnya juga dipenuhi perasaan wagu. Dan pada akhirnya mereka menyebut dirinya sebagai Madura Swasta, tapi sebutan ini tentu lebih sebagai ejekan terhadap identitas dirinya sendiri yang dirasa tidak jelas, yang dirasa tidak ada ‘pengesahan budaya’ dan hanya sebagai  pseudo-culture.

Pada akhirnya sebutan “Madura Swasta” menjadi konotatif dalam konteks identitas orang-orang Madura yang sudah turun menurun lahir dan hidup di Tapal Kuda, bukan sebagai identitas-eksistensial yang sebenarnya. Namun untuk mencari identitas baru tentu tidak akan mungkin, bahkan sia-sia. Selain mengaburkan sejarahnya, juga tidak akan bisa dipaksakan memakai jubah kebudayaan baru. Di sini mungkin menjadi titik perbedaannya dengan budaya lain, orang-orang Madura di Tapal Kuda tidak mengalami asimilasi budaya secara alami. Hipotesis ini bisa dibuktikan dengan, dari sebagian besar mereka walau sudah sebagai keturunan ke tujuh atau lebih atas leluhurnya yang pindah dari pulau Madura ke Tapal Kuda pada zaman pra Indonesia, nyatanya hari ini mereka masih tetap Madura—yang tidak berbeda dari orang Madura di Pulau.

Orang-orang Madura Tapal Kuda tentu masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengukuhkan eksistensi identitasnya, juga bagaimana caranya mengembalikan agar istilah Madura Swasta menjadi denotatif, sehingga bisa menjadi identitasnya yang kontinuitas dan tepat sasaran.

Maka, menurut saya, salah satu cara paling strategis adalah dengan memasarkan istilah “Madura Swasta” sebagai istilah formal dan resmi. Kalau akhir-akhir ini Madura Pulau mewacanakan untuk mendirikan provinsi baru atau pemekaran, bukankah Tapal Kuda juga pernah membikin wacana serupa pada sekitar tahun 2012 yang pertama kali dicetuskan bupati Jember,  MZA Djalal, untuk memisahkan diri dari Jawa Timur dan membuat provinsi baru?

Nah, tinggal direalisasikan saja wacana enam tahun silam itu. Namun provinsinya jangan menggunakan nama Provinsi Blambangan seperti ide sebelumnya, melainkan Provinsi Madura Swasta. Toh, tak ada salahnya bukan jika memakai embel-embel Madura, bukankah dari segi jumlah dari tujuh kabupaten ini orang Madura adalah dominan?

Toh, swasta bukan sinonim dari palsu atau duplikat, melainkan sekadar Non-Negeri. Tentu agar menjadi seimbang seirama, selaras sejalan, selain ada Provinsi Madura Swasta, Madura Pulau harus juga menggunakan nama Provinsi Madura Negeri.

Saya sih yesss! Gak tahu kalau Dik Nella Kharisma…  (T)

Tags: BudayaJawa TimurMadura
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Tarian Visual Heras: Tinta, Imajinasi dan Peradaban

Next Post

“Apple Mart”, Ngejus di Singaraja, Ngejus di Denpasar, Sama Rasanya…

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
“Apple Mart”, Ngejus di Singaraja, Ngejus di Denpasar, Sama Rasanya…

“Apple Mart”, Ngejus di Singaraja, Ngejus di Denpasar, Sama Rasanya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co