4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

S. Bekti Istiyanto by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
in Opini
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

S. Bekti Istiyanto

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi pun kian meningkat. Namun, di balik gemerlap itu, ternyata ada ironi yang menganga. Semakin besar dan megah kampus, semakin jauh pula kampus dari denyut nadi masyarakat yang membesarkannya. Alih-alih menjadi oase pengetahuan yang membebaskan, banyak kampus justru menjelma menjadi menara gading yang menjulang tinggi, tetapi terasing dari realitas di sekelilingnya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, pernah menyuarakan kegelisahan ini dengan sangat gamblang. Ia meminta perguruan tinggi untuk tidak lagi menjadi menara gading, melainkan hadir sebagai solusi bagi persoalan nyata seperti stunting, kemiskinan, dan pengangguran. Seruan ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan sebuah panggilan moral yang mendesak untuk kita jawab bersama.

Buah Simalakama dari Kampus yang Terasing

Apa yang terjadi ketika kampus kehilangan jati dirinya sebagai institusi yang mengabdi pada masyarakat? Data berbicara dengan sangat jelas. Sepanjang tahun 2025, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa lebih dari satu juta lulusan universitas di Indonesia menganggur, atau setara dengan 6,2 persen dari total pengangguran terbuka nasional yang mencapai 7,28 juta orang.

Lebih memilukan lagi, pengangguran terdidik ini bukanlah semata-mata akibat keterbatasan lapangan kerja. Ada persoalan mendasar yang jauh lebih dalam? Ada ketidakselarasan antara apa yang diajarkan di kampus dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia nyata. Wamendiktisaintek Fauzan menegaskan bahwa masalah pengangguran ini bermula dari tidak selarasnya kompetensi lulusan kampus dengan kebutuhan nyata lapangan kerja. Kampus menghasilkan lulusan yang hafal teori, tetapi gagap menghadapi praktik.

Fenomena ini diperparah oleh kecenderungan kampus yang hanya berorientasi pada angka-angka akademik. Jumlah mahasiswa, jumlah lulusan, jumlah publikasi ilmiah, dan peringkat dunia menjadi tolok ukur keberhasilan yang seolah mengalahkan pertanyaan mendasar. Apa dampak nyata kampus ini bagi masyarakat di sekitarnya? Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, perguruan tinggi adalah akselerator pembangunan nasional, yang tidak semata memproduksi pengetahuan, inovasi, dan teknologi, melainkan perlu memastikan alih pengetahuan dan pemanfaatannya untuk isu pembangunan serta penguatan daya saing bangsa.

Kepemimpinan yang Menggerakkan Menjadi Kunci Transformasi Kampus

Di sinilah letak persoalan intinya. Transformasi kampus dari menara gading menjadi menara air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat bukanlah pekerjaan sekali jadi. Kampus membutuhkan kepemimpinan yang visioner, berani, dan bisa berdampak nyata. Dibutuhkan pemimpin kampus yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi, kemampuan membangun kolaborasi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Pemimpin kampus yang inovatif adalah mereka yang mampu melihat persoalan masyarakat bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi. Mereka adalah sosok yang mengerti bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah mahasiswa, lulusan, maupun publikasi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap produktivitas, inovasi, daya saing, industri, lapangan pekerjaan, dan pembangunan. Mereka adalah pemimpin yang memiliki reputasi internasional, tetapi tidak kehilangan akar lokalnya. Pemimpin yang mampu bersaing di panggung global, tetapi tetap membumi dalam melayani masyarakat di sekitarnya.

Kita telah melihat contoh-contoh kepemimpinan seperti ini di beberapa kampus. Rektor Universitas Airlangga, Prof. Nasih, misalnya, dengan tegas menekankan pentingnya hilirisasi riset agar inovasi kampus bisa langsung diakses masyarakat. “Rektor hanya punya dua tangan, tapi jika seluruh sivitas akademika bergerak bersama, dampaknya luar biasa,” tegasnya. Filosofi ini menggambarkan bahwa kepemimpinan kampus yang efektif bukanlah tentang kekuatan individu semata, melainkan tentang kemampuan menggerakkan seluruh ekosistem akademik untuk bersama-sama berkontribusi pada masyarakat.

Dr. Supari, Rektor Universitas Semarang, membuktikan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada dampak dapat diwujudkan melalui peningkatan jumlah doktor, profesor, publikasi ilmiah, hak paten, serta inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Karya-karya dari hak paten tersebut, menurutnya, harus bisa diterapkan untuk membantu pengentasan kemiskinan, mengatasi masalah pangan, dan energi. Ini adalah bukti nyata bahwa kampus yang unggul secara akademik dan berdampak bagi masyarakat bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Urgensi Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi untuk Menyiapkan Generasi Baru Pemimpin Kampus

Kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang transformatif inilah yang mendorong Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk meluncurkan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) 2026. Inisiatif ini bukanlah sekadar program pelatihan biasa. Program ini adalah upaya sistematis dari Kemdiktisaintek untuk memperkuat pengembangan dan regenerasi kepemimpinan perguruan tinggi di Indonesia yang bisa membawa kampus ke jenjang internasional yang lebih tinggi tanpa melupakan dampak kepada masyarakat sekitarnya.

AKPT dirancang sebagai forum sinergi antara pimpinan perguruan tinggi saat ini dan calon-calon pemimpin potensial dalam sebuah proses pengembangan kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan nyata di institusi. Program ini mengusung tagline “Mengintegrasikan Kearifan Lokal Menuju Kepemimpinan Global yang Berdampak,” sebuah visi yang sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Kita membutuhkan pemimpin kampus yang mampu bersaing secara global, tetapi tidak tercerabut dari akar budaya dan kebutuhan nyata masyarakatnya.

Wamen Fauzan menekankan bahwa pendidikan tinggi perlu ditempatkan sebagai bagian strategis dari pembangunan nasional. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan talenta, pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dapat mendorong peningkatan kapasitas produktif Indonesia. “Pendidikan tinggi perlu ditegakkan sebagai infrastruktur strategis pertumbuhan,” ujarnya. Ini adalah pergeseran paradigma yang fundamental, dari kampus sebagai menara gading yang eksklusif menjadi kampus sebagai infrastruktur pertumbuhan yang inklusif dan berdampak.

Jejak Kampus yang Berdampak

Transformasi kampus menjadi institusi yang berdampak bukanlah utopia. Kita telah melihat jejaknya di berbagai penjuru negeri. Di Sulawesi Utara, seorang dosen bernama Nindy Gaby Sepang dari Universitas Sariputra Indonesia Tomohon melakukan program pengabdian dengan mengimplementasikan teknologi pengering ikan untuk membantu perekonomian warga Pulau Tagulandang pasca-erupsi Gunung Ruang.

Di Kalimantan, LLDIKTI Wilayah XI menggencarkan program Kampus Berdampak yang menekankan relevansi ilmu dengan dunia nyata, aksi mahasiswa dan dosen, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk menghasilkan solusi yang dirasakan langsung. Beberapa perguruan tinggi bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor perikanan pesisir, yang terbukti meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui sentuhan ilmu dan teknologi. Kampus juga berperan aktif dalam penanganan stunting melalui program kesehatan masyarakat, penyuluhan gizi, serta kegiatan yang melibatkan program studi kesehatan.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa ketika kampus keluar dari zona nyamannya dan terjun langsung ke tengah masyarakat, dampaknya bisa sangat nyata. Universitas Airlangga, misalnya, berhasil menempati peringkat 15 dunia dalam THE Impact Rankings 2026, sebuah pemeringkatan yang secara khusus mengukur kontribusi institusi pendidikan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Prestasi ini membuktikan bahwa kampus Indonesia mampu bersaing di tingkat global bukan hanya karena publikasi ilmiahnya, tetapi juga karena kontribusi nyatanya bagi kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mempercepat transformasi ini? Pertama, kita perlu mengubah cara kita memandang keberhasilan kampus. Peringkat dunia dan jumlah publikasi tetap penting, tetapi itu bukan satu-satunya ukuran. Kita perlu menempatkan dampak nyata bagi masyarakat sebagai indikator utama keberhasilan perguruan tinggi. Kedua, kita perlu mendorong kolaborasi yang lebih erat antara kampus, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kampus tidak bisa bekerja sendiri; ia perlu menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar yang saling menguatkan.

Ketiga, dan yang paling penting, kita perlu menyiapkan generasi pemimpin kampus yang memiliki visi transformatif. AKPT adalah langkah awal yang baik dan perlu didukung oleh sistem rekrutmen dan pengembangan karir yang memungkinkan para pemimpin terbaik untuk muncul dan berkontribusi. Kepemimpinan kampus tidak bisa diserahkan pada mereka yang hanya mengejar jabatan, tapi harus bisa dipercayakan pada mereka yang memiliki integritas, visi, dan keberanian untuk membawa perubahan.

Kampus bukanlah sekadar bangunan megah atau deretan gelar akademik. Kampus adalah ruang di mana ilmu seharusnya diamalkan untuk kebaikan bersama. Kampus adalah tempat di mana generasi penerus bangsa ditempa bukan hanya untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk menjadi peka, peduli, dan berkontribusi terhadap lingkungannya.

Sudah saatnya kita berhenti membiarkan kampus menjadi menara gading yang menjulang sendiri. Mari kita ubah kampus menjadi menara air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Mari kita pastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan untuk pendidikan tinggi benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk solusi nyata, pemberdayaan, dan harapan. Karena pada akhirnya, kampus yang sejati adalah kampus yang tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga berdampak di tengah kehidupan. [T]

Tags: kampusPendidikanPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

Next Post

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

S. Bekti Istiyanto

S. Bekti Istiyanto

Dekan Fisip UPN Veteran Jakarta dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails
Next Post
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co