— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026
*
SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran ulang-alih di tiga sungai: Gangga, Serayu, dan Yamuna, memetakan alias survey sendiri melihat lokasi ketiga sungai yang disebut dalam berbagai mantra di kepemangkuan dan pandita di Bali.
Tanggal 28 Oktober merapat ke kampus Gautam Buddha University, di wilayah Greater Noida, untuk setting pameran lontar dan menjadi pembicara terundang di sekolah Bioteknologi di Gautam Buddha University, yang baru-baru ini menjadi salah satu tuan rumah “Konferensi Internasional ke-21 tentang Batas-Batas Baru dalam Penelitian Kanker (CCI 2026)”. Sebuah konferensi besar diikuti ratusan peserta dengan puluhan profesor ahli kanker dunia, dan para peneliti serta para pihak pemilik lab serta pihak terkait kajian kanker lainnya.
Tema konferensi tersebut: “Mekanisme Molekuler hingga Pengobatan Personal, yang berfokus pada onkologi presisi, imunoterapi, penelitian berbasis AI, dan perawatan translasional,” dengan penyelenggara utama: Gautam Buddha University, Shiv Nadar Institution of Eminence, Roswell Park Comprehensive Cancer Center (AS), Rutgers Health New Jersey Medical School (AS), dan Cancer Research and Care Academy (New Delhi). Pidato pembukaan diisampaikan oleh Prof. Gobardhan Das (Anggota, NITI Aayog), yang menyoroti peran kumpulan data genomik India, biobank, dan perawatan kanker yang terjangkau untuk wilayah regional.
Kenapa saya dilibatkan?
Pertama, karena saya membagikan sistem pengetahuan Usada sebagai bagian luasan untuk membuka batas-batas baru dalam penelitian kanker — dalam kajian tumbuhan dan terapi serta perawatan pasien secara holistik.
Kedua, pameran lontar-lontar Usada yang saya bawa menjadi perhatian dunia peneliti kanker yang ingin dikaji oleh Departemen Bioteknologi di Gautam Buddha University.
Yang membuat saya secara pribadi terkesan, kampus ini dalam pembukaan konferensi menyalakan dipa/api suci untuk Sang Hyang Buddha dan Sang Hyang Dewi Saraswati dalam pembukaannya, yang bertepatan dengan Perayaan Saraswati di Bali. Sayapun memaknai pameran lontar saya ini sebagai “perayaan Saraswati” saya di India. Sehari sebelum hari Saraswati pameran ditutup, lalu pada hari Saraswati ketika rombongan peneliti dan peserta konferensi pindah ke kampus lain, saya bisa secara pribadi melakukan Puja Saraswati dan mempacking lontar-lontar saya.
Departemen Bioteknologi di kampus ini secara formal tertulis mendudukkan saya sebagai mitra dalam riset pengembangan bioteknologi, menjadi kolaborator dalam riset dan kajian, tentunya ini sebuah kehormatan besar bagi saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada pemimpin Departemen Bioteknologi dan VC (pemimpin tertinggi) Gautam Buddha University, yang luasnya 500 hektar tanpa ada penduduk di dalamnya, dengan fasilitas lengkap lab dan segala kepentingan untuk riset bioteknologi.
Dalam kajian dan riset kita tidak mengenal batas-batas wilayah atau negara. Riset-riset dan pengembangan pengetahuan memang sangat umum dilakukan lintas negara untuk semata-mata tujuan kemanusiaan yang universal. Tidak dalam sekat-sekat suku, agama, aliran atau kepentingan politik sempit lainnya.
Selamat Hari Saraswati. Seperti semangat aliran Dewi Saraswati: Mengalirkan sampai jauh melintas batas-batas wilayah agar terlepas dari pikiran sempit dan bertumbuh kemanusiaan kita secara universal.[T]



























