MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih sibuk menyampaikan pendapat daripada mendengarkan. Di tengah keadaan itu, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 mengangkat sebuah gagasan yang berakar dari nilai keselarasan, yakni ‘Samarasā’. Sebuah ajakan untuk membangun kesadaran, menumbuhkan empati, dan menerjemahkan keduanya menjadi tindakan nyata.
Gagasan tersebut menjadi napas penyelenggaraan UWRF pada 21–25 Oktober 2026 mendatang di Ubud, Bali. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terkemuka di Asia Tenggara ini mengusung tema “Samarasā: Awareness. Empathy. Action.”. Mempertemukan lebih dari 200 penulis, pemikir, seniman, dan penampil dari Indonesia serta berbagai penjuru dunia.
Berakar dari bahasa Sanskerta, Samarasā merujuk pada keseimbangan dan keselarasan. Namun, UWRF tidak menempatkannya sebatas konsep filosofis. Melalui tiga gagasan utama, yakni kesadaran, empati, dan tindakan, masyarakat diajak memahami keadaan di sekitarnya, membuka diri terhadap pengalaman orang lain, kemudian melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.

Dalam konferensi pers di ARTOTEL Sanur, Denpasar, Rabu, 7 Oktober 2026, Founder Yayasan Mudra Swari Saraswati, I Ketut Suardana menghubungkan gagasan tersebut dengan nilai-nilai yang hidup dalam keseharian masyarakat Bali.
“Sebagai konsep yang menekankan keselarasan, Samarasā dapat dilihat tidak hanya sebagai gagasan filosofis, tetapi juga sebagai sesuatu yang hadir dalam cara masyarakat berhubungan dengan diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Kita harusnya mengingat pentingnya kesadaran dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, khususnya di Bali ini,” ujarnya.
Menurut I Ketut Suardana, Keselarasan dalam konteks tersebut tidak harus berarti menghilangkan perbedaan. Justru, kemampuan memahami dan menghormati perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bersama.
Pendiri sekaligus Direktur UWRF, Janet DeNeefe, melihat kebutuhan akan ruang perjumpaan itu semakin penting. Baginya, festival sastra bukan sekadar tempat mempertemukan penulis dan pembaca, melainkan juga membuka percakapan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sejak lahir setelah tragedi bom Bali, sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat memulihkan diri, UWRF terus berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan lintas budaya. Semangat mempertemukan orang, membuka percakapan, dan membangun kebersamaan tetap menjadi landasan festival hingga sekarang.
“Ubud Writers & Readers Festival lahir setelah tragedi bom Bali sebagai sebuah upaya untuk membantu masyarakat menyembuhkan diri dan perlahan melangkah maju. Semangat untuk mempertemukan orang, membuka ruang percakapan, dan membangun kembali rasa kebersamaan itulah yang terus menggerakkan festival ini hingga hari ini. Setiap tahun, kami mengangkat isu-isu yang menjadi perhatian kita bersama, karena saya percaya bahwa dengan berbicara dan mendengarkan satu sama lain, kita dapat mulai memahami satu sama lain,” tutur Janet DeNeefe.

Keselarasan yang Berawal dari Rasa
Bagi Wayan Mustika (akademisi, penulis, sekaligus praktisi spiritualitas Nusantara), Samarasā berkaitan erat dengan kemampuan manusia mengolah pikiran dan perasaan. Dalam pandangannya, sastra dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan kepekaan sekaligus menghadirkan kedamaian.
“Dengan cita dan rasa, kita dapat menuliskan sesuatu yang mendamaikan umat manusia. Rasa yang sama akan melahirkan empati, dan empati mengajarkan kita untuk tidak saling menyakiti. Itulah makna Samarasā yang menurut saya penting diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kita memperlakukan alam, sesama manusia, dan apa pun jalan hidup yang kita pilih dengan rasa yang sama. Dari sanalah kita dapat membangun kedamaian dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi semua,” ungkap Wayan Mustika.
Pemikiran tersebut juga diterjemahkan melalui program Walking the Sacred Cycle. Mustika akan mengajak peserta mengenal tradisi kehidupan Bali melalui perjalanan berpemandu menuju dua pura penting di Ubud, yakni Pura Dalem dan Pura Prajapati.
Dalam perjalanan tersebut, peserta akan diperkenalkan pada konsep Kanda Pat, sekaligus memahami bagaimana masyarakat Bali memandang hubungan antara kehidupan dan kematian. Mustika juga dijadwalkan tampil dalam panel Life and Death at Intersections, yang mempertemukan perspektif sains, budaya, dan spiritualitas.
Dari persoalan kehidupan dan kematian, pembahasan Samarasā bergerak menuju hubungan manusia dengan sejarah, perkembangan teknologi, dan masa depan.
Marlowe Bandem, praktisi kreatif yang terlibat dalam Bali 1928 Archives, menilai kesadaran terhadap warisan budaya tidak cukup diwujudkan dengan menyimpan peninggalan masa lalu. Generasi muda juga perlu membaca, mempertanyakan, dan memahami pengetahuan yang diwariskan.
Bali 1928 Archives sendiri merupakan inisiatif untuk melestarikan, mengembalikan, dan memperkenalkan kembali berbagai arsip sejarah Bali kepada publik.
“Bagi saya, hal terpenting yang dapat dilakukan generasi muda adalah berani bertanya. Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, mereka perlu membaca kembali apa yang mereka miliki, memahami pengetahuan yang diwariskan, dan berani mempertanyakan etika serta arah perubahan yang terjadi. Termasuk berani menyuarakan hal-hal yang pedih dan tidak nyaman, karena keberanian untuk bertanya adalah cara kita menentukan masa depan,” ujarnya.
Marlowe akan membawa perspektif tersebut dalam sesi Burning Books, Accepting Artifice: Man or Machine?, yang membahas perkembangan kecerdasan buatan serta dampaknya terhadap pengetahuan, pemikiran kritis, dan kemampuan manusia memahami dunia.

Memberi Ruang bagi Suara yang Berbeda
Samarasā juga menemukan relevansinya dalam pengalaman Nityasa Wijaya, penulis muda yang lahir dan besar di Bali, serta terpilih sebagai salah satu UWRF 2026 Emerging Writers.
Melalui karya Perempuan Buah Langit, Nityasa mengangkat sudut pandang perempuan di tengah masyarakat patriarkal. Terpilihnya karya tersebut untuk masuk dalam antologi dwibahasa membuka kesempatan agar pengalaman yang ditulisnya menjangkau pembaca lebih luas.
“Bagi saya, UWRF bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, tetapi juga tempat menemukan teman, membangun jejaring, dan berdiskusi dengan sesama penulis lintas generasi. Terlebih ketika karya saya, Perempuan Buah Langit, yang mengangkat sudut pandang perempuan di tengah masyarakat patriarkal, terpilih untuk masuk dalam antologi dwibahasa, saya merasa suara seorang perempuan dapat didengar oleh lebih banyak orang,” ungkapnya.
Pengalaman Nityasa memperlihatkan pentingnya program Emerging Writers dalam membuka kesempatan bagi generasi baru untuk tumbuh, mengembangkan karya, sekaligus menemukan tempat dalam ekosistem sastra Indonesia.
Keberagaman perspektif itu juga tercermin dalam sejumlah program festival. Baskara Putra (musisi) dijadwalkan membicarakan perjalanan kreatifnya bersama .Feast dan Hindia (proyek solonya) melalui Soundtrack of a Generation. Diskusi ini akan mengulas bagaimana lirik dan pengamatannya terhadap kehidupan kontemporer menjadi suara bagi suatu generasi.
Penulis anak legendaris Djokolelono akan hadir dalam Childhood Magic: Tales with Djokolelono. Sementara Gus Bao dan Ni Wayan Prima membahas kekuatan tradisi lisan Bali melalui Bali’s Storytelling Movement.
Persoalan kebebasan berpendapat, ruang sipil, dan peran penulis dalam menghadapi kekuasaan akan menjadi pembahasan dalam Is Indonesia Eating Its Own?, menghadirkan Indah G, Tari Lang, dan Todung Mulya Lubis, dengan Krishna Sen sebagai moderator.
Sejumlah tokoh lainnya turut meramaikan festival, antara lain Prof. I Nyoman Darma Putra, Ni Nyoman Ayu Suciartini, Agung Wardana, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, dan Kadek Sonia Piscayanti.

Dari Percakapan Menuju Tindakan
Selama lima hari penyelenggaraan, UWRF akan menghadirkan lebih dari 200 program. Ratusan kegiatan di antaranya dapat diakses secara gratis, termasuk Festival Club di Casa Luna dan 49 peluncuran buku baru.
Pengunjung juga dapat menikmati pembacaan puisi, pemutaran film, pementasan teater, serta berbagai kegiatan pada sore hingga malam hari. Pameran gratis Samarasā: Awareness. Empathy. Action. juga akan berlangsung di Indus Restaurant pada 11–26 Oktober 2026.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, UWRF berupaya memperluas perjumpaan antara gagasan dan masyarakat. Tidak hanya melalui diskusi, tetapi juga lewat pengalaman menikmati karya sastra, seni, dan budaya secara langsung.
Janet DeNeefe menekankan bahwa pertemuan tatap muka semakin memiliki makna ketika sebagian besar interaksi manusia berlangsung melalui layar digital. Menurutnya, kesempatan mendengarkan orang lain secara langsung dapat membantu membuka pemahaman baru meskipun tidak selalu menghasilkan kesepakatan.
“Kita mungkin tidak selalu setuju dengan apa yang disampaikan orang lain, tetapi ketika kita benar-benar mendengarkan, kita dapat memahami sedikit lebih banyak tentang cara mereka melihat dunia. Saya ingin percaya bahwa UWRF dapat menjadi ruang untuk menemukan kembali titik temu itu, ruang di mana kita bertemu sebagai manusia, berbagi cerita, dan mungkin pulang dengan cara pandang yang sedikit berbeda. Bagi saya, itulah yang terus menggerakkan festival ini.”
Pada akhirnya, Samarasā tidak menawarkan kehidupan tanpa perbedaan. Gagasan ini justru mengajak masyarakat belajar hidup bersama di tengah perbedaan tersebut. Pesan itu disampaikan melalui sastra, seni, sejarah, tradisi, hingga percakapan tentang teknologi dan masa depan. Kesadaran menjadi titik awal, empati membuka jalan untuk memahami orang lain, sementara tindakan menentukan apakah pemahaman tersebut benar-benar membawa perubahan.
Sebab, sama rasa bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Melainkan kesediaan memahami apa yang dirasakan orang lain, bahkan ketika mereka memandang dunia dengan cara berbeda.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























