DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud. Berlokasi di Titik Dua Ubud, tempat ini resmi membuka pintunya pada 30 Oktober 2026 dengan membawa gagasan sebagai Ubud’s Creative House, sebuah rumah kreatif yang mempertemukan beragam pengalaman budaya dalam satu lingkungan.
COCA tidak sekadar menghadirkan sejumlah ruang dengan fungsi berbeda. Di dalamnya, musik, film independen, kuliner, dan seni dirangkai menjadi pengalaman yang saling terhubung. Pengunjung dapat datang untuk mendengarkan musik dari piringan hitam, menyaksikan film di ruang sinema, berbagi hidangan, atau menjelajahi karya seni. Empat pengalaman utama itu dirangkum melalui Listen, Watch, Eat, dan Explore.
Kehadiran COCA sekaligus menandai babak baru bagi Titik Dua. Keduanya kini menawarkan karakter pengalaman yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Jika Titik Dua tetap mempertahankan suasana sebagai ruang untuk beristirahat dan berefleksi, COCA hadir dengan denyut yang lebih aktif melalui program kreatif, kolaborasi, dan kegiatan komunitas.
“COCA telah berkembang dari berbagai ruang, program, dan hubungan yang kami bangun di Titik Dua. Seiring perkembangan properti secara keseluruhan, kami ingin menghadirkan dua pengalaman yang saling melengkapi: Titik Dua sebagai ruang untuk beristirahat dan berefleksi, dan COCA sebagai ruang yang lebih aktif untuk eksplorasi budaya dan membangun koneksi. Melalui musik, film, kuliner, dan seni, kami berharap dapat menawarkan cara berbeda untuk menikmati tempat yang sama, sekaligus terus mengembangkan identitas COCA sebagai Ubud’s Creative House,” ujar Fonny Makatita, General Manager Titik Dua.


Pernyataan tersebut menggambarkan arah pengembangan COCA. Ruang ini tidak dibangun semata-mata untuk menambah pilihan hiburan di Ubud, tetapi juga untuk memperluas kemungkinan pertemuan antara hospitality, seni, budaya, dan komunitas. Gagasan itu tumbuh melalui perjalanan panjang yang berawal dari sebuah bar dan ruang sosial.
Dari Ruang Sosial Menuju Rumah Kreatif
Sebelum menjadi sebuah rumah kreatif, COCA bermula dari bar dan ruang sosial di lingkungan Titik Dua. Dalam perkembangannya, inisiatif tersebut menjadi bagian dari eksplorasi hotel untuk membangun konsep creative hotel, tempat pengalaman menginap dapat berkelindan dengan aktivitas seni dan budaya.
Salah satu pijakan awal perjalanan itu adalah COCA Selekta, sebuah vinyl listening bar yang tumbuh dari koleksi piringan hitam pribadi pemilik Titik Dua. Bersama kurator musik Munir, koleksi tersebut kemudian dikembangkan menjadi ruang dengar dengan pilihan musik yang dikurasi. Kehadiran in-house selector dan guest selector turut membuka perjumpaan antara musik Indonesia dan berbagai suara dari belahan dunia.
Dari musik, pengembangan COCA merambah ke ruang dan arsitektur. Bekas Barwa Gallery ditransformasikan melalui kolaborasi dengan arsitek Andra Matin menggunakan pendekatan adaptive reuse. Karakter asli bangunan, termasuk dinding bata lama, tetap dipertahankan dan dipadukan dengan elemen-elemen kontemporer. Dengan demikian, perubahan fungsi bangunan tidak menghapus jejak masa lalunya.
Sentuhan lain hadir melalui kolaborasi dengan BYO Living yang menghasilkan instalasi anyaman rotan di area mezzanine COCA Dining. Instalasi tersebut terinspirasi dari dialog kreatif Elevation dalam Venice Architecture Biennale 2018, kemudian diinterpretasikan kembali melalui filosofi Tri Hita Karana. Pertemuan antara material, desain, dan nilai budaya ini memperlihatkan bagaimana gagasan kreatif COCA juga diterjemahkan ke dalam ruang fisik.


Seiring waktu, berbagai program yang sebelumnya dikembangkan di Titik Dua ikut membentuk identitas COCA. COCA Theatre menjadi ruang pemutaran film independen dan pengalaman audiovisual, sedangkan COCA Artspace membuka kesempatan bagi pameran dan kolaborasi artistik. Sementara itu, COCA Dining melengkapi pengalaman melalui sajian kuliner Peranakan sepanjang hari, dengan perhatian pada kenikmatan makan dan tradisi berbagi hidangan.
Keempat ruang tersebut kini berada dalam satu lingkungan yang memungkinkan pengunjung berpindah dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. COCA Selekta menjadi tempat untuk mendengarkan musik melalui koleksi lebih dari 1.000 vinyl dan pilihan kurasi yang beragam. COCA Theatre, yang disebut sebagai sinema independen pertama di Bali dengan teknologi proyeksi laser, menghadirkan pemutaran film independen, pertunjukan langsung, serta pengalaman audiovisual. Ruang ini juga menjadi rumah bagi Ubud: Cinecurious, yang membuka kesempatan bagi penonton untuk mengenal film dan para pembuatnya di luar sirkuit sinema komersial.
Di sisi lain, COCA Dining menyajikan kuliner Peranakan sepanjang hari dengan inspirasi dari kekayaan kuliner Asia dan tradisi makan bersama. Suasananya dirancang santai dan terbuka, menyambut masyarakat lokal, wisatawan, maupun tamu hotel. Adapun COCA Artspace menjadi ruang seni kontemporer untuk pameran, instalasi, dan kolaborasi kreatif yang melanjutkan program-program pameran Titik Dua.
Keempatnya tidak berdiri sebagai ruang yang terpisah. Pengunjung dapat menikmati hidangan sembari melihat pameran, menghadiri sesi musik sebelum menonton film, atau kembali pada kesempatan lain untuk menemukan pengalaman berbeda. Pola kunjungan semacam ini membuat COCA menawarkan lebih dari satu alasan untuk datang.
Merayakan Suara Kreatif Indonesia
Pembukaan COCA Ubud juga ditandai dengan Opening Season yang berlangsung sepanjang Oktober dan November 2026. Rangkaian program ini mengeksplorasi budaya dan kreativitas Indonesia melalui film, seni pertunjukan, musik, dan kuliner. Sejumlah seniman, pekerja kreatif, serta komunitas dilibatkan untuk menghadirkan perjumpaan lintas disiplin.
Salah satu program utamanya adalah Kepulauan Ingatan: Perjalanan 45 Tahun Garin Nugroho. Program ini merayakan perjalanan kreatif sineas Garin Nugroho melalui pemutaran film, seni pertunjukan, musik, dan dialog budaya. Berlangsung pada 21 Oktober hingga 1 November, rangkaian tersebut menelusuri perjalanan sinema Garin dari berbagai periode kariernya.


Di dalamnya terdapat pemutaran film yang berlangsung sepanjang program, disertai pameran arsip audiovisual Garin Nugroho yang dikurasi Krisna Sudharma pada 29 Oktober hingga 1 November. Pameran ini menyoroti perjalanan sinema Garin, termasuk film Puisi Tak Terkuburkan (2000) dan Surat untuk Bidadari (1994). Pada 29 Oktober, Garin juga mengisi kelas master bertema Kebudayaan sebagai Potensi Sinematik. Sementara itu, program Mimbar Suara: Suara Yang Hilang yang berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November menghadirkan pertunjukan vokal dan monolog mengenai kehilangan, ingatan, serta hal-hal yang perlu ditemukan kembali.
Sebelum rangkaian tersebut, COCA juga menghadirkan Pesta Boneka on Wheels: Bali pada 16–18 Oktober. Program hasil kolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre dan para praktisi wayang Bali ini mempertemukan pertunjukan boneka dengan kegiatan bersama komunitas di Titik Dua. Pertemuan tersebut menjadi salah satu cara untuk membawa seni pertunjukan lebih dekat kepada masyarakat.
Pada 30 Oktober hingga 1 November, agenda berlanjut melalui Soft Launch Bali International Cinema Festival (BICIF). Selama tiga hari, festival ini menghadirkan pemutaran film dan diskusi yang membuka beragam perspektif tentang sinema. Rangkaian program ditutup dengan pemutaran khusus Samsara, film karya Garin Nugroho.
Musik mendapat ruang tersendiri melalui Tropical Trip: 10 Years of RAJAKELANA pada 7 November. Program ini merayakan satu dekade album solo perdana Mondo Gascaro melalui pertunjukan musik, pameran, dan sesi mendengarkan album. Perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk menelusuri kembali perjalanan sebuah karya musik sekaligus pengalaman kreatif yang menyertainya.
Pada 14 November, COCA Theatre dijadwalkan menghadirkan Joko Anwar Retrospective, sebuah retrospektif yang menelusuri karya-karya sutradara Joko Anwar. Program ini berlangsung selama satu bulan dengan pilihan film yang memperlihatkan eksplorasi genre, suspense, satire, dan imajinasi dalam perkembangan sinema Indonesia. Secara khusus, Joko Anwar akan hadir di COCA pada 14 November untuk mengikuti pemutaran film dan sesi tanya jawab bersama penonton.
Rangkaian Opening Season kemudian berlanjut pada 15 November melalui CONFEST BALI 2026 bertajuk We Celebrate Us. Perayaan sepanjang hari ini mempertemukan makanan, budaya, dan komunitas di COCA. Informasi lebih lanjut mengenai program tersebut akan diumumkan kemudian.


Melalui berbagai agenda itu, COCA berupaya membangun hubungan antara seniman, pembuat film, musisi, pelaku kuliner, dan komunitas kreatif. Program-program tersebut juga memperlihatkan bahwa ruang kreatif tidak cukup hanya disediakan secara fisik. Ia membutuhkan aktivitas, perjumpaan, dan kesempatan bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda untuk saling berbagi gagasan.
Menemukan Pengalaman di Satu Tempat
Ke depan, COCA akan melanjutkan program pemutaran film, pertunjukan musik, pameran seni, dan kolaborasi kuliner. Dengan empat pengalaman utama yang saling terhubung, ruang ini diharapkan menjadi salah satu tempat pertemuan seni, budaya, dan komunitas di Ubud.
COCA Ubud berlokasi di Titik Dua Ubud, Jalan Cok Rai Pudak No. 48, Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali 80571. Masing-masing ruang memiliki waktu operasional berbeda. COCA Selekta buka setiap hari pukul 16.00–00.00 WITA, COCA Theatre pukul 10.00–22.00 WITA dengan jadwal pemutaran yang dapat berubah, COCA Dining pukul 07.00–23.00 WITA, sedangkan COCA Artspace dapat dikunjungi pukul 11.00–18.00 WITA.
Pengunjung disarankan melakukan reservasi terlebih dahulu untuk COCA Dining, pemutaran film, dan program-program tertentu. Tiket COCA Theatre dapat diperoleh melalui theatre.titikdua.id. Untuk reservasi COCA Dining, COCA Selekta, maupun informasi umum, pengunjung dapat menghubungi WhatsApp +62 811 9693 9391 atau mengakses Instagram @cocaubud. Kunjungan tanpa reservasi tetap dimungkinkan dengan mengikuti ketersediaan tempat dan tiket.
Di tengah Ubud yang terus berkembang sebagai tujuan wisata dan ruang perjumpaan budaya, COCA menawarkan cara lain untuk menikmati sebuah destinasi. Orang-orang bisa datang bukan hanya untuk menginap atau bersantap, tetapi juga untuk mendengarkan, menonton, menjelajahi, dan berbagi pengalaman. Empat pintu pengalaman itu menjadi cara COCA merawat percakapan antara seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari.[T]
Sumber: Rilis
Editor: Jaswanto





























