3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
in Esai
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

Foto: Made Budiyama

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan bekerja, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan kata, ungkapan, dan metafora. Melalui pengamatan terhadap lingkungan sekitarnya, masyarakat membangun hubungan antara benda yang satu dengan benda lainnya. Sesuatu yang dianggap memiliki kemiripan bentuk, warna, sifat, atau perilaku kemudian digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang berbeda. Di sinilah metafora bekerja, bukan sekadar sebagai permainan kata, melainkan sebagai cara manusia memahami realitas.

Salah satu fenomena menarik dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat petani kopi di Desa Pucaksari. Busungbiu, Buleleng, Bali khususnya penggunaan ungkapan mematan yuyu (mata ketam) untuk menggambarkan buah kopi pada fase pertumbuhan tertentu (sebesar mata yuyu). Ungkapan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan bagian tubuh hewan sebagai sumber perbandingan untuk menjelaskan karakteristik buah tanaman. Buah kopi yang sedang diamati tidak semata-mata disebut berdasarkan nama biologisnya, tetapi dipahami melalui kemiripan visual dengan mata ketam.

Mengapa masyarakat menggunakan istilah mematan yuyu, bukan istilah lain? Apa yang membuat mata ketam menjadi referensi untuk menggambarkan buah kopi? Pertanyaan ini menarik karena di balik sebuah metafora sederhana terdapat proses kognitif, pengalaman ekologis, dan pengetahuan lokal yang diwariskan melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Alam sebagai Sumber Metafora

Dalam kehidupan masyarakat petani, bahasa tumbuh dari pengalaman langsung dengan alam. Petani tidak hanya mengenal tanaman melalui nama dan klasifikasi biologis, tetapi juga melalui perubahan bentuk, warna, tekstur, dan kondisi pertumbuhannya. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui pengamatan yang berulang dan pengalaman bekerja di kebun.

Ketika masyarakat menggunakan ungkapan mematan yuyu, mereka sedang melakukan proses kategorisasi berdasarkan kemiripan visual. Mata ketam menjadi ranah sumber (source domain), sedangkan buah kopi menjadi ranah sasaran (target domain). Karakteristik visual mata ketam diproyeksikan untuk membantu menjelaskan karakteristik buah kopi. Dalam perspektif semantik kognitif, proses ini dapat dijelaskan melalui teori metafora konseptual George Lakoff dan Mark Johnson. Keduanya menjelaskan bahwa metafora bukan hanya perangkat retorika, tetapi juga bagian dari sistem berpikir manusia. Manusia memahami sesuatu yang relatif sulit dijelaskan melalui pengalaman yang lebih konkret dan dekat dengan kehidupannya.

Mata ketam merupakan objek yang dikenal masyarakat melalui pengalaman sehari-hari, sedangkan perubahan bentuk buah kopi menjadi objek yang diamati. Kemiripan keduanya memungkinkan terbentuknya hubungan konseptual yang kemudian diwujudkan dalam ungkapan mematan yuyu.

Dengan demikian, metafora tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang tanaman tidak selalu dibangun melalui terminologi ilmiah. Pengetahuan itu juga berkembang melalui pengamatan ekologis dan pengalaman empiris yang kemudian dikodekan ke dalam bahasa.

Mematan Yuyu dan Kecerdasan Ekologis Petani

Ungkapan mematan yuyu juga dapat dibaca sebagai representasi kecerdasan ekologis masyarakat petani. Seorang petani kopi tidak hanya memahami tanaman berdasarkan waktu tanam dan waktu panen. Ia juga mengenali tahapan pertumbuhan melalui perubahan morfologi buah.Perubahan tersebut diamati secara terus-menerus. Dari buah yang masih kecil, berkembang, mengalami perubahan warna, hingga mencapai kematangan. Dalam proses itu, masyarakat menciptakan istilah berdasarkan karakteristik yang dianggap paling menonjol.

Metafora mematan yuyu menunjukkan bahwa tubuh hewan dapat menjadi referensi untuk memahami bagian atau bentuk tumbuhan. Hubungan antara dunia fauna dan flora hadir dalam sistem pengetahuan masyarakat melalui bahasa.Fenomena ini mengingatkan kita bahwa lingkungan alam bukan hanya sumber penghidupan ekonomi, tetapi juga sumber pembentukan pengetahuan dan kebudayaan. Kebun kopi, misalnya, tidak hanya menghasilkan buah yang dapat dijual, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang membentuk kosakata lokal.

Dalam perspektif ekolinguistik, hubungan tersebut menarik karena bahasa merekam interaksi manusia dengan lingkungan ekologisnya. Kosakata dan metafora yang berkembang dalam masyarakat petani dapat menjadi jejak bagaimana manusia mengamati, mengategorikan, dan memberi makna terhadap alam.

Metafora sebagai Warisan Pengetahuan Lokal

Persoalan yang perlu diperhatikan adalah apakah ungkapan mematan yuyu masih dikenal oleh generasi muda atau hanya digunakan oleh petani yang telah lama menggeluti perkebunan kopi. Jika ungkapan tersebut semakin jarang digunakan, kita tidak hanya berhadapan dengan kemungkinan hilangnya sebuah istilah lokal. Kita juga berhadapan dengan penyusutan pengetahuan ekologis yang tersimpan di dalamnya.

Generasi muda mungkin mengenal buah kopi melalui istilah yang lebih umum atau penjelasan berdasarkan ilmu pertanian. Pengetahuan tersebut tentu penting, tetapi pengalaman dan metafora lokal juga memiliki nilai tersendiri. Keduanya dapat saling melengkapi. Di sinilah dokumentasi bahasa lokal menjadi penting. Ungkapan seperti mematan yuyu perlu dicatat bersama konteks penggunaannya, bentuk buah yang dirujuk, penjelasan penutur, serta wilayah tempat ungkapan tersebut digunakan. Dokumentasi semacam ini dapat memperlihatkan bahwa bahasa masyarakat petani memiliki sistem pengetahuan yang kaya dan tidak dapat dipandang sebagai sekadar bahasa komunikasi sehari-hari.

Bahasa, Alam, dan Cara Masyarakat Memahami Dunia

Pada akhirnya, mematan yuyu memperlihatkan bahwa metafora lahir dari kedekatan manusia dengan lingkungan. Masyarakat tidak membutuhkan istilah yang rumit untuk menjelaskan sesuatu yang mereka lihat. Mereka cukup mengambil objek yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menggunakannya sebagai pembanding.

Mata ketam menjadi cara untuk membaca buah kopi. Seekor hewan kecil menjadi sumber inspirasi dalam memahami pertumbuhan tanaman yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa bahasa bekerja melalui pengalaman, pengamatan, dan kreativitas kognitif penuturnya.

Kita sering menganggap metafora sebagai hiasan bahasa yang digunakan penyair atau penulis sastra. Padahal, metafora justru banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat biasa, terutama mereka yang memiliki hubungan intens dengan alam. Petani, nelayan, dan masyarakat adat sering menggunakan metafora untuk mengungkapkan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman panjang.

Karena itu, ungkapan mematan yuyu tidak seharusnya dipandang sebagai istilah sederhana yang hanya menggambarkan kemiripan bentuk. Di dalamnya tersimpan cara masyarakat Bali membaca alam, membangun pengetahuan, dan mewariskan pengalaman melalui bahasa.

Sebuah mata ketam mungkin hanya bagian kecil dari tubuh seekor hewan. Namun, bagi masyarakat petani kopi di Desa Pucaksari, bagian kecil itu dapat menjadi jendela untuk memahami perubahan pada buah kopi. Di sinilah keistimewaan bahasa lokal: alam tidak hanya dilihat, tetapi juga ditafsirkan; tidak hanya diamati, tetapi diberi makna melalui kata-kata.[T]

Tags: Metafora Mematan Yuyu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

Next Post

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails
Next Post
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co