[Catatan Gung Ade Dalang – Edisi 1]
PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya.
Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum yang menarik perhatian saya. Pembukaan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung (FSB) Kabupaten Badung tahun ini direncanakan bertepatan dengan Hari Suci Pagerwesi, salah satu hari penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali.
Yang satu merupakan perayaan spiritual, sedangkan yang lainnya menjadi ruang perayaan kreativitas seni dan budaya. Yang satu berbicara tentang perlindungan dan keteguhan, sementara yang lainnya memberikan ruang bagi kebebasan manusia dalam mengekspresikan pikiran, rasa, dan imajinasinya.
Yang satu menegakkan pagar, yang lainnya membuka panggung.
Sepintas, keduanya seperti memiliki arah yang berlawanan. Tetapi bagi saya, justru di sanalah letak keindahan pertemuannya. Barangkali pagar dan panggung tidak sedang membicarakan dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat menjadi ruang perenungan tentang hubungan antara pengetahuan, spiritualitas, dan penciptaan seni.
Mungkin ini hanya sebuah kebetulan kalender. Saya pun tidak hendak menafsirkannya sebagai pertanda tertentu, apalagi menghubungkan peristiwa kebudayaan ini dengan sesuatu yang bersifat mistis. Namun, sebagai seorang seniman, saya percaya bahwa setiap peristiwa selalu memiliki kemungkinan untuk dibaca, direnungkan, dan dimaknai kembali.
Lantas, apa sesungguhnya yang menarik dari pertemuan keduanya?
Secara harfiah, Pagerwesi berasal dari kata pager yang berarti pagar dan wesi yang berarti besi. Namun, tentu terlalu sederhana apabila hari suci ini hanya dimaknai sebatas simbol sebuah pagar yang kuat. Dalam tradisi Hindu Bali, Pagerwesi merupakan momentum pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, guru sejati alam semesta.
Menariknya, Pagerwesi hadir empat hari setelah Hari Saraswati, yang dimaknai sebagai hari suci ilmu pengetahuan. Hubungan keduanya menghadirkan sebuah pesan yang mendalam. Pengetahuan yang telah dianugerahkan tidak cukup hanya dimiliki, tetapi juga harus dipelihara, dijaga, dan digunakan dengan kebijaksanaan.
Tetapi saya justru tergelitik oleh sebuah pertanyaan.
Mengapa pengetahuan yang semestinya membebaskan pikiran justru membutuhkan pagar?
Bukankah pengetahuan memungkinkan manusia untuk berpikir lebih luas, membongkar ketidaktahuan, mempertanyakan sesuatu, bahkan melahirkan berbagai kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan?
Barangkali yang membutuhkan pagar sesungguhnya bukanlah pengetahuan itu sendiri, melainkan manusia yang memilikinya.
Sebab, pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan keangkuhan. Kecerdasan tanpa kesadaran dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebaikan. Bahkan kemampuan yang luar biasa sekalipun dapat kehilangan maknanya ketika hanya digunakan untuk memenuhi keinginan dan ambisi pribadi.
Dalam pemahaman inilah, Pagerwesi bagi saya bukan sekadar simbol perlindungan dari berbagai pengaruh buruk yang datang dari luar diri manusia. Lebih jauh, ia merupakan pengingat tentang pentingnya menjaga sesuatu yang tumbuh dari dalam diri, terutama pikiran, kehendak, serta cara manusia menggunakan pengetahuannya.
Pemikiran tersebut kemudian membawa saya pada kehidupan berkesenian.
Seorang seniman tentu membutuhkan kebebasan untuk berimajinasi, bereksperimen, menafsirkan sesuatu, bahkan mempertanyakan kembali bentuk-bentuk yang telah dianggap mapan. Namun, kebebasan tersebut juga membutuhkan kesadaran tentang nilai yang melandasi penciptaannya.
Bukankah dalam proses berkesenian kita juga berhadapan dengan berbagai godaan? Keinginan untuk diakui, ambisi menjadi yang terbaik, kebanggaan terhadap kemampuan sendiri, hingga kecenderungan menempatkan keberhasilan di atas nilai pembelajaran.
Kita dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menguasai suatu keterampilan, tetapi belum tentu memberikan perhatian yang sama untuk belajar mengendalikan diri. Kita dapat begitu tekun membangun keindahan sebuah pertunjukan, tetapi terkadang lupa memeriksa keindahan sikap kita selama proses penciptaannya.
Tentu hal tersebut sangat manusiawi, dan tidak berlaku bagi semua seniman. Namun, saya kira pertanyaan semacam ini sesekali perlu kita arahkan kepada diri sendiri.
Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menjaga kesenian, tetapi lupa menjaga pikiran dan sikap kita sendiri ketika berkesenian.
Di titik inilah saya melihat relevansi spiritualitas Pagerwesi. Pagar tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang membatasi kreativitas. Ia justru dapat menjadi simbol keteguhan prinsip, kejernihan pikiran, dan kesadaran untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita ciptakan.
Sebab, seni memang membutuhkan kebebasan untuk tumbuh, tetapi juga memerlukan kebijaksanaan agar tidak kehilangan arah.
Ada sisi lain dari Pagerwesi yang tidak kalah menarik untuk direnungkan, yakni pemujaan terhadap Sang Hyang Pramesti Guru.
Bagi saya yang tumbuh dan menjalani kehidupan dalam dunia kesenian Bali, kata guru memiliki kedalaman yang sangat istimewa. Kita mengenal guru bukan sekadar sebagai orang yang memberikan pengetahuan, tetapi juga sebagai sosok yang membimbing perjalanan manusia dalam memahami kehidupan.
Dalam tradisi berkesenian, hubungan guru dan murid bahkan tidak selalu dapat dijelaskan melalui proses belajar yang bersifat teknis. Seorang guru tidak hanya mengajarkan bagaimana tangan bergerak, bagaimana suara dibunyikan, atau bagaimana sebuah pertunjukan diwujudkan. Ia juga mewariskan kedisiplinan, kesabaran, kepekaan, ketulusan, dan cara menempatkan diri dalam kehidupan.
Ada pengetahuan yang dapat dipelajari melalui tulisan, tetapi ada pula kebijaksanaan yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman dan keteladanan.
Keterampilan dapat diwariskan melalui latihan, tetapi kebijaksanaan membutuhkan perjalanan kesadaran.
Maka, ketika Pagerwesi menjadi momentum pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, saya menemukan sebuah hubungan yang menarik dengan penyelenggaraan festival seni budaya.
Sebab, di balik sebuah pertunjukan yang kita saksikan, selalu terdapat perjalanan panjang pengetahuan. Ada guru yang membimbing, murid yang belajar, penglingsir yang mewariskan pengalaman, serta generasi muda yang berusaha memahami dan mengembangkan apa yang diterimanya.
Barangkali para penonton hanya melihat beberapa menit atau beberapa jam pertunjukan. Namun, di baliknya terdapat proses panjang yang dibangun melalui kesungguhan, pengorbanan, kedisiplinan, serta pengabdian yang tidak selalu terlihat di atas panggung.
Saya kemudian membayangkan suasana pada momentum tersebut.
Di satu ruang, umat Hindu melaksanakan persembahyangan, menghaturkan bakti, dan memohon tuntunan spiritual. Sementara di ruang lainnya, para seniman mempersiapkan karya yang lahir dari pergulatan pikiran, rasa, pengalaman, dan pengetahuan untuk dipersembahkan kepada masyarakat.
Tentu keduanya memiliki kedudukan yang berbeda. Persembahyangan merupakan aktivitas keagamaan yang suci, sedangkan festival adalah ruang ekspresi kebudayaan. Namun, secara reflektif, saya melihat ada satu nilai yang dapat mempertemukan keduanya, yaitu pengabdian.
Dalam persembahyangan, manusia menghaturkan bakti melalui ketulusan. Dalam berkesenian, manusia dapat mewujudkan pengabdian melalui kesungguhan dalam menciptakan karya.
Dan bukankah kesenian Bali memiliki perjalanan panjang yang tidak dapat dilepaskan dari semangat pengabdian?
Berbagai bentuk kesenian tumbuh melalui kehidupan komunal, aktivitas ritual, tradisi ngayah, serta hubungan yang erat antara manusia, lingkungan, dan keyakinan spiritualnya. Karena itu, berkesenian bagi masyarakat Bali tidak selalu berhenti pada urusan keindahan atau keterampilan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan nilai dan kesadaran hidup.
Barangkali inilah hal yang menarik dari pertemuan Pagerwesi dan pembukaan FSB Kabupaten Badung tahun ini.
Pagerwesi mengingatkan manusia tentang pentingnya menjaga landasan spiritual, sementara sebuah festival seni budaya Kabupaten Badung memberikan ruang bagi manusia untuk menghidupkan pengetahuan dan kreativitas yang telah diwariskan.
Yang satu memperteguh nilai, sedangkan yang lainnya membuka kemungkinan bagi nilai tersebut untuk terus tumbuh dalam kehidupan.
Sebab, sesuatu yang dijaga belum tentu akan terus hidup apabila tidak pernah diberikan ruang untuk berkembang. Sebaliknya, sesuatu yang terus berkembang juga dapat kehilangan maknanya apabila melupakan nilai yang menjadi sumber kehidupannya.
Dalam konteks ini, saya berharap FSB Kabupaten Badung bukan hanya menjadi ruang yang merayakan kemegahan pertunjukan, kecemerlangan keterampilan, ataupun keberhasilan para seniman dalam menghasilkan karya. Lebih dari itu, festival dapat menjadi peristiwa kebudayaan yang turut memuliakan pengetahuan, menghargai para guru, serta memberikan pengalaman berharga bagi generasi pencipta berikutnya.
Sebab, kita tentu memahami bahwa di balik setiap karya terdapat proses yang tidak sederhana. Ada ketekunan yang diuji, kesabaran yang dilatih, perbedaan pikiran yang dipertemukan, dan berbagai kepentingan yang harus dikelola demi sebuah tujuan bersama.
Bahkan, tidak jarang nilai-nilai kehidupan justru lebih banyak dipelajari seorang seniman selama proses penciptaan daripada ketika karyanya telah berdiri megah di hadapan penonton.
Di sanalah saya menemukan satu pemikiran yang menarik. Barangkali kemegahan sebuah panggung tidak hanya perlu diukur dari apa yang berhasil dipertunjukkan, tetapi juga dari nilai-nilai yang berhasil ditumbuhkan selama proses menuju panggung tersebut.
Maka, apabila pertemuan Pagerwesi dan pembukaan FSB Kabupaten Badung ini dapat dimaknai sebagai momentum refleksi, saya berharap ia menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para seniman, tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kemampuan dan kebijaksanaan, antara kebebasan mencipta dan tanggung jawab terhadap nilai yang melandasinya.
Pada kesempatan ini, saya juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Badung, khususnya Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Listibiya Kabupaten Badung, seluruh jajaran panitia, para pembina, pelatih, seniman, serta seluruh komponen yang telah mencurahkan pikiran, tenaga, waktu, dan kreativitasnya dalam mempersiapkan Festival seni budaya Kabupaten Badung 2026.
Menyelenggarakan sebuah perhelatan kebudayaan tentu bukan pekerjaan yang sederhana. Di balik kemeriahan sebuah panggung terdapat kerja panjang, pengabdian, dan kebersamaan yang patut kita hargai.
Semoga momentum ini menjadi awal yang baik bagi keberlangsungan kehidupan seni dan budaya di Kabupaten Badung. Bukan hanya menghadirkan karya-karya yang indah untuk disaksikan, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan, kesadaran, serta nilai-nilai yang akan terus diwariskan.
Pada akhirnya, saya kembali pada kegelisahan yang muncul di awal tulisan.
Ketika pagar ditegakkan dan panggung dibuka, apa sesungguhnya yang hendak kita jaga?
Barangkali bukan hanya tradisi, bukan hanya pengetahuan, dan bukan pula sekadar kemegahan karya yang telah kita hasilkan. Melainkan juga kejernihan pikiran, ketulusan niat, serta kebijaksanaan seniman yang berada di balik penciptaan karya seninya.
Maka, biarlah Pagerwesi menjadi pengingat tentang nilai yang harus terus dijaga, dan panggung kebudayaan menjadi ruang bagi nilai tersebut untuk terus hidup.
Karena sesungguhnya, pagar yang kokoh bukanlah pagar yang mengurung kehidupan, melainkan pagar yang menjaga agar kehidupan di dalamnya dapat tumbuh dengan baik.
Dan barangkali, pagar paling penting dalam kehidupan berkesenian bukanlah pagar yang mengelilingi panggung.
Melainkan pagar kesadaran yang tumbuh dalam diri setiap manusia yang berdiri di atasnya. [T]
Badung, November 2026



























