BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan itu?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam sesi bertajuk Bagaimana Kita Menulis yang Tak Tertahankan? pada hari terakhir Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Minggu, 25 Oktober 2026, di Agung Stage, Taman Baca Ubud. Sesi tersebut berlangsung dalam bahasa Inggris, How Do We Write the Unbearable?
Di hadapan audiens yang memadati area diskusi, perbincangan berlangsung hangat dan reflektif. Perhatian tertuju pada panggung saat para pembicara mengupas pengalaman dan persoalan yang kerap sulit diungkapkan secara terbuka.
Diskusi yang dipandu Putri Emelli (jurnalis dan penata strategi kreatif), menghadirkan tiga perempuan dari latar belakang berbeda. Mereka adalah Dian Purnomo (novelis sekaligus peneliti isu sosial), Cyntha Hariadi (penulis puisi, cerpen, dan novel), serta Olphi Disya Arinda (psikolog klinis sekaligus penulis).
Ketiganya berbagi pandangan tentang bagaimana mengolah penderitaan, trauma, dan pengalaman manusia yang paling berat menjadi tulisan, tanpa kehilangan kejujuran maupun kepekaan terhadap mereka yang kisahnya diangkat.

Dian Purnomo mengungkapkan bahwa pengalaman yang tak tertahankan kerap ditemuinya melalui penelitian dan perjumpaan dengan orang-orang yang hidup dalam situasi penuh ketidakadilan. Ia mencontohkan praktik kawin tangkap di Sumba hingga perdagangan manusia yang melibatkan perempuan dalam industri seks.
“Bagi saya, kisah-kisah orang yang saya temui, termasuk pengalaman yang saya alami sendiri, merupakan hal-hal yang tak tertahankan. Seperti praktik kawin tangkap di Sumba dan perdagangan manusia yang melibatkan perempuan,” ujar Dian.
Pengalaman dan hasil penelitian tersebut turut membentuk karya-karya Dian. Salah satunya novel Mawar, Bukan Nama Sebenarnya, yang mengangkat eksploitasi anak perempuan di kawasan Puncak. Karyanya bahkan telah diterbitkan dalam bahasa Polandia dan sedang diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Bagi Dian, persoalan yang dihadapi perempuan juga tidak dapat dilepaskan dari struktur kekuasaan yang lebih luas. Ia menilai patriarki bukan sekadar persoalan hubungan antara laki-laki dan perempuan.
“Ketika berbicara tentang patriarki, kita tidak hanya berbicara tentang perempuan dan laki-laki, tetapi tentang sistem. Siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai,” tuturnya.
Pembahasan mengenai patriarki dan ketimpangan kekuasaan menyita perhatian audiens. Mereka menyimak dengan saksama penjelasan Dian bahwa persoalan tersebut bukan semata menyangkut gender, melainkan juga sistem kekuasaan yang memungkinkan ketidakadilan terus berlangsung.

Persoalan ketimpangan dan suara-suara yang terpinggirkan juga menjadi perhatian Cyntha Hariadi. Melalui karya-karyanya, penulis asal Tangerang, Banten ini banyak mengeksplorasi isu keluarga, perempuan dan anak, kerusakan lingkungan, hingga persoalan identitas kelompok minoritas di Indonesia.
“Menulis tentang kelompok minoritas berarti memberi ruang bagi pengalaman yang sering kali tidak didengar. Tulisan bisa menjadi tempat bagi suara-suara itu untuk hadir,” ujarnya.
Menurut Cyntha, pengalaman kelompok minoritas penting mendapat tempat dalam karya sastra karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan kisahnya.
“Tidak semua pengalaman memperoleh ruang dalam percakapan sehari-hari. Melalui tulisan, kita bisa menghadirkan perspektif yang selama ini mungkin luput dari perhatian,” kata Cyntha.
Cyntha sendiri telah menerbitkan dua buku puisi, Ibu Mendulang Anak Berlari (2016) dan CICA (2024); dua kumpulan cerpen, Manifesto Flora (2017) dan Mimi Lemon (2023); serta novel dongeng Kokokan Mencari Arumbawangi (2020).

Sementara itu, Olphi Disya Arinda membawa pembahasan pada dimensi psikologis, khususnya trauma dan bagaimana pengalaman menyakitkan dapat memengaruhi kehidupan seseorang.
“Trauma bukan sekadar peristiwa menyakitkan yang pernah dialami, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman itu membekas dalam diri seseorang. Karena itu, menuliskannya membutuhkan kepekaan,” jelasnya.
Sebagai psikolog profesional, Disya berpengalaman menangani berbagai persoalan, mulai dari trauma, kepribadian, relasi, pengasuhan, reproduksi, hingga gangguan mental klinis. Lulusan Universitas Padjadjaran yang melanjutkan pendidikan profesi psikolog di Universitas Indonesia ini juga aktif sebagai pembicara publik, pelatih korporat, dan kreator konten.
Dari perspektif psikologi, Disya menekankan pentingnya memperhatikan kondisi emosional ketika seseorang berhadapan kembali dengan pengalaman yang menyakitkan.
“Menuliskan pengalaman traumatis tidak selalu mudah. Ada emosi yang mungkin kembali muncul, sehingga penting untuk memahami kesiapan diri dan tidak memaksakan prosesnya,” terangnya.

Suasana diskusi semakin reflektif ketika pembahasan beralih pada trauma dan pengalaman pribadi yang menyakitkan. Audiens diajak memahami bahwa di balik setiap tulisan tersimpan pengalaman manusia yang perlu disikapi dengan empati dan kepekaan, bukan sekadar keterampilan merangkai kata.
Melalui berbagai perspektif, diskusi tersebut menegaskan bahwa menuliskan pengalaman yang tak tertahankan bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga menuntut kepekaan dalam memahami luka, menjaga kebenaran, dan menghormati manusia di balik setiap kisah. Hal tersebut selaras dengan tema “Samarasā: Awareness, Empathy, Action” yang diusung UWRF 2026, yakni membangun kesadaran, menumbuhkan empati, dan mendorong tindakan nyata dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan.
Sebab, tidak semua penderitaan mudah diceritakan. Namun, melalui tulisan yang peka dan jujur, pengalaman yang selama ini terbungkam setidaknya memiliki kesempatan untuk diungkapkan, dibaca, dan didengar. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































