12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

S. Bekti Istiyanto by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
in Esai
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

S. Bekti Istiyanto

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, dan Kiai Haji Ahmad Dahlan menanam benih Muhammadiyah satu dekade sebelumnya, kota ini telah menjadi rahim bagi lahirnya gagasan pendidikan yang membebaskan.

Taman Siswa lahir bukan untuk melayani pasar, melainkan untuk membangun “manusia merdeka lahir-batin”, sebuah konsep pendidikan yang berakar pada kearifan lokal dan penghormatan terhadap budaya nasional. Muhammadiyah, melalui Madrasah Mu’allimin yang berdiri pada 1918, hadir untuk membuka jalan bagi kaum santri yang selama kolonialisme sengaja dijauhkan dari akses ilmu.

Dari rahim sejarah itulah Yogyakarta tumbuh menjadi apa yang hari ini kita kenal sebagai Kota Pendidikan. Kampus-kampus berdiri megah, mahasiswa datang dari seluruh penjuru negeri, dan setiap sudut kota bernafaskan akademik. Tapi di balik gemerlap itu, ada retakan yang menganga: tiga wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul justru menjadi kantong-kantong kemiskinan yang persisten.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi DI Yogyakarta mencatat, per Maret 2025, persentase penduduk miskin di Kulon Progo mencapai 14,53 persen, Gunungkidul 14,15 persen, dan Bantul 11,54 persen. Sementara garis kemiskinan di Kulon Progo hanya Rp 452.717 per kapita per bulan, di Gunungkidul Rp 413.617, dan di Bantul Rp 531.456 — jauh di bawah Kota Yogyakarta yang mencapai Rp729.196.

Angka-angka tersebut bukan sekadar angka statistik. Ia adalah sebuah potret anak-anak yang mungkin tidak bisa mengenyam makanan yang layak dan bisa melanjutkan studi lanjut, orang tua yang bekerja keras namun tetap tak mampu menyentuh ambang kelayakan hidup yang standar, dan generasi muda yang melihat masa depan mereka dibatasi oleh sekedar kode pos tempat mereka dilahirkan tanpa kesempatan untuk berkembang lebih jauh.

Ironi terbesar dari kota yang menyebut dirinya Kota Pendidikan ini terletak pada satu fakta yang nyaris tak terucapkan: hanya sekitar 15 persen anak muda asli Yogyakarta yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ketua Bapemperda Gunungkidul, Ery Agustin, menyuarakan kegelisahan yang telah lama berakar: “Banyak anak muda di DIY, terutama yang baru lulus sekolah menengah, tidak melanjutkan kuliah. Salah satu penyebab utamanya adalah kemiskinan”. Data BPS yang ia kutip bahkan lebih menyayat: 22,27 persen warga DIY hanya tamat SD, 39 persen berhenti di jenjang sekolah menengah, dan sisanya putus di tengah jalan.

Inilah paradoks yang menuntut penjelasan. Yogyakarta memiliki lebih dari seratus perguruan tinggi, ribuan program studi, dan mahasiswa yang jumlahnya melebihi populasi sebagian kota kabupaten. Namun akses terhadap pendidikan tinggi justru menjadi barang mewah bagi warga yang tinggal beberapa kilometer dari gerbang kampus. Kampus tumbuh besar, tetapi tidak tumbuh bersama masyarakatnya.

***

Ada yang hilang dalam perjalanan panjang pendidikan tinggi di Yogyakarta. Sesuatu yang pernah menjadi roh Taman Siswa dan Muhammadiyah: keberpihakan pada rakyat kecil. Kampus-kampus hari ini kerap digambarkan sebagai “menara gading”, megah, tinggi, namun berjarak dari realitas sosial di sekelilingnya.

Sebuah kajian akademik di Garuda mengungkap bahwa transformasi pendidikan tinggi Indonesia telah bergeser ke arah orientasi profit dan logika bisnis, dengan konsekuensi pembatasan akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah, komodifikasi pengetahuan, serta privatisasi kampus.

Komersialisasi ini bukanlah fantasi. Ia hadir dalam kenaikan uang kuliah tunggal yang setiap tahun menggerus daya beli keluarga miskin. Ia tampak dalam gedung-gedung megah yang dibangun dari dana yang seharusnya bisa dialihkan untuk beasiswa. Ia terasa dalam kebijakan kampus yang lebih berorientasi pada pasar kerja daripada pada kebutuhan riil masyarakat di sekitarnya.

Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejatinya telah memberikan kerangka yang jelas bahwa kampus bukanlah entitas yang berdiri di atas menara, melainkan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Dirjen Dikti bahkan telah menegaskan bahwa kampus harus menjadi “pusat pengembangan karakter, kepemimpinan, dan literasi masa depan” yang menyambung dengan realitas sosial. Namun antara idealisme dan praktik, jarak itu tetap lebar.

Apa yang bisa dilakukan? Pertama, kampus-kampus di Yogyakarta perlu mengembalikan orientasi pengabdian pada akar historisnya. Bukan sekadar program KKN secara formalitas misalnya, melainkan keterlibatan struktural dalam mengatasi persoalan kemiskinan secara nyata di Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul.

Kedua, kebijakan beasiswa harus dirancang berdasarkan realitas ekonomi warga, bukan sekadar peta administratif zona kemiskinan. Ketiga, pemerintah daerah dan kampus perlu membangun kemitraan yang mengikat: setiap program studi memiliki tanggung jawab sosial untuk mendampingi komunitas di wilayah miskin, sebagaimana yang telah dirintis dalam Program Kosabangsa atau One Village One Sister University, yang dirintis oleh beberapa kampus sebelumnya. Program ini akan menjadikan setiap kampus yang ditunjuk akan bertindak sebagai pendamping kelurahan atau kampung tertentu untuk mengawal pengembangan Program Kampung Tematik berbasis potensi lokal.

Yogyakarta pernah melahirkan pendidikan yang membebaskan. Taman Siswa lahir bukan dari gedung megah, melainkan dari kesadaran bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kemampuan berpikir dan bertindak bebas. Muhammadiyah tumbuh bukan dari kekayaan, melainkan dari keberpihakan pada kaum yang terpinggirkan.

Jika kampus-kampus di Yogyakarta hari ini ingin benar-benar menjadi pewaris sah dari warisan itu, mereka harus berani turun dari menara gading. Bukan untuk mengecilkan ilmu, melainkan untuk mengembalikannya kepada pemilik sahnya,  rakyat yang telah menjaga kota ini selama berabad-abad. [T]

Tags: kampusPendidikanYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Next Post

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

S. Bekti Istiyanto

S. Bekti Istiyanto

Dekan Fisip UPN Veteran Jakarta dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Related Posts

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co